
Ikbal mengacak-acak rambutnya yang sudah acak-acakan dengan frustasi. dia menaiki tangga menuju bestcame favorit nya, meski di katakan bestcame oleh dirinya namun tempat itu lebih tepat di sebut tempat merenung.
Ikbal berjalan perlahan menuju tempat persembunyian nya, sebuah saung kayu kecil. awalnya saung itu tidak di lengkapi alas, Ikbal sengaja membawa karpet kecil dari rumah nya untuk menutupi lantai agar dia bisa duduk, Ikbal menemukan sebuah meja rias kecil di halaman orang lain dan dia membawa meja itu dan di letakan di saung yang diklaim sebagai miliknya, Ikbal pun menambahkan beberapa seng tambahan di atas saung agar dirinya terhindar dari panas dan hujan tapi jika hujan mulai deras Ikbal mau tidak mau harus membereskan barang-barangnya dan menyimpannya di gudang tepat di pojokan loteng.
hiks..
Ikbal mematung, dia celingak-celinguk kesana kemari mencari suara tangisan perempuan, tidak mungkin ada setan' di siang bolong begini. dia melihat langit yang mendung, suasananya memang pas untuk genre horor.
hiks.. hiks..
kembali suara itu terdengar, Ikbal menajamkan pendengarannya. tidak mungkin itu hantu, karena suara tangisan hantu tidak selembut ini.
Ikbal berjalan mendekati saung, ternyata suara itu berasal dari saung miliknya. siapa wanita yang tengah menangis disana. Ikbal mengintip dari balik kayu, terlihat disana seorang wanita tengah memeluk lutut nya dan menangis, memakai seragam yang sama seperti dirinya, rambutnya di ikat jeday, Ikbal sempat berfikir apakah itu hantu sekolah. tapi di lihat dengan teliti wanita itu duduk mengenai lantai, jika hantu pasti sudah melayang. Ikbal tidak dapat melihat dengan jelas karena wanita itu membelakangi nya. tapi dia bisa menebak siapa wanita itu.
"ehem!!"
wanita itu berbalik dengan terkejut, Ikbal melihat mata Diaz yang terbelalak dengan mulut menganga, lucu sekali.
"ngapain-"
"ngapain kamu disini?!" tanya Diaz dengan panik memotong ucapan Ikbal.
biasanya jika situasi begini Ikbal memilih untuk mundur dan berbalik, tapi dia malah melangkah maju dengan telunjuk yang dia goyang-goyangkan.
"tidak tidak! harusnya kata itu aku yang ucapkan. ngapain kamu disini?"
"ini tempatku!"
"eits kata siapa?" tanya Ikbal seraya duduk di samping Diaz, secara naluri diaz bergeser
"aku yang duluan nemuin tempat ini!"
"masa?"
"i-iya!" jawab Diaz sedikit ragu
Ikbal tersenyum jahil, lucu juga melihat wajahnya yang bingung. kapan lagi kan gerjai ketua kelas , ucap Ikbal dalam hati
"aku yang pertama kali menemukan tempat ini, aku yang rombak tempat ini. meja yang disana, aku bawa dari halaman belakang rumah (orang lain), karpet yang kita duduki aku bawa juga dari rumah" ucap Ikbal seraya menunjuk meja di samping kiri mereka
"orang tua kamu gak nyariin karpet ini?" tanya Diaz
__ADS_1
"engga (engga tahu)" jawabnya, jawaban 'engga tahu' dia jawab di dalam hati
suasana hening, mereka memandang langit mendung dengan pemikiran masing-masing.
hari ini Ikbal begitu sial, dia sudah punya firasat bahwa kekasihnya menyembunyikan sesuatu tapi dia tidak menyangka bahwa yang di sembunyikan adalah pria lain.
karena sudah merasa janggal dengan pacarnya itu, Ikbal sengaja menunggu kekasihnya di depan sekolahnya. dia sengaja tidak mengatakan apa-apa dan ingin memberikan kejutan. seraya membawa satu tangkai bunga mawar dan sebatang coklat sebagai permintaan maaf karena dia sudah mengajak bicara dirinya saat pensi beberapa waktu lalu.
5 menit, 10menit tapi tidak ada tanda wanita pujaannya keluar gerbang padahal bel sudah berbunyi daritadi. hingga dia keluar, wanita pujaannya tengah berdiri di depan gerbang. wanita itu begitu cantik, rambut panjang ikal sepinggang, tubuh nya yang berisi namun profesional, tengah berdiri menanti seseorang, mungkinkah menunggu dirinya, pikir Ikbal.
Ikbal turun dari motornya, dia berjalan beberapa langkah namun langkahnya berhenti saat dia melihat wanita pujaannya tersenyum ke arah lelaki yang menghentikan motor di depan sang wanita. lelaki itu tampan meski yang terlihat hanya mata karena dia memakai masker. niat hati memberi kejutan malah dia yang mendapat kejutan.
hati Ikbal sudah sakit semenjak kekasihnya marah kepadanya meski yang di lakukan Ikbal tidak salah, hatinya bertambah sakit saat dia melihat kekasihnya tersenyum hangat kepada lelaki lain padahal kekasihnya tidak pernah tersenyum seperti itu kepada dirinya, kini hatinya bertambah sakit bahkan retak mungkin hancur saat kekasihnya memeluk pinggang lelaki itu dan pergi meninggalkan sekolah.
apa salahku? kenapa dia selingkuh? apa yang kurang? , pikirnya.
