
disisi lain Nafa turun dari golf car yang telah mengantar nya ke parkiran. dia membukuk kan badannya seperti orang Jepang dan berterima kasih. golf car itupun pergi dari pandangan Nafa.
Nafa berbalik menghampiri motornya, membuka bagasi motornya untuk mengambil jaket parasut lalu memakainya.
seharusnya Nafa sudah pulang dari jam 11 siang tapi dia baru bisa keluar dari rumah besar itu jam 3 sore. semua ini terjadi karena asisten rumah tangga Daru yaitu bi Inah terus memberikannya makanan yang belum pernah Nafa cicipi sebelumnya. sampai-sampai Daru mengajaknya makan siang bersama di meja makan besar di lantai dasar.
dia sangat terkesan dengan rumah itu, interior rumah itu berbeda-beda. di bawah gaya vintage modern dan di lantai atas sama gaya vintage tapi lebih ke arah dark. Nafa menyukai kedua gaya itu tapi dia lebih meyukai lantai dasar, lantai kedua membuatnya merasa kesepian terkadang Nafa merasa mengantuk jika di tinggal sendirian.
dan Nafa merasa aneh dengan Daru, saat belajar tadi dia merasa Daru tidak memperhatikannya tapi Daru bisa menyelesaikan soal yang telah dia beri dan bahasa Inggrisnya sangat bagus. Daru memang anak orang kaya yang jenius.
tidak seperti orang kaya lainnya, Daru sangat terorganisir. terlalu sempurna untuk seorang anak malah terkesan kaku. Daru selalu tepat waktu saat mengerjakan sesuatu dan hasilnya selalu sempurna.
Nafa sangat puas dengan hasil yang Daru tunjukan, itu membuat Nafa harus berusaha lebih pintar dari Daru. sebuah tantangan untuk melawan muridnya sendiri.
Nafa memakai sarung tangan dan helm, diapun meluncur meninggalkan rumah itu.
dalam perjalanan Nafa menghentikan laju motornya saat melihat kios yang menjual es campur. dia pun membeli 2 bungkus es itu karena teringat ibu dan kakanya. Nafa kembali melajukan motornya.
***
setelah Nafa menaiki golf car Daru cepat-cepat menuju lantai atas untuk melihat cctv. dia memperhatikan saat Nafa di bawa menuju parkiran.
kamera berganti dan memperlihatkan Nafa yang tengah memakai jaket parasut.
Daru menyunggingkan senyumnya, dia baru mengetahui bahwa Nafa adalah adik dari Bagas. kebetulan yang seperti takdir, tapi dia senang karena wanita yang menarik perhatiannya adik dari orang yang selalu bersamanya yah meski secara fisik sekarang Kaka dari wanita itu pergi entah kemana.
BI Inah hanya memberitahu jika Bagas ada urusan tapi tidak tahu urusan kemana. nanti saja saat dia telah kembali Daru akan menanyakannya.
tapi ada untungnya juga Bagas tidak ada di tempat, akan berabe jika Kaka beradik itu bertemu. Daru bisa membayangkan bahwa Bagas akan terkejut setengah mati melihat adiknya datang ke rumah ini.
Nafa pun pergi meninggalkan parkiran itu. Daru keluar dari ruangan cctv. dia berjalan kearah tempat yang tadi saat belajar bersama Nafa. tempat itu telah di bersihkan.
Daru berbalik arah, dia menuju studio di samping pintu yang tertutup rapat. Daru sempat melirik pintu kayu itu tapi dia melangkah kedalam studio dan menutup pintu studio rapat-rapat.
itu adalah studio yang cukup besar, sebesar 3 kali lapang badminton. terdapat alat band lengkap di satu sisi, disisi lain sebuah alat DJ dan laptop bertengger di dekat alat itu, dan disisi lain sebuah piano besar berwarna putih menghadap ke arahnya, grand piano. sangat kontras dengan cat dinding dan karpet yang berwarna abu gelap.
dia berjalan ke arah piano itu, dia duduk di kursi untuk pianis. cukup lama Daru hanya menatap keyboard piano.
__ADS_1
dia menghela nafas pelan lalu menekan salah satu keyboard. dia memainkan note Doremi dan di lanjutkan dengan sebuah instrumen terkenal berjudul Kiss the rain.
***
Nafa telah sampai di depan rumahnya, dia parkir kan motornya di halaman, mencopot sepatunya dan segera masuk rumah.
