
"itu mobil maneh kan?" tanya Ikbal di saat jam istirahat
setelah beberapa purnama, akhirnya Daru masuk ke sekolah. beberapa temannya mengira Daru di D.O karena Dia sering sekali tidak masuk, hanya Ikbal yang mengerti kenapa Daru tidak pernah masuk sekolah.
Daru yang tengah mengecek laporan di ponselnya, hanya melirik Ikbal
"maksud?"
"beberapa hari yang lalu mobil yang parkir di depan rumah teh Nafa, mobil maneh kan?"
Daru mengangkat alisnya sebelah, hebat juga insting temannya itu
"kata siapa?"
"aing tahu mobil-mobil maneh, hampir semua mobil maneh aing tahu semua. motor maneh juga aing udah tahu"
"so tau lu"
Daru tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. jika dia membahas, dia bingung harus membahasnya bagaimana, dia tidak ingin membahas suatu hal yang bahkan Daru tidak ingat.
"hei anak-anak pada mikir aneh-aneh soal maneh" ucap Ikbal dengan berbisik-bisik mengalihkan pembicaraan
"aneh gimana?"
"maneh di sebut anak sultan. secara maneh gak pernah masuk sekolah, seminggu cuma masuk sehari atau dua hari. udah gitu maneh gak pernah di panggil sama guru BP lagi"
"yah.. mau gimana lagi? maneh tau sendiri kan kesibukan aing" jawab Daru santai
"iyaa! aing sih ngerti, mereka yang gak ngerti! aing risih aja gtu dengernya"
"ya udah jangan di dengerin. gitu aja repot"
"eits bukan gitu bro! sebagai temen maneh, urang gak terima! urang ceritain aja yah siapa maneh sebenernya" Usul Ikbal
Daru langsung melotot ke arah Ikbal, sebuat tatapan yang mengisyaratkan sesuatu yang jelas. Ikbal menghela napas pasrah dan mengangkat kedua tangan
"oke. oke" nyerah Ikbal
Ikbal hanya tidak suka dengan beberapa teman nya yang selalu membicarakan hal buruk tentang Daru. di depan Daru mereka seolah selalu berprilaku baik tapi di belakang Daru kelakuan mereka tidak lebih dari sampah.
Ikbal yakin, suatu saat ketika mereka tahu siapa Daru sebenarnya mereka akan terkejut dan tidak akan berani menatap Daru.
Daru melihat ke arah Ikbal. dia tahu temannya sangat mengkhawatirkannya tapi dia tidak butuh itu.
Daru merasa ada yang aneh dengan wajah Ikbal terlebih wajahnya kusam, terdapat banyak beberapa jerawat yang muncul di dahinya, rambutnya yang ikal acak-acakan.
"muka maneh kusut"
Ikbal menghela napas sesaat. saat dia akan membuka mulut, wali kelas memasuki ruangan.
"selamat siang anak-anak"
"siang Bu!"
"maaf kalau ibu ganggu waktu istirahat kalian. sebentar lagi sekolah kita akan mengadakan PENSI. seperi yang kalian tahu masing-masing kelas harus mengadakan pameran. kalian boleh memakai tema apapun dan memamerkan karya seni kalian yang sudah kalian buat. ketua kelas tolong bimbing"
"baik Bu"
tidak berselang lama, wali kelas pun pergi meninggalkan kelas. Diaz selaku ketua kelas memberikan arahan bahwa kelasnya akan memakai tema Halloween dan di harapkan semua murid harus memakai kostum tanpa terkecuali. kegiatan akan di adakan di lapangan sekolah. masing-masing kelas akan membuat semacam tenda di depan kelas mereka, kegiatan ini hanya di lakukan oleh anak tingkat 3. mengingat mereka sebentar lagi akan meninggalkan sekolah, para guru mengharapkan mereka membuat kenangan indah sebanyak-banyaknya bersama teman sekelas.