Ikbal kembali mengingat kejadian tadi, lelaki tadi memakai motor sport mewah sedangkan dia memakai motor bebek. ikbal tersenyum getir, ternyata itu penyebabnya, materi.
dia kembali ke sekolah dengan prasaan yang sembrawut, berencana berdiam diri di tempat persembunyiannya tapi yang dia dapati ketua kelas sedang menangis dengan pilu. apakah ketua kelasnya juga sedang patah hati? sama seperti dirinya, kini posisi mereka sama, patah hati karena seseorang.
"kamu nangis?"
"terus kenapa mata kamu bengkak? abis di tonjok? jujur aja, aku bisa jadi pendengar yang baik" ucap Ikbal.
Ikbal menatap Diaz, dia melihat mata sembab dan hidung merah Diaz. terasa sensasi aneh di dadanya seperti...Deg, suara jantung nya terdengar aneh.
Ikbal selalu lemah dengan wanita yang menangis bahkan dia menyukai kekasihnya saat melihat wanita itu menangis.
hening sesaat, Ikbal merasa sudah keterlaluan, dia sudah terlalu banyak ikut campur urusan Diaz. dirinya di liputi prasaan bersalah.
"maaf, aku tidak maksud ikut campur"
"tidak, tidak apa-apa. lagipula bukan masalah serius sih. aku juga berniat akan mengakhirinya"
"tepatnya mengakhiri apa? bukan nyawa seseorang kan?"
Diaz tertawa terbahak-bahak, pernyataan Ikbal sangat lucu didengar
"bukan! sembarangan yah kamu ngomong!"
angin berhembus kencang, kali ini di ikuti rintikan hujan. Ikbal dan Diaz segera berdiri, mereka merapihkan peralatan yang ada di sekitar saung dan memasukannya ke sebuah gudang yang ada di loteng. hebatnya gudang tersebut sangat rapih dan terdapat sebuah kasur lipat. Ikbal sudah membereskan tempat tersebut, berjaga-jaga jika hujan deras datang atau jika dia ingin tidur siang di sekolah.
__ADS_1
"waw!" ucap Diaz takjub
"keren kan? sini duduk, jangan terlalu dekat pintu, nanti kamu terciprat air hujan"
mereka duduk di atas kasur lipat, seraya melihat hujan yang semakin deras. gudang hanya di Sinari lampu kuning yang tidak terlalu terang namun mereka menikmati suasana yang damai tersebut.
"bisa lanjutkan yang tadi ketua kelas?"
Diaz menatap Ikbal lalu menghembuskan napas. dia bercerita bagaimana perasaannya terhadap Daru, bagaimana mereka bertemu, bagaimana dia mulai memiliki prasaan kepada Daru, dan bagaimana dia harus mengakhiri perasaannya. Ikbal hanya diam mendengarkan, sesekali dia menganggukkan kepala. Diaz cerita panjang lebar bahkan sampai ke hal yang detail tapi anehnya Ikbal nampak tidak terkejut.
Diaz kembali menghela napas setelah ceritanya selesai.
"akhirnya ketua mengakui prasaan ketua sendiri?"
"apa maksudmu?"
"asal ketua tahu yah, satu kelas sudah tahu bahwa ketua suka Daru"
"a-apa??!!! ba-bagaimana mu-mingkin?"
Ikbal menunjuk wajahnya dan membuat lingkaran seolah berkata semua terlihat di wajah tanpa menggunakan suara.
Diaz menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia merasa malu dan ingin menghilang saat itu juga.
"tidak apa-apa ketua, tidak heran jika ketua suka kepadanya. karena jika aku wanita, aku pasti akan suka ke Daru. dia memiliki aura yang menakjubkan" ucap Ikbal yang langsung di setujui oleh Diaz
"tapi lebih baik akhiri itu, dia orang yang sulit. jika ketua tetap menyukai Daru yang ada ketua akan terus tersakiti" lanjut Ikbal
".. ya sepertinya itu yang terbaik"
"jadi sebaiknya ketua menyukai orang seperti aku, aku akan membuat ketua tersenyum setiap hari" ucap Ikbal sambil nyengir
Diaz menerjang Ikbal dengan pukulan membabi buta sambil tertawa, membuat Ikbal heran apakah diaz sedang senang atau marah. pukulannya berhenti, Diaz bernapas lega, kakinya di selonjor kan, dia melihat hujan yang semakin deras lalu melihat ikbal dan tersenyum.
"terimakasih sudah menghiburku" ucapnya
Deg!
suara itu terdengar lagi, kali ini Ikbal mengumpat dalam hati. dia tidak boleh seperti ini, Ikbal memalingkan wajahnya mencoba untuk tidak melihat wajah Diaz
"ya sama-sama ketua" sahutnya setelah menyuruh setengah mati kepada jantung nya untuk tidak berdebar.
__ADS_1