Love Of Passion

Love Of Passion
Tempramen


__ADS_3

"Kaka pergi kemana Bu?"


tanya Nafa yang baru turun dari kamar nya setelah mendengat suara mesin mobil dari kejauhan


"entah, setelah angkat telpon langsung pergi"


"terus teh Nurul kemana?"


"tadi pagi ada telpon dari shabil group, jadi teteh mu langsung pergi"


"benar-benar yah orang sibuk dunianya berbeda"


...***...


dua hari berlalu, begitu pula Daru dua hari tidak pergi ke sekolah. dia fokus dengan pekerjaannya yang beberapa hari tertunda.


Daru mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja, menanti sesuatu yang sudah lama dia tunggu.


"jadi.. bagaimana kesimpulan nya?" tanya nya kepada Devan


"belum ada informasi lebih lanjut pak"


setelah kata itu di ucapkan Devan, secepat kilat Daru menghamburkan berkas yang ada di depannya seraya berkata kasar.


"apa sih yang di lakukan orang setengah tua itu?!" teriaknya


Devan hanya diam, dia tahu siapa orang yang Daru maksud. dia memerintahkan asistennya untuk merapihkan kembali berkas yang tercecer dan di simpan di meja yang jauh dari jangkauan Daru.


"aku akan mencarinya sendiri" gumam Daru seraya mengambil jasnya


"woah!! tunggu sebentar pak" Devan dengan sigap menahan Daru


"minggir! kamu juga tidak berguna! bukannya cari informasi ini malah stay disini tanpa melakukan apapun! sekretaris macam apa kau?!" bentak Daru


Devan tersenyum seraya menghela napas panjang, menjaga agar kesabarannya tidak menipis.


"saya akan mencari informasi. sebaiknya bapak diam disini. bapak punya banyak berkas yang harus di tanda tangani" ucap Devan dengan sabar, dia menunjuk berkas yang tadi di lempar Daru.


"kau saja yang urus!"


"bapak! bapak harus bertanggung jawab, ini kerjaan bapak. urusan Dikta biar saya yang urus, perusahaan lebih penting. tolong ingat tujuan bapak mendirikan perusahaan ini"


Daru diam sejenak, dia melihat ke arah berkas itu. berkat Devan, Daru ingat apa tujuannya mendirikan perusahaan miliknya.


perusahaan yang bernama DS'travel dan kini berubah menjadi cabang Shabil group. tujuan Daru membangun perusahaan ini karena dia selalu di tekan oleh ayahnya yang menganggap Daru tidak akan bisa lepas dari keluarga shabil dan akan selalu bergantung pada keluarga shabil. mendengar hal itu Daru tidak terima dan dia menunjukan bagaimana kehebatan dia membangun sebuah perusahaan tanpa campur tangan dari ayahnya.


dan dengan tangannya sendiri. tanpa relasi dari siapapun namun perusahaan ini dapat berkembang pesat dengan mendirikan bisnis travel. setelah cukup berkembang pesat, ayah Daru mulai memberikan perhatian dan meminta untuk menyatukan perusahaan sehingga Daru dapat memegang semua bisnis yang ada di shabil group.


dan berkat bantuan tangan dingin dari Daru perusahaan semakin berkembang pesat, baik perusahaan yang di dirikan Daru maupun perusahaan induk.


"baiklah" ucap Daru akhirnya

__ADS_1


dia melonggarkan dasi nya dan meminta asisten Devan untuk membawa semua berkas dan disimpan di atas mejanya.


Devan kembali tersenyum, diapun pamit keluar ruangan.


sejujurnya Devan tidak perduli ada dimana Dikta, dengan bukti bahwa tuan besar yang mengurus masalah Dikta bagi Devan itu sudah cukup membuat Dikta menderita namun Daru tidak akan puas dengan itu.


sifat Daru cenderung membalas dengan tangannya sendiri.


ponselnya berbunyi, sebuah telpon dari Rizal


"halo pak, selamat siang"


"ya, ini terkait Dikta"


Devan diam menanti


"sebenarnya aku bisa menghubungi Daru secara pribadi tapi aku rasa lebih baik kamu yang memberi tahu"


Devan tetap diam menanti


"Dikta sudah mati, dia bunuh diri bersama istrinya"


"apa?" suara itu refleks keluar dari mulut Devan


"apa suara ku kurang jelas?" tanya balik Rizal


"tidak pak! itu sudah jelas, saya hanya.. terkejut"


"baik pak"


telpon pun di tutup.


