Love Of Passion

Love Of Passion
kemewahan rumah itu


__ADS_3

Damar berdiri di depan pintu kamar rahasia itu, sayup-sayup terdengar suara erangan. sekretaris yang sudah lama melayani mulai dari tuan besar sampe tuan muda di Shabil grup ini tidak aneh dengan kelakuan aneh para atasannya.


tapi dia tidak pernah selelah ini, dia tidak abis pikir dengan kelakuan tuan mudanya. memang berkat Rizal saham Shabil menjadi naik signifikan tapi perilaku menyimpang tuannya membuat lelaki berusia lanjut ini menjadi lelah.


setidaknya tuan besar tidak pernah seperti ini, tapi Rizal selalu melakukan ini setidaknya saat ada seseorang yang ingin bekerja sama.


Damar kira Rizal tidak akan menanggapi dan akan mengusir saat seorang pengusaha pertama kali menawar kan anak angkatnya kepada Rizal. tapi ternyata dia menerima dengan beberapa syarat.


"hah.. sungguh bikin sakit kepala" gumam damar dan mulai melangkah meninggalkan kamar tuannya.


dia menutup pintu dan memberi isyarat kepada pengawal untuk menjaga ketat kamar tuannya.


diapun kembali berjalan turun menuju lobi hotel dan duduk di sebuah kursi yang sangat nyaman.


damar termenung, jika terus seperti ini penyakit gulanya akan semakin memburuk. dia butuh sesuatu untuk menjernihkan otaknya, mungkin mengundurkan diri adalah pilihan yang tepat.


tapi dia tidak yakin siapa yang pantas untuk menggantikannya. Damar tidak percaya kepada siapapun. lagipula tidak akan ada karyawan di perusahaan yang akan tahan dengan perilaku tuannya ini.


terutama jangan sampai bocor bahwa tuannya keji seperti itu.


dia butuh seorang sekretaris yang sabar, ramah, kompeten dan dapat menjaga rahasia dengan baik. tidak perlu berpengalaman karena Damar yakin kemampuan akan terasah setelah menjalani latihan terus menerus. yang penting seseorang yang dapat di percaya.


Dia teringat seseorang yang memiliki itu semua, dan juga dia kenal baik dengan orang dan keluarganya. tapi apakah orang itu bersedia menggantikannya setelah tahu apa yang akan orang itu hadapi?


Damar kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya. dia melihat jam tangannya, tepat pukul 19.00 WIB. diapun mengeluarkan ponselnya.


beberapa detik damar hanya diam menatap layar ponsel dan diapun menelpon dengan hati-hati. dia menunggu, mendengarkan dering memanggil beberapa kali dan akhirnya di angkat


"hallo mba, ini saya damar. teman pak Herman. ada yang ingin saya diskusikan"


damar tersenyum mendengar jawaban di sebrang telpon, dia harap tindakan nya tepat


"baik, saya akan kesana. mungkin lusa"


****


hari Minggu pun tiba, sesuai dengan janji Daru sudah bangun pagi-pagi sekali. dia duduk di salah satu sofa panjang masih memakai piyama dan memegang sebuah berkas.


berkas yang dia minta saat malam hari kepada Vian. berkas tentang Nafa.


Daru curiga jika Nafa adalah seorang mata-mata. baik itu di kirimkan oleh pihak luar Shabil atau yang di kirimkan oleh kakanya.

__ADS_1


dia membaca dengan teliti, tidak ada yang mencurigakan. dan yang mengejutkan ternyata rumahnya dekat dengan temannya Ikbal.


"kenapa Ikbal tidak bilang? ah iya karena aku tidak cerita" gumamnya sendiri


dia melihat foto Nafa, senyumnya manis. Daru suka itu, apalagi pipinya yang chuby.


Daru tersenyum tapi seketika senyumnya hilang, dia menggelengkan kepalanya.


"apa-apaan ini? kenapa aku mengagumi nya?" gumamnya frustasi.


diapun meletakkan berkas itu ke laci mejanya. dia menyalakan tv dan mengatur program di tv itu untuk melihat cctv.


seketika senyumnya semakin merekah, diapun masuk ke kamar mandi dengan langkah tergesa-gesa.


***


tidak ada yang dapat Nafa katakan selain kata "wahh!!"


dia begitu takjub dengan rumah yang berada di komplek mewah ini, bahkan satpamnya begitu elegan dan tentu saja tampan, mereka masih muda.


saat Nafa menyerahkan surat ijin itu, Nafa sudah terkagum-kagum dengan keindahan seorang Adam di hadapannya.


