Love Of Passion

Love Of Passion
patah


__ADS_3

sekolah terlihat sangat lenggang, setelah pensi di adakan, libur sekolahpun tiba, hanya segelintir anak yang datang ke sekolah. sebagian anak-anak yang harus remedial atau sebagiannya lagi anak-anak yang hanya ingin menikmati suasana tenang.


langit terlihat mendung sejak pagi hari, Cuaca begitu lembab dan dingin cocok sekali untuk tetap berbaring di atas kasur begitupula cocok sekali dengan suasana hati Daru.


dia hanya melihat langit, sesekali melihat kalung yang sudah di kembalikan Nafa. rasanya sakit sekali mengingat kejadian kemarin. memang itu salahnya, harusnya dia tidak terbawa emosi namun dia tidak bisa membiarkan bedebah itu seenaknya, setidaknya jangan kepada Nafa.


Daru sudah yakin bahwa yang di rasakan nya itu adalah cinta. setelah dia membaca berbagai riset di internet tentang kenapa dengan hatinya, dia baru sadar bahwa itu adalah rasa suka terhadap lawan jenis.


entah sejak kapan dia menyukai Nafa, padahal wanita itu tidak begitu cantik, tidak tinggi, dan bukan dari kalangan atas namun entah kenapa di matanya dia begitu mempesona bak bidadari.


Daru menghela napas, dia kembali melihat kalung itu dan mengingat kembali ekspresi marah yang ditunjukan Nafa kepadanya, dia yakin sepertinya Nafa tidak akan kembali menjadi guru privat nya.


"sedang apa?" terdengar suara wanita dari belakang Daru. Daru menoleh, Diaz datang menghampiri.


"tidak"


"apa yang kamu pegang?"


"bukan apa-apa"


"sini aku liat!" Diaz mengambil paksa kalung yang di genggam Daru


"wah bagus banget, ini kalung yang waktu itu kamu pesen kan?"


"iya"


"ngomong-ngomong kalau boleh tahu, kamu beli kalung ini untuk siapa?"


wusshhh. . hening sesaat, dan hanya suara angin yang menerpa mereka berdua, Daru mengambil kembali kalung dari tangan Diaz dengan lembut.


"orang yang aku suka" ucap Daru dengan yakin, entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulutnya padahal dia tidak ingin bercerita kepada siapapun


"siapa?" tanya Diaz penasaran


"perempuan"


"ya aku tahu dia perempuan tapi siapa namanya?"


Daru melihat kearah Diaz yang sedang menunggu jawaban Daru dengan antusias


"bukan urusanmu"


"ayolah Daru, jangan terlalu kaku. aku tahu kok, keliatan kamu ngeliatin siapa saat pensi sekolah"


hening sesaat, Diaz berbohong kalau dia tahu siapa yang Daru suka. dia hanya menebak saja, tatapan Daru saat itu sangat berbeda.


"begitu yah" gumam Daru

__ADS_1


dengan malu-malu Diaz menyibakkan rambut nya ke belakang telinga


"apakah wanita yang kamu sukai adalah.."


"dia lebih tua dari ku. mahasiswa yang aku bawa waktu itu, salah satu dari mereka ada orang yang aku sukai. aku sudah memberikan dia kalung ini, tapi dia mengembalikan nya"


hening sesaat, pandangan mata Daru yang sedari tadi melihat ke kalung, menoleh ke arah Diaz. Diaz hanya diam mematung


"kamu gapapa?"


"ah iya! aku tidak apa-apa. eumm aku ingat ada urusan mendadak"


"oh iya"


Diaz pergi berlalu meninggalkan Daru sendirian.


...***...


Diaz duduk termenung di atap sekolah, dia menemukan tempat itu saat sedang berjalan-jalan mencari tempat sepi untuk belajar beberapa waktu lalu. selain cocok untuk belajar ternyata cocok juga untuk tempat galau.


jika di ingat-ingat, pertama kali dia bertemu Daru adalah saat hari weekend, di alun-alun kota Bandung.


saat itu alun-alun di penuhi oleh banyak orang yang berlalu lalang, terdapat orang-orang yang cosplay menjadi Transformers, menjadi salah satu tokoh di kartun, ada yang menjadi seorang putri bahkan ada yang menjadi karakter hantu. orang-orang itu sedang mencari uang dengan cosplay dan orang awam yang ingin berfoto harus memberi imbalan berupa uang.


Diaz yang berjalan bersama teman-temannya berjalan dengan riang sambil membicaran hal yang menyenangkan. saat tengah berjalan di pinggir jalan, Diaz di serempet oleh sebuah motor hingga terjatuh. semua orang terkejut dan mengerubungi Diaz yang tengah terduduk dengan beberapa jari kaki lecet. orang yang menyerempet menghentikan motornya dan menghampiri dengan panik.


"mas ini gimana sih kalau nyetir? hati-hati dong!"


"iya! gimana sih a?! untung temen kita gak apa-apa, gimana kalau sampe parah?!"


"tanggung jawab dong mas!!"


beberapa orang memaki dan menghakimi pria tersebut, tapi pria itu hanya diam. wajahnya masih memakai helm full face yang mengarah ke Diaz seolah tengah memperhatikan Diaz, lelaki itu berjongkok.


"maukah anda ikut saya? saya akan bertanggung jawab" ucap pria itu tegas, padahal Diaz hanya terjatuh tapi kesannya seolah Diaz sudah di hamili oleh pria tersebut


"ke-kemana?" tanya Diaz was-was


"ke rumah sakit"


"ti-tidak perlu, saya baik-baik saja" ucap Diaz seraya berdiri, namun dia kembali terduduk, pergelangan kakinya terkilir.


