Love Of Passion

Love Of Passion
belajar


__ADS_3

"saya sudah menunggu anda, Bu guru"


suara berat itu membuat nafas Nafa tertahan beberapa saat. dia mematung dengan mulut setengah terbuka, antara terpana atau terkejut.


anak lelaki yang dia liat di sekolah itu sangat berbeda dengan anak yang dia liat sekarang.


Nafa sempat merasa bahwa dia salah orang, tapi melihat tatapan dingin dan bibirnya yang tersenyum sinis itu nemunjukan bahwa dia anak yang akan di ajari oleh Nafa.


"silahkan masuk"


Nafa tersadar saat terdengar suara seorang ibu paruh baya. dia mempersilahkan Nafa masuk, Nafa menyadari bahwa Daru sudah berada di depan anak tangga.


Nafa membungkuk dan masuk kerumah itu dengan canggung


"ah! halo nama saya Nafa, saya guru privatnya Daru" Nafa memperkenalkan diri kepada BI Inah.


"oh iya, halo saya BI Inah. pembantu di rumah ini"


Nafa tidak menyangka bahwa ibu paruh baya yang terlihat seperti wanita konglomerat ini seorang pembantu, dia sempat mengira bahwa BI Inah adalah pemilih rumah ini.


jika dia pembantu pasti nyonya pemilik rumah ini terlihat melebihi bangsawan.


"BI siapkan seperti yang tadi aku kasih tau"


"baik tuan muda"


Daru menoleh kepada Nafa


"ayo ikuti aku Bu"


suara Daru rendah tapi seperti memerintah, Nafa tersenyum terlebih dahulu kepada BI Inah lalu langsung mengikuti Daru menuju lantai atas.


mereka sampai di atas, Nafa melihat sekeliling dengan takjub. luas sekali ruangan di atas sini.


pegangan tangga hanya sebatas sampai tangga ke 2 sebelum sampai ke atas, ada sebuah tembok yang menghalangi. lantai kedua tidak ada pagar pembatas seperti di rumah pada umumnya, ruangan ini lebih tepat seperti tempat untuk mengisolasi diri. tertutup dan memiliki aura kelam tapi tidak mengurangi kesan mewah.

__ADS_1


di sebuah kiri ada sebuah kasur besar dengan jendela terbuka di atas ranjangnya, kamar itu tanpa pintu hanya sebuah skat yang membatasi dengan ruang bersantai. ruang bersantai di satukan dengan ruang tamu. terdapat kursi tamu berwarna hitam dengan sebuah meja kecil, tv plat suepr besar tergantung di tembok dekat dengan tangga, di balik kursi besar itu ada beberapa kursi lantai yang menghadap ke layar tv besar yang tersimpan di meja besar dekat dengan rak buku.


di sebelah pojok kiri terdapat sebuah ruang baca dengan 2 rak buku besar, masing-masing rak di penuhi oleh buku baik itu komik, novel atau tentang politik dan pembisnis. di ruang baca itu ada sebuah pintu yang tertutup rapat, karena di pojokan pintu itu tidak akan terlihat jika tidak teliti. Nafa tidak tau itu pintu menuju kemana.


di sebelah pojok kanan terdapat sebuah kamar mandi. di pinggir kamar mandi ada sebuah ruangan yang berlapis kaca, Nafa dapat melihat itu adalah ruangan gym pribadi. Nafa mencoba melihat lebih dalam, karena ruangan ini sangat luas dia tidak bisa melihat apa saja yang ada di sebelah ruangan yang di depan tempat gym, namun suara Daru menghentikan nya.


"kita duduk disini aja Bu" ucap Daru membuyarkan rasa takjub Nafa.


Daru meminta Nafa duduk di ruang santai, dia duduk di salah satu kursi lantai yang sangat empuk.


Daru mengambil sebuah meja kecil yang di dalam mejanya terdapat beberapa wadah yang menyimpan cemilan ataupun permen.


Daru menggeser meja itu ke samping dan keluarlah wadah cemilan itu dengan sendirinya. Darupun menarik kaki meja yang dapat di lebarkan dengan fleksibel mengikuti lebar meja itu. Daru pindah tumpuan ke meja yang kosong, tempat penuh cemilan berada di sebelah kirinya.


" makasih" ucap Nafa dan mengambil salah satu permen.


"mari Bu kita mulai pelajarannya"


"ahh! pertama-tama jangan panggil saya ibu, saya merasa aneh"


"kalau begitu mau saya panggil apa?"


