Love Of Passion

Love Of Passion
prasaan yang berbeda


__ADS_3

"gak apa-apa kamu ikut bareng aku? aku kasian aja sama anak didik kamu, aku sering bikin acara pensi seperti itu jadi aku tau gimana capenya"


"setelah di pikir-pikir bener kata kaka, aku langsung bilang iya ke dia tanpa mikirin kalau dia pasti cape. makasih udah mau anter aku pulang"


"tentu. mau gak kita ke cafe sebentar?"


"boleh"


Nafa dan Arya menuju cafe di sekitar Dago atas. cafe tersebut di kelilingi pohon Pinus membuat suasana menjadi begitu sejuk.


mereka duduk di sebuah kursi tepat di bawah pohon Pinus.


Arya memesan americano dan Nafa memesan coffe latte. mereka berbincang tentang karya wisata yang akan di adakan sebentar lagi. karena Nafa anggota dari devisi yang di pimpin Arya, jadi membicarakan acara tersebut dan saling berkonsultasi.


"ngomong-ngomong kenapa anak itu mau di ajari kamu?" tanya Arya


awalnya Nafa bingung siapa yang di maksud, namun dia langsung ingat bahwa anak yang di ajarinya hanya Daru.


"maksud Kaka Daru? entah, saat di rekomendasikan oleh kepala sekolahnya Daru langsung setuju"


"apa dia gak punya niat lain?"


"maksud Kaka?"


"yah.. dia kan anak konglomerat untuk apa dia les privat? biasanya anak kaya dan usia segitu males banget sama les "


tunggu! darimana dia tahu bahwa Daru adalah anak orang kaya? seingat Nafa, dia tidak pernah menceritakan ke orang lain bahwa Daru adalah keluarga Shabil.


"darimana Kaka tahu dia anak orang kaya?"


"karena setau aku yang ikut les privat biasanya orang kaya. dia orang kaya kan?"


"yah lumayan kaya, malah sangat kaya" ucap Nafa dengan bergumam.


"dia gak punya niat lain kan?" tanya Arya kembali


tapi terkadang pikirkan tersebut muncul di kepalanya. terasa janggal saat Daru setuju dengan permintaan kepala sekolahnya. tapi Nafa tidak peduli asal uang yang dia terima besar.


'yahh.. namanya juga orang kaya mau belajar berapa kali pun itu hak mereka kan. lagipula aku gak di apa-apain ko, dia juga belajar dengan giat dan hebatnya lagi pelajaran anak kuliahpun dia bisa loh" jawab Nafa meredakan rasa khawatir Arya.


dia tidak peduli bagaimana orang-orang berfikiran tentang Daru. Dimata Nafa Daru adalah anak yg jenius, sopan, pendiam, pengertian dan tentu saja kaya raya meski dia anak yang menyeramkan.


"sepertinya kamu akrab dengan anak itu"

__ADS_1


"gak juga hanya sebagai seorang guru aku harus tahu bagaimana anak didikku" sahut Nafa seraya mencicipi coffe yang ada di depannya.


"syukurlah kalau begitu"


Arya memperhatikan setiap gerakan Nafa, diapun ikut mencicipi kopi americano miliknya.


"aku tidak suka" ucap Arya tiba-tiba


"hmm? maksud Kaka? tidak suka aku minum kopi?"


"bukan. aku tidak suka kamu memperhatikan anak itu" jawab Arya dengan nada sinis


Nafa bingung, kenapa Arya tidak suka Nafa memperhatikan anak didiknya? padahal itu hal wajar dan harus di lakukan seorang pengajar.


"aku tidak mengerti" ucap Nafa


"apa masih belum jelas?" tanya Arya dengan menatap Nafa lekat


"ya-yaa?" Nafa mengalihkan pandangannya dari tatapan Arya yang begitu intens.


Arya memegang jemari Nafa, membuat Nafa merasa canggung


"aku tertarik padamu, apa kamu tidak berfikir aku tertarik padamu dengan segala perhatian ku?" ucap Arya membuat Nafa menahan nafasnya.


"Kaka suka padaku?" tanya Nafa balik


Arya memalingkan wajah, terlihat wajahnya merah padam karena malu.


