Love Of Passion

Love Of Passion
toleransi


__ADS_3

Nafa masuk ke dalam rumahnya tanpa di ikuti Arya. karena rencana mereka hanya menyimpan barang dan pergi lagi, Arya memilih untuk menunggu di luar.


"mamah!!" teriak Nafa


"teh! udah pulang belum? aku bawa sesuatu nih" lanjutnya


terdengar suara langkah turun dari lantai atas


"wah! apa tuh?" tanya Nurul


"nih aku beliin teteh baju baru" jawab Nafa seraya memberi 2 kantong


"wih.. makasih"


"ini buat Kaka, ini buat mamah" ucap Nafa seraya memisahkan beberapa kantong


Nurul mengintip ke dalam kantong, dan cukup senang dengan hadiah yang di berikan Nafa.


"ngomong-ngomong mamah kemana?" tanya Nafa


"mamah ke rumah Bu RT, ada arisan" jawab Nurul seraya menaiki tangga


"teh, aku pergi lagi yah"


"kemana?"


"eumm.. nonton sama temen aku, dia udah nunggu di depan rumah"


"sama cowo tadi?"


"eumm.. iya hehe"


"ya udah hati-hati, pulangnya jangan ke sore an"


Nafa memberikan tanda oke dengan jarinya dan bergegas mengambil tasnya. saat akan keluar rumah dia di hadang oleh Bagas


"mau kemana?"


...***...


satu jam sebelumnya..


Ikbal melotot ke arah Daru namun Daru tidak menggubrisnya. dia merasa marah dan malu atas kejadian yang beberapa menit telah berlalu.


dia terbangun saat sedang di gendong oleh Bagas. yang lebih memalukan, dia di gendong seperti tuan putri. meski Bagas bilang dia sudah membangunkan nya beberapa kali tapi Ikbal tidak percaya dia di gendong dengan cara memalukan seperti itu.


"lebih baik di di tendang sampai terbangun" pikir Ikbal, rasa sakit lebih baik daripada rasa malu.


mereka telah sampai di depan rumah Ikbal, Ikbal meminta Daru untuk ikut masuk ke rumahnya. meski awalnya ogah tapi akhirnya Daru menurut. hingga hanya ada Bagas di dalam mobil.


tak berselang lama motor yang di tumpangi Nafa datang. Bagas memperhatikan dengan seksama.


Bagas dapat melihat Nafa yang begitu bahagia membawa banyak sekali kantong belanjaan. lalu segera masuk di ke dalam rumah, sedangkan pria itu duduk di kursi teras.


"lelaki itu pasti sudah menyogok Nafa dengan berbelanja" gumam Bagas. meski tidak tahu yang sebenarnya tapi Bagas sangat yakin bahwa adiknya sangat menyukai barang gratisan.

__ADS_1


Bagas turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya.


Arya melihat ke arah Bagas, tatapan mata Arya terlihat bingung dan was-was. Arya tidak tahu bahwa Bagas adalah kakak Nafa. saat Arya ingin bertanya mencari siapa, Bagas melewati Arya begitu saja dan masuk ke rumah. secara kebetulan Nafa berencana untuk keluar rumah.


"mau kemana?" tanya Bagas


"eh- ah- Kaka? ko disini?" Nada suara Nafa terdengar panik


"siapa yang di luar?"


"oh itu temen"


"suruh pulang" titah Bagas


"tapi Nafa mau pergi ka"


"kemana?"


"eumm.. ke-ke mall"


"bukannya udah? Kaka liat kamu tadi bawa belanjaan"


"i-iya sih cuman kan.."


"boleh nonton bioskop tapi harus sama perempuan" ucap Bagas seakan mengetahui isi pikiran Nafa


"Nafa sama ka Arya gakan aneh-aneh ko ka"


"kamu pikir Kaka gak tau apa yang di lakukan laki-laki dan perempuan di dalam bioskop?" tanya Bagas tajam


"suruh pulang! apa Kaka yang harus menyuruhnya pulang?" tantang Bagas


Nafa menghela nafas, tidak ada gunanya melawan kaka nya


"baiklah ka"


dengan lesu Nafa keluar rumah.


disisi lain Daru mengintip dari jendela Nafa berbicara dengan Arya dan sesaat kemudian Arya pun pergi dengan motornya.