"karena ini pertama kalinya juga saya menjadi guru privat, eh tapi bukan berarti saya tidak berpengalaman! saya beberapa kali pernah menjadi salah satu guru magang di sebuah tempat les" ucap Nafa dengan panik, Nafa melihat dengan gugup ke arah Daru


"ehem! jadi panggil saya dengan sebutan Kaka saja" lanjut Nafa dengan senyum yang merekah.


"baiklah"


"dan seperti nya usia kita tidak terlalu jauh jadi panggil saja dengan akrab, saya juga akan memanggil dengan sebutan nama atau kata 'kamu', jadi kamu tidak perlu sopan seperti itu. kita santai saja yah" Nafa melanjutkan dengan ceria


"baiklah" Daru hanya menjawab seperlunya membuat Nafa menjadi canggung kembali.


Nafa pun memulai mata pelajaran, bahasa Inggris terlebih dahulu. Nafa memilih Inggris lebih dulu daripada matematika agar otak Daru tidak pusing karena terlalu keras berfikir. mereka memulai percakapan singkat dengan bahasa Inggris dan menyuruh Daru untuk menulis beberapa kata.


Nafa sangat antusias berbeda dengan Daru, sebenarnya Daru sudah tahu bagaimana pelajaran Inggris tanpa berfikir keras Daru bisa menyelesaikan ulangan dengan nilai tinggi tanpa belajar malam harinya. tapi Daru penasaran dengan berbagai macam ekspresi yang di buat oleh wanita yang ada di hadapannya. makin lama dia makin tertarik dengan ekspresi itu. seolah Daru tidak ingin menyudahi pelajaran begitu saja.

__ADS_1


saat Nafa sedang menjelaskan, daru terus menatap Daru. dia suka melihat lesung pipi di salah satu pipi cubynya. tatapannya begitu dalam membuat Nafa lama kelamaan sadar dengan tatapan itu.


Nafa begitu canggung dan merasa terganggu dengan tatapan aneh yang ditujukan oleh Daru. tiba-tiba Bi Inah datang dengan membawa sepiring besar buah-buahan dan dua gelas jus apel.


"terimakasih bi" ucap Nafa setelah BI Inah menyimpan makanan itu di salah satu meja tinggi dekat kursi tamu, Daru hanya melihat sekilas lalu kembali melihat Nafa sebentar dan mulai mengerjakan soal di bukunya.


Bi Inah kembali turun ke bawah dan menyimpan baki di tempatnya kembali. BI Inah tahu saat mendengar Daru mengundang seorang guru privat, dia pasti sedang merencanakan sesuatu. tapi BI Inah tidak menyangka bahwa itu adalah sebuah ketertarikan.


BI Inah tahu jelas bagaimana sifat tuannya ini. jika ada sesuatu yang diinginkan Daru, dia harus mendapatkannya dengan cara apapun.


BI Inah bisa tahu dari tatapan itu, tatapan yang terus tertuju kepada guru privat itu. BI inah perlahan tahu kenapa Daru menunjuk wanita itu sebagai guru privat, karena wajah ceria wanita itu. wajah yang bersinar seolah dunia ini baik-baik saja, wajah yang asing untuk Daru.


dan yang membuat BI Inah khawatir adalah tatapan Daru. tatapan itu seperti seseorang yang tengah mendamba, tatapan seseorang yang tengah terobsesi.


Bi Inah menggelengkan kepalanya, dia bergidik. semoga tidak ada hal yang mengerikan yang di lakukan tuannya itu. karena terakhir Daru menginginkan sesuatu pasti akan ada masalah yang menghampiri.


****


di lain tempat, Daru tengah mengerjakan soal matematika. suasana hening, Nafa terus memperhatikan Daru. dia heran kenapa Daru tidak bertanya sesuatu, apa Daru mengerti dengan soal itu? atau dia sebenarnya tahu jawaban dari soal itu?


"ji-jika kamu tidak mengerti boleh bertanya" ucap Nafa


Daru menghentikan aktifitasnya, dia meletakkan bulpoin dan melihat ke arah Nafa. cukup lama Daru menatap, membuat suasana tidak enak kembali menyerang Nafa.


"sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan"


"ya silahkan, apa?" Nafa kembali bertanya dengan tersenyum


"tapi ini tidak menyangkut dengan pelajaran, apa aku masih boleh untuk bertanya?"


Nafa keliatan bingung tapi dia tetap menjawab


"tentu silahkan, apa saja"


Daru mengulur kan tangannya, memegang wajah Nafa. wajahnya dia dekatkan, dia memperhatikan wajah Nafa dengan seksama.

__ADS_1


"apa Kaka tahu apa yang akan aku tanyakan? ah bukan yang akan aku lakukan?" tanya Daru yang masih menyentuh pipi Nafa


__ADS_2