Love Of Passion

Love Of Passion
tanggung jawab


__ADS_3

"apa jadwalku hari ini?"


"karena saham kita yang hilang, ada beberapa pemilik saham yang komplain dan mereka daritadi terus menelpon ke kantor kita mungkin akan saya adakan rapat para pemilik saham beberapa hari lagi. anda juga harus segera menghubungi mereka kembali secara pribadi agar mereka dapat tenang sementara waktu. lalu dokumen yang harus anda cek cukup banyak pak" jawab Devan menjelaskan dengan detail yang harus di lakukan Daru.


"hah.. padahal hari ini harusnya aku bersekolah dengan tenang. seperti nya untuk waktu ke depan aku tidak bisa masuk sekolah" Daru menghela nafas dan menyenderkan punggungnya ke kursi, dia memejamkan matanya mengingat tadi betapa menyenangkannya berada di sekolah.


Devan memperhatikan Daru dengan seksama, dia merasa kasian dengan majikannya itu. adik-adiknya saja seumur dia tapi mereka hanya bisa merengek minta uang. Devan berfikir bagaimana prasaan Daru yang menanggung tanggung jawab sebesar ini.


"aku akan kembali ke ruanganku" Daru berdiri dan pergi meninggalkan ruang rapat di ikuti oleh Devan dan asistennya. setelah meninggalkan ruangan deven berbicara dengan asistennya dan membiarkan Daru pergi lebih dulu.


"Tika tolong bereskan semua kekacauan yang ada di ruang rapat, telpon ShabiL furniture untuk mengirim meja rapat yang sama, cermin besar yang sama juga. oh dan kursi pak Daru juga harus di ganti sepertinya ada beberapa bagian yang akan patah"


"baik pak Devan" Tika pun melangkah menghampiri mejanya dan segera menelpon.


Devan kembali mengikuti Daru. ruang rapat harus segera di perbaiki, dia tidak ingin para pemegang saham memilih mundur saat tahu orang yang mereka percayai memiliki emosi yang ekstrem. setidaknya Daru harus terlihat dingin dan elegan di depan para koleganya.


"apa anda ingin mengganti pakaian dengan jas pak? saya bisa menyuruh Tika untuk menyiapkan" ucap Devan saat melihat celana seragam Daru di kotori oleh darahnya beberapa tetes


"tidak usah, aku nyaman dengan baju ini" ucap Daru dengan tatapan malas. dia melepas kemeja seragamnya dan menggantungkannya didekat mejanya.


ruangan Daru sangat luas. terdapat kursi untuk para tamu yang di lengkapi AC, proyektor dan bar kecil di dalam ruangan itu. meja kerjanya pun cukup besar dapat menyimpan komputer, laptop, beberapa rak berkas. terdapat pot bunga hiasan di ujung mejanya. meja dengan banyak laci rahasia dan di tengah meja itu tertulis Rizkyandaru Al-Shabil (CEO utama ShabiL grup).


"aku ingin susu coklat hangat seperti tadi"


"baik pak" sahut Devan tersenyum hangat dan keluar ruangan.


beberapa jam berlalu, beberapa gelas susupun telah habis tapi dokumen yang harus di cek Daru tidak ada habisnya. dia telah menelpon semua pemilik saham yang terkena kerugian, merekapun setuju untuk di adakan rapat besok. lebih cepat lebih baik kata mereka, tapi tidak bagi Daru itu berarti dia harus kerja lembur untuk mencari data dan memberi penjelasan kepada koleganya.


"pak ada berita gawat" Devan masuk dengan tergesa membawa berita kepada Daru. Daru yang tengah membuat catatan terdiam sejenak


"ada apa?"

__ADS_1


"Dikta sudah ketemu.."


"bagus! dimana dia?"


"iya dia sudah ketemu, kami sudah memastikan dia ada dimana tapi saat tim kami akan menjemput dia tiba-tiba menghilang bersama istrinya"


"apa? bagaimana-" ucapan Daru terputus karena telponnya berbunyi.


tertera disana nama ayahnya. berkali telpon berdering, Devan sudah gelisah melihat Daru yang tidak mengangangkat telponnya. dengan mendengus kesal diapun mengangkat telpon itu.


