Love Of Passion

Love Of Passion
jera


__ADS_3

Daru turun dari mobil classic di depan rumahnya. saat baru sampai parkiran halaman depan dengan keadaan basah kuyup, dia langsung di sambut oleh para pengawal yang memayunginya dan menyelimuti Daru dengan handuk super tebal. niat awalnya dia ingin berjalan menuju rumah yang jaraknya 3 kilo meter tapi para pengawal memohon dengan sangat mereka akan mengantar Daru memakai mobil. diapun menurut setelah kepala pengawal memohon langsung kepadanya.


Daru membuka pintu depan, suasana gelap. dia berpikir Rizal belum kembali dari Korea sehingga Daru memilih melewati pintu depan. dia berjalan gontai, meski pengawal sudah memberinya handuk, rambutnya masih meneteskan air hujan.


dia melanjutkan perjalanan menuju tangga dan berapa terkejutnya dia, saat melihat ke arah kanan dimana dapur berada, dia melihat Rizal tengah minum alkohol di keremangan.


"setan!!!" teriaknya spontan sambil lompat ke belakang


Rizal pun sontak kanget dan jatuh dari tmpat duduknya


"mana setan? dimana setan?!!" teriaknya balik


"maneh b*ngs*t!!" jawab Daru emosi


"ohh urang" sahut Rizal dengan cengegesan


ada yang tidak beres. Daru mengerutkan dahinya, tidak biasanya Rizal bersikap seperti itu. biasanya dia akan marah dan melayangkan bogem mentah tapi sikapnya sekarang sangat tidak normal.


"lu mabok?" tanya Daru


"engga, gua sadar ko. buktinya masih bisa jawab pertanyaan Lo"


"terus reaksi tadi?"


"gua sadar siapapun yang liat gua disini bakal nyangka gua setan. mau lu?" ucap Rizal seraya menyodorkan segelas wine


"Ogah!" bentak Daru


"ya udah sih" Rizal menimpali dengan santai dan meminum wine yang tadi di sodorkan nya.


Daru mendengus dan mendumel atas kelakuan kakanya yang tidak terpuji itu, diapun naik ke atas.


"ini wine tahun 70an loh, Lo tahu kan bahwa semakin tua umur wine maka rasanya semakin enak" lanjut Rizal


suasana hening sesaat, terdengar lagi langkah kaki kali ini langkah kaki menuruni tangga.


"boleh deh, segelas"


"nah gitu dong! itu baru Ade gua!" sahut Rizal riang, dia membawa gelas baru dan wine menuju ruang keluarga di ikuti oleh Daru.


mereka duduk bersebelahan, Rizal menuangkan wine merah setengah gelas. Daru langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya dalam sekali teguk. Rizal hanya bengong melihat tingkah adiknya.


rasanya sangat manis meski sedikit terasa pahit tapi tidak buruk. Rizal mengisi kembali gelas Daru dan gelas dirinya, mereka minum bersama.

__ADS_1


"galau yah maneh?" tanya Rizal. awalnya Daru tidak ngeh pertanyaan itu tertuju padanya karena pandangan Rizal menatap langit-langit ruangan


"begitulah, Maneh juga kan"


".. yah begitulah"


suasana hening, mereka fokus dengan wine dan pikiran mereka masing-masing.


satu botol wine sudah habis, Rizal berdiri untuk mengambil botol wine yang baru, Daru mengekor di belakang.


"ambil dua" ucap Daru setengah teler. Rizal memberikan dua botol kepada Daru dan mengambil dua botol lagi


"terlalu sedikit kalau dua" sahut Rizal


mereka kembali ke ruang keluarga, minum kembali wine yang mereka bawa yang di temani oleh irisan buah-buahan. mereka tetap dalam mode diam, bersuara hanya untuk hal-hal penting. pikiran mereka fokus ke masalah masing-masing.


biasanya Daru bisa menemukan ide untuk berhubungan kembali dengan Nafa tapi kali ini buntu. semakin lama matanya semakin berat, dan semuanya menjadi gelap.


...****************...


Daru terbangun dari tidurnya, sinar matahari menyinari wajahnya. dia duduk tegak dan seketika kepalanya sakit bukan main. dunia seperti berputar dashyat, dia memegang kepala dan memijitnya pelan. perutnya seperti di peras, diapun memaksakan diri berlari ke kamar mandi untuk muntah.


setelah dia mengeluarkan seluruh isi perutnya, Daru melihat dirinya ke cermin. dia memekik tanpa suara melihat wajahnya kusut bukan main, beberapa garis air liur mengotori kedua pipinya. Daru langsung membasuh wajahnya yang terlihat menjijikan itu. sebuah ingatan terlintas di kepalanya.


dia ingat, malam saat dia merasa matanya berat. Rizal bercerita bagaimana b*doh nya dia mencium sekretaris barunya dengan lancang, Daru tahu kakanya b*doh tapi dia tidak menyangka akan seb*doh itu.


