
Bagas memandang adiknya yang tengah tertidur lelap, meski dia tidak mendapatkan jawaban dari mulut adiknya, Bagas paham garis besarnya bahwa lelaki yang mengejar adiknya sudah melakukan hal tercela. dan meski Bagas ingin sekali menghajar lelaki itu, Daru tidak mengijinkan Bagas untuk menemui lelaki tersebut meski hanya melihat dari jauh.
Bagas ingat lelaki itu pernah mengunjungi rumah rumahnya dan dia pernah bertemu dengan anak itu. meski terlihat polos tapi Bagas tahu bahwa anak itu mempunyai maksud tersembunyi.
Nafa anak yang sangat polos, dia tidak bisa membedakan mana teman yang baik dan mana teman yang tidak baik karena itu Bagas selalu khawatir terhadap adik kecilnya, meski Nurul pun membuatnya khawatir setidaknya dia bisa membedakan orang. kan kali ini adik tertuanya itu sudah bersama dengan lelaki berbahaya namun orang yang paling Bagas percaya untuk menjaga adiknya.
sedangkan Nafa masih anak labil dan lelaki yang menyukainya juga anak di bawah umur, meskipun Bagas tahu Daru bisa menjaga Nafa dengan baik namun hatinya masih was-was.
Bagas mengelus rambut adiknya, dia mengecup kening adiknya itu lalu menyelimutinya dengan benar.
tok-tok..
Daru memasuki ruangan, wajahnya dingin namun matanya memancarkan kemenangan, sepertinya negosiasi dengan Arya berjalan lancar. Bagas langsung berdiri tegak memberi salam kepada atasannya.
"tidak, tidak perlu begitu. aku sering bilang kepadamu, saat berdua tidak usah memberi salam kampungan seperti itu" ucapnya seraya mengibaskan tangannya
"baik pak!"
Daru melangkah mendekat, dia melihat Nafa yang sudah tertidur lelap. bibirnya yang bengkak sudah tidak terlihat.
"bagaimana keadaannya?" tanya Daru
"berkat bapak, adik saya baik-baik saja dan dapat tidur dengan nyaman. terima kasih pak"
"itu sudah seharusnya aku lakukan kepada adik bawahanku sekaligus guru privat ku. semua yang bersangkutan dengan Shabil harus mendapatkan pasilitas terbaik" sahut Daru. meski wajahnya datar namun Daru merasa sangat lega, tatapan matanya sendu, dia bersyukur wanita yang ada di hadapannya tidak apa-apa dan semoga wanita ini tidak mengalami trauma.
"pak, ada sesuatu yang ingin saya minta dari bapak"
Daru menoleh ke arah Bagas, menunggu apa permintaan dari bawahannya itu.
"saya harap bapak mengijinkan saya untuk tetap di samping adik saya hingga kami pulang ke Bandung"
hening sesaat, Daru bimbang untuk menjawab keinginan Bagas meski itu yang Daru inginkan tapi ada sesuatu yang harus di kerjakan Bagas di tempat lain.
"yah .. sebenarnya aku ingin sekali mengijinkan mu untuk menjaga adikmu. tapi, ayah tadi menelpon dan memintamu untuk kembali ke Inggris malam ini" ucap Daru dengan berat hati.
Bagas terdiam, dia tertunduk sedih padahal adiknya mengalami musibah tapi dia harus kembali menunaikan tugas nya. padahal dia belum 3 hari di Indonesia.
"maafkan aku Bagas, ini perintah ayah. dia bahkan sudah menyiapkan semua keperluan my di bandara, kamu akan menaiki pesawat pukul 6 pagi" lanjut Daru. tidak lama Devan datang seraya membawa koper besar dan paspor beserta tiket pesawat VIP
Bagas menghela napas, bagaimana lagi, ini sudah pekerjaannya. di kontrak pun sudah tertulis "selalu siap bekerja dimanapun dan kapanpun" , itu sudah tanggung jawab nya.
"baik pak, saya akan siap-siap" ucap Bagas akhirnya. Daru dan Devan meninggalkan ruangan, di letakannya koper di samping pintu.
Bagas mengeluarkan ponsel untuk menelpon ibunya. dia melihat jam, pukul 4 pagi. apakah jam segini ibunya sudah bangun, dengan ragu Bagas menelpon ibunya, dan di angkat.
"halo mah, assalamualaikum"
"waalaikum salam, nak! ya ampun, kamu kemana aja baru nelpon mamah?"
__ADS_1
"maaf mah, Bagas..-"
"mamah tau nak, pasti soal pekerjaan kan? kamu di pindahin ke London kan?"
"mamah tau darimana?"
"pak damar yang ngasih tau mamah"
"ohh begitu"
hening sesaat, Bagas sangat merindukan ibunya tapi pekerjaannya tidak bebas seperti pekerjaannya dulu. Bagas tidak bisa sembarangan keluar dari pekerjaannya sekarang, karena belum tentu ada perusahaan besar yang mau menerima mantan napi, apalagi seorang napi pembunuh.
"nak?"
