Love Of Passion

Love Of Passion
simpati


__ADS_3

"Naf almamater kamu mana?" tanya seseorang saat Nafa baru memasuki kelas nya


"eh iya, aku lupa pake" jawabnya berbohong


jika Nafa bilang dia memberikan kepada anak SMA saat demo kemarin dia pasti akan di marahi oleh ketua BEM.


"gimana sih, hari ini kan ada rapat BEM nanti Arya ngomel loh" ucap teman Nafa bernama Vania.


Arya adalah ketua BEMU/BEM di kampus. sikapnya sangat tegas, dia akan menegur siapun anggota yang melanggar peraturan.


"eumm.. gimana kalau hari ini aku bolos aja?"


"makin di omelin dong"


Nafa berfikir keras, bibirnya semakin mengkerucut mengingat Arya memang tidak kenal ampun. memang selama menjadi anggota BEM Nafa tidak pernah kena omel Arya tapi dia pernah melihat Arya memarahi anggota lain dengan begitu tegas.


jika Nafa di posisi anak itu, telinganya pasti akan meledak.


Nafa menghela nafasnya dengan keras.


"ya udah deh mending kena omel aja sedikit daripada ntar kena omel panjang x tinggi x lebar"


Nafa bertekad saat nanti dia mengajar anak itu, dia harus meminta almamater nya kembali.


kelaspun di mulai, dosen bersangkutan pun datang dan memberi penjelasan terkait pelajaran mereka.


**


Daru memasuki kelas setelah cukup lama Nafa pergi dari parkiran. saat itu jam istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.


siswa yang ada di kelas melihat ke arahnya, mereka enggan untuk bertanya apa yang terjadi.


Ikbal yang sudah datang dari kantin menghampirinya dan membawakannya roti dengan isian krim keju.


"nih" ucap Ikbal dan segera duduk di samping Daru seraya memakan lemper.


tanpa basa basi Daru menerimanya dan memakannya, dia merasa sedikit lapar.


"jadi gimana?" tanya Ikbal tiba-tiba


"begitulah" jawab Daru dengan malas


"begitulah gimana maksudnya?" Ikbal kembali bertanya


"ya begitulah"


Ikbal melirik kesal kepada Daru, meski Ikbal semalam sudah menginap di rumah Daru dan cukup dekat dengan nya dia tetap kesal jika menghadapi sikap keras kepala temannya ini.


"gak ngebahas tentang demo kan?"


"engga tuh, malah.." jawab Daru menggantung


"malah?"

__ADS_1


"begitulah"


kesabaran Ikbal sudah sampai ke ubun-ubun, dia melempar sampah lemper ke lantai dengan keras namun di ambil kembali saat melihat Diaz menatap nya dengan tatapan 'tidak boleh buang sampah sembarangan"


"oh God!! maneh bener-bener bikin kesabaran urang habis!"


"kalau gitu jangan banyak tanya"


nafas Ikbal memburu dia ingin sekali melempar Daru detik itu juga. alih-alih melempar Daru, Ikbal menyamber roti yang tengah di makan Daru dan di lahapnya dengan cepat.


Daru hanya memandang sinis ke arah Ikbal.


dia belum bisa cerita tentang Nafa, sebelum dia tahu alasan kenapa dia tertarik kepada Kaka itu.


**


kelaspun usai, Nafa segera keluar bersama Vania menuju ruang BEM.


disana sudah ada Arya yang tengah duduk di kursinya seraya melihat handphone nya.


Nafa mengatur nafas, dan memberanikan diri menghampiri Arya.


"eum.. permisi, Arya"


Arya mendongak dengan tatapan seperti terganggu tapi tiba-tiba air wajahnya berubah.


"eh Nafa, ada apa?"


"eumm.. maaf Arya"


"aku lupa tidak memakai almamater, ketinggalan di rumah"


Arya langsung memperhatikan pakaian Nafa yang tidak memakai almamater nya.


Nafa hanya menunduk, dia sudah pasrah akan di omeli Arya habis-habisan.


"oh soal itu, santai aja kali. gak apa-apa ko. lagi pula rumah kamu juga jauh kan? buang-buang waktu kalau kamu harus balik lagi ke rumah" ucap Arya dengan senyum menghiasi wajahnya.


Nafa begong, dia berkedip sekali dua kali.


