Love Of Passion

Love Of Passion
Dinner


__ADS_3

tatapan yang awalnya garang berubah jadi teduh, matanya menjadi sayu. hati yang awalnya panas perlahan menjadi dingin dan damai.


Nafa tersenyum di balik kaca itu


"bagaimana dia tahu di dalam mobil ini adalah aku?" tanya Daru dalam hati


Daru menurunkan kaca mobilnya dan terlihat dengan jelas wajah nafa yang cantik di bawah sinar lampu jalan.


"sedang apa kau disini?" tanya Nafa


".. menurut mu?" tanya Daru balik setelah diam beberapa saat. wajahnya kembali datar


"mau masuk ke dalam?" Nafa menawarkan


"tidak" jawab Daru dengan cepat


"baiklah kalau begitu. aku duluan yah" ucap Nafa seraya membalikan badan


"tunggu!"


seketika Daru mematung dengan ucapannya. untuk apa dia menahan Nafa


"ada apa?" tanya Nafa


itulah yang ingin di tanyakan Daru kepada dirinya. ada apa dengan dirinya, kenapa dia tidak ingin gadis itu meninggalkannya.


Nafa menunggu lama. 1 menit, 5 menit Daru tidak bicara.


"kalau tidak ada apa-apa aku akan masuk"


"Bi.. bisakah ka-kaka menemaniku sebentar?" tanya Daru pada akhirnya


"mau kemana? jalan-jalan keliling kota?" ucap Nafa dengan antusias. dia ingin sekali menaiki Porche sejak lama.


Nafa bisa mengenali mobil yang di parkiran di depan rumahnya ini adalah milik Daru karena saat siang tadi Daru menggunakan mobil yang sama.


Daru membuka kunci pintu mobil, dengan senang Nafa memasuki mobil mewah itu. mobil berjalan perlahan meninggalkan perumahan yang sepi namun hangat itu.


...***...


"tadi Kaka abis dari mana?" tanya Daru memecah keheningan


"aku dari Indonesiamart, baru isi shapipay. aku tahu ini mobil mu karena itu aku mengetuk kaca"


Daru mengangguk mengerti. dia melihat jam tangannya yang menunjukan pukul setengah 8 malam. mereka sudah keliling Bandung sejak setengah jam yang lalu dan kini mereka berada di daerah lembang.


"Kaka lapar?"


"eummm sedikit"


Daru membelokan mobil nya ke sebuah restoran mewah.


"kita ngapain kesini?"


"makan. Kaka bilang lapar kan?" Daru membalas dengan bingung

__ADS_1


"ya tapi kan gak ke restoran mahal juga. aku cuma pake baju tidur sedangkan kamu memakai jas. Aku serasa seperti asisten rumahmu"


Daru memperhatikan pakaian Nafa yang hanya memakai celana legging hitam dan daster sepanjang lutut. Daru mencari sesuatu di belakang joknya, dia mengambil sebuah mantel panjang berwarna hitam.


"pakailah ini"


"ta-tapi riasan ku"


Daru kembali memperhatikan Nafa, wajahnya sudah cukup cantik meski tidak di poles sedikit pun, Nafa menggelung rambutnya.


Daru mendekat melepaskan gelungan rambut Nafa, rambut Nafa yang hanya beberapa cm lebih panjang dari pundak membuat Nafa terlihat semakin cantik.


"begini sudah cantik" ucap Daru. diapun langsung keluar mobil.


Nafa masih diam dengan kejadian yang baru saja dia alami, seketika jantung Nafa dag-dig-dug serr tidak karuan. wajahnya memerah dan perlahan memanas. dia langsung menampar ke dua pipi untuk menyadarkan lamunannya.


"sadar Nafa! dia hanya anak di bawah umur!"


segera Nafa memakai mantel itu, terlihat sangat modis di pakai oleh nya. orang-orang tidak akan menduga bahwa Nafa hanya memakai daster.


Nafa keluar dari mobil, Daru sudah menanti. Daru terlihat seperti bintang film, dia seperti dari dunia lain. perlahan Nafa merasa minder dengan penampilannya.


Daru menoleh, wajahnya masih datar tapi tatapannya begitu teduh.


"pegang tangan ku" ucap Daru seraya mengulurkan tangannya


dengan sedikit ragu Nafa menyambut tangan itu. mereka saling beriringan memasuki restoran.


seorang pelayan menghampiri mereka.


"sudah reservasi pak?"


pelayan itu menerima kartu tersebut, dan langsung mempersilahkan Daru masuk.


"mari pak, saya antar ke meja anda"


mereka di antar ke sebuah meja VIP di lantai dua. meja itu sebesar meja makan untuk makan keluarga besar, berbentuk bundar dengan berhiaskan bunga mawar putih. tepat di samping mereka terdapat jendela besar yang memperlihatkan seisi kota Bandung. lampu kerlap kerlip menyinari jalan membuat situasi menjadi romantis.