"maaf kan saya" ucap pria itu seraya menggendong Diaz bak tuan putri dan di dudukannya Diaz di atas motor matic lelaki itu


"saya akan membawa mba ini ke rumah sakit, saya akan bertanggung jawab hingga mba ini sembuh total" lanjut pria itu ke sejumlah orang dan teman-teman Diaz yang mengekor di belakang mereka, pria itu menaiki motor dan pergi meninggalkan orang-orang.


Diaz tengah di periksa oleh seorang suster. Diaz di bawa ke rumah sakit besar bahkan dia di berikan kamar VIP, padahal pria tadi terlihat seperti orang biasa-biasa saja, ternyata pria itu cukup kaya raya. pergelangan kakinya sudah di obati dan kini tengah di perban, Diaz sudah menolak agar tidak di ronsen tapi pria itu memaksa, dan untungnya kakinya tidak kenapa-kenapa. lecet nya pun sudah di obati.

__ADS_1


suster itu pergi meninggalkan ruangan, lelaki yang sedari tadi memakai helm melepas helmnya dan duduk di samping Diaz. saat pertama lihat wajahnya napas Diaz tercekat, sangat tampan, sesuai dengan type Diaz.


"maaf, saya tidak sengaja tadi saya sedang tidak fokus"


"tidak apa-apa, saya tidak apa-apa. dan saya rasa ini terlalu berlebihan, saya tidak perlu ruangan VIP begini, lalu kaki saya cukup di pijit juga akan sembuh sendiri" sahut Diaz


"tidak, ini tanggung jawab saya" ucap Daru


suasana hening, Diaz merasa canggung dengan keheningan di antara mereka berdua lagipula yang di inginkan Diaz adalah tiduran sambil memandang wajah tampan pria di hadapannya tapi Diaz malu harus melakukan hal tersebut.


"istirahat lah, saya tahu anda lelah, hubungi juga teman-teman anda yang tadi, jika mereka tidak memakai kendaraan pribadi biar saya yang bayar ongkosnya"


"ahh tidak apa-apa, teman-teman saya bawa motor kok"


"baiklah. silahkan tidur, saya akan panggil suster"


Diaz membaringkannya tubuhnya, benar apa kata Daru tubuhnya sangat lelah dan beberapa bagian tubuh nya sangat pegal dan sakit sepertinya efek saat dia terjatuh. pria tadi pergi keluar memanggil dokter dan Diaz pun tertidur pulas.


saat dia bangun sudah ada teman-temannya menunggu dirinya terbangun seraya memakan berbagai cemilan dan buah-buahan.


"Diaz, syukurlah kamu sudah bangun"


"kemana lelaki tadi?"


"lelaki tadi sudah pulang, dia baik sekali"


"sesampainya kami disini dia meminta maaf lalu memesan makanan pesan antar serta buah-buahan. lihat makanan yang enak dan banyak ini" lanjut temannya yang lain


"ohh iya dia bilang biaya rumah sakit sudah di bayar dan kamu bisa tidur di sini hingga besok atau terserah mau sampai kapan karena tagihannya sudah dia bayar"


padahal Dia belum menanyakan nama lelaki itu, tapi lelaki itu pergi dengan kebaikan yang luar biasa seperti ini.


dua tahun berlalu, Diaz masih mengingat lelaki misterius tersebut, hingga saat dia naik ke kelas 3. dia dengar akan ada murid pindahan yang akan datang, Diaz bingung siapa siswa tersebut, padahal kelas tiga adalah semester tanggung.


wali kelas sudah menjelaskan bahwa siswa tersebut dari luar negeri, saat siswa itu masuk ke kelasnya Diaz terkejut bukan main, lelaki yang selama 2 tahun ini dia pikirkan, lelaki yang wajahnya selalu terbayar meski samar-samar kini ada di hadapannya.


Daru, nama dari lelaki baik itu. Diaz mencoba mengajaknya bicara dan bercanda dari respon Daru dapat di pastikan bahwa lelaki itu tidak ingat dengan kejadian dua tahun lalu, meski hati Diaz sedikit kecewa tapi dia memakluminya karena jika dia menjadi Daru, diapun akan lupa dengan gadis yang telah dia tabrak dia tahun lalu.


dengan usaha dan waktu akhirnya mereka berdua dekat meski hanya sebagai KM dan wakil KM. tapi daru tidak berubah, tetap baik dan misterius tidak ada yang tahu apa yang di pikirkan oleh lelaki itu, sikapnya yang dingin, cuek dan tenang seperti air dan membuat Diaz semakin penasaran.


saat Diaz di beri kalung oleh Daru, semakin jelas rasa suka Diaz kepada Daru. Diaz kira Daru memikili prasaan yang sama dengan dirinya, ternyata itu salah. Diaz sudah tertipu dengan prasangkanya sendiri, Daru tidak pernah menyukainya, Daru baik kepada siapapun bahkan kepada dirinya yang bukan siapa-siapa.


saat acara PENSI berlangsung, Dia kira Daru tengah melihat ke arahnya ternyata Daru melihat ke arah belakangnya, ke arah wanita yang di sukai oleh Daru.


air mata Diaz jatuh perlahan, prasaan yang baru saja tumbuh harus hancur berkeping-keping, hatinya patah hingga tidak berbentuk. dia tidak menyalahkan Daru, dia tidak menyalahkan orang lain, dia menyalahkan dirinya sendiri yang sudah bodoh menyukai seorang lelaki hanya karena lelaki tersebut baik.


Diaz menghapus air matanya, dia menarik napas berharap air matanya akan berhenti tapi itu sia-sia air matanya terjatuh lebih deras.

__ADS_1


__ADS_2