Love Of Passion

Love Of Passion
Ambisi


__ADS_3

keringat dingin membasahi tubuh Daru, tatapannya mulai tidak jelas. dia memicingkan matanya dengan tujuan dapat melihat wajah Irene dengan jelas.


"aku sudah memasukan obat tidur di minuman anda"


"kenapa kamu melakukan ini?" tanya Daru dengan napas tersengal


"seperti yang saya bilang, bahwa saya udah lama menginginkan anda. lebih tepatnya menginginkan ShabiL. saya tidak bisa mendapatkan Rizal jadi setidaknya nya saya mendapatkan anda meski caranya seperti ini. tapi jika mendapatkanmu juga saya tidak bisa, langkah terakhir saya adalah menjadi istri pak Presdir" jawab Irene lembut seraya mengelus kepala Daru. ambisi nya untuk menjadi bagian ShabiL grup begitu besar.


jari Irene menyusuri wajah Daru. mulai dari mata, pipi, hidung, dagu lalu naik ke bibir. tangannya kembali menyentuh rambut Daru, dia mengacak rambut Daru dengan lembut sehingga poni yang di rapihkan Daru turun menutupi keningnya.


"anda tampan seperti ini. lebih tampan dari Rizal, lebih sexy dari Rizal" nada Irene mendesis seperti berbisik.


Irene mendekat, dan mencium bibir Daru perlahan. Daru terkejut dia langsung berdiri dan mendorong Irene menjauh.


"kamu gila!" teriak Daru seraya mendorong Irene. tumpuan kaki Daru tidak sempurna, diapun terhuyung ke depan jatuh seraya menarik taplak meja. seketika jus yang masih tersisa itu membasahi jasnya. Daru tidak peduli dengan nafas tersengal dia merangkat ke arah pintu. Irene menghalanginya, dia berjongkok tepat di hadapannya


"ya ampun Daru, kamu sebaiknya tidak banyak melawan. tidak akan ada yang menolongmu, aku sudah mengunci pintu itu dengan sempurna. malam ini kamu akan menjadi milikku"


Irene membopong Daru menuju kamarnya. dia menidurkan Daru di atas kasurnya. lalu melepaskan sepatu Daru.


Irene menduduki Daru menindih bagian bawah perut Daru seraya membuka jas dan kemeja Daru.


"kamu tahu tadinya aku berniat memfoto kita berdua untuk mengancam pak Presdir tapi setelah melihat tubuhmu yang indah seperti ini entah kenapa libidoku naik begitu pesat jadi aku berfikir kita harus membuat video syur" ucap Irene seraya menyusuri tubuh kekar Daru. seketika Daru tersentak kaget


"kamu wanita gila! tidak beda dengan *******!" Daru mencoba berbicara dengan sekuat tenaga suaranya terdengar lemah


"aku tidak peduli! setelah malam ini kita nikmati berdua aku akan menjadi salah satu nyonya ShabiL grup"

__ADS_1


Irene berdiri dia mengambil ponselnya, menekan aplikasi video lalu menyimpannya di tempat yang pas memperlihatkan apa yang mereka lakukan dengan jelas. Irene menindih Daru dan kembali mencium bibir Daru kali ini dengan ganas, dia perlahan melepaskan pakaiannya sendiri. malam itu begitu panas bagi Irene.


Daru sudah tidak dapat menggerakkan badannya, kepalanya begitu pusing, dia sudah tidak kuat membuka matanya. terakhir dia lihat wanita yang ada di atasnya sudah telanjang bulat.


firasatnya benar, seharusnya dia tidak menyetujui kencan ini. dia baru tahu bahwa kencan politik ini begitu berbahaya, dia pikir kencan politik itu hanya makan malam bersama saja ternyata ada bagian yang seperti ini. wajah kakanya terbersit di benaknya, Daru bertanya-tanya apakah kakanya juga mengalami hal memalukan seperti ini. di perkosa wanita bukanlah pencapaian yang membanggakan. dia merasa telah di kotori. Daru ingin sekali menghajar wanita yang sedang menggerayangi tubuhnya ini.


Daru dapat merasakan Irene tengah membuka celana nya perlahan, Daru berharap Bagas cepat menyelamatkannya.


