
pernyataan Daru membuat Nafa diam mematung memandang Daru tanpa berkedip. dia tidak tahu harus menjawab apa, ungkapan prasaan Daru terasa ambigu. Daru masih ada di hadapannya, bertulut, hanya diam dengan wajah datar. Nafa yakin Daru tengah serius, meski Daru selalu berwajah datar tapi tatapannya berbeda.
Daru menghela nafas, dia tersenyum lembut lalu membelai rambut Nafa pelan.
"sebaiknya Kaka tidur, Kaka pasti lelah"
"ta-tapi-"
"kita lanjutkan pembicaraan ini nanti setelah Kaka lebih baik"
Daru berbalik, berjalan keluar kamar. Nafa menatap punggung anak itu. Nafa selalu menganggap Daru seorang bocah tapi kali ini anggapannya berubah, Daru terlihat seperti lelaki dewasa.
saat Daru keluar, dia sudah di tunggu oleh Bagas yang berwajah serius.
"dimana orang itu?" tanya Daru
"dia ada di ruang sebelah pak, bersama Devan dan yang lain"
"oh begitu"
sebelum Daru melangkah, dia menahan Bagas agar tidak mengikuti dirinya.
"sebaiknya kamu hampiri adikmu, dia pasti membutuhkan mu Bagas"
"terimakasih pak" sahut Bagas dengan nada lega, Daru tahu Bagas ingin sekali menemani adiknya dan jika Bagas ikut dalam pembicaraan dengan Arya, Daru tidak yakin Arya akan selamat dengan utuh.
Daru kembali berjalan menuju ruangan sebelah. kali ini dia akan bertindak tegas, dia sudah tidak peduli jika Nafa memohon untuk tidak berbuat jahat kepada Arya. sekarang dia akan membuat perhitungan Yang akan membuat Arya menyesal seumur hidup.
...****************...
krieett..
Daru memasuki ruangan, semua mata tertuju kepada dirinya. dia melihat sekeliling, terlihat semua dosen yang tegang dan hanya Arya yang bersikap santai. Daru mengepalkan tangannya, dia ingin sekali mengakhiri hidup lelaki brengsek itu, setidaknya membuat dia sengsara dan memohon untuk mati saja.,
Devan tengah menjelaskan kenapa Bagas melempar Arya kepada para dosen. Daru dan Arya saling tatap, dia melihat Arya tersenyum dengan sinis bermaksud meremehkan Daru.
"aku rasa kamu tidak tahu situasi apa yang tengah kamu hadapi sehingga kamu bisa tersenyum seperti itu" ucap Daru tiba-tiba membuat semua orang diam
"saya sudah menjelaskan kepada semua orang bahwa tadi hanya salah paham. saya tidak berniat kurang ajar seperti yang di katakan sekretaris anda. saya dan Nafa tengah bertengkar dan saya hanya mengejar Nafa untuk menjelaskan" sahut Arya dengan tenang
__ADS_1
"lalu kenapa Nafa menangis?" tanya Daru dengan sabar
"Anda tahu kan wanita selalu berlebihan" jawab Arya sembari mengibaskan tangannya.
"jika anda berkata jujur, saya akan membereskan ini tanpa sepengetahuan dosen-dosen anda"
"apa maksud anda? saya sudah berkata jujur" sahut Arya
"baiklah jika itu yang anda inginkan"
dia melirik ke arah Devan, dengan sigap Devan mengeluarkan sebuah tablet dan memperlihatkan sebuah rekaman dimana Arya tengah memaksa mencium Nafa dan mendorong Nafa dengan keras. senyum Arya menghilangkan, wajahnya yang tenang mulai berubah.
"ini pasti keliru, cctv ini pasti rekayasa. saya yakin tidak ada cctv di tempat itu"
"jadi anda mengakui bahwa anda ada disana dan tengah melakukan hal yang tidak senonoh kepada Nafa?" tanya Daru dengan senyum sinis, dia senang Arya menangkap umpannya
"dan jika anda masih menyangkal, akan saya perlihatkan satu lagi" lanjut Daru
Daru menggeser layar dan muncul rekaman dimana Arya memasuki kamar meli dan Nafa dan tidak lama Nafa keluar dengan panik dan berlari kencang.
"Arya apa maksudnya itu?! kamu memasuki kamar siswi?? kamu melanggar apa yang sudah kampus perintahkan? padahal kamu seorang ketua BEM!!" seorang dosen mulai mempertanyakan dimana moral Arya yang seorang siswa terpandang di kampus.
"tunggu!!"
Daru menghentikan jarinya, dia melihat ke arah Arya yang tengah menahan amarah. Daru tersenyum senang, dia memberi tanda kepada Devan.
