Love Of Passion

Love Of Passion
Terbiasa


__ADS_3

tidak lama setelah iringan mobil Rizal pergi, mobil Daru yang di ikuti oleh Bagas dari belakang memasuki area rumah.


Ikbal yang tidak hentinya melongo melihat rumah temannya itu bak istana. sebenarnya sudah lama sekali Ikbal ingin tahu bagaimana rumah temannya ini, Daru terlalu misterius untuk menjadi anak seorang pemilik perusahaan biasa. saat dia tahu betapa kayanya Daru, ada sebuah api kecil di mata Ikbal. Ikbal berfikir mungkin saja Daru bisa memberikannya top-up kepada nya untuk membeli skin yang ada di game online favorit nya.


mereka turun dari mobil, tatapan Ikbal masih melongo melihat sekitar. dia mungkin akan tersesat jika jalan-jalan mengelilingi rumah Daru, pikirnya. Bagas mengambil alih mobil, Daru dan ikbalpun berjalan menuju rumah kedua tempat dimana kediaman Daru.


dengan percaya diri Ikbal berjalan mendekati pintu utama, tapi secepat kilat Daru menarik nya dan mengarahkannya masuk menuju jalan yang biasa Daru lewati. merekapun berhenti di depan pohon besar. Ikbal masih kebingungan, kenapa temannya membawanya ke pohon besar yang menakutkan ini.


"kita mau ngapain?" Ikbal pun bersuara saat melihat Daru akan memanjat pohon


"masuk rumah"


"masuk rumah gimana? maneh naik pohon, gimana masuk rumah?! disini gak ada pintu! hanya ada tembok, pohon gede sama jendela yang lumayan gede itu!"


"yup! kita masuk ke jendela itu. di bawah jendela itu ada kasur urang, jadi maneh bisa langsung tidur tanpa maneh sadari" sahut Daru dengan santai seraya melanjutkan menaiki pohon


"yang ada urang koid mati jatuh dari lantai dua tol*l!" Ikbal benar-benar emosi mendengar penjelasan Daru. jika masuk melalui jendela lalu apa gunanya di ciptakan pintu?


"maneh kaya maling tau!" lanjut Ikbal seraya menarik kaki Daru agar turun


"mana ada orang maling rumahnya sendiri"


"nah karena itu, karena maneh bukan maling harusnya maneh masuk lewat pintu!"


"urang gak nyaman kalau masuk lewat pintu!"


"kenapa?"


Daru sempat terdiam sejenak, mencoba mencari kata yang pas untuk menjawab pertanyaan Ikbal.


"dimana ada hantu buruk rupa" jawabnya datar, Ikbal hanya melongo bingung mendengar jawaban Daru.


Ikbal masih memegang kaki Daru, dan Daru mencoba melepaskan kakinya. saat Daru berniat untuk menendang Ikbal, Bagas datang menghampiri.


"pak, pak Rizal tidak ada di rumah. beliau pergi tadi sore dan sepertinya tidak akan pulang malam ini"


"benarkah? baguslah! ayo kita lewat pintu saja yang lebih efektif"

__ADS_1


"iya! karena lewat jendela bukan cara orang normal!" Ikbal menggurutu kesal sembari mengikuti Daru.


setelah Bagas menyimpan mobil Daru di bagasi, dia langsung menuju belakang rumah kedua. Bagas tahu bahwa tuannya ini selalu memakai cara tidak lazim untuk memasuki rumah, dia pun tahu bahwa teman tuannya bukanlah tipe anak yang suka melakukan hal ekstrem.


saat melihat kedua anak yang tengah bertengkar itu, Bagas tidak tahan untuk melerai mereka. selain itu teman tuannya ini sangat berisik seperti perempuan, beda dengan tuannya yang begitu dingin dan tenang. Bagas cukup kagum Ikbal bisa menghadapi Daru yang daritadi terus menatap tajam Ikbal, tapi sebenarnya disini yang aneh bukanlah Ikbal melainkan tuannya. Ikbal berprilaku sesuai dengan umurnya sedangkan Daru sangat berbeda. sikap tenang yang di tunjukan Daru membuat Bagas harus selalu berhati-hati dalam bertindak.


Daru memasuki rumah, sebuah sambutan hangat dari BI Inah membuat Daru merasa aneh. bagaimana tidak aneh, selama ini Daru selalu lewat jendela dan tidak ada siapapun yang tahu kapan dia datang dan pergi.


BI Inah mempersilahkan Ikbal masuk, merekapun menaiki tangga menuju kamar Daru dan Bi Inah segera menyediakan cemilan untuk mereka berdua. wajah sumringah terpancar di wajah bi Inah karena pertama kalinya dalam sejarah Daru membawa seorang teman!


hati BI Inah begitu lega mengetahui bahwa tuannya ini dapat berhubungan sosial dengan baik, sungguh mengharukan sehingga membuat bi Inah berkaca-kaca.