"kamu gak marah?"


Arya tertawa renyah, tawa yang belum Nafa liat selama setahun dia ikut BEMU.


"kenapa harus marah? udah kamu tenang aja, ikuti aja rapat dengan santai oke"


wajah Arya semakin ramah membuat mau tidak mau Nafa yang kebingungan ikut tersenyum menanggapi senyum Arya.


"ah udah jam segini, aku harus siapin materi rapat. aku duluan yah" lanjut Arya dan langsung meninggalkan Nafa seraya melampaikan tangan.


Vania menghampiri Nafa dan sama-sama melihat punggung Arya yang berjalan menjauh


"kayanya ada yang gak beres deh"

__ADS_1


"yup kamu bener Vania. dia gak salah minum obat kan?"


"kayanya dia belum sarapan deh"


mereka berdua saling pandang heran lalu tertawa lega.


"syukur deh kalau kamu gak kena marah naf"


"Alhamdulillah, rejeki anak Sholehah"


mereka pun berjalan menuju kursi rapat


"apa jangan-jangan Arya suka sama kamu?"


"yey jangan ngarang!"


"perlakuan dia ke kamu tuh beda Naf!"


"prasaan kamu aja kali, ya mungkin emang bener dia belum sarapan jadi yah gitu" Nafa menjawab dengan tidak yakin.


"beda pokoknya! aku tuh bisa liat Arya ke kamu tuh beda!"


"udah deh Van, jangan bikin aku baper oke"


memang iya Nafa merasa ada yang aneh dengan Arya. semenjak Nafa menjadi salah satu staff BEM, Arya sangat manis terhadapnya dan tidak pernah marah sedikitpun.


selama menjomblo bertahun-tahun Nafa tidak ingin hatinya tergoyahkan hanya dengan sikap perhatian sesaat.


**


tidak terasa bel pulang pun berbunyi.


Daru mendapatkan laporan bahwa tidak ada masalah yang perlu Daru khawatirkan. bahkan selama seharian ini tidak ada skandal apapun tetang dirinya.


Daru mulai curiga, meski dia tidak begitu mengenal Irene tapi Daru tahu bagaimana sifat wanita yang seperti ular itu.


jika di ingat kembali Daru menjadi merinding. bukannya dia terkesan dengan tubuh molek Irene, dia malah mual dan jijik melihatnya. setiap dia ingat lekukan tubuh Irene yang samar-samar Daru merasa kepalanya pusing.


pengalaman buruknya itu membuat Daru ingin di temani saat tidur, dia takut saat tidur ada seseorang yang menyerang nya lagi.


karena itu dia meminta Ikbal untuk menemaninya. meski mereka beda ranjang tapi Daru dapat bernafas lega melihat ada seseorang yang dia kenal saat tengah malam dia terbangun gara-gara mimpi buruk.


Daru mulai merasa ada yang aneh, apa yang di rencanakan irene atau apakah kakanya yang melakukan sesuatu pada wanita sialan itu?


jika sebuah masalah di ambil alih oleh kakanya, Daru yakin Irene tidak akan selamat. bukan karena nyawanya hilang tapi keinginan nya untuk hidup akan hilang.


Irene akan menjadi bulan-bulanan kakanya dan tidak akan pernah di lepas sampai wanita itu membayar atas semua perbuatannya.


terlintas bagaimana dengan orang tua Irene? mungkin mereka harus menanggung semua rasa malu atas perbuatan anak mereka. tidak hanya malu, mungkin kakanya akan membuat semua keluarga Irene menderita.


seketika Daru teringat dengan dua anak yang harus bertanggung jawab karena perbuatan orang tua yang tidak bertanggung jawab.


saat itu Daru bisa membuat keputusan seperti itu karena dia merasa iba dan kakanya tidak ingin ikut campur. tapi kali ini berbeda, masalah kali ini menyangkut nama baik Shabil grup .

__ADS_1


tunggu! kenapa dia merasa kasian dengan Irene? apa hatinya sudah mulai luluh? bukan, meski Daru memiliki sifat yang keras dan dingin, Daru memiliki setidaknya sedikit rasa simpati dan empati. dia tidak tega saat melihat seseorang yang harus ikut menanggung kesalahan orang lain.


hatinya tidak sekeras itu, setidaknya tidak sekeras kakanya.


__ADS_2