Love Of Passion

Love Of Passion
hangout


__ADS_3

di lain tempat Nafa tengah berdandan siap-siap untuk memulai pekerjaannya. meski hanya memakai kaos hitam polos, jeans dan cardigan wol Nafa terlihat manis. make up natural melekat di wajahnya membuat kesan anggun. dia memotong rambutnya pendek membuat kesan segar dan awet muda. meski tidak di pungkiri wajah bulat chubby nya semakin terlihat.


"oke siap!" ucapnya penuh semangat, tersenyum sumringah memperlihatkan gigi gingsulnya.


saat tengah memasukan materi ke dalam tas, ponselnya berbunyi.


"halo assalamualaikum?"


hening sesaat lalu terdengar suara


"ini siapa?"


"saya Daru"


"oh iya Daru, Kaka sudah mau berangkat"


kembali hening, dengan hati-hati Daru berbicara


"sepertinya hari ini saya tidak bisa untuk les privat. ki- saya dan Kaka bertemu Minggu depan saja. saya rasa harus mengatur ulang jadwal les dengan Kaka"


Daru menghentikan kata-katanya saat akan mengatakan kata "kita", baginya itu bahasa asing.


"o-oh begitu? baiklah"


"saya hanya bisa bertemu dengan Kaka setiap hari Sabtu. tapi Kaka tidak perlu khawatir, bayaran yang telah saya berikan ke Kaka tidak akan berubah meski pertemuan hanya sekali dalam seminggu"


"tapi Kaka merasa tidak enak, ini tidak sesuai dengan perjanjian"


" tidak perlu khawatir, Kaka hanya perlu lakukan tugas Kaka. soal bayaran tenang saja"


Nafa terdiam, dia memang di untungkan dalam hal ini tapi rasanya aneh. gajinya terlalu besar dengan pekerjaan remeh yang dia lakukan


"karena Kaka diam saya anggap Kaka mengerti. kalau begitu saya pamit, ada urusan yang harus saya selesaikan"


Tut Tut*..


Nafa sudah membuka mulutnya untuk menganggapi ucapan Daru. dengan ekspresi tidak percaya dan kesal dia memandang ponselnya.


'dasar anak orang kaya, tidak sopan sekali ' ucapnya dalam hati.


Nafa menghela nafas, mencoba menekan rasa kesal nya. lalu dia melihat cermin, hatinya kembali kesal. lebih kesal daripada saat telponnya di matikan ko


"aku sudah dandan begini! harusnya dia katakan itu saat malam atau saat subuh kek! bocah itu mana tahu bagaimana usaha seorang wanita untuk berdandan! emang dia gak tahu berapa harga bedak ini setiap tepukannya? dan berapa harga lipstick ini setiap olesannya?!" ucapnya setengah teriak sambil memperhatikan dandanannya


"sayang sekali kalau make up ini di hapus. aku sampai liat tutorial make up flawles ala Korea di YouTube. dasar bocah yang tidak tahu sopan santun! enak sekali dia membatalkan janji!" lanjutnya


"tapi bagus juga sih gaji 5 juta tapi ak bekerja 4 kali dalam sebulan. nikmat mana yang kau dustakan!" sergahnya


"kalau udah dandan begini, sayang kan kalau gak kemana-mana. aku harus pergi berbelanja" ucapnya dengan mata berbinar-binar


kekesalannya luntur setelah mendapat ide untuk berbelanja. dia keluar kamar menghampiri kamar Kaka perempuan nya.


tok tok..


tidak ada tanggapan. Nafa kembali mengetuk pintu, tetap hening. dia membuka pintu kamar Kaka perempuan nya dan tidak ada siapa-siapa disana.


"kemana si Teteh?"


Nafa turun menuju lantai satu, dia melihat kaka laki-laki nya tengah memakai sepatu


"Kaka liat teh Nurul gak?"

__ADS_1


"tadi sih dia keluar, katanya ada job WO"


"oh begitu" semangat Nafa menurun


"emang kenapa?" tanya Bagas


"engga, tadi nya mau ngajak teh Nurul jalan-jalan"


"eumm gitu"


"eumm.. bisa gak kalau kak Bagas aja yang nemenin aku jalan-jalan?"


tanya Nafa, meski dia tahu jawaban apa yang akan di berikan Bagas tapi dia tetap bertanya demikian. dia ingin setidaknya sekali saja berbelanja dengan Kaka laki-lakinya. sepertinya akan seru jika dia membawa Kaka nya yang macho dan garang itu.