"iya mah? maaf tadi ngelamun sebentar"
"dasar, jangan banyak ngelamun nak, kamu harus fokus dengan pekerjaanmu. jangan khawatir kan mamah yang di rumah, mamah baik-baik saja"
ya, Bagas tahu hal itu. ibunya pasti baik-baik saja dari luar tapi tidak ada yang tahu bagaimana keadaan dari dalam.
"apakah mamah sedih atau kesepian karena anak-anak mamah sibuk?"
"sedih tentu tapi kesepian tidak. pak damar sering datang berkunjung dengan anaknya, setelah keluar rumah sakit, dia sering banget nemenin mamah di rumah. berkat pak damar kamu dapat pekerjaan yang bagus, berkat pak damar juga Nurul adikmu mendapatkan posisi tinggi di perusahaan nya, meski karena hal itu adikmu jarang pulang, dia pulang kadang dua Minggu sekali atau sebulan sekali. adikmu itu sering sekali keluar negeri, saat pulang dia bawa oleh-oleh setumpuk" oceh ibunya dengan semangat, meski terdengar sedih
"maafkan Bagas mab" ucap Bagas pelan seperti bergumam namun mampu di dengar oleh sang ibu
"tidak apa-apa nak. kamu nelpon mamah aja udah bikin mamah seneng. jaga kesehatan yah nak, jangan lupa sama Tuhan nak"
"hati-hati putraku sayang"
telponpun di tutup, dada sedikit lega meski masih terasa hampa. diapun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian.
***
hingga akhirnya Bagas pun pergi menuju bandara di antar oleh supir menggunakan mobil. Daru mengantar Bagas hingga pergi meninggalkan hotel, diapun harus bersiap untuk mengantar pangeran menuju bandara untuk pulang kembali ke Arab Saudi dua jam jam lagi.
rombongan kampus Nafa sudah meninggalkan hotel 5 menit yang lalu, di barengi dengan drama teman-teman Nafa yang bertanya kemana Nafa pergi. tapi Bagas bisa menjawab pertanyaan itu dan membuat teman-teman Nafa pergi tanpa khawatir.
Daru sekilas melihat Arya yang terus menunduk, dan tidak bicara sepatah katapun saat temannya bertanya tentang kejadian semalam.
Daru memerintahkan para staf hotel menyiapkan hal yang perlu di siapkan untuk melepas kepergian pangeran Arab. satu jam sebelum kepergian pangeran Arab, Daru mengunjungi Nafa.
tok tok..
"masuk"
Daru memasuki ruangan dengan canggung, Nafa tengah sarapan, dia duduk di salah satu kursi dekat dengan jendela balkon. rambutnya basah, dia memakai piyama yang belum sempat dia pakai semalam.
"Kaka sudah mandi jam segini?"
__ADS_1
"aku keinget semalem belum mandi, jadi saat bangun aku langsung mandi" jawabnya
"bagaimana keadaan Kaka?"
"cukup membaik, terimakasih Daru"
Daru duduk disamping Nafa, jika mengingat kejadian semalam jantungnya kembali berdetak kencang. dengan cerobohnya dia mengutarakan isi hatinya, harusnya bukan begitu cara menyatakan cinta, harusnya lebih romantis dan harusnya dia menyiapkan bunga atau surprise atau semacamnya.
"kamu sudah makan?"
"sudah"
"ngomong-ngomong ka Bagas kemana?"
"dia sudah kembali ke London"
"kapan?"
"sebelum Kaka bangun"
"ya ampun, padahal aku baru beberapa menit melihat wajahnya tapi dia sudah pergi lagi"
hening sesaat, Daru memperhatikan Nafa yang menatap lautan luas di sebrang hotel
"hari ini aku harus mengantar pangeran Arab ke bandara, lalu ada meeting sebentar dengan para staf hotel. setelah itu aku tidak memiliki janji apapun"ucap Daru, Nafa menunggu
"jika Kaka mau menunggu, aku akan membawa Kaka jalan-jalan keliling Bali, ke tempat yang belum Kaka datangi. itupun jika Kaka mau menunggu" lanjutnya
Nafa menatap Daru seksama, mencerna tujuan Daru. meski kata-katanya berbelit ternyata Daru tengah mengajak Nafa berkencan, mau tidak mau Nafa menahan senyum di bibirnya
"baiklah, aku akan menunggumu" sahut Nafa dengan tersenyum.
Daru tersenyum, meski sesaat terlihat pancaran bahagia dari mata Daru.
"baiklah, kalau begitu aku pergi dulu" ucap Daru
"tunggu!"
langkah Daru tertahan, dia membalikan badan. bertanya-tanya kenapa Nafa menahannya.
"kamu kan akan menemui salah satu penguasa Arab, setidaknya harus berpakaian rapih" ucap Nafa seraya membenarkan dasi Daru yang miring, dan merapihkan rambut Daru yang sedikit berantakan.
di momen ini, Daru menahan nafasnya.
"oke! kamu udah ganteng! tapi memang selalu ganteng sih, kalau begitu semangat yah, aku akan menunggumu" lanjut Nafa
dengan kaku Daru berbalik dan meninggalkan ruangan Nafa, setelah keluar dia baru bisa bernafas, jantungnya seperti akan meledak, wajahnya memerah
"pak wajah anda seperti buah persik yang sudah matang" ucap Devan menjahili Daru
__ADS_1
"diam kau!"