
di malam yang sama.
krieett..
Nurul memasuki kamar nya, dia langsung berbaring di kasurnya tanpa berganti pakaian terlebih dahulu. lengannya menutupi wajahnya.
meski di pikir-pikir, Nurul tidak dapat menebak apa yang ada di kepala atasannya itu, sikapnya sangat angin-anginan. awalnya Rizal sangat dingin terhadap dirinya, tiba-tiba menjadi ramah, lalu kembali dingin dan kali ini sangat ramah bahkan sampai mencium bibirnya.
Rizal memang lelaki sempurna. kaya raya, tampan, tinggi semampai, tubuh atletis, tidak ada yang kurang dari segi penampilan. dirinya mengakui Rizal salah satu tipe lelaki idaman, karakternya seperti Duke di dalam komik, cerita yang sangat di sukai oleh dirinya. tapi Nurul tidak suka dengan kebiasaan Rizal yang suka minum alkohol. apalagi kebiasaan nya terhadap wanita, duhh.. itu sangat mengerikan. tapi manusia memang tidak ada yang sempurna, tidak ada lelaki yang sesuai keinginan kita seperti di dalam komik. termasuk dirinya, diapun bukan wanita sempurna.
Nurul tahu saat di kantor Rizal ingin meminta maaf kepadanya tapi kata maaf tidaklah cukup. dia butuh penjelasan kenapa Rizal melakukan itu terhadap dirinya. tapi dia takut menerima jawaban yang tidak sesuai, apa Rizal pikir dirinya adalah wanita murahan yang mau di cium dengan sembarangan. Nurul takut kenyataannya akan seperti itu.
jika di pikirkan dengan teliti, prilaku Rizal seperti orang yang sedang jatuh cinta, tapi itu tidak mungkin. tidak mungkin rizal jatuh cinta kepada dirinya lagipula Rizal sudah mempunyai tunangan.
Nurul bangkit dari tidurnya, dia berdiri menghadap cermin di lemarinya. melihat dirinya yang sangat kucel dan jelek.
tapi tidak bijaksana jika dirinya menjauh dari Rizal sedangkan Rizal ingin membuat semuanya baik-baik saja. dirinya ingin kembali seperti dulu, tidak ada rasa canggung, melupakan semua hal yang mereka lakukan di dalam villa. tapi Nurul tidak bisa melenyapkan kejadian itu, kejadian itu selalu terlintas di pikirannya bahkan saat dia hanya menatap punggung Rizal.
dia ingin bertemu Rizal, Ingin membicarakan kejadian itu, ingin melihat wajah lelaki br*ngsek itu, ingin mengobrol dengannya. apakah ini rasa rindu? tidak. ini pasti rasa kesal yang sudah dia pendam sejak mereka kembali dari Korea. lagi pula dia tidak boleh merindukan atasannya itu.
Nurul menghela nafas, dia melepaskan pakaian kerjanya, dia mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi.
disisi lain,
Nafa tengah duduk termenung di hadapan jendela memandang jalan komplek yang sepi. terlintas ingatan saat mobil Daru terparkir disana. jika di ingat-ingat Nafa beberapa kali melihat mobil itu, dia tidak menyangka bahwa itu adalah mobil Daru.
pandangan nya teralih kepada cincin yang tersemat di jari manis nya, cincin permata berwarna biru shapire. dia lupa mengembalikan cincin itu, tapi dia juga tidak sanggup untuk kehilangan cincin itu.
...****************...
setelah dia meninggalkan Daru yang mematung di belakangnya, Nafa langsung melihat keadaan Arya di rumah sakit, Arya di bawa oleh pihak Shabil ke salah satu rumah sakit besar di Bandung. Arya terbaring tidak berdaya dengan luka parah, bibirnya sobek, tulang hidungnya patah, rahangnya retak, matanya bengkak dua-duanya. Nafa duduk di samping Arya, mengamati kondisi Arya yang hampir mati.
"Na..fa.." terdengar suara Arya yang sangat lemah memanggil namanya
__ADS_1
"kamu udah sadar? bentar aku panggilan suster. suster!!"
"tung..gu.. jangan.. pergi" ucap Arya dengan susah payah
"kamu jangan banyak bicara, rahang kamu retak"
suster datang bersama dokter, mereka memeriksa Arya dengan sangat teliti dan cekatan.