"kamu tahu kan Kaka harus kerja, majikan Kaka sudah menunggu" jawab Bagas


Bagas berdiri, dia menghampiri ibunya untuk salam dan menghampiri Nafa seraya memberikan tangan kanannya.


dengan terpaksa Nafa menyambar tangan Bagas dan memberi salam.


"nanti yah, kapan-kapan" lanjut Bagas seraya mengelus rambut pendek adiknya


Bagas pun menaiki motor Mogenya dan pergi meninggalkan rumah.


"emang kamu mau kemana sih nak?" tanya ibunya yang daritadi memperhatikan wajah cemberut Nafa


"jalan-jalan Bu, belanja gitu"


"bukannya kamu harus mengajar yah?"


"tadi Nafa di telpon buat gak Dateng, dia ada urusan. oh iya Bu, Kaka kerja dimana sih?"


"tapi Nafa ko gak pernah ketemu yah?"


"kamu kan tahu rumah keluarga Shabil sangat besar, tidak mungkin kalau kamu sengaja bertemu kakamu"


"iya sih tapi jangan sampai deh mah, nanti ak di marahin karena ikut kerja. bahaya kalau Kaka tahu"


"nah ada hikmahnya juga kan kamu tidak ketemu kakamu"


Nafa nyengir, dia menghampiri ibunya yang tengah membuat teh manis panas. Nafa memeluk lengan ibunya


"eumm.. bagaimana kalau ibu yang ikut aku jalan-jalan?"


"ibu sih pengen cuman ibu harus membantu tetehmu untuk menyiapkan berkas"


"oh yang di tawarin kerja di perusahaan Shabil? emang sudah ada informasi dari pak Damar?"


"tadi ibu di telpon untuk melengkapi beberapa berkas yang akan dia kirim nanti siang. tetehmu akan kesana besok Senin"


"waw ternyata punya orang dalem keren juga yah Bu"


mereka tertawa, tidak di pungkiri. dewasa ini memang lebih mudah mendapat pekerjaan yang layak jika punya orang dalam.


"semoga tetehmu betah kerja disana"


Nafa mengecup pipi ibuny dan kembali naik ke kamarnya, dia mengambil ponselnya. mencari nomer yang cocok untuk di ajak jalan-jalan dan kebetulan sekali seseorang menghubungi nya via WhatsApp


ka Arya BEM


sibuk gak naf?

__ADS_1


engga ka, ada apa?


mau gak anter Kaka ke suatu tempat?


 


kemana?


 


ke mall sih, mau beli perlengkapan buat BEM


 


tumben nih ngajak Nafa yang lain kemana?


 


mereka sibuk. itu juga kalau kamu mau


 


iya ka. aku mau


 


oke, tunggu yah. Kaka jemput kamu


Nafa kembali berkaca. dia menyentuh pipinya yang chubby. dia mencoba untuk PD dengan wajah yang semakin bulat berkat rambut pendeknya. untuk seperkian detik Nafa menyesali keputusannya memotong rambut.


"tapi gak apa-apa, lucu ko rambut pendek. kamu harus PD naf, banyak muka bulat yang berambut pendek tapi mereka tetap lucu!" ucapnya kepada diri sendiri untuk menyemangati.


Nafa kembali turun setelah siap-siap. dia menyelendang sebuah tas hitam berukuran kecil. diapun memakai sepatu warna putih bersih kesukaan nya.


"pergi sama siapa?" tanya ibunya


"ketua BEM mah, dia ngajak Nafa buat cari perlengkapan organisasi"


ponsel Nafa bergetar, pertanda pesan masuk. Arya sudah menantinya di depan rumah


"Nafa pergi dulu yah Bu" ucap Nafa seraya mencium tangan ibunya


"hati-hati"


Nafa pun keluar, dan melihat Arya sudah standby di depan rumahnya seraya menaiki motor KLX.


Nafa bukannya kenapa-kenapa tapi dia sangat benci dengan motor yang tinggi seperti itu terlebih tubuhnya yang pendek susah untuk naik motor seperti itu.


Arya melihat ke arah Nafa, Nafa pun tersenyum dan menghampiri.


"maaf lama yah ka"


"iya, gapapa. ayo naik"


Nafa memakai helmnya. dia menginjakan kaki kanannya ke salah satu step motor untuk menjadi tumpuan dan naik dengan mantap ke atas motor. karena joknya tidak selebar motor matic membuat tubuh Nafa harus menempel ke punggung Arya.


"udah siap?"


"iya ka"


motorpun melaju. Nafa memegang sisi kiri dan kanan jaket Arya, agar dia tidak jatuh. merekapun melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat yang di tuju.

__ADS_1


__ADS_2