Love Of Passion

Love Of Passion
trip ke Korea


__ADS_3

"aku pulang!" teriak Nafa saat memasuki rumah. dia langsung menutup pintu dan melihat ibunya tengah menonton tv.


"malem mah" ucap Nafa seraya mengecup tangan ibunya.


"tumben pulang malem"


"iya tadi di ajak main bentar sama temen"


"Arya?"


"loh ko mamah tau?!" tanya Nafa terkejut


"taulah, siapa lagi yang suka nganter sama jemput kamu selain dia"


"tapi bukan pacar ko mah!" ucapnya dengan panik


"iya-iya"


Nafa yang hendak menaiki tangga tiba-tiba berhenti.


"ka Nurul kemana mah? biasanya jam segini lagi nonton bareng mamah"


"tadi dia nelpon dinas ke Korea"


wajah Nafa berubah dramatis, mulutnya mengaga dan matanya terbelalak


"OH! MY! God! aku harus minta oleh-oleh" ucapnya seraya mengetik pesan kepada Nurul


"enak banget jadi ka Nurul!!! aku juga pengen!!" teriaknya


...***...


dilain tempat Nurul tengah menyesali keteledorannya. saat mereka akan pergi menuju restoran yang sudah di reservasi, Nurul langsung ingat jika mereka punya jadwal menuju Korea untuk meninjau dapartemen store yang baru sekitar 5 bulan di ambil alih.


karena jamnya sangat mepet mereka langsung terbang menggunakan jet pribadi sehingga perjalanan yang biasa di tempuh selama 7 jam 20 menit, menjadi 6 jam 20 menit. mereka sampai di Korea tepat pukul 19.20 malam, jika di sesuaikan dengan jam Korea mereka sampai pukul 21.20 malam, mereka langsung pergi ke Seoul menggunakan mobil yang sudah standby menunggu mereka selama satu jam.


mereka beristirahat di hotel yang tidak jauh dari dapartemen store.


kamar Nurul seperti biasa berada di samping kamar Rizal. Nurul memukul-mukul keningnya atas keteledoran nya, untungnya jadwal mereka akan di mulai besok pagi. meski Rizal mengatakan tidak apa-apa tapi ini adalah nilai minus bagi Nurul. banyak sekali kesalahan yang di lakukan Nurul namun akhir-akhir ini Rizal selalu mengatakan "tidak apa-apa", seolah badai sedang menanti menerjang nya. biasanya Rizal akan mengomel selama seharian full bahkan akan berlanjut sampai beberapa hari.


pintu kamarnya di ketuk, seorang pelayan memberikan makan malam yang sudah di pesan Nurul. meski dia sudah makan di pesawat namun perutnya masih keroncongan.


hotel yang mereka tempati memperkerjakan koki handal yang berasal dari Indonesia, sehingga Nurul dapat memesan rendang kesukaannya. Nurul memakan dengan lahap, di temani dengan es teh manis yang sangat nikmat.


seseorang mengetuk pintu kamarnya lagi sesaat setelah Nurul membereskan piring yang sudah kosong.

__ADS_1


Nurul segera memakai hijabnya dan membuka pintu, terlihat Rizal menunggu di depan kamar Nurul dengan hanya memakai piyama, seperti biasa dada hingga perut bagian atasnya selalu terlihat. Nurul menelengkan matanya, pemandangan yang sangat tidak dia sukai.


"bisakah bapak menutup aurat bapak?" tanya nya dengan nada kesal


"hm? aurat?" Rizal melihat tubuhnya yang menurutnya tidak aneh


Nurul mendekat dan mengancingkan baju Rizal.


"ini adalah aurat pak! bapak tidak boleh sembarangan menunjukan tubuh bapak yang berharga kepada sembarang orang"


"aku tidak menunjukannya ke sembarang orang ko"


"maksud bapak?" tanya Nurul, apakah itu artinya Nurul memiliki tempat yang lain bagi Rizal?


"kamu kan sekretaris pribadiku, jadi kamu bukan orang sembarangan"


Nurul menghela nafas kecewa, ternyata hanya sekretaris. tunggu, kenapa dia harus kecewa harusnya dia merasa lega.


Nurul menggelengkan kepalanya berharap pikiran aneh menghilang dari otaknya.


"kamu kenapa?" melihat gerak gerik Nurul yang aneh membuat Rizal bingung


"tidak pak. ada apa bapak ke kamar saya?"


"maaf pak, saya sudah lancang. silahkan masuk pak" ucap Nurul dengan buru-buru


Nurul mengarahkan Rizal untuk duduk di kursi tamu yang tidak jauh dari pintu namun Rizal berbelok arah dan masuk ke area kamar pribadi.


"pak!" Nurul mulai panik, apa maksudnya itu


"ak ingin sambil tiduran" jawab Rizal dan langsung membuka pintu yang menuju kamar Nurul, dia langsung tiduran di kasur tersebut.


