
Daru perlahan membuka matanya. tidurnya terasa sangat nyenyak, dia bahkan bermimpi indah tentang ibunya. itu pertama kalinya Daru bermimpi demikian, karena Daru tidak pernah bermimpi indah soal ibunya. hanya mimpi buruk yang menyayat hati selalu hadir di tidurnya. hujan deras masih mengguyur rumah nya.
dia melirik kesana kemari. badannya terasa bugar, kepalanya tidak terasa sakiit
dia menyentuh plester di dahinya, terasa dingin. Daru meregangkan tubuhnya. menutup matanya kembali, dia kembali memeluk guling di depannya, tangannya turun ke bawah.
dia mematung sejenak, merasa aneh. dia baru tahu bahwa guling yang selama hampir 10 tahun menemani nya terasa begitu empuk, bulat serta kencang. Daru menekan beberapa kali. merasa semakin aneh, rasanya seperti bokong wanita.
matanya langsung terbuka, Daru langsung melihat ke bawah. dia terkejut melihat seorang wanita tertidur pulas di dadanya. dengan refleks Daru mengangkat tangannya ke atas.
"siapa wanita gila ini?" batinnya, keringat dingin mengucur di dahinya
Daru mencoba meloloskan diri tanpa membangunkan wanita itu, tapi tangan kanannya berada di bawah tubuh wanita yang ada di depan nya.
perlahan Daru mendorong tubuh wanita itu, saat melihat wajah wanita itu Daru terkejut bukan main. dia tidak menyangka wanita yang selama ini di pikirkan nya ada di depannya.
Daru mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi.
dia ingat saat BI Inah memberinya obat pertama kali, lalu- ah ya dia ingat menatap sepasang mata berwarna hitam kecoklatan. untung dia hanya memeluknya karena di pikiran Daru awalnya dia ingin menciumnya namun terlalu lemah dan hanya mampu memeluk.
Daru melihat tangan Nafa yang memeluknya juga. dia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya. dia merasa malu atas perbuatannya tapi merasa senang juga.
Daru kembali menatap wajah damai Nafa, dia menyingkirkan sehelai rambut yang menempel di pipinya. Daru mengelus kepala Nafa, tanpa sadar dia tersenyum.
Nafa mengerang, matanya perlahan terbuka. dan secepat itu Daru pura-pura tertidur. jantung Daru berdetak kencang, dia takut Nafa menyadari aksi yang tadi Daru lakukan.
"sepertinya aku ketiduran" gumam Nafa
Nafa menggerakkan tubuhnya tapi tidak berencana untuk bangun. dia menyentuh kening Daru.
"panas di dahinya turun tapi kenapa pipinya merah?"
Nafa menyentuh pipi Daru dengan punggung tangannya.
"apakah harus aku tempelkan plester di pipinya?"
detik itu juga Daru ingin tertawa terbahak-bahak. pikiran Nafa begitu polos atau Nafa ternyata orang bodoh? Daru tidak peduli yang jelas dia ingin tertawa sekarang juga.
Nafa mendekatkan wajahnya ke wajah Daru, Daru berusaha sekuat tenaga agar akting tidurnya tidak terbongkar. Daru sekilas mendengar sesuatu yang asing seperti langkah kaki namun dia tidak dapat konsentrasi.
"pak maaf mengganggu tidur anda, saya mempunyai kabar darur-A-apa apaan ini?!" teriak Bagas membuat Nafa yang tengah menyentuk pipi Daru sontak duduk seketika.
"ka-kaka?" Nafa panik bukan karena ketahuan tengah menyentuh Daru tapi dia takut pekerjaan barunya sebagai guru les akan terbongkar.
"a-aku bisa menjelaskan" ucap Nafa cepat turun dari kasur
raut wajah Bagas terlihat sangat marah, dia ingin menarik Nafa dan menyeretnya pulang. Bagas baru berjalan 3 langkah, dia berhenti saat Daru bangun dari tidurnya. duduk tegak dan menatap Bagas dengan sinis.
"ada apa ini?" tanyanya
...***...
__ADS_1
beberapa jam sebelumnya..
"pak" ucap Bagas menghampiri Rizal yang ada di dalam mobil
Rizal tidak melihat ke arah Bagas, dia hanya melihat jam lalu menyuruhnya masuk dengan isyarat.
Bagas dengan cepat duduk di kursi depan samping supir. mobil pun melaju.
Bagas hanya diam mengamati situasi, dia tidak berani bertanya mereka mau kemana dan kenapa dirinya harus ikut.
setelah sekian lama, mobil memasuki tempat parkir basemen di salah satu pusat belanja furniture terbesar di Indonesia.
setelah mobil berhenti, Bagas langsung turun dan membuka pintu belakang. Rizal turun dengan elegan, dia melihat kembali arlojinya.
"kamu ikut saya" ucapnya kepada Bagas. Bagas mengekor di belakang
saat memasuki pusat perbelanjaan, semua mata tertuju kepada mereka. para staff manager yang sudah menantikan kedatangan Rizal langsung menghampiri mereka.
"silahkan pak" ucap salah satu staff mempersilahkan.
mereka di giring ke bagian furniture untuk kantor.
berbagai set peralatan kantor tertata dengan baik. banyak pilihan warna, bahan, tata letak dan sebagainya.
