Love Of Passion

Love Of Passion
petaka


__ADS_3

keesokan harinya, Daru terbangun dengan keringat membasahi tubuhnya, kepalanya kerasa sedikit pusing. dia berharap semoga kejadian semalam hanyalah mimpi. setelah dia melihat sekeliling kamarnya dan menyadari bahwa dia sedang berada di villanya, dia sadar bahwa semalam bukan lah mimpi. dia terdiam, seperti melamun. Devan memasuki ruangan


"akhirnya anda sudah sadar pak"


"berapa lama aku tertidur?"


"seharian pak"


dia melihat jam yang menunjukan jam 9 pagi. selama itulah dia tertidur, Daru memijit keningnya.


"aku ingin susu coklat"


"saya sudah bawakan, susu coklat hangat" Devan memberikan gelas susu itu yang daritadi dia pegang.


Daru meminum susu hangat itu, dia merasakan sebuah kedamaian.


"apa anda lapar?"


Daru mengangguk, Devan segera memberikan sandwich yang dia pegang juga bersama susu coklat itu. Daru mengunyah perlahan, dia mengingat kembali kejadian semalam. dia masih terguncang dengan kejadian semalam, jika saja Bagas tidak cepat mendobrak pintu itu dia pasti sudah dalam masalah besar.


"dimana Bagas?" tanya nya dengan sandwich yang belum dia telan sempurna


"Bagas berada di bawah, dia tengah mencuci mobil bapak"


Daru kembali mengangguk. dia menatap kosong ke depan membuat Devan begitu khawatir. semua jadwal Daru hari ini dia cancel tanpa sepengatahuan Daru. Devan mengerti jika Daru tahu semua jadwalnya di tunda, Daru akan marah dia tidak ingin pekerjaannya terhambat apapun. tapi melihat Daru yang syok seperti ini dia tidak tega melihat atasannya mendapat tekanan kembali. meski Devan penasaran apa atasannya itu normal tapi jika seperti kejadian semalam, Devan yang pernah merasakan bagaimana tubuh wanita pasti akan takut jika menghadapi wanita bringas seperti itu.


Devan sudah tahu akan terjadi sebuah insiden di atas kasur tapi dia tidak menduga Irene akan menjebak Daru dengan memberikannya obat tidur dengan dosis yang berlebih.


"aku harus menuntut wanita sialan itu!" ujar Daru dengan nada yang sangat kesal.


Devan hanya diam, ada sebuah masalah yang lebih besar di banding semalam. wanita yang bernama Irene itu sudah lebih dulu menemui pak Presdir. dia bingung harus bagaimana menyampaikan ini kepada Daru


Daru berdiri dari duduknya, dia menghampiri cermin besar di samping kasurnya. dia terkejut dengan begitu banyak bekas kecupan yang ada di dadanya. Devan memejamkan matanya menyesal lupa membersihkan bagian itu, dia hanya fokus dengan wajah Daru.

__ADS_1


"aku merasa jijik dengan diriku. aku harus mandi!" ucapnya dan langsung memuju kamar mandi. sebelum dia masuk, Daru melihat ke arah Devan


"siapkan baju seragamku, aku ingin ke sekolah"


"baik pak"


Darupun memasuki kamar mandi dan mulai membasuh tubuhnya. meski dia datang telat, sekolah tidak akan membawanya ke ruang BK.


Devan membuka lemari besar di kamar itu. dia mengambil seragam sekolah yang selalu Devan simpan di lemari besar itu, Devan tahu atasannya itu selalu datang dan menginap di villa itu.


Daru keluar kamar mandi dan melihat Devan masih berdiri di depan kasurnya.


"bisakah kamu pergi? kamu ingin melihatku memakai baju?"


Devan cepat-cepat mengundurkan diri dan segera meninggalkan kamar Daru. dia turun dan disana sudah ada Rizal yang baru memasuki villa.


"bagaimana keadaan Daru?" tanyanya merasa khawatir


"iya itu lebih baik, suasana sekolah akan membuat prasaannya lebih baik" sahut Rizal


Rizal akan melangkah ke atas menuju kamar Daru, sesaat dia memikirkan sesuatu.


