Love Of Passion

Love Of Passion
pengganti damar


__ADS_3

Daru turun dari mobil, di depan rumah besar itu sudah banyak pengawal yang berjaga. mereka membungkuk memberi hormat. Daru berjalan memasuki rumah bersama Bagas. semakin dalam menuju ruangan pribadi ayahnya.


seorang pelayan yang menunggu di depan pintu mengetok pintu besar itu sebanyak 2 kali. pintu pun terbuka, Daru memasuki ruangan dengan wajah datar. sedangkan Bagas menanti di luar, berbaris di samping pintu bersama rekan-rekannya.


ruangan yang amat besar itu dipenuhi dengan barang mewah dan mahal. sebuah kasur size double king terletak di sebelah ruangan, beberapa kursi besar berada di tengah ruangan. salah satu kursi di duduki okeh Rizal dan di seberangnya di duduki oleh ayahnya.


"kenapa dengan wajahmu?" tanya sang ayah melihat wajah Daru terdapat beberapa lebam tapi Daru hanya diam.


Daru menghampiri dan duduk di kursi lain. ayahnya yang melihat itu hanya menghela nafas. lalu mengangguk kepada dokter keluarga shabil yang dari tadi berdiri di belakang sang ayah.


"ayah mengumpulkan kalian semua disini karena ada pembicaraan yang sangat penting"


sang dokter maju ke depan, dia duduk di salah satu kursi yang kosong lalu mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tasnya


"saya segera datang setelah mendengar kesehatan tuan besar menurun. setelah saya cek, tuan besar harus mendapatkan perawatan di Inggris karena disana perlengkapan medis lebih memadai"


Rizal dan Daru hanya diam mendengarkan.


"seperti yang kalian dengar dari dokter, ayah harus ke Inggris nanti malam. ayah tidak dapat menjalan perusahaan untuk sementara waktu. perusahaan akan ayah serahkan kepada kalian, sedangkan cabang yang di Eropa ayah serahkan kepada kake kalian karena beliau lebih berpengalaman di banding kan siapapun.


karena Rizal sudah menstabilkan cabang yang ada di beberapa negara di Asia, ayah jadi tenang. dan Daru pun sudah mulai mengerti bagaimana tanggung jawabnya"


hening sesaat..


"ayah dengar damar mengundurkan diri?" tanyanya kepada Rizal


"iya ayah, beliau bilang sudah menyiapkan sekertaris baru"


"ayah sudah mendengar semuanya dari damar. ayah yakin dia sudah menemukan seseorang yang kompeten"


"saya harap begitu"


"bagaimana dengan perkembangan cabang yang di Amerika?"


"untuk saat ini masih dalam skala kecil, karena disana persaingan sangat ketat kami harus hati-hati dalam melangkah. cukup sulit untuk berkembang disana, belum ada orang yang kompeten"


"siapa yang memegang cabang disana?"


Rizal diam sejenak.


"Carlos ayah"


"ohh paman mu yah? heumm.. yah ayah memang tidak berharap banyak kepadanya. apa harus ayah ganti dengan Marco paman mu satunya lagi? dia memang sedang berlibur di Hawai jdi dia bisa segera bergerak"


"jangan dia" ucap Daru membuat semua yang ada disana melihat ke arahnya


sang ayah memperhatikan


"kenapa?"

__ADS_1


"dia benalu, sangat tidak kompeten. orang yang hanya menghambur kan uang tidak akan mengerti dengan tugasnya" jawab Daru


ayahnya hanya diam lalu tersenyum, dia senang anaknya telah mengerti bagaimana pola pikir seorang pemimpin.


"yang di katakan Daru benar ayah, paman Marco hanya akan membuat kerugian untuk perusahaan"


ayah mereka diam berfikir sebentar, tiba-tiba kepalanya sakit bukan main.


"ugh" erang sang ayah membuat mereka semua terkejut


"tuan besar! Anda harus istirahat! Anda tidak boleh terlalu banyak berfikir" ucap sang dokter seraya membantu tuannya berjalan menuju tempat tidur


"ayah serahkan cabang yang di Amerika kepada kalian, ayah yakin kalian bisa menyelesaikannya. kalau begitu ayah akan istirahat"


sang ayah dan dokter memasuki ruangan. pintu pun tertutup.


tinggal Daru dan Rizal disana, suasana hening. Daru berbalik badan menuju pintu keluar. sebelum dia keluar, Rizal berbicara


"kenapa wajahmu? siapa yang memukulimu sampai babak belur seperti itu?" tanya Rizal


Daru hanya melirik lalu segera memalingkan wajahnya


"bukan urusanmu" jawabnya dengan ketus dan keluar ruangan.