"brak!!" pintu kamar Irene dibuka secara paksa. Daru mendengar Irene berteriak saat di tarik paksa oleh seseorang.


Bagas menghempaskan tubuh Irene begitu keras membuat Irene terlempar sejauh satu meter dari kasurnya. sudut bibir Irene terluka dan berdarah.


"pak anda baik-baik saja?!" Bagas begitu panik. dia membenarkan celana Daru sebelum beberapa pegawai hotel memasuki kamar Irene.


setelah mendengar Daru berteriak di telpon itu Bagas dengan cepat mendatangi resepsionis dan meminta paksa kunci kamar Irene. karena masalah privasi yang menghambatnya dia terpaksa mengancam sang resepsionis hingga resepsionis memberikan kunci itu. dia, salah satu resepsionis dan seorang satpam pergi mendatangi kamar Irene. pintu sulit untuk di buka sehingga tidak ada pilihan lain Bagas mendobrak pintu itu hingga rusak.


Bagas memakaikan kemeja Daru dengan asal-asalan dan langsung membopong Daru yang tengah pingsan keluar kamar itu. kedua pegawai hotel sesaat menatap Irene lalu segera membuntuti Bagas dengan tergesa. Bagas menunggu pintu lift karena tidak kunjung terbuka dia segera turun melalui tangga darurat bersama kedua pegawai hotel.


mereka sampai di lobi, Bagas melihat begitu banyak orang tengah lalu lalang. dia harus menyembunyikan tuannya ini, dia tidak ingin Daru menjadi scandal karena perbuatan wanita gila itu


"apa ada jalan belakang menuju parkiran mobil?" tanyanya ke pada sang resepsionis pria itu


"ada pak, mari ikuti saya" jawabnya. mereka bertiga meluncur menuju pintu darurat. sang satpam memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.


merekapun sampai di tempat tujuan, Bagas mendudukan Daru di kursi belakang. Bagas memperhatikan Daru dengan seksama, tidak ada luka yang serius hanya tubuh, wajah dan lehernya di penuhi lipstick Irene. Bagas begitu geram, dia ingin menghampiri wanita itu tapi Bagas harus memastikan tuannya segera sadar.


terlihat Daru bergerak, Bagas begitu terkejut dan segera meminta segelas air putih kepada sang resepsionis. tak lama air putih pun datang, Bagas segera memberikan air itu kepada Daru.

__ADS_1


dengan kesadaran yang baru setengah Daru meminum air itu. nafasnya tersengal


"saya akan membuat perhitungan dengan wanita itu!" ucap Bagas, sebelum dia pergi Daru menahan tangannya


"tidak! jangan! aku tidak ingin membuat keributan lebih dari ini" Daru menahan Bagas dengan lemah


"tapi pak kita harus membuat perhitungan dengan wanita itu!"


"nanti aku akan membuat perhitungan dengannya, kamu jangan ikut campur! ingat tugasmu" ucap Daru suaranya semakin melemah.


Bagas terdiam, dia ingat tugasnya hanya memastikan Daru aman bukan membuat perhitungan dengan wanita gila.


"kalau begitu kita ke rumah sakit"


"tidak! bawa aku ke villa! aku tidak ingin ke rumah sakit" ucap Daru hingga akhirnya kembali pingsan


Bagas menghela nafas, diapun menyelimuti Daru dengan jasnya.


"saya berharap anda berdua melupakan kejadian tadi, dan saya tidak ingin masalah ini keluar ke publik"


wajah kedua pegawai itu tampak bingung, namun dengan moto hotel mereka untuk tidak mempublikasikan tentang privasi para tamunya. meski mereka tidak tahu siapa Daru tapi mereka yakin bahwa tuan muda yang di gendong oleh lelaki kekar ini adalah orang penting.


"baik pak, akan kami rahasiakan" ucap mereka berdua


Bagas mengangguk lalu memasuki mobil itu dan merekapun pergi meninggalkan hotel menuju villa yang berada di daerah Lembang.


*happy reading semuanya! terimakasih atas like, komen dan rate nya🤗*

__ADS_1


__ADS_2