Love Of Passion

Love Of Passion
nyanyi bersama


__ADS_3

Daru menyanyikan lagu itu sesekali menatap ke arah Nafa yang tengah memberinya dukungan. semua murid yang mendengarkan suaranya menggoyangkan badan mereka ke kanan dan ke kiri mengikuti alunan musik.


musikpun berhenti, tepukan meriah terdengar dari penjuru sekolah.


Daru sengaja masuk ke sekolah yang tidak populer agar dia tidak terlalu mencolok, dia sudah memakai motor butut sesuai dengan karakter lelaki tidak populer, diapun tidak pernah tebar pesona kesana kemari namun ternyata itu sia-sia. meski dia hanya diam duduk di pojokan, dia tetap menarik perhatian.


"lagi! lagi! lagi!" terdengar seruan dari seluruh murid meminta Daru untuk menyanyi lagi.


"beri tepuk tangan sekali lagi dong guys!!!" ucap MC yang di sambut tepuk tangan


"bagaimana nih ka? para penonton ingin Kaka menyanyi sekali lagi. jangan bikin kecewa penonton ka"


Daru diam, dia melihat sekitar. dia melihat Ikbal yang sudah kembali ke stand dengan wajah yang lebih baik dibanding sebelumnya. terlintas sebuah ide yang cukup menarik.


"ehem! baiklah, aku akan mengabulkan permintaan kalian semua! tapi aku tidak akan solo. nah semuanya mari kita sambut Ikbal! Fahmi! Bram! Panji! dan tentu saja Diaz!!" ucap Daru dengan senyum licik


orang-orang yang namanya di panggil langsung mematung dan melihat ke arah panggung, sedangkan semua orang yang berada di tengah lapangan melihat ke arah kelas Daru.


"ayo semuanya panggil nama yang tadi ka Daru sebut! Ikbal! Fahmi! Bram! Panji! Diaz!" ucap MC memanasi situasi.


semua murid menyebut semua nama yang di maksud sehingga mau tidak mau orang-orang yang namanya di panggil naik ke atas panggung.


"Daru maneh ngapain sih??" bisik Ikbal, Fahmi, Bram dan Panji berbarengan


"katanya kalian gak bisa alat musik? cih! urang tahu kalian pinter main alat musik" sahut Daru dengan nada dingin


"aku gak bisa mainin alat musik, sumpah deh!" ucap Diaz dengan menunjukan dia jarinya


"tapi kamu bisa nyanyi kan? aku tahu suara kamu bagus! Ikbal maneh pegang dram, Bram bass, Fahmi gitar listrik dan maneh Panji pegang keyboard!"


semuanya diam saling pandang, mereka bertanya-tanya darimana Daru tahu bahwa alat musik yang harus mereka mainkan adalah keahlian mereka.


kalau Ikbal sudah jelas Daru akan tahu tapi yang lainnya bagaimana Daru tahu, padahal mereka tidak pernah menunjukkan skill mereka. Diaz pun bingung padahal dia merasa tidak pernah bernyanyi di sekolah.


"cepet!! biar cepet beres nih acara!" lanjut Daru dengan nada sedikit naik.


dengan sigap mereka menuju tempat masing-masing. Daru bangkit dari duduknya dan berdiri di sebelah kanan Diaz sedangkan Diaz tepat di tengah panggung memegang mic.


"bentar, kita harus bawain lagu apa?" tanya Bram


"bebas" sahut Fahmi


"could it be dari Raisa bisa gak?" tanya Diaz kepada teman-teman nya


"gimana nadanya?" tanya Panji

__ADS_1


Diaz menyanyikan sedikit lagu yang di maksud.


"okeh bisa!" setuju Panji


"bisa kan kalian? Taukan gimana nadanya?" lanjut Panji bertanya ke teman-teman nya


"gampang!" setuju Bram dan Fahmi


"aku sih tinggal ikutin musik" ucap Ikbal


Daru hanya mengangguk tanda setuju


Diaz menghampiri MC dan membisikan sesuatu lalu kembali di tempat.


"mari kita tepuk tangan dengan meriah untuk kelas 3 D! could it be!!"


musik pun terdengar, Diaz mulai bernyanyi. murid yang hafal lagu yang di nyanyikan Diaz ikut bernyanyi.


...***...


"ini berkas yang harus kamu pelajari"


sebuah berkas di letakan di atas meja Nurul oleh Rizal.


"ini tentang apa pak?"


