
kepala sekolah menceritakan dengan detail terkait penganiayaan yang di lakukan oleh Daru. Devan melirik ke arah tuannya itu, sesekali menghela nafas dan memijit keningnya.
padahal kerjaan dia di perusahan saja masih segunung sekarang harus menyelesaikan masalah penganiayaan karena kecerobohan tuannya. harusnya dia tidak memberitahu informasi tentang Arya.
Daru akan menjadi makanan empuk untuk para wartawan dan berita penganiayaan yang di lakukan oleh anak bungsu shabil group akan memperburuk citra Daru. selama bertahun-tahun para wartawan mencari kelemahan Shabil group, jika ini tersebar..
"kami-shabil group akan bertanggung jawab membiayai anak tersebut di rawat di rumah sakit, jadi saya harap tidak perlu membawa masalah ini ke ranah hukum"
"terimakasih telah mau bertanggung jawab tapi itu semua kuasa nak Arya" jawab kepala sekolah
dari ucapannya bisa di katakan bahwa kejadian ini tergantung dari pihak Arya, apakah Arya ingin melaporkan dari atau tidak jadi sudah jelas Devan harus menghampiri Arya dan tentu saja mengancamnya.
Daru hanya diam, wajahnya terlihat sangat tidak minat. kepala sekolah sesekali melirik ke arah Daru, dia tidak menyangka anggota Shabil berada di hadapannya. dia sering mendengar bagaimana kehebatan shabil group dari para pejabat tinggi dan dari para pengusaha besar maupun kecil. mereka selalu menyinggung soal anak-anak dari keluarga Shabil bahwa jangan pernah membuat mereka menjadi musuh.
"bisakah anda tunjukan dimana Arya berada?"
"mari saya antar"
pintu terbuka, semua orang yang daritadi menguping langsung menjauh dan pura-pura mengobrol atau membenarkan celana yang melorot. dosen biologi berdehem memberi isyarat agar semua siswa segera menuju kelas masing-masing namun tidak di turuti.
segerombolan orang berjalan beriringan, bersama para dosen. Nafa mencari keberadaan Daru di antara gerombolan itu. terlihat Daru berada di tengah-tengah, tepat di samping lelaki yang memakai jas cokelat. sontak Nafa langsung berdiri.
"Daru!" teriaknya, memang tidak sopan namun Nafa harus berbicara dengan Daru
semua orang melihat ke arah Nafa, Devan melangkah untuk mendekati Nafa namun Daru menahan. dia membisikan sesuatu dan segerombolan orang itu pergi kecuali Daru.
Daru mendekati Nafa, kedua tangannya dia masukan ke dalam saku celana. wajahnya begitu tenang namun hatinya tidak karuan.
"ada apa?"
"aku ingin bicara denganmu, berdua"
"baik" jawab Daru setelah beberapa detik diam menatap Nafa yang hampir membuat Nafa tidak nyaman.
mereka pergi menuju taman belakang kampus, disana hanya ada beberapa mahasiswa yang sibuk dengan urusan masing-masing.
"kamu kenapa sih?! kenapa kamu memukuli Arya sampai babak belur begitu? aku kan sudah bilang itu hanya gosip, tidak mungkin dia yang ketua BEM panutan para mahasiswa melakukan hal keji seperti itu. aku udah bilang jangan judge seseorang dari ucapan orang lain!" sembur Nafa
hening, Daru hanya diam menatap Nafa yang tersengal-sengal setelah tadi berbicara 80km/jam. Nafa menunggu tapi Daru hanya diam, tidak merespon pertanyaannya. hanya diam dan menatap tepat ke matanya.
"jadi kamu gak mau jawab? oke!" ucap Nafa, dia membalikan badan mencoba untuk berbuat sesuatu agar Daru merespon, dia tidak suka di acuhkan.
Nafa melihat dirinya di pantulan kaca, matanya mengarah ke arah kalung. Nafa melepas kalung itu dan berbalik menghadap Daru.
"aku kembalikan, maaf aku tidak mau menerimanya jika kamu bersikap seperti tadi, tidak baik menghakimi seseorang tanpa dasar dan bukti yang jelas"
Nafa menarik tangan Daru dan menyerahkan kalung itu dengan paksa. diapun segera bergegas berbalik dan berjalan pergi.
wajah Daru terlihat sedih dan terkejut, Nafa menyesal telah mengatakan kata-kata barusan tapi dia tidak bisa menarik ucapannya itu.
"jika aku katakan alasannya apa kau akan percaya?" ucap Daru pada akhirnya. Nafa terdiam dan melihat ke arah Daru.
__ADS_1
dia tidak terima jika dirinya terus disalahkan
"aku punya bukti yang sangat kuat, apa kau akan percaya dengan aku menyerahkan bukti itu? aku kira kau percaya setiap kata-kata ku. kau yang bilang bahwa kau percaya padaku, tapi ternyata ucapanmu tidak sama dengan tindakanmu. kamu harus ingat, bahwa orang yang banyak prestasi belum tentu memiliki moral yang baik" lanjut Daru dengan nada suara tajam namun sedikit bergetar, dan langsung pergi meninggalkan Nafa sendirian.
...***...
dilain tempat, di sebuah mall yang di penuhi banyak pengunjung, Rizal dan Nurul tengah menyantap santapan khas Korea di sebuah foodcord yang ada di lantai paling atas di mall tersebut.
mereka sudah meninjau perkembangan mall dan hasilnya cukup memuaskan. Rizal terlihat santai seraya memakan toppoki, sesekali dia bersiul ringan. Nurul menyantap sebuah toast dengan isian daging sapi asap, telur, sayuran dan mayonaise seraya melihat keadaan di bawah sana. suasana begitu damai untuk mereka, meski ada manager mall di sebelah mereka dan beberapa wartawan serta satpam di dekat mereka, mereka tidak merasa risih sama sekali.
