Love Of Passion

Love Of Passion
menyesal


__ADS_3

Daru tengah berdiam diri di luar balkon, piyama nya berkibar tersapu angin malam memamerkan tubuhnya yang atletis. dia menghisap sebatang rokok, seraya melihat cakrawala malam yang terbentang luas.


"uhuk!" Daru tersedak asap rokok, ini adalah pengalaman pertamanya merokok. dia baru tahu bahwa meroko rasanya seperti terjebak di ruangan yang penuh asap.


Daru menghela napas. malam ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. setiap dia menutup mata wajah ketakutan Nafa selalu muncul.


dia tahu seharusnya dia tidak sekeras itu. namun itu tindakan refleks, seperti mencoba melindungi diri dari serangan musuh.


dia juga tahu dia salah, seharusnya dia mengunci pintu itu dengan benar.


sebelum Nafa datang, Daru meminta BI Inah untuk membersihkan ruangan tersebut. Daru hanya memasuki ruangan itu 3 bulan sekali, dan setelah itu dia akan mengunci pintu itu rapat-rapat. namun hari ini dia lupa menguncinya karena dia terlalu antusias bertemu Nafa.


"hah.. bagaimana ini? aku sudah menunjukan sikap buruk ku. aku takut dia membenciku" gumam Daru seraya mengacak-acak rambutnya.


di kejauhan Daru melihat sebuah mobil memasuki area rumah, Daru tahu siapa yang berada di dalam mobil Limosin itu selain kakanya.


akhir-akhir ini Daru merasa aneh dengan kakaknya. setelah pulang dari Amerika kakanya selalu pulang setiap hari ke rumah tidak biasanya dia pulang ke rumah setiap hari bahkan tidak tercium bau alkohol atau bau parfum wanita di tubuh kakaknya. itu adalah kejadian langka.


banyak alasan kenapa Daru tidak suka untuk ke daerah kekuasaan kakaknya, salah satunya selalu tercium bau yang tidak di sukai Daru.


Daru memperhatikan sampai Rizal masuk ke dalam rumah. Daru kembali melihat cakrawala, dia menghisap rokoknya dan kali ini sudah terbiasa dengan asap rokok tersebut. Daru akan terjaga malam ini.


...***...


Rizal merasa ada yang aneh, dia aneh terhadap dirinya sendiri. entah apa sebenarnya itu tapi dia tidak suka dengan keanehan ini. rasanya hatinya berlubang, dan lubang itu semakin lama semakin besar. entah karena apa dia merasa seperti itu.


dia merasa seperti itu sejak Damar memilih untuk mengundurkan diri, atau sejak Nurul menjadi sekretaris pribadi nya? dia tidak tahu mana yang benar. yang jelas saat di Amerika dia merasakan prasaan tersebut.


setiap dia melihat Nurul sebuah rasa yang asing muncul di hatinya, membuat hatinya tidak nyaman. dia bahkan tidak berani menatap Nurul secara langsung. semua itu bermula karena tatapan mata Nurul yang membuat Rizal merasa bersalah.


dia ingat tatapan, raut wajah dan senyum Nurul berubah seperti melihat sesuatu yang mengerikan..


flashback


suatu malam, di Amerika..


Rizal dan nurul keluar dari ruang rapat setelah mengikuti rapat bersama para dewan. Nurul langsung mengarahkan Rizal ke arah kamarnya. namun mereka melihat seorang wanita dan pria paruh baya telah menunggu mereka di depan pintu kamar bersama dua pengawal Shabil.


seorang pengawal bergegas menghampiri Nurul dan membisikan sesuatu


"mereka dari perusahaan T Bu, mereka sudah menunggu disini sejak sejam yang lalu"


"ada urusan apa mereka kemari?"