"ini contoh proposal kerja sama dengan Amerika yang pernah di buat oleh Damar. pelajari dulu lalu buat gambaran hampir percis dengan ini. tidak perlu bagus yang penting kamu mengerti"


"baik pak. ah iya pak ini ada laporan dari tim pengembang 1 dan pengembangan 3"


"ohh tentang rencana real estate yang di pulau seribu dan pulau Lombok yah?"


"iya pak"


Rizal melihat kedua berkas tersebut dan membandingkan sekilas di antara keduanya.


"siapa penanggung jawab tim 3?"


"pak Diki pak"


Rizal mengangguk-angguk. dia menutup kedua berkas lalu melihat ke arah Nurul yang tengah membaca berkas yang tadi Rizal berikan. Nurul terlihat sangat serius.


"jangan terburu-buru, santai Saja" ucap nya seraya menyentuh bagian yang tengah Nurul baca. Nurul sontak melihat ke arah Rizal


"saya harus segera bisa agar pantas menjadi sekretaris bapak"

__ADS_1


Rizal tersenyum mendengar ucapan Nurul, membuat Nurul sedikit terpana. sebuah senyum kecil yang tulus


"aku hargai keseriusan mu. tapi sebentar lagi jam makan siang, makan bersama dengan ku" ucap Rizal seraya berbalik pergi


"ba-baik pak!"


ada apa dengannya? batin Nurul. akhir-akhir ini Rizal terlihat sangat berbeda. saat Nurul baru pertama masuk Rizal sangat keras kepadanya. bahkan dia belum boleh pulang sampai menyerahkan laporan yang 'baik' dan 'benar'.


tapi kali ini Rizal menyuruh Nurul untuk bersantai? seketika rasa bergidik menjalari tubuhnya. dia punya firasat tidak enak atas sikap Rizal yang lembut.


"aku harus bisa! aku tidak boleh bersantai! aku harus bisa menjadi sekretaris seperti pak damar" ucap Nurul dengan berapi-api dan kembali membaca berkas tersebut.


Rizal memperhatikan Nurul di balik cermin 2 arah. dia sengaja memasang cermin tersebut untuk mengawasi nurul. awalnya dia berencana menenpatkan Nurul tepat di sampingnya tapi dia berpikir kembali Nurul tidak akan bisa fokus bekerja begitu pula dengan dirinya.


"kenapa dia kembali membaca berkas? ak kan sudah menyuruh nya untuk bersantai. apa ucapan ku di anggap ancaman?" heran Rizal


dia melihat arlojinya, 1/2 jam menuju istirahat. Rizal mengambil ponsel dan menelpon restoran untuk reservasi.


"yah aku biarkan dia belajar keras, lagipula istirahat sebentar lagi"


...***...


acara berakhir tepat jam 4 sore, lapangan sudah mulai kosong, beberapa stand sudah di bereskan, parkiran pun terlihat lenggang hanya ada kendaraan para guru dan beberapa murid.


kelas Daru pun sedang membereskan kelas beserta stand mereka. jajanan yang mereka jual cukup terjual banyak, sisanya tengah di bagikan kepada anak-anak kelas oleh rietta.


Daru mendapat donat gepeng dan Ikbal mendapat cupcake yang sudah belah. Daru tidak mood memakan donat itu sehingga di berikan kepada Ikbal. Ikbal menghabiskan semua makanan yang ada di tangan nya.


dia sudah meminta Nafa untuk menunggunya dan akan mengantarnya pulang, Nafa sudah setuju dan dia akan menunggu di tempat parkir. dengan kecepatan kilat Daru membereskan hal yang harus dia bereskan.


"duluan yah" ucapnya kepada Diaz


"langsung pulang?"


"iya"


Daru bergegas memakai jaket dan membawa helm, dia setengah berlari menuju tempat parkir. namun dia tidak menemukan Nafa di manapun.


Daru cepat-cepat mengambil ponsel nya, dia berniat menelpon Nafa. niatnya terhenti saat melihat pesan dari orang yang dia cari


^^^'mf Daru, Kk pulang bareng Arya. dy nawarin tumpangan bwt nganter kk pulang. Kk gak tega liat kamu yg cape abis pensi hrus nganterin Kk pulang. sebelumnya thanks.. met ktemu akhir pekan'^^^


dalam satu detik Daru langsung membanting helmnya dengan keras.


"sial!"

__ADS_1


__ADS_2