Nafa berhenti di depan rumah yang begitu mewah, menurut informasi yang tertera di surat ijin itu bahwa rumah keluarga Shabil bernomor 10.


"benar kata Bu kepala sekolah, aku akan kaget sekaya apa anak itu"


menurut Abang satpam yang tampan Nafa hanya perlu menunjukan surat itu kepada kamera yang menempel di tembok di sebelah kanan.


Nafa turun dari motonya, dia celingukan kesana kemari mencari kamera, dan dia melihat sebuah kaca kecil berukuran misting Tupperware sedang dan di tengahnya ada sebuah titik merah.


"apa ini?" tanyanya kepada diri sendiri


diapun menunjukan surat itu ke arah kamera dan dalam beberapa menit pintu gerbang setinggi 9 meter itu terbuka dengan sendirinya.


Nafa terkejut bukan main, dia menengok ke dalam dan tidak ada siapapun disana. dia menelan ludahnya setelah melihat jalan yang penuh dengan taman di kanan dan kirinya.


Nafa kembali ke motornya dan memasuki gerbang, setelah dia masuk pintupun segera di tutup.


Nafa sangat takjub, dia mengendarai pelan-pelan motornya sambil menikmati taman yang sangat luas itu


"beginikah taman istana yang ada di cerita novel?" gumamnya

__ADS_1


Nafa segera mengerem motornya saat melihat seorang pria memakai setelan jas berwarna hitam dan kacamata hitam. di telinga kirinya ada sebuah earphone.


"ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu, suaranya begitu merdu menurut Nafa


"a-anu saya guru les privat Daru" jawab Nafa seraya memberikan surat ijin dan rekomendasi kepada pria itu


pria itu menerima dan membaca dengan seksama.


"ah iya, anda pasti Nafa. tuan Daru sudah menunggu anda. sebaik nya motor anda di simpan disana" ucap pria itu seraya menunjuk sebuah parkiran yang begitu luas, mirip seperti parkiran di mall besar


Nafa memarkir kan motornya disitu. hanya motor Nafa yang ada di sana, parkiran itu di penuhi oleh mobil Pajero sport.


"mari saya antar" ucap pria itu di belakang Nafa.


Nafa menoleh dan melihat pria itu mengendarai sebuah golf car, diapun naik.


selama di perjalanan Nafa hanya diam, kagum dengan sekeliling. pengawal itu hanya melirik nona muda cantik yang ada di sampingnya.


selama dia bekerja di rumah Shabil, tidak pernah ada seorang wanita yang berkunjung. terutama tuan mudanya yang ke dua, bahkan temanpun hanya baru kemarin dia membawa seorang teman.


lalu ini seorang perempuan? dan guru les privat? dia tahu betul bahwa tuan mudanya tidak membutuhkan seorang guru les privat. apa tuannya tertarik dengan wanita ini?


jika iya, ini sebuah kemajuan besar untuk tuan mudanya.


pengawal itu menilai bahwa Nona yang dia antar terlihat sangat polos, dia tidak percaya bahwa tuannya tertarik dengan wanita polos.


Nafa tidak menyadari lirikan pengawal itu, dia fokus dengan kemewahan komplek ini. sangat-sangat seperti negeri dogeng. dia melihat sebuah rumah yang sangat besar tapi ternyata bukan itu tempat yang mereka tuju.


bahkan dari pintu gerbang menuju rumah besar tadi sudah menghabiskan waktu 10 menit menaiki golf car. sangat luas, ingin rasanya Nafa berlari bak lagu India di taman itu.


mobil pun berhenti, jarak yang di tempuh selama 15 menit. pria itu turun, Nafa pun ikut turun.


"silahkan, tuan muda sudah menunggu" ucap pria itu, Nafa hanya mengangguk dan melihat pria itu menaiki kembali golf car dan meninggalkan nya.


Nafa sekali lagi melihat sekeliling, dia tersenyum dan semangatnya semakin membara untuk mengajar muridnya.


Nafa melangkah, dia hendak menekan bel tapi pintu tiba-tiba terbuka


"halo, selamat datang." suara berat itu terdengar.


Daru sudah berdiri di depan pintu memakai kaos berwarna putih polos dan celana jins berwarna shaki. dia melipat tangannya di dada dan tersenyum misterius

__ADS_1


"saya sudah menunggu anda, Bu guru"


__ADS_2