Nurul mengatur nafas, dia tidak boleh memaki tuannya setidaknya tidak di hadapan orang yang bersangkutan.


"jadi ada apa bapak ke kamar saya malam-malam?" tanya dengan nada sedikit kesal namun wajahnya masih menunjukan senyum.


"besok jadwal kita akan mulai pukul 1 siang, jadi kita punya banyak waktu untuk bersantai"


"baik pak, kalau begitu saya akan kembali membaca berkas" ucap Nurul


Nurul menuju meja yang ada di sebelah kasur berukuran besar itu, duduk di kursi tepat di depan meja dan membuka berkas mengenai dapartemen store yang akan mereka datangi.


Rizal memperhatikan Nurul dengan seksama.


"kamu rajin juga yah"

__ADS_1


"tentu pak, saya harus semahir pak Damar"


Rizal tetap memperhatikan, dengan bantal yang dia susun tinggi, Rizal dapat dengan mudah memperhatikan Nurul. hingga Nurul menutup berkas dengan kasar.


"bagaimana saya bisa berkonsentrasi jika bapak terus melihat saya seperti itu?"


Rizal memalingkan wajahnya dan menahan tawa, ekspresi marah Nurul terlihat sangat lucu.


"jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri Nurul, bagaimana kalau kamu tiduran juga?" saran Rizal sembari menepuk-nepuk bantal yang ada di sampingnya.


seketika ekspresi Nurul berubah ngeri, Nurul dengan cepat berdiri, lari menuju luar ruangan dan membanting pintu.


"tu-tunggu! Nurul aku tidak bermaksud- hah.."


Rizal menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia ceroboh. Rizal lupa bahwa Nurul wanita alim, bukan wanita yang selama ini dia temui.


Rizal membaringkan tubuhnya kembali, dia menghela nafas dan menyadari bahwa mendekati Nurul bukanlah perkara mudah.


"aku akan membiarkan dia sebentar sampai amarahnya reda" gumam Rizal


sementara itu setelah Nurul membanting pintu dengan begitu keras dia langsung menuju ruang santai yang tidak jauh dari kamarnya. dia segera duduk di kursi panjang.


Nurul menepuk-nepuk seluruh tubuhnya dia masih merasakan merinding di sekujur tubuhnya. apa-apaan tadi, Nurul merasa ngeri setiap kali berdekatan dengan Rizal.


apa karena sekarang tidak ada wanita yang mengejarnya kini atasannya itu mencoba untuk menggodanya? tubuh Nurul kembali merinding. dia memperagakan gerakan memukul kepala dan meja bergantian sambil mengucapkan kata 'amit-amit'


"aku akan diam disini sampai orang mesum itu pergi" gumamnya seraya membaca kembali berkas yang tadi sempat terhenti.


...***...


Rizal membuka mata, dia merasa terganggu dengan cahaya lampu yang menyilaukan matanya. dia tertidur sesaat, Rizal menoleh kesana kemari, dia sadar bahwa dia masih berada di kamar Nurul. dia melihat jam yang ada di samping kasur tepat di atas meja kecil bersebelahan dengan lampu tidur.


pukul 02.00 pagi, dia tertidur selama 3 jam di kamar itu. Rizal duduk di atas kasur dan mulai berjalan perlahan. dia membuka pintu secara pelan-pelan, dengan niat takut Nurul lari saat melihatnya. Rizal membuka pintu berharap Nurul ada di kursi tamu tapi dia tidak ada disitu, Rizal mencari Nurul di setiap sudut dan dia menemukannya tengah tertidur di area santai. pintu balkon terbuka sedikit sehingga Nurul tidur dengan memeluk kakinya.


Rizal menutup pintu itu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. dia menghampiri Nurul yang tertidur, melihatnya dengan seksama. hijab telah terlepas dari kepalanya, rambut hitam panjang tergerai, sebagian menutupi wajahnya.


Rizal menyibakkan rambut itu dengan jari telunjuk agar wajah tidur Nurul terlihat dengan jelas, wajah yang damai. Rizal terus menatap wajah itu, dia mendekat hingga wajahnya kurang lebih lima cm dari wajah Nurul.


Rizal menggendong Nurul secara perlahan, terdengar suara erangan yang membuat langkah Rizal berhenti, dia takut Nurul terbangun dan langsung menghajar wajahnya namun Nurul tidak terbangun, Nurul kembali tertidur lelap.


Rizal membawa Nurul ke dalam kamar, dia menidurkan Nurul perlahan dan segera menyelimuti Nurul.


"tidurlah yang nyenyak karena besok tugas kita akan sangat padat" gumamnya


sebelum keluar Rizal kembali melihat wajah damai itu, dia tersenyum kecil dan keluar dari kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2