"ada apa itu?" tanya Rizal kepada sang manager dengan bahasa Korea, refleks Nurul melihat ke arah yang di tuju Rijal.
terlihat disana, seorang ibu muda tengah memarahi seorang pegawai dengan nada tinggi yang mengganggu sehingga orang-orang memperhatikan mereka berdua.
"apa dia tidak tahu kalau aku tidak suka suara melengking?" tanya Rijal kembali, sang manager terlihat gugup, dia hanya tersenyum canggung.
wanita muda yang mungkin berusia sekitar 28 tahun tengah teriak-teriak karena barang yang dia beli beberapa hari lalu rusak.
"aku minta ganti rugi!"
"maaf Bu, bisakah ibu memperlihatkan setruk pembelian?"
"kau tidak percaya padaku?! aku sungguh membeli barang murahan itu disini seminggu yang lalu! tapi barang ini sudah rusak!! aku minta ganti rugi!!"
"baik Bu tapi maaf, bisakah anda memperlihatkan struk pembeliannya?"
dengan kesal wanita itu merogoh tasnya dan mengeluarkan semua struk lalu melempar semua struk itu ke wajah pegawai barang elektronik.
pegawai wanita itu membungkuk dan mencari struk yang di maksud, hingga akhirnya dia menemukan struk itu.
"baik, akan kami ganti rugi"
"aku beli itu dengan harga diskon, jika sekarang di ganti rugi maka harganya normal kan?" tanya wanita itu seraya menyerahkan sebuah kartu ATM.
"maaf Bu, kami mengembalikan uang pelanggan sesuai dengan yang di keluarkan pelanggan"
"apa?!"
"iya, sekali lagi maaf bu. ibu akan menerima sesuai dengan harga yang ibu keluarkan"
"aish! sangat tidak di percaya" ucapnya seraya melempar ATM itu ke bawah.
"ambil itu sendiri!" ucap sang wanita
"apa?" pegawai wanita itu terkejut dengan tindakan tidak sopan wanita di hadapannya
"ambil itu sendiri!"
sang pegawai menghela napas, dia tidak kuat dengan perlakuan semena-mena pelanggan di hadapannya
"silahkan ambil kembali kartu anda"
__ADS_1
"apa?"
"ambil kembali kartu anda, serahkan kepada saya dengan baik-baik atau anda tidak akan mendapatkan ganti rugi sepeserpun" ucap sang pegawai dengan kesabaran yang sudah habis
"kamu mengancam ku? berani nya wanita rendahan sepertimu mengancam ku! kamu tidak tahu siapa aku? hah?! panggilkan manager mall ini! aku akan melaporkan mu karena kerjamu tidak becus!! cepat panggilkan!!" teriaknya, orang yang melihat semakin banyak
"saya manager disini" ucap Rizal seraya masuk ke kerumunan itu dan berdiri di hadapan sang wanita
sang pegawai menunduk hormat kepada Rizal
"ohh anda ternyata, lihat pegawai anda! dia sudah mengancam saya padahal saya hanya meminta ganti rugi"
Rizal meminta struk yang di pegang pegawai tadi.
pembelian sebuah vakum cleaner, di beli pada seminggu yang lalu dengan diskon 50%.
"ohh saya tahu barang ini, apa rumah anda bertingkat?"
"tentu! rumah saya sangat besar dan bertingkat 3"
"saya tahu barang ini, ini barang yang sangat kami rekomendasikan. selain harganya terjangkau, vakum ini berukuran tidak terlalu besar sehingga mudah di angkat dan di bawa kemana-mana, selain itu tenaga penyedotnya sangat besar. barang ini tidak mudah rusak kecuali terjatuh dari lantai 3" ucap Rizal dengan penuh penekanan di kata terjatuh.
wanita itu hanya diam membisu
"barang ini tidak jatuh kan?"
"te-tentu saja tidak! aku selalu merawat barang-barang milik ku!"
"Anda membawa barangnya?"
"ma-mana mungkin aku membawa barang yang rusak"
"jika tidak ada bukti maka anda tidak bisa meminta ganti rugi, selain itu saya tadi dengar anda meminta ganti rugi dengan harga pembelian normal? wahh.. sepertinya anda seorang penipu yah"
"a-apa? beraninya kau kepadaku istri dari direktur K"
"ohh anda istri dari perusahaan yang baru merintis beberapa tahun itu? saya harap anda tidak menyesal dengan apa yang sudah anda lakukan hari ini" ucap Rizal dengan nada mengancam. wanita itu mundur perlahan
"apa maksudmu?"
"saya tahu anda simpanan dari perusahaan K, aku kenal dengan istri sahnya. jika dia tahu anda mengancam dan berbuat gaduh di mall saya.. saya yakin dia tidak akan segan membuang anda"
"a-apa?! beraninya kau-"
"bawa dia pergi! aku tidak mau melihat wajahnya lagi!" ucap Rizal menyuruh dua orang satpam yang daritadi bersamanya untuk membawa paksa wanita itu.
wanita itu meronta-ronta meminta untuk di lepaskan hingga mereka menghilang dari pandangan Rizal.
"larang wanita itu untuk masuk ke dalam mall ini untuk selama-lamanya!" lanjut Rizal kepada sang manager dengan penuh penekanan
"baik pak!"
__ADS_1
Nurul yang memperhatikan sangat takjub, Rizal yang barusan terlihat sangat berkuasa. dia sangat bangga memiliki atasan seperti Rizal yang membela pagawainya melebihi apapun. tidak seperti pemimpin lain, yang membela pelanggan arogan dan menyalahkan pegawainya sendiri.