"apa tidak terlihat?"


Nafa begitu senang, dia berusaha untuk menjaga ekspresi nya agar tetap datar namun bibirnya tidak kuasa menyinggungkan senyum.


seorang Arya, ketua BEM di kampusnya menyatakan cinta padanya.


"mau kah kamu menjadi pacarku?" tanya Arya kembali


saat seseorang merasakan cinta akan terasa seperti ribuan kupu-kupu berada di perut dan naik ke dada. namun Nafa tidak merasakan perutnya terdapat banyak kupu-kupu, jantung nya berdetak kencang tapi tidak seperti ada kupu-kupu.


Nafa memang menyukai Arya tapi sebatas mengagumi bukan prasaan seorang wanita kepada seorang pria.


Nafa ingin menolaknya namun dia bingung bagaimana mengatakannya, dia takut menyakiti prasaan Arya. apalagi setelah melihat wajah Arya yang begitu berharap.


"eumm boleh kah aku berfikir dulu? aku butuh waktu"

__ADS_1


"baiklah, aku akan menunggu jawaban mu" ucap Arya seraya mengusap punggung tangan Nafa.


mereka kembali meminum kopi mereka dan pesanan makanan merekapun datang.


...***...


Daru diam di dalam mobilnya dengan bosan, sesekali dia melihat ipad untuk memantau perkembangan perusahaan, hari ini data grafik perusahaan stabil. meski mengecewakan namun setidaknya tidak menurun. Daru yakin sebentar lagi ayahnya akan memintanya untuk menaikan performa perusahaan.


dia melihat ke arah kirinya memandangi rumah Nafa. sudah 3 jam dia diam di situ. pesanan makanan yang dia pesan lewat online sudah habis tanpa sisa namun Nafa belum pulang juga.


di kejauhan Daru melihat dari spion sebuah lampu roda dua datang mendekat, dia sudah memperkirakan bahwa itu Nafa dan Arya. tebakannya benar.


mereka berhenti tepat di depan rumah Nafa sebrang Daru. Daru memperhatikan mereka berdua.


Nafa turun dari motor, mereka berbincang sesuatu lalu Nafa tertawa yang membuat Daru semakin kesal.


Nafa menyerahkan helm kepada Arya. sebelum Nafa berbalik, Arya memegang tangan Nafa. dia seperti mengucapkan sesuatu dan mencium punggung tangan Nafa.


mata Daru terbelalak, ingin rasanya dia turun sekarang juga dari mobil dan menghajar lelaki di depannya itu. berani-beraninya dia mencium tangan Nafa bahkan dia sendiri belum pernah melakukannya.


namun Daru mengurungkan niatnya, dia sadar bahwa dia bukan siapa-siapa Nafa. dia tidak berhak melarang orang lain untuk mencium tangan Nafa.


"mereka berpacaran?" gumam Daru. Daru memandangi mereka dengan tatapan yang begitu panas seakan matanya akan keluar.


Arya menoleh ke belakang, melihat ke arah mobil. seperti ada yang memperhatikan nya.


"ada apa ka?" tanya Nafa


"engga, itu mobil punya siapa?"


"mungkin punya tetangga. suka ada mobil yang parkir disitu"


"oh gitu. ya udah aku pulang yah"


"iya ka, hati-hati"


Arya memutar balik motornya dan pergi meninggalkan Nafa. Nafa melihat motor itu sampai menghilang, diapun masuk ke dalam rumah.


Daru hanya diam, tatapannya kosong. padahal dia belum paham dengan perasaannya, dia belum tahu bagaimana perasaannya kepada Nafa tapi Nafa sudah memilih orang lain yang bahkan tidak lebih baik darinya.


Daru tidak ingin Nafa mengalami hal yang menyakitkan, setidaknya dia harus memberitahu Nafa bagaimana sifat asli lelaki itu.


prasaan yang baru tumbuh di dada Daru seperti air pancuran perlahan berhenti mengalir. Daru akan mencoba untuk merelakan Nafa meski itu rasanya tidak mungkin.

__ADS_1


__ADS_2