Bagas yang ada di belakang Rizal sangat kagum dengan kemewahan tempat itu, dia langsung teringat ibunya. pasti ibunya akan kegirangan jika di bawa di tempat ini dan tentu saja akan membeli ini itu.
meski matanya jelalatan tapi raut wajahnya tetap datar. dia telah di latih untuk tidak menunjukan ekspresi sembarangan.
dikiri furniture kantor yang begitu sederhana namun terlihat sedikit feminim dengan barang yang terdiri dari meja komputer besar, kursi, lemari berkas, meja dan kursi untuk tamu dengan warna merah maroon.
sedangkan di kanan terdapat furniture yang antik dan terkesan glamor. warna yang dominan hitam dan silver dan terlihat begitu mewah. ke dua set furniture sama yang membedakan hanya warna nya.
"menurut saya kanan yang bagus pak"
"begitukah? aku juga berfikir begitu. tapi apa akan cocok dengan anak itu?"
"ya??"
"sepertinya cocok untuk anak itu" ucap Rizal setelah berfikir
"ya? anak siapa?"
Rizal tidak menjawab, dia melambaikan tangan ke salah satu staf dan menyuruh set itu untuk di kirim ke perusahaan.
Rizal berkeliling pusat pembelajaran. dia membeli vas bunga, sebuah guci besar berwarna lumpur, meja kecil untuk barang-barang kecil, kulkas kecil berwarna soft pink, rak buku kecil yang di tempel di dinding, dan tempat duduk panjang untuk beristirahat.
sebelum membeli Rizal memang selalu meminta rekomendasi Bagas namun barang yang di beli Rizal selalu berbeda dengan saran Bagas.
Bagas sedikit aneh dengan tuannya, karena tidak pernah sekalipun Bagas melihat Rizal membeli barang yang di dominasi dengan warna feminim.
setelah merasa cukup membeli barang yang di perlukan Rizal memberikan kartu kredit berwarna hitam kepada salah satu staff. dengan cepat staff itu segera menuju kasir.
__ADS_1
"kita akan ke perusahaan dulu" ucap Rizal setelah menerima kembali kartu kredit nya
merekapun keluar gedung dan mobil sudah menunggu di depan pintu. Bagas segera membuka pintu belakang, diapun segera masuk ke kursi depan.
para staff menyampaikan terimakasih dan memberi salam hormat hingga mobil pergi meninggalkan pusat belanja.
tidak lama mereka sudah sampai di perusahaan. Rizal langsung menuju kantor bersama Bagas.
Bagas mencari damar kesana kemari tapi tidak ketemu, tidak biasanya asisten bos yang harusnya menyambut bosnya sendiri tidak terlihat batang hidungnya.
Rizal duduk di kursinya dan mengambil berkas yang ada di mejanya.
"Damar tidak ada disini, dia sudah mengundurkan diri" ucap Rizal menjawab rasa penasaran Bagas yang mencari Damar
"apa? ah maksud saya, kenapa beliau mengundurkan diri?"
"penyakitnya memburuk jadi aku menyuruhnya untuk istirahat"
"dia memberikan seorang anak yang akan menggantinya. saat ini sedang di latih olehnya tapi mulai besok setelah semua furniture tadi sudah siap di ruangan sebelahku, aku yang akan mengambil alih anak itu" lanjut Rizal
terjawab sudah semua rasa penasaran Bagas, pantas saja dia membeli furniture kantor padahal semua barang-barang yang ada di kantor tuannya ini masih bagus dan baru. melihat warna barang yang di beli sepertinya sekretaris baru itu wanita.
Rizal melihat ke arah Bagas yang tengah berfikir.
"kamu tidak penasaran?"
"penasaran akan apa pak?"
"sekretaris baru"
"tidak, siapapun orang itu pasti orang hebat dan berkompeten sehingga bisa menjadi sekretaris bapak"
"ya, itu yang di katakan pak tua itu. nah lihat lah ini" Rizal memberikan berkas yang tadi dia lihat kepada Bagas.
Bagas menerima dan melihat berkas itu. dia heran kenapa ada data diri adik pertamanya, Nurul disana.
"dialah sekretaris baru itu"
"a-apa?" tanya Bagas syok, berkas yang ada di tangannya jatuh ke lantai
...***...
masa kini..
dia sudah syok dengan berita tadi pagi dan kini dia kembali syok dengan apa yang dia lihat. sebuah kejutan yang tidak terduga, kedua adiknya berurusan dengan para singa yang berbahaya.
Bagas tidak ingin adik-adiknya masuk ke shabil group. dia masih bisa toleransi jika adik-adiknya hanya menjadi karyawan biasa, karena posisi itu tidak akan membuat mereka berurusan langsung dengan keluarga shabil. tapi kenapa adik-adiknya yang bodoh itu malah sangat dekat dengan keluarga shabil.
pemikiran itu membuat Bagas depresi.
Bagas melihat ke arah Daru dan adik bodoh nya duduk di hadapan nya. Bagas melihat wajah Daru yang hanya diam dan cuek lalu melihat wajah bodoh adiknya yang sedang cemas serta takut jika di marahi olehnya.
__ADS_1
Bagas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menghela nafas frustasi.