"mereka ingin bertemu dengan pak Rizal"


Nurul berpikir sejenak, dia ingat perusahaan T adalah perusahaan yang bergerak di bidang pakan ternak yang berdiri di negara Thailand. itu adalah perusahaan kecil dan mulai berkembang setelah shabil group menanam sedikit saham. namun untuk apa mereka kemari? kenapa mereka jauh-jauh datang ke Amerika hanya untuk bertemu pak Rizal?


Nurul melihat ke arah Rizal


"mereka ingin bertemu bapak"


sebuah tatapan aneh terlihat di wajah Rizal, senyum ganjil berkembang di bibirnya. ekspresi itu tidak pernah di lihat Nurul, dan itu membuat Nurul sedikit merinding.


"bawa mereka masuk" ucap Rizal dengan nada datar

__ADS_1


Rizal, Nurul, dan ke dua tamu duduk di kursi yang telah di sediakan.


"ada keperluan apa anda kemari?" tanya Rizal dengan memakai bahasa Inggris


"seperti yang anda tahu pak, saya ingin memperpanjang kerja sama kita"


"ahh, aku lupa. di bidang apa perusahaan mu?"


"pakan ternak pak"


Rizal menjentikan jarinya, meminta sesuatu kepada Nurul. Dengan sigap Nurul memberikan berkas terkait kerjasama dengan perusahaan tersebut.


Rizal membaca berkas itu namun raut wajahnya terlihat bosan.


"sesuai perjanjian kerja sama hanya berlangsung selama 2 tahun. jika anda memperpanjang kerja sama berarti ini akan menjadi ke 4 kalinya" ucap Rizal


"benar pak"


"dan anda tahu kan, perusahaan anda tidak memberi keuntungan besar bagi perusahaan kami"


"saya tahu pak, tapi saya mohon kemurahan hati bapak untuk membantu kami. saya sudah menyiapkan sesuatu"


pria itu menunjuk wanita muda yang ada di sampingnya, wanita itu tersenyum gugup. Nurul memperhatikan wanita itu. wanita muda-tidak lebih tepatnya dia seorang anak yang mungkin berusia 17 tahun. apa maksudnya ini?


Nurul melihat ke arah Rizal dengan tatapan terkejut. dia melihat wajah Rizal yang menilai gadis di depannya itu. apakah ini yang di maksud hobi aneh seorang direktur shabil? Nurul tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.


"baiklah, sebaiknya aku mandi dulu" ucap Rizal seraya pergi meninggalkan ruangan.


didalam hanya ada mereka bertiga. Nurul mematung sesaat. dia merasa syok dengan apa yang terjadi. memang Damar sudah memperingatkan nya bahwa menjadi sekretaris Rizal sangatlah sulit tapi dia tidak menyangka akan seperti ini.


"paman, aku takut"


"tapi.."


"ingat Lamai, orang tuamu, perusahaan ku semuanya tergantung padamu"


"ba-baik paman"


Nurul tersadar setelah mendengat perbincangan dua orang di hadapannya. dia tidak mengerti apa yang di katakan kedua orang tersebut karena mereka berbicara dalam bahasa Thailand dan Nurul belum belajar bahasa tersebut.


Nurul segera mengeluarkan kertas kontrak yang sangat tebal, terdapat 30 lembar yang harus di tanda tangani.


"saya akan kembali setelah anda selesai membaca dan mengisi berkas ini" ucap Nurul


"baik, terimakasih"


Nurul keluar ruangan. dia berjalan menghampiri kamar Rizal. dia ingin bertanya, apa maksud dari kejadian barusan. saat Nurul akan mengetuk, Rizal membuka pintu. dia keluar dengan hanya memakai jubah piyama berwarna hitam, dada dan perut atletisnya terlihat begitu menggoda. Nurul segera berpaling, bukan karena dia terpesona namun dia merasa risih jika melihat itu.


"ohh baru saja aku ingin memanggilmu. masuklah"


Nurul memasuki kamar itu dan menutup pintu nya.


"bisakah anda memakai baju dengan benar?"