Jeger!! terdengar suara petir yang begitu keras kemudian turunlah hujan yang sangat lebat.


Bagas dengan cekatan menghampiri Daru dan segera memayungi Daru


Rizal menghela nafas, dia diam sejenak. mencoba berfikir. Rizal mencoba berfikir bagaimana untuk menghadapi adik nya itu tapi yang terlintas di kepalanya malah kejadian tadi saat di kantor


**


kantor, ruangan Rizal.


Rizal tengah mengecek berkas yang akan di tanda tangan oleh nya, tiba-tiba pintu di ketuk. Damar memasuki ruangan. wajah Rizal yang awalnya tanpa ekspresi berubah signifikan, wajah heran dan bingung.


"pagi pak" ucap Damar


"siapa yang kau bawa?" tanya Rizal langsung pada intinya


"dia adalah ponakan saya"


"kenapa kamu membawanya kemari?"


"seperti yang bapak tahu, saya akan mengundurkan diri dan anak itu lah yang akan menggantikan saya"


Rizal melihat ke arah Nurul yang ada di balik pintu. diapun mendesah lalu memasang tatapan khawatir kepada damar.


"apa ini berkaitan dengan penyakit mu?" tanyanya

__ADS_1


hening sesaat. hanya dengan senyum tipis damar, Rizal mengerti bahwa penyakit diabetes damar sudah parah.


dalam lubuk hati Rizal sangat khawatir, dia sebenarnya tidak ingin sekretaris yang selama belasan tahun mengabdi kepada keluarganya akan meninggalkan perusahaan.


"saya ingin anak itu yang menggantikan saya, meski dia tidak punya pengalaman sedikitpun di bidang ini. tapi saya yakin dia cepat belajar dan bisa menggantikan saya di sisi bapak"


Rizal tetap diam, Rizal tahu tidak ada yang bisa menggantikannya. meski Rizal tidak ingin mengakuinya tapi Damar sudah di anggap seperti ayahnya sendiri, ayah keduanya.


Rizal berfikir dan mengetuk-ngetukan jarinya ke meja.


"suruh dia masuk" ucap Rizal pada akhirnya


seorang bodyguard membuka pintu kaca yang buram itu, sesosok wanita mungil memasuki ruangan.


Nurul buru-buru masuk, dia memberi salam dan memperkenalkan dirinya dengan gugup.


Rizal hanya diam memperhatikan. kenapa Damar membawa anak kecil untuk bekerja? di lihat dari wajah dan tubuh nya jelas sekali anak itu masih belasan tahun.


"Nak berikan CV mu kepada paman" ucap Damar. Nurul dengan cepat memberikan resume nya.


damar pun memberikan CV yang ada di amplop coklat itu.


Rizal membuka dan membacanya, sekali lagi dia melihat wajah Nurul. Rizal kaget bahwa anak yang ada di hadapannya berusia 24 tahun. wajahnya terlihat sangat awet muda.


"akan aku pertimbangkan. silahkan anda pulang, dalam waktu dekat akan ada telfon untukmu" ucap Rizal kepada Nurul. Nurul hanya mengangguk, ada prasaan mengganjal di hatinya. dia kira akan di cecar banyak pertanyaan ternyata dia hanya di suruh pulang.


Nurul dan damar membalikan badan dan melangkah keluar, sebelum mereka sampai pintu Rizal menahan mereka


"untuk pak Damar, anda tetap disini" perintahnya


damar melihat ke arah Nurul, tersenyum dan menyuruhnya pulang lebih dulu.


"pak coba jelaskan, anak ini tidak berguna sama sekali! di lihat dari CV nya dia tidak ada pengalaman apapun di bidang ini! dan apa ini? asisten make up pengantin? ini jauh sekali dengan bidang perusahaan shabil" ucap Rizal seraya membanting CV


"saya sudah bilang tadi bahwa dia memang tidak berpengalaman, tapi dia bisa belajar cepat. dia sangat cekatan, jujur, bertanggung jawab dan yang pasti dia dapat di andalkan"


Rizal menatap lurus ke arah Damar


"bagaimana jika tidak?"


"saya tidak akan merekomendasikan orang yang tidak kompeten" jawab Damar dengan tersenyum


"baiklah" ucap Rizal setelah menghela nafas berat, memang Damar tidak pernah mengecewakan nya. orang-orang yang di rekomendasikan nya pun tidak pernah di kecewakan, salah satunya adalah Bagas.


"akan aku pertimbangkan, sekarang bapak lebih baik pulang dan istirahat lah"


"baik, terimakasih"


**

__ADS_1


__ADS_2