"tuan saya ingin mengobrol 4 mata dengan Arya, mari ikuti saya" ucap Devan dan berdiri seraya menunjukan jalan menuju pintu keluar
"tapi Arya adalah siswa kami, kami harus tahu apa yang terjadi"
"saya berjanji akan memberi tahu bapak-bapak sekalian" ucap Daru dengan senyum bisnisnya, beberapa bodyguard mendekati para dosen.
"pak, saya rasa kita harus menurut" bisik salah satu dosen
"ugh baiklah"
merekapun mengikuti Devan meninggalkan ruangan diikuti 3 orang bodyguard berbadan besar
...****************...
__ADS_1
"karena disini hanya ada kita berdua, jadi kita bicara santai saja" ucap Daru seraya menyenderkan tubuhnya
"apa yang kamu inginkan?"
"aku sudah mengatakannya kemarin saat menghajar mu"
"kamu hanya memukul ku, memaki ku tanpa berkata apa yang kamu inginkan!!" ucap Arya dengan menaikan rada bicaranya
"aku punya penawaran bagus untukmu. jauhi Nafa dan tidak akan aku sebar aib mu"
"aku tidak bisa! kami saling mencintai!!"
"tidak! bukan cinta! Nafa hanya menghormati mu dan kamu hanya ingin mencicipinya! dan jika aibmu terbongkar tidak hanya dirimu yang rugi tapi kedua orang tuamu pun akan rugi besar"
suasana hening namun tegang, hingga lawan bicara Daru tiba-tiba tertawa keras. sangat keras membuat beberapa bodyguard ingin maju untuk membungkamnya namun Daru menghentikan mereka hanya dengan mengibaskan tangannya, wajahnya masih datar.
"wah hebat! kamu hebat sekali! seorang CEO memang harus sehebat itu! kamu bisa mengetahui niatku dengan waktu singkat. tapi aku tidak yakin kamu bisa menghentikanku karena tidak akan ada yang percaya! akupun tidak peduli jika orang tuaku hancur! justru aku menantikan mereka jatuh hingga ke dasar jurang. mereka orang tua brengsek dan tidak berguna"
kali ini Daru yang tertawa keras membuat bodyguard sampai Arya terkejut dan heran.
"wah wah wah.. hebat sekali kamu bisa berpikir begitu! aku hargai keberanian mu meremehkan anggota inti keluarga Shabil. yah meski itu tidak baik untuk mentalmu, jika orang tuamu hancur maka siapa yang akan di salahkan pertama kali? itu pasti dirimu" sahut Daru meraya menjentikkan jarinya. sebuah proyektor menyala di sisi kanan Arya dan menampilkan beberapa video asusila Arya seraca acak, video korban yang datang ke rumah sakit sampai dukun untuk aborsi dan 3 wanita yang tengah menggendong bayi yang di ketahui anak Arya.
"ba-bagaimana-?" tanya Arya kelagapan
"kamu tahukan bahwa ak seorang Shabil. tidak ada yang tidak bisa aku dapatkan. bahkan informasi dan bukti dari kejahatan mu dengan mudah aku miliki. jika ini tersebar kamu sudah tahu kan apa yang terjadi? daripada hukum pidana bukankah hukum sosial lebih mengerikan, kamu pasti paham akan hal itu"
Arya tercengang, dia kembali teringat kenangan lama yang sudah dia buang jauh-jauh. semua anggota keluarga besarnya memperlakukan dirinya seperti serangga hanya karena dia bukan anak kandung ayahnya, semua orang mencemoohnya sebagai pembawa sial bahkan ibu yang melahirkannya melakukan hal yang lebih keji. dari semua anggota keluarganya hanya neneknya dari pihak ibu yang cukup baik kepada dirinya, setidaknya dia di perlakukan layaknya manusia namun setelah neneknya itu tiada dunianya semakin gelap gulita. padahal itu kesalahan ibunya kenapa harus dia yang menanggung akibatnya. Arya tidak ingin merasakan hal itu lagi, dia tidak ingin di hakimi oleh banyak orang atas kesalahannya.
"apa yang kamu mau?" tanya Arya dengan geram
Daru menyodorkan sebuah berkas yang ada di bawah meja di depannya. sebuah kontrak perjanjian.
"tanda tangani ini. ini adalah bukti tertulis bahwa kamu tidak akan mendekati Nafa sedikitpun untuk selamanya. jika kamu menurut maka bukti kejahatanmu tidak akan bocor ke luar"
Arya dengan cepat menandatangani berkas tersebut.
"sudah aku tanda tangani! ingat janjimu jangan sampai itu tersebar!"
"kamu bisa pegang ucapan ku. tapi kamu yang harus ingat baik-baik Arya. sedikit saja kamu muncul di hadapannya meski itu hanya punggungmu maka perjanjian ini batal dan aku bisa tahu apa yang kamu lakukan. jangan PERNAH ada di sekitar Nafa selamanya! ini peringatan pertama sekaligus terakhit untukmu!"
__ADS_1