"kenapa? aku suka seperti ini bahkan di rumah aku lebih sering hanya memakai boxer"

__ADS_1


Nurul terkejut dan refleks dia memukul kepalanya agar tidak terlintas bagaimana wujud Rizal memakai boxer di kepalanya itu.


"ah iya, setelah orang itu menyelesaikan urusannya pergilah juga ke kamar mu dan jangan ke kamarku sampai aku yang mencarimu"


pesan Rizal bagaikan angin lalu bagi Nurul, dia tidak mendengar apapun yang di katakan Rizal.


"pak"


"hmm?"


"kenapa?"


"apa maksudmu?"


",kenapa bapak lakukan ini?"


"maksudmu.. ahh soal wanita itu? yahh.. damar pasti sudah memberitahu mu"


"tapi pak, jika bapak tidak merasa perusahaan mereka memberi untung bapak tinggal tidak memperpanjang kontrak tapi jika bapak merasa kasihan kepada mereka pada hanya perlu menyetujui kontrak tersebut tanpa harus melakukan hal itu"


Rizal diam, dia melihat lekat ke arah Nurul. dia merasa aneh, kenapa wajah wanita di hadapannya ini terlihat sedih padahal bukan tubuhnya yang akan di nikmati Rizal malam ini.


"aku akan menghabiskan malam dengan wanita itu bukan dengan mu, kenapa wajahmu seperti tertekan?"


Nurul yang awalnya menunduk kini mengangkat wajahnya dan melihat Rizal lekat-lekat.


apa lelaki ini tidak tahu atau tidak mengerti kenapa Nurul sampai merasa sedih? padahal dirinya dan gadis itu sama-sama wanita.


"saya tidak percaya bahwa bapak berkata seperti ini. padahal bapak lahir dari rahim seorang wanita tapi bapak dengan tega merendahkan wanita. saya akan menyiapkan apa yang di perlukan gadis tersebut, kalau gitu saya permisi" ucap Nurul dan segera meninggalkan Rizal


Rizal berkedip berkali-kali, salah satu alisnya berkedut. baru kali ini ada wanita yang menasehatinya dengan tatapan memandang rendah dirinya. dia tidak marah, tapi dia merasa bersalah karena telah menyinggung prasaan sekretaris pribadinya tersebut.


pintu di ketuk, Nurul membuka pintu dan mempersilahkan seorang gadis masuk. setelah gadis itu masuk, Nurul segera menutup pintu tanpa melihat ke arah Rizal.


deg..! entah kenapa Rizal merasa hatinya sakit, dia ingin menahan Nurul dan membela diri tapi Rizal tidak tahu bagian mana yang harus dia bela.


suasana hening, gadis yang sedari tadi menunggu telah berganti pakaian dengan pakaian sexy. namun Rizal tidak menanggapi gadis di hadapannya.


"eummm sir?"


"ahh, sorry"


Rizal menghampiri sebuah meja dia mengeluarkan sebuah cek dari laci meja tersebut. dia menulis cek dengan nominal yang sudah di sepakati. dia berikan cek itu kepada gadis cantik di hadapannya.


"bawa ini, kamu boleh pulang. dan sampaikan kepada ayah, paman atau atasanmu itu aku menikmati semua yang dia siapkan. satu lagi jangan lakukan hal bodoh seperti ini. buat perusahaan mu menjadi lebih maju itu sudah cukup" ucap Rizal dalam bahasa Thailand


gadis itu terpana bahwa lelaki tampan di hadapannya mampu berbicara bahasa daerahnya.


*"Xo khe k̄hxbkhuṇ" wanita tersebut meninggalkan ruangan.


flashback end


kini Rizal hanya diam memandangi kolam renang seraya meminum red wine. dia hanya memandang kolam itu.


dia masih teringat wajah dingin Nurul bahkan sampai sekarang Nurul tidak ingin memandang langsung ke arah Rizal

__ADS_1


"hah.. aku harus bagaimana?" gumam Rizal merasa menyesal


^^^(catatan : * baik, terimakasih)^^^


__ADS_2