"assalamualaikum!!! mahh!! teh!! aku bawa es campur~"
terdengar suara langkah cepat seperti berlari dari lantai dua, Nurul segera muncul dari atas dan langsung berteriak riang
" mana???"
ibu mereka keluar dari kamar dengan tersenyum lalu mengusap rambut Nafa yang tengah menuangkan campuran buah dan jelly itu ke dalam mangkuk.
mereka bertiga memakan dengan lahap es campur itu seraya sesekali mengobrol santai.
"naf, teteh punya info menarik loh" ucap Nurul setelah menghabiskan es campurnya.
"apaan tuh?"
Nurul melirik terlebih dahulu ke ibunya lalu melihat ke arah Nafa
"eumm.. temen ayah yang dari zaman SMP itu kan?"
"yup"
"emang kenapa?"
"pak damar nawarin teteh kerja di perusahaan tempat dia bekerja"
"emang dimana?"
"Shabil grup!"
Nafa menyimpan mangkuknya yang telah kosong, melihat ke arah Nurul dengan tatapan terbelalak tidak percaya
"serius? waahhh gila keren!!!"
__ADS_1
"iyakan? aku aja gak percaya, gila kaya mimpi bisa kerja di tempat itu!!"
mereka berdua berpelukan lalu berdiri. mereka berdua berjingkrak-jingkrak kegirangan.
"eh tunggu, kalau Nafa pikir-pikir kita semua kerja di keluarga Shabil"
"kita?" kini giliran ibu mereka berbicara
Nafa merapatkan mata dan bibirnya, dia lupa kalau ibunya tidak tahu bahwa dia menjadi guru privat. Nurul mencubit perut Nafa seraya berbisik betapa bodohnya Nafa.
"eumm begini ibu, aku kerja jadi guru privat"
"kerja? kamu itu masih sekolah untuk apa kamu repot-repot cari kerja"
"aku hanya tidak ingin terlalu membebani ibu dan juga ka Bagas"
"itu urusan orang dewasa! kamu sebagai seorang anak cukup menurut dan belajar dengan giat"
ibu Nafa tidak abis pikir dengan pilihan Nafa yang sangat egois, padahal Bagas telah bekerja keras untuknya sekolah agar Nafa tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting.
Nafa terdiam, dia berfikir bagaimana menjelaskan semuanya kepada ibunya. karena jujur saja Nafa tidak pandai berbicara apalagi saat harus menghadapi Bagas atw ibunya seperti ini, semua penjelasan di kepalanya tidak bisa keluar dari bibirnya.
Nurul meremas tangan Nafa dan ibunya bersamaan, dia tersenyum ke arah Nafa. Nurul merasa sebagai anak wanita tertua dia harus menjadi penengah dan memberikan penjelasan kepada ibunya.
"ibu, Nafa tidak bermaksud seperti itu. aku dan Nafa tahu bahwa keuangan kita sedang tidak baik. tabungan ayah sudah mau habis kan? kak Bagas juga baru saja bekerja beberapa Minggu dan belum mendapatkan gaji. uang hasil kerja ka Bagas di tempat dulu habis untuk biaya kampus Nafa. Nafa hanya ingin membantu, meringani beban ibu dan kak Bagas"
"iya ibu, aku hanya ingin membantu tidak ada maksud lain"
ibu mereka hanya diam, memang benar apa yang di katakan oleh Nurul. tabungan suaminya sudah mulai habis karena biaya kuliah dan pembebasan bersyarat Bagas. bahkan ibu mereka tidak tahu bagaimana membayar biaya kuliah Nafa semester depan.
"tapi ibu.. ibu hanya ingin kamu fokus belajar"
"tenang saja ibu, aku hanya menjadi guru privat setiap Minggu sekali. lagipula aku hanya mengajar satu murid saja dan dia sangat pintar. eumm selain itu gajinya besar sekali, sebulan selama 4 pertemuan aku di beri 5 juta"
ibu mereka dan Nurul serentak memandang Nafa kaget, tidak percaya dengan nominal itu. Nafa merogoh tasnya dan menunjukan sebuah cek.
"aku bahkan di beri gaji di muka"
__ADS_1
di lihatnya cek seharga 5 juta itu. ibu mereka hampir pingsan melihat nominal uang itu.
tidak di ragukan lagi betapa kayanya keluarga Shabil. seorang guru privat di bayar begitu tingginya, Nurul jadi penasaran berapa gaji yang akan dia dapat saat bekerja menjadi pegawai di perusahaan Shabil.