"dia sudah baik-baik saja, hanya perlu di rawat sampai lukanya mengering. setelah itu dia boleh pulang" ucap dokter kepada Nafa
"terimakasih dok"
dokter pun pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut. Arya melihat sekeliling, dia meminta untuk duduk. meski Nafa sudah melarangnya tapi Arya bersikeras.
"pihak sekolah sudah memanggil kedua orang tua mu, tapi nampaknya mereka tengah dinas di luar kota"
kedua orang tua Arya bekerja sebagai pejabat daerah di salah satu kota di Jawa barat. mereka sering pergi dinas keluar kota bahkan keluar negeri. karena tempat kuliah Arya jauh dari tempat tinggalnya, diapun memilih ngekost di dekat kampus.
dia menceritakan bagaimana orang tuanya selalu sibuk, bahkan kedua orang tuanya sudah bercerai. karena perceraian orang tuanya terjadi saat dia berumur 7 tahun, Arya tidak sempat mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan. bahkan orang tuanya bersikap dingin kepadanya. dia hanya di asuh oleh bibi pengasuh hingga usianya menginjak usia 18 tahun. setelah itu Arya memilih untuk ngekost.
"aku mengerti, kamu sebaiknya jangan banyak beraktivitas. istirahat saja yah" ucap Nafa seraya menyuruh Arya untuk berbaring dan menyelimuti nya
"besok teman-teman kampus akan datang menjenguk, mereka semua sangat khawatir. jdi istirahat lah" lanjut Nafa
"apa kamu akan pergi?" tanya Arya seraya memegang jari Nafa
Nafa memandang tangan itu, dia ingin menjauh tapi tidak tega saat melihat dan mendengar kondisi Arya yang malang.
"setelah kamu tidur"
Arya menghela nafas perlahan
"aku menyukaimu, maukah kamu menjadi seseorang yang berharga untukku?" tanya Arya
__ADS_1
Nafa terdiam, mematung. haruskah dia terima, atau menolaknya. jika dia terima, apa tidak apa-apa? Nafa bahkan tidak bisa menjelaskan rasa suka.a kepada Arya apakah sebagai senior atau sebagai lawan jenis. jika dia menolak, dia tidak tega melihat wajah Arya yang sudah memelas. tapi bukankah ini terlalu cepat? meski Nafa sering mendengar Arya selalu mamandang dirinya tapi ini terasa janggal.
"aku.. aku.. baiklah, kita coba" ucap Nafa akhirnya. Arya tersenyum bahagia meski dia akhirnya berjengit karena luka yang dia derita.
...****************...
kembali ke masa kini, Nafa tidak yakin dengan keputusan nya. bahkan sekarang dia memikirkan Daru.
raut wajah Daru yang sedih dan kecewa teringat jelas di ingatannya, wajahnya yang marah saat dia menjelaskan bagaimana Arya menurut dirinya. dan kini dia sudah menjadi kekasih Arya, Nafa khawatir bagaimana reaksi Daru jika mendengar nya, semoga saja dia tidak mendengar apapun tentang dirinya.
Nafa melihat ponsel nya yang berdering, dia cepat-cepat mengambil ponsel itu berharap itu adalah Daru tapi ternyata yang menelpon adalah Arya
"kamu dimana?"
"aku di rumah"
"aku merindukanmu"
"haha, tadi kita sudah bertemu" ucap Nafa dengan tawa canggung
"tapi aku masih merindukan mu"
"besok aku akan ke rumah sakit lagi, sekarang beristirahatlah agar kondisimu cepat pulih"
"baiklah"
telpon pun di tutup.
Nafa menutup matanya, dia menghela nafas sepertinya ada yang salah tapi dia tidak tahu dimana yang salah.
dia kekasih Arya tapi entah kenapa dia selalu memikirkan Daru, bocah SMA yang selalu membuatnya khawatir.
Nafa memeluk kedua lututnya. hujan deras kembali turun tanpa ada kilat. tidak ada suara bising apapun, hanya suara hujan membuat suasana malam sangat sunyi. di kesunyian itu, Nafa menyadari sesuatu bahwa dia merindukan Daru.
__ADS_1