"ayah belum tahu kan?"


dengan ragu Devan menjelaskan bahwa Irene sudah menemui Presdir langsung saat malam itu di bandara. dia tahu Presdir pulang ke Indonesia malam itu dan menunggu Presdir di depan bandara semalaman.


"saya tidak tahu apa yang di katakan Irene kepada pak Presdir" ujar Devan


Rizal mengepal kan tangannya, dia tahu jelas apa yang di bicarakan wanita ular itu. Rizal merasakan petaka akan segera datang. tepat setelah berfikir seperti itu ayahnya datang memasuki villa.


"dimana Daru?" dengan wajah yang bengis ayahnya datang tanpa basa-basi.


Daru yang tengah menuruni tangga, berhenti sejenak. jantungnya berdetak kencang, dia merasa takut tapi dia harus menghadapi ayahnya lagipula dia tidak melakukan kesalahan besar. dia tidak melakukan apapun terhadap Irene. Daru pun sampai di lantai dasar, tanpa ba bi bu sang ayah langsung menghampiri Daru dan menamparnya dengan keras membuat sudut bibirnya berdarah. tidak hanya Daru semua orang di situ terkejut.

__ADS_1


"ayah tidak percaya kamu melakukan hal keji seperti itu!!" teriak sang ayah


Daru perlahan menatap ayahnya, tubuh sang ayah yang begitu besar membuatnya seperti monster, matanya yang hijau begitu menakutkan saat memancarkan kemarahan.


'seperti hulk' ucap batin Daru


Daru bingung kenapa ayahnya begitu marah, apa karena dia tidak bisa menjalin kontrak dengan perusahaan itu? tapi Daru bisa mendapatkan kontrak dengan perusahaan yang lebih baik dari perusahaan wanita sialan itu.


"ayah tidak masalah kamu gagal menjalin kontrak dengan Irene, tapi ini apa? kamu mencoba memperkosanya?!"


Daru terkejut, matanya melotot. dia telah di fitnah, dia tidak mungkin melakukan hal bejad seperti itu.


"aku tidak pernah memperkosa wanita itu! aku sudah di fitnah! wanita itu yang ingin memperkosaku!" Daru mencoba membela diri, karena memang itu lah kejadian sebenarnya.


"tidak mungkin wanita polos itu memperkosamu, Irene menunggu ayah semalaman di bandara. dia menangis tersedur-sedu kepada ayah dengan wajah yah penuh memar. dia bilang kamu yang memperkosanya dan menganiaya nya! ayah juga lihat bajunya yang sobek gara-gara kelakuanmu. kamu bikin malu nama ShabiL grup!!" bentak ayahnya


" ayah memang sudah tahu kamu anak yang bermasalah! kamu tahu kenapa apa ibumu meninggal? semenjak ibumu meninggal kamu jadi biang masalah!" lanjut sang ayah.


deg! hati Daru begitu sakit, dia memang tidak bisa mengingat ibunya. hanya kejadian buruk yang selalu dia ingat ketika mengingat ibunya. dia membenci ibunya, alasannya pun dia tidak tahu. kepalanya selalu sakit saat dia mencoba mengingat ibunya karena itulah dia berfikir bahwa ibunya bukanlah ibu yang baik. amarah yang di tahan Daru kini membludak


" apa aku terlihat begitu buruk sampai ayah tidak mempercayaiku? aku memang bukan anak baik yang bisa dibanggakan. soal wanita itu, aku bersyukur tidak mengingat wanita itu, menyebut namanya pun aku tidak Sudi! aku tidak peduli dia mati karena apa, aku tidak mau tahu!"


ayahnya sudah naik pitam, tangan yang di kepal ayahnya segera mendarat di pipi Daru namun dengan sigap Rizal menahannya


"ayah sudah cukup!!"


Daru melihat mata kakanya yang menyuruh nya untuk pergi, dengan mata yang berkaca-kaca Daru berlari menuju mobil nya dan pergi meninggalkan villa.


"dia harus di beri pelajaran! dengan mudahnya dia menghina ibu mu!!"


teriakan ayahnya masih dapat di dengar oleh Daru. Daru menghapus air matanya, dan melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi.


*hai para reader, terimakasih atas like, coment dan vote nya. happy reading😘😘*

__ADS_1


__ADS_2