"apa?" tanya Daru tanpa basa-basi


ayahnya yang di seberang sana berbicara sesuatu membuat Daru mengerutkan alisnya


"bisa gak ayah berbicara bahasa Indonesia saja? atau Inggris sekalian? gak perlu berbicara bahasa Thailand"


"baiklah-baiklah. gak bisakah kamu basa-basi sedikit kepada ayahmu ini? kita sudah lama tidak bertemu dan berbicara"


"jangan meremehkan ayah nak, meski ayah sudah tua kharisma ayah masih terasa tapi ayah selalu ingat ibumu tidak mungkin ayah berpaling darinya, meski ibumu sudah meninggal 12 tahun yang lalu. andai kamu tahu, ibumu itu-"


"berhenti berbicara tentang orang itu!"


suara di sebrang sana terdiam sesaat dan berbicara dengan nada pelan. Devan yang memperhatikan sudah berkeringat dingin khawatir dengan apa yang akan terjadi


"baiklah, kenapa kamu selalu sensitif jika ayah membahas soal ibumu"


"jika tidak ada yang mau ayah katakan, aku tutup!"


"ada yang mau ayah katakan!"


Daru berhenti menekan tombol call end dan kembali mendengar dengan seksama apa yang akan di katakan ayahnya

__ADS_1


"ayah tahu soal Dikta" ucap sang ayah. Daru menghela nafas, tentu saja ayahnya tahu. tidak ada yang tidak beliay tahu tentang perusahaannya.


"kamu jangan khawatir soal Dikta" lanjut sang ayah, seketika Daru menyadari sesuatu


"ayah yang membawa Dikta? kenapa ayah melindungi seorang penjahat dari kepolisian?!"


"ayah tidak melindunginya dari polisi tapi melindunginya darimu" jawab sang ayah. ayahnya tahu jika Dikta sudah di tangan Daru maka hidup Dikta akan di buat seolah-olah Dikta menyesal telah hidup.


"apa yang ayah mau?" geram Daru seraya mengepalkan tangannya


"kamu cukup pintar seperti kakamu. ayah bangga dengan insting kuatmu. kamu tidak perlu peduli dengan saham yang hilang itu, ayah sudah mengatasinya. untuk rapat besok bisa kamu batalkan, ayah sudah berbicara dengan para pemilik saham dan mereka setuju dengan syarat yang ayah berikan. tapi kamu tahu kan semua itu tidak gratis"


"aku tidak pernah meminta bantuan ayah, aku bisa mengatasinya sendiri!"


" ayah tahu sekarang kamu sedang pusing dengan banyaknya dokumen, dan juga sekarang pasti kamu sedang lembur kan? ayah hanya ingin membantumu. ayah juga tahu kamu merusak ruang rapat, meski kamu bisa menggantinya itu tindakan yang sangat ceroboh Daru. seorang pemimpin tidak boleh menunjukan emosinya"


Daru menatap Devan dan mengisyaratkan sesuatu, Devan mengangguk dan melihat ke luar kantor. Daru yakin ada mata-mata ayahnya di sekeliling Daru dan dia sangat tidak suka di mata-matai.


" kamu tidak perlu mencari mata-mata itu, ayah yang menjamin keselamatannya darimu"


Daru menutup matanya, ayahnya selalu berbuat semaunya.


"aku harus melakukan apa?"


Daru menatap tajam ke arah foto ayahnya yang tergantung di sudut ruangannya. dia sudah cukup lelah dengan masalah dan pekerjaannya. dia harap ayahnya tidak membuat masalah yang lebih besar lagi.


⭐ terima kasih dan happy reading ⭐


Hallo para reader!! terimakasih atas dukungan kalian selama ini! untuk kedepannya mungkin akan banyak adegan dewasa, baik itu kekerasaan dan yang lainnya. saya harap untuk menyikapinya dengan bijak 😊. terimakasih untuk yang selalu setia membaca novel saya, love you my reader 😘😍


✨jangan lupa yah like dan comennya, agar saya tahu dimana kekurangan saya✨

__ADS_1


__ADS_2