Disiapkannya dua gelas jus apel dan dua mangkuk sereal oats dengan toping buah-buahan kesukaan Daru. BI Inah menyiapkannya dengan cara yang istimewa, tidak lupa senyum merekah menghiasi wajahnya.


Bagas mengikuti Daru sampai ke atas. Daru segera berhenti di salah satu anak tangga dan segera membalikan badannya.


"tugasmu sudah selesai! kamu tidak perlu mengikuti ku sampai keatas!" ucap Daru dingin.


Ikbal yang mendengar itu sontak kaget, dia berani sekali berkata tidak sopan seperti itu kepada lelaki yang lebih tua darinya dan juga lelaki yang bertampang sangar itu!


Daru sedikit memicingkan matanya lalu berkata


"katakan!"


"saya ijin untuk pulang hari ini, besok pagi saya sudah standby di depan rumah bapak. ada urusan mendadak, ini menyangkut keluarga saya"


Daru menimbang-nimbang, dia berfikir apa sebaiknya dia mempertahankan Bagas atau menyuruhnya untuk tidak kembali lagi.


Daru cukup suka dengan kinerja Bagas. seseorang yang sangat kompeten dan yang penting tidak ikut campur dengan urusannya, sebenarnya tidak masalah jika Bagas memiliki urusan tanpa harus minta ijin kepadanya, toh itu masalah Bagas.


dari awal Daru memang tidak butuh pengawal, dia merasa bisa mengatasi masalahnya sendiri tapi jika mengingat kejadian kemarin malam sangat disayangkan jika Daru harus memecat Bagas. Daru harus memberi pujian kepada Devan yang telah merekomendasikan Bagas padanya.


"baiklah, tapi sepertinya kamu tidak perlu datang terlalu pagi. besok hari minggu, jadi kamu bisa datang leluasa tanpa harus di kejar waktu"


"tapi pak saya harus selalu ada di dekat ba-"


"aku tidak akan kemana-mana, jadi tenang saja!"

__ADS_1


"baiklah, kalau begitu saya pamit"


Bagas memberi hormat dan langsung meninggalkan tempat. Ikbal yang melihat percakapan tadi merasa badannya menjadi kaku, baru kali ini dia melihat sosok baru dari seorang Daru.


memang Daru tipe orang yang pendiam dan dingin, tapi barusan adalah sikap yang kelewat dingin! bahkan lebih dingin dari sikap cueknya gebetan! dan juga tatapan matanya yang begitu tajam seolah Daru bisa melihat isi hati dari orang yang sedang berbicara dengannya.


"hei tadi kayanya maneh terlalu kasar deh, seharunya maneh tuh ngomong baik-baik toh dia juga ngomong nya baik-baik. dia tuh lebih tua dari maneh-"


melihat tatapan dingin Daru, Ikbal memilih untuk menutup mulutnya. pandangan mata Ikbal melihat kearah manapun asal tidak melihat Daru


"bukan urusan maneh!"


singkat, padat dan jelas! jawaban yang di berikan Daru mampu membuat Ikbal memberikan senyuman gugup. ya benar itu bukan urusan dirinya, tapi karena mereka berbicara di hadapannya membuat jiwa sopannya itu meronta-ronta!


hah memang Daru bukan lawan yang seimbang bagi Ikbal.


ikbalpun hanya terdiam dan mengikuti Daru dengan lesu.


"urang lapar!" Ikbal mulai merengek


"bentar lagi Bi Inah dateng, urang mau mandi dan maneh jangan bawel!"


"hei bawel adalah filosofi hidup urang!!"


Daru tidak menanggapi ucapan rengekan ikbal dan segera memasuki kamar mandi.


"cepetan mandinya urang mau mandi juga!!" Ikbal kembali merengek dengan nada yang menyebalkan


suara rengekan ikbal masih terdengar di telinga Daru, diapun dengan cepat menyalakan kran air untuk menghilangkan rengakan Ikbal yang sangat berisik. tapi Daru tidak merasa tidak nyaman dengan adanya Ikbal. Daru teringat ucapan seseorang dulu sekali saat dia ingin mengakhiri hidupnya


'cobalah kamu terbuka, bukan karena tidak ada yang mengerti tapi karena kamu tidak ingin membuka diri. aku tahu sulit, saat itu tiba kamu akan merasa tidak masalah jika orang itu berisik atau menyebalkan, tapi dia mampu membuatmu tidak merasa risih di dekatnya. saat itu kamu telah terbiasa dengan dia yang sebagai temanmu'


Daru ingat kata-kata itu tapi dia tidak ingat siapa pemilik suara itu, tapi dari ucapannya apakah dia telah terbiasa dengan Ikbal sebagai temannya? Daru menghempaskan pikiran itu dan melanjutkan membersihkan tubuhnya.


*happy reading para reader, semoga terhibur. dan terima kasih untuk yang masih setia membaca novel ini. jangan lupa like dan komentar nya yahh🥰


thank for vote, like and coment nya*

__ADS_1


__ADS_2