Love Of Passion

Love Of Passion
rasa kesal 3


__ADS_3

Ikbal sangat benci dengan keputusan yang dia ambil. dia seharusnya tidak memilih muangtai, dia mulai berfikir lebih baik mengikuti senam SKJ.


tubuhnya terasa ngilu. padahal dia adalah member baru tapi Ikbal sudah di tuntut untuk melakukan gerakan-gerakan yang sulit. dia harus menendang, memukul, menyikut, melompat sambil menendang percis seperti di film ong bak yang ada di tv dan dia tidak sanggup.


tubuh kerempengnya tidak sanggup melakukan itu. dia ingin menyerah tapi pelatih tidak mengijinkannya. Ikbal ingin menangis, dia sudah lelah.


"baik latihan sampai disini dulu Ikbal" ucap pelatih saat melihat kuda-kuda Ikbal selembek agar-agar.


akhirnya Ikbal tumbang, dia tergeletak di lantai matras seraya mengatur nafasnya.


"pantas saja tubuh si sialan itu begitu atletis ternyata olah raga yang dia jalani begitu berat" gumam Ikbal.


Ikbal sedikit merasa ngeri dengan hidup Daru, dia tidak bisa membayangkan menjadi seorang keluarga konglomerat yang harus terlihat sempurna baik sifat ataupun fisik. diapun merasa kasihan kepada Daru.


Ikbal perlahan berdiri. dia merasa sendi nya berubah menjadi bubur. dia berjalan tertatih, pelatih yang tadi mengajarinya menghampiri membantu dia berjalan.


"kamu tidak apa-apa?"


"sebenarnya kenapa-kenapa tapi selebihnya aku baik-baik aja" jawabnya seraya meringis


mereka berjalan menuju kursi yang berada dekat loker. ikbal duduk perlahan, sang pelatih duduk di sampingnya. pria berusia 30 tahun lebih itu menatap Ikbal.


"aku dengar kamu teman singa muda?" tanya sang pelatih


"singa muda?" wajah Ikbal bingung, bertanya-tanya siapa itu singa muda.


sang pelatih melihat kanan kiri, memastikan tidak ada orang di sekitarnya.


"maksudku tuan Daru, kami tidak boleh sembarangan menyebut namanya. karena itu kami memanggilnya singa muda"


"ohh begitu. iya aku temannya"


suasana hening sejenak. Ikbal meminum isotonik nya.


"baru kali ini aku melihat singa muda membawa seorang teman. aku bahkan terkejut dia memiliki teman" sang pelatih tiba-tiba bersuara


Ikbal menoleh ke arahnya, jika melihat sikap dingin Daru dia setuju bahwa Daru akan kesulitan mendapatkan teman. tapi entah kenapa, pelatih bercerita seolah-olah sifat Daru lebih buruk dari yang dia duga.


"apa Daru sangat kuat?" tanya Ikbal mengalihkan pembicaraan


"iya sangat! bahkan bisa di bilang dia sangat luar biasa!" jawab pelatih penuh semangat


"singa muda mampu berlatih muangtai selama 3 jam tanpa istirahat. daya tahannya sungguh luar biasa! dia mampu mengalahkan semua pelatih disini, bahkan beberapa pelatih kalah kelak hanya dengan sekali pukul" lanjut pelatih


Ikbal tercengang, dia Saja hanya berlatih 1 jam merasa tubuhnya remuk. dia tidak percaya bahwa Daru sekuat itu. pantas saja pukulan yang pernah dia terima dulu terasa sakit selama seminggu.


"singa muda sangat berpotensi. saya tidak heran kenapa dia di sebut singa muda. tenaganya hampir setara dengan wakil singa" lanjutnya lagi


Ikbal merasa wakil singa itu adalah Rizal kakanya Daru. jika mengingat soal Rizal, Ikbal tidak heran Kaka Daru itu sangat kuat karena memang begitu adanya. di balik jas nya Ikbal dapat melihat pundak yang bidang dan otot yang ada di dadanya. sebagai lelaki Ikbal terpesona oleh Rizal.


"singa muda sangat terorganisir, beliau mengikuti jadwalnya dengan baik dan hari ini bukan jadwal beliau berlatih"


"bukan? aku kira dia berlatih setiap hari" sahut Ikbal

__ADS_1


"tidak, kami semua tahu jika singa muda akan kesini setiap beliau sedang kesal. dan beliau selalu kesal di hari yang sama, baru kali ini beliau kemari tidak seperti hari biasa"


Ikbal tersadar ternyata ini alasannya kenapa Daru terlihat sangat kesal tadi pagi. tapi kenapa Daru kesal? Ikbal menepiskan rasa penasarannya karena dia tahu temannya itu selalu kesal setiap saat tanpa ada alasan.


"pantas saja.." guman ikbal


"ya?" tanya pelatih


"ah tidak, apa aku boleh keluar?"