"ya.ya.. gua tahu cuman gimana, refleks. dia terlihat begitu bersinar"


diapun ingat dirinya bercerita kepada kakanya bahwa dia telah mengecewakan Nafa dengan menghajar Kaka tingkat Nafa sampai setengah sekarat tapi dia tidak menyesal.


"wahh keren-keren Lo gak bunuh tu orang kalau gua jadi Lo, udah gua lindas pake Limosin gua" sahut Rizal kala itu


mereka mengobrol, saling sharing harus bagaimana. meski jawaban mereka sangat ngelantur tapi disaat itu prasaan mereka seolah lega meski itu hanya sementara.


Daru juga ingat, setelah mereka mengobrol, mereka tertidur sesaat. Daru terbangun karena suara erangan Rizal yang meminta maaf dengan bahasa Korea.


"berisik!! bisa gak sih Lo diem?!" bentak Daru, dia bermaksud berkata begitu kepada Rizal namun dia malah membentak meja yang ada di hadapannya.


Daru berdiri dari duduknya, dia membawa botol wine yang terisi setengah botol. sebelum dia pergi, Daru menendang bokong Rizal seraya memaki Rizal dalam bahasa Prancis dan berjalan gontai menuju lantai dua.


sesampai disana, Daru menghabiskan wine tersebut. memaki kasur, bantal dan guling, meminta maaf kepada meja belajar yang di sudut kamarnya sampai menangis, karena meja hanya diam saja daru pun kembali ke ranjangnya dan tidur terlentang.


"ahhk sial!" gumamnya

__ADS_1


"tuan muda" terdengar suara lembut dari luar kamar mandi


"iya bi?" sahut Daru dan langsung keluar kamar mandi, BI Inah sudah menanti di dekat ruang rekreasi.


"saatnya sarapan tuan muda"


"oke"


Daru berjalan mengikuti BI Inah menuruni tangga, tanpa melihat keadaan tubuhnya dahulu. Daru merasa tubuhnya di terpa angin entah darimana, tapi dia tidak bisa berpikir jernih dan hanya mengikuti langkah BI Inah. bahkan dia tidak biasanya mau sarapan di lantai bawah.


setelah sampai di lantai bawah, dia melihat Rizal tengah duduk di kursi makan. wajahnya bengong sama kusut seperti dirinya, rambutnya ke samping seperti terkena angin topan. Rizal hanya memakai jubah tidur tanpa memakai baju sehelaipun, Daru dapat bisa tahu Rizal telanjang karena area sensitif bawah Rizal menyembul keluar membuat Daru jijik.


Daru duduk di sebrang Rizal


"maneh gak ngaca dulu yah?" ucap Daru beberapa saat setelah duduk


"hah? maksudnya?"


Daru menunjuk bagian bawah dengan dagunya, Rizal mengikuti tatapan Daru dan langsung kaget bukan main, dia memekik seperti perempuan dan langsung menutup area tersebut.


"se-sejak kapan gua telanjang?" tanyanya menuntut jawaban


"mana gua tau! makanya kalau bangun tidur ngaca dulu!"


Rizal menatap Daru dengan tatapan aneh


"sebelum maneh ngomong gitu mending maneh liat tubuh maneh sendiri!" ucap Rizal emosi


"gua aman-aman aja kok, gua pake baju..?"


Daru melihat bagian bawahnya yang sama seperti Rizal, telanjang bulat. diapun berteriak dengan keras, seperti banci yang di kejar satpol PP.


pantas dia merasa tubuhnya seperti di tiup angin kencang, dia pikir itu karena udara AC yang terlalu dingin.


"ini tuan muda" ucap bi Inah seraya memberikan jubah tidur, Daru buru-buru memakai jubah itu dan menutup tubuhnya rapat-rapat.


karena BI Inah sudah merawat kedua tuan muda sejak mereka masih kecil, BI Inah sudah biasa melihat mereka telanjang bulat seperti itu, BI Inah hanya tertawa dalam hati bahwa anak asuh mereka sudah besar. meski sudah besar mereka tetap seperti anak berusia 5 tahun.


bi Inah menyimpan sayur soup ayam di hadapan mereka, sop ayam mampu meredakan gejala mabuk.


Daru dan Rizal tidak berani melihat BI Inah secara langsung, mereka hanya menunduk malu.


berarti BI Inah melihat aku telanjang sejak ak keluar kamar mandi? memalukan sekali. ucap nya dalam hati.

__ADS_1


saat Rizal baru bangun pun dia telanjang bulat di hadapan BI Inah. kejadian ini akan menjadi kenangan buruk untuk mereka berdua. mereka jera meminum alkohol hingga berbotol-botol seperti tadi malam, mereka berjanji kepada diri mereka sendiri bahwa mereka tidak akan pernah mabuk berat seperti hari ini.


mereka memakan hidangan mereka dengan suasana bisu, namun BI Inah senang melihat kedua tuan muda akur. setidaknya mereka mau sarapan bersama dengan menu yang sama.


__ADS_2