"bukannya kita belum reservasi?"


"yah memang tapi semua bisa selesai dengan uang. maaf jika pembicaraan nya tidak menyenangkan"


"tidak apa-apa, aku sudah paham soal itu"


nafa melihat buku menu, terdapat banyak sekali makanan yang tidak pernah dia makan. Nafa terus melihat-lihat menu, mencari makanan yang mungkin dia tahu karena di sana banyak tulisan yang tidak dia mengerti.


dia menemukan makanan khas Sunda, sebenarnya Nafa tidak ingin makan nasi tapi hanya makanan itu yang dia tahu


"aku pesan nasi timbel"


Daru mengangkat alisnya sebelah


"serius?"


"eumm mungkin, aku tidak tahu makanan asing ini"

__ADS_1


"Kaka tahu makanan Perancis?" tanya Daru


Nafa menunjukan wajah seperti mengatakan 'menurutmu aku tahu? tentu tidak!'


"baiklah, akan aku pesan yang sama seperti yang aku pesan"


Daru hendak memanggil pelayan namun gerakannya di hentikan


"tunggu! aku tahu satu makanan dan makanan itu pengen aku aku coba"


Daru menunggu.


"itu loh Ratatouille! ya aku pesan itu"


"baiklah"


Daru memanggil seorang pelayan


"kami pesan ini, ini, ini dan ini" ucapnya


"baik, mohon untuk menunggu" sahut sang pelayan dan pergi meninggalkan tempat


tidak ada siapa-siapa disana, hanya mereka berdua.


"disini sepi banget tadi aku liat di bawah banyak orang" ucap Nafa seraya melihat kesana kemari mencari orang yang mungkin tersembunyi


"disini hanya ada kita, jadi Kaka tidak perlu khawatir dengan penampilan Kaka" sahut Daru dengan menekankan kata 'kita'


"eumm... baiklah. ngomong-ngomong wajahmu terlihat pucat, apa ada masalah?" tanya Nafa


Daru hanya diam, dia bimbang untuk menceritakan hal yang sudah mengganggunya. Daru diam cukup lama, membuat Nafa merasa tindakannya sudah salah.


"tidak apa-apa jika kamu tidak ingin bercerita"


Daru menatap ke arah Nafa, wanita yang ada di depannya ini mungkin bisa memberinya saran. tidak salah jika dia bercerita sedikit


"hari ini aku mendapat sebuah berita yang tidak menyenangkan, orang yang aku cari ternyata-" ucapan nya terhenti oleh pelayan yang membawakan mereka hidangan pembuka


"silahkan, kami menghidangkan bruschetta untuk hidangan pembuka" ucap pelayan seraya meletakan 2 piring di atas meja dan siap-siap untuk menuangkan sebuah wine


Daru mengangkat tangan kanan nya dan wine pun di ganti dengan air mineral.


Nafa terpana dengan makanan yang indah di lihat ini, tapi fokus nya kembali kepada Daru


"tadi kamu bilang apa?"


"tidak, makanlah kak" jawab Daru, Nafa mencoba memakan hidangan pembuka itu


bukan pilihan bijak bagi Daru untuk menceritakan masalahnya, lagi pula itu hanya masalah yang tidak terlalu penting. hanya kematian orang yang tidak berguna namun yang membuat Daru kepikiran, dia tidak bisa melindungi seorang anak dari kesalahan orang tuanya.


"apapun yang terjadi, itu bukan salahmu. aku pernah bilang demikian kan? dulu saat kita pertama bertemu. semua itu sudah di rencanakan oleh Tuhan, kita sebagai hambanya hanya bisa menghadapi, menjalani dan mensyukuri. jika itu kejadian baik maka itu bisa menjadi Hadiah dari Tuhan, namun jika itu kejadian buruk bisa kita jadikan pembelajaran" ucap Nafa di sela-sela makannya


Daru menatap lekat Nafa, dia merenungkan kata-kata itu 'sudah takdir dari Tuhan'


tidak lama hidangan utama datang, Nafa memesan Ratatouille sedangkan Daru memesan Coq Au Vin.

__ADS_1


Nafa langsung melahap makanannya. sebuah makanan yang belum pernah dia makan langsung masuk dengan mulus ke dalam perutnya, rasanya sangat mengagumkan. rempah-rempah nya begitu terasa, meleleh di mulutnya.


Daru yang memperhatikan Nafa makan hanya tersenyum kecil, senyum yang kecil sekali bahkan Daru sendiri tidak sadar sudah tersenyum.


__ADS_2