"tentu, latihan sudah selesai kecuali kamu ingin kembali berlatih"


"aku kira nanti saja" sahut Ikbal dengan senyum yang dia paksakan


mereka bersalaman lalu ikbalpun keluar dari ruang latihan seraya membawa barang-barang nya.


Ikbal berjalan menuju toilet, dia berencana memakai bajunya disana. dia terkejut melihat seseorang tengah tersenyum seram ke arah cermin yang ternyata itu adalah Daru


"astaga!" teriak nya


wajah Daru langsung berubah 180 derajat menjadi datar.


"kenapa kamu tersenyum menyeramkan seperti tadi?" tanya Ikbal


"siapa?" tanya balik Daru


"maneh!"


"salah liat kali"


"jangan ngada-ngada" ucap Daru seraya masuk lebih dalam ke dalam toilet, berencana untuk buang air kecil.


Ikbal mengikuti dan buang air di sampingnya, suasana hening


"aku dengar setiap kamu kesini itu berarti kamu sedang kesal, apa itu benar?" Ikbal bersuara


Daru diam tidak menjawab, dia berjalan menuju kaca toilet. mencuci muka lalu mengambil tisu yang sudah di sediakan.


"ayo pergi" ucap Daru


Ikbal hanya mendesah, dia sudah menduga Daru akan bersikap seperti itu.


Ikbal mengikuti Daru keluar toilet. mereka berjalan menuju ruang tunggu.


......**......


perkelahian antara Indra dan Bagas berjalan sengit. beberapa teman Indra yang di tempat dan para member diam menonton.


Indra menerjang ke arah Bagas, berusaha menjatuhkan Bagas dengan momentum beban tubuh nya. Bagas terdorong namun dia tidak goyah sedikitpun. Bagas melingkarkan lengannya ke leher Indra dengan kuat. membuat Indra semakin lama sulit bernafas.


melihat ada celah, Bagas mengangkat tubuh Indra dengan posisi kepala di bawah dan di hantamkan tubuh itu ke lantai.


Indra ambruk seketika, dia tidak sanggup bangkit lagi. nafasnya tersengal. Indra bersyukur lantai di lapisi matras yang tebal, dia tidak bisa membayangkan jika di bawahnya aspal, pasti kepalanya sudah pecah.

__ADS_1


Bagas menghampiri, dia juga tersengal. Bagas menjulurkan tangannya berniat membantu Indra berdiri. Indra memandang sejenak tangan itu lalu meraihnya.


"kau memang hebat" ucap Indra di sela nafasnya


"kau juga. guru gulat profesional memang beda"


"levelku masih jauh jika di bandingkan penjaga singa"


mereka saling tersenyum lalu berjalan keluar arena.


"nah anak-anak, silahkan lanjutkan aktifitas kalian" teriak Indra sambil menepuk tangan.


terkadang cara lelaki menjadi akrab dengan cara adu kekuatan. ekstrim memang, tapi hasilnya tidak pernah gagal.


"bagaimana dengan keadaan singa muda?" tanya Indra duduk di kursi sementara Bagas mengganti bajunya.


"entahlah, kamu Taukan bagaimana rumitnya singa muda"


"iya kamu benar, dia anak yang sulit di pahami" setuju Indra.


"hei! tolong jangan telanjang bulat seperti itu!!" protes Indra saat melihat pemandangan yang kotor.


Bagas tidak menanggapi dan cuek memakai bajunya.


"semua anggota sudah tahu kan bagaimana sifat semua singa muda. kita harus memaklumi dan jangan sampai ceroboh" ucap Bagas seraya memakai jasnya


"iya kamu benar" gumam Indra


"yah.. semoga kamu bisa menjalani pekerjaan mu dengan nyaman. sejujurnya aku merasa kasihan kepada mu" lanjut Indra seraya menepuk pundak Bagas


"terima kasih atas dukungannya" sahut Bagas.


bagaspun keluar dari ruangan dan berjalan menuju ruang tunggu.


sesampai disana dia terkejut melihat Daru tengah menunggu nya seraya memainkan ponselnya sedangkan Ikbal tertidur disana. sepertinya hanya dia yang terlalu menikmati pertandingan.


Bagas segera menghampiri Daru, dia khawatir jika tuannya itu tambah kesal.


"maaf pak, saya terlalu lama di tempat latihan"


"tidak apa-apa" sahut Daru, tatapannya masih tertuju ke ponsel


"tolong ambilkan pakaianku di loker tinju, aku malas memakai baju" lanjut Daru.


Bagas baru sadar bahwa Daru hanya memakai boxer. sebagai publik figur Bagas khawatir akan ada gosip baru.


"bapak akan berpakaian seperti itu sampai parkiran?"


"aku berencana seperti itu, tapi aku pasti akan menarik perhatian para wartawan. ambilkan bajuku, aku akan memakainya disini"


"baik pak"


tidak lama kemudian Daru sudah memakai bajunya dengan rapih.

__ADS_1


"ayo pergi! ah bangun kan dia" ucap Daru seraya menunjuk ke arah Ikbal yang masih terlelap


__ADS_2