"baguslah dia pergi" gumam Daru


"liatin siapa sih?" tanya Ikbal tiba-tiba membuat Daru kaget setengah mati


"maneh! sejak kapan disini?!" sewot Daru dengan mata terbelalak


"dari tadi! kan urang barusan ngajak maneh ngobrol!" jawab ikbal dengan sewot


Daru diam, hening sesaat. Daru pun menghela nafas


"ah ya benar. ngomong apa tadi?"


"kamu gak salah nyuruh orang itu jadi supir pribadi?" tanya Ikbal khawatir. Daru langsung tahu bahwa yang di maksud adalah bagas


"kenapa emangnya?"

__ADS_1


"dia kan.."


"preman? yah aku tahu" potong Daru


Ikbal menunjukan wajah terkejut


"te-terus ko maneh mau Nerima dia kerja?" tanya Ikbal gelagapan


Daru menatap Ikbal sesaat dengan intens membuat Ikbal sedikit merinding.


"hah.. ininih pemikiran orang kolot" ucap Daru


Ikbal hanya melongo tidak mengerti, sesaat dia sadar bahwa Daru sedang menghinanya. Ikbal bersiap untuk membuka mulut tapi Daru malah berjalan menuju kursi tamu.


"maksudnya apa maneh sebut urang orang kolot?!" tuntut Ikbal kesal seraya mengikuti Daru


"duduk, pegel kalau terus berdiri"


Dengan kesal Ikbal menurut, sebenarnya dia ingin menonjok wajah datar temannya itu tapi dia tahu bagaimana kapasitasnya.


"pemikiran maneh tuh udah kolot, hanya orang Jaman dulu yang mikir gitu. aku udah cek latar belakang Bagas. ada alasannya dia di sebut preman kelas kakap tapi aku gak heran dia jadi kaya gitu. muka sama badannya aja udah serem" ucap Daru, Ikbal mengangguk setuju.


di ingatnya wajah dan badan Bagas membuat Ikbal meringis


"tapi masa lalu hanyalah masa lalu, dia dulu di sebut preman tapi sekarang dia adalah bagian dari Shabil grup. dia di sebut preman oleh orang yang takut padanya tapi dia di sebut pahlawan oleh banyak orang. kamu pasti tahu kan cerita tentang nya"


"iya, aku tahu" sahut Ikbal. bagaimana dia tidak ingat, itu adalah berita yang sangat menggemparkan.


"kini dia ingin hidup normal, apa salahnya menerima mantan preman? jika memang dia ingin berubah kita harus mendukung nya. kita tidak bisa menghakimi hidup orang lain. yang bisa menilai benar dan salah manusia hanyalah Tuhan, kita sebagai makhluk ciptaan-Nya hanya bisa menoleransi dan tidak saling menghakimi" lanjut Daru


Ikbal diam, beberapa detik dia mendapatnya semacam cahaya ilahi. dia tidak menyangka bahwa temannya begitu dewasa. Daru yang di mata Ikbal adalah seorang bos konglomerat yang sulit di pahami dan pasti egois seperti kebanyakan anak orang kaya tapi ternyata dari diam dan dingin nya dia tersembunyi sifat hangat seperti ini.


"maneh cocok jadi next Mario teguh" ucap Ikbal seraya memberikan dia jempolnya


"diem maneh!"


"urang serius! seketika urang dapet pencerahan"


Daru ingin menyahut tapi dering ponsel menghentikan nya, Rizal menelpon. Daru pun mengangkat telpon itu


"apa?" tanya Daru ketus


di sebrang telepon itu berbicara, ikbal tidak tahu apa yang di katakan orang yang menelpon tapi raut wajah Daru semakin mengkerut


"ya baiklah" ucap Daru pada akhirnya dan menutup telpon.


"aku harus pergi sekarang" pamit Daru dan segera meninggalkan Ikbal sendirian di ruang tamu.


Daru berjalan dengan langkah lebar, Bagas sudah menanti Daru dan segera membuka pintu mobil. di lihat dari raut wajah Daru, Bagas tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi.


"apakah kita.." Bagas hendak bertanya namun Daru langsung menjawabnya


"rumah, rumah besar" jawab Daru singkat


mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman tuan rumah Shabil, sang raja singa.

__ADS_1


__ADS_2