Devan mengatur hatinya terlebih dahulu. Daru pasti tidak akan senang dengan berita ini, dia pasti akan menghancurkan sesuatu di ruangan.


melayani seorang tuan yang temperamental sangat menyulitkan. Devan sempat berfikir seharusnya dia minta gajinya di naikan setidaknya untuk perawatan mentalnya.


tok.. tok..


Devan mengetuk pintu, dia memasuki ruangan seraya membawa susu coklat panas. Devan melakukan itu berharap amarah Daru dapat reda meski sedikit.


Devan meletakan susu itu di ujung kanan meja Daru. dia melihat Daru tengah fokus membubuhkan tanda tangan serta cap perusahaan.


Devan menanti sampai pekerjaan Daru selesai. setelah kertas terakhir di cap, asisten Devan dengan sigap membawa semua berkas itu ke luar ruangan.


Daru langsung meminum susu yang sudah tidak terlalu panas itu dengan tenang.


"bagaimana?" tanyanya di sela-sela dia minum


Devan diam sejenak, dia berdeham untuk sekedar menjaga intonasi suaranya tetap terlihat tenang.


"saya mendapat telpon dari bapak direktur. Dikta di temukan telah tewas, dia bunuh diri bersama istrinya" ucap Devan hati-hati

__ADS_1


"apa?!"


Daru meninggikan suaranya, dia berencana melemparkan gelas di tangannya namun dia urungkan niat itu karena susu coklat masih tersisa setengah gelas.


Devan sudah menahan nafas jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. namun sampai beberapa detik tidak ada barang pecah satupun. dia bersyukur bahwa susu coklat menjadi penyelamat nya kali ini.


Daru segera mengambil ponselnya, dia langsung menelpon Rizal namun nomer Rizal tidak dapat di hubungi.


Daru melemparkan ponselnya hingga hancur sambil setengah berteriak frustasi.


"Dikta sialan! Kematian terlalu mudah untuknya! pantas ayah bilang sudah menyelesaikan masalah itu, ternyata penipu itu memilih untuk kabur ke alam baka?" ucap Daru kesal


Daru meletakkan gelas susu yang sudah kosong dengan kasar hingga gelas itu pecah seketika dan meja kaca yang super tebal itu retak tepat di bagian gelas itu pecah.


sekali lagi Devan menahan nafas kali ini dengan memejamkan matanya.


"ya Tuhan" ucapnya dalam hati


"aku pergi! jangan ikuti aku!" bentak Daru saat melihat Devan akan membuntutinya.


setelah Daru pergi, Devan melihat sekeliling ruangan yang sudah berantakan. dia memanggil resepsionis dan tidak lama seorang OB datang.


Devan mengambil perdana card dan memori card dari hp yang sudah hancur.


kembali Devan menghela nafas, dia menelpon ke bagian resepsionis dan meminta meja Daru di ganti dengan yang baru. ini adalah kali ke tiga meja Daru di ganti karena retak.


"sepertinya aku harus minta kenaikan gaji" gumam Devan setelah mematikan ponselnya.


...***...


malam tiba, Daru memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sebuah perumahan yang terlihat sepi.


karena hujan baru saja reda, tercium bau embun nan segar. Daru menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. dia melihat ke arah kiri, tepat di sebrang adalah rumah dimana Nafa tinggal.


"kenapa aku kesini?" gumamnya


rencana Daru yang telah disusun selama 2 hari gagal total. dia berencana memojokkan Dikta dengan kekuasaan nya namun rencana itu tidak dapat terwujud.


Daru sangat kecewa saat sesuatu yang sudah dia siapkan berakhir dengan kegagalan. dia seorang perfeksionis akut, dia sangat tidak suka jika sesuatu berbeda dari rencananya.


tempramen nya yang buruk akan langsung mengambil alih pikiran dan tubuhnya, dia akan bertindak dengan sangat kasar bahkan tidak peduli jika tubuh nya terluka.


Daru memejamkan matanya sejenak, dia mengatur nafas. mencoba menenangkan hatinya yang kacau.


tok.. tok..


seseorang mengetuk kaca mobilnya membuat Daru mengernyitkan alis karena sudah mengganggu semedinya.


dia melihat ke arah suara itu dengan kesal dan tatapannya berubah saat yang dia lihat adalah Nafa.


(note: mohon maaf jika kalian bingung antara Vian dan Devan. aku sempet lupa kalau sekretaris Daru adalah Devan entah kenapa malah keinget nama Vian hehehe.. sekali lagi saya minta maaf sudah membuat pembaca sekalian bingung.)

__ADS_1


__ADS_2