Diaz membagi murid menjadi beberapa kelompok. terdiri dari : kelompok dekorasi, kelompok pengumpulan karya seni, kelompok konsumsi, kelompok properti dan kelompok sound symtem.
kelompok dekorasi terdiri dari:
*Diaz
*Giselle
__ADS_1
*Rahma
*Bram
*Diki
*santi
kelompok sound system' :
*Ikbal
*Ahmad
*Ilham
*Surya
*Panji
*Andri
kelompok pengumpulan karya :
*Siti
*Naura
*Vina
*Deswita
*Candra
*Doni
*firman
*Rieta
*Daru
*Ikhsan
*firdaus
*Fitri
kelompok konsumsi :
*Hanum
*Aliya
*Caca
*Zenith
*Tia
*Cahya
setelah pembagian tugas dan kelompok yang di setujui oleh semua pihak, mereka semua mulai berkumpul bersama kelompok masing-masing.
kerena anak kelas 3 akan memasuki UN, semua guru mempersilahkan anak-anak untuk tidak melakukan kegiatan sampai acara pensi selesai.
Diaz mengkoordinasi kepada masing-masing ketua kelompok untuk menyerahkan apapun yang di butuhkan, sebagai ketua kelas Diaz harus memantau setiap kelompok. bahkan untuk membeli barang-barang yang di butuhkan Diaz akan ikut serta saat membeli barang bersama Rieta.
__ADS_1
Rieta pun sebagai bendahara kelas harus mengetahui rincian setiap dana yang di keluarkan oleh masing-masing kelompok.
Daru hanya diam memperhatikan anggota kelompoknya melist barang-barang yang di butuhkan. setalah istirahat tidak ada pembelajaran lagi, sehingga para siswa dan siswi memilih untuk fokus kepada acara.
PENSI di SMA mereka adalah ajang terbesar di sekolah yang di adakan setahun sekali setiap akhir Semester 1. akan banyak seni yang di tampilkan dari kelas 1 hingga kelas 3. seperti; pentas tari tradisional, tari modern, wayang orang, teater, berbagai keahlian masing-masing ekskul akan tampil serta tidak lupa setiap kelas akan menjajakan berbagai dagangan baik itu makanan ataupun aksesoris.
saat acara PENSI para siswa boleh mengundang satu teman mereka yang berada di luar sekolah dan yang paling di tunggu anak-anak adalah mereka ingin bertemu dan berkenalan dengan sekolah elit di samping sekolah mereka yang selalu di undang oleh pihak sekolah.
...***...
jam pulang pun tiba, Daru mendapatkan list dari pihak dekorasi untuk menyiapkan berbagai kebutuhan. dia harus menyediakan tenda, meja, kursi, dll.
dia bisa saja membawa itu semua dari perusahaan nya, namun dia harus diam dan membiarkan teman-temannya membeli barang-barang tersebut.
Daru bertemu kembali dengan Ikbal di parkiran, wajahnya masih muram. dia tengah duduk diam di atas motornya seraya melihat ke arah ponsel.
"kenapa maneh?" tanya Daru namun Ikbal menjawab dengan helaan napas
"urang butuh kata-kata bukan napas maneh"
"hah.. maneh tahu kan Siska? anak kelas dua yang sekolah di samping sekolah kita. urang sama dia udah pacaran selama 6 bulan tapi sikapnya tiba-tiba berubah. chat urang gak pernah di bales"
"emang maneh punya cewe?" Daru membalas dengan sebuah pertanyaan. wajahnya seraya melihat Ikbal dari atas ke bawah
"woy bro! gini-gini juga banyak yang suka ke urang!"
"maneh gak pernah cerita soal cewe yang namanya Siska itu"
"pernah Dar! pernah! cuman maneh gak ngedengerin! maneh fokus sama marketing maneh"
"yahh mau gimana lagi? cari duit lebih penting daripada dengerin curhatan maneh"
"b*ngs*t Lo!"
Ikbal siap membogem Daru namun Daru mengelak seraya tertawa. tawanya terdengar hambar di telinga Ikbal.
"datengin aja dia ke sekolahnya" saran Daru
"dia gak mau urang Dateng kesana, pernah sekali urang jemput eh dia marah besar ke urang"
"kerumahnya aja"
"nah itu, urang gak tau rumah dia dimana"
"terus cara maneh buat ketemu gimana?"
"gua jemput di gang"
Daru menatap Ikbal dengan tatapan tidak percaya
"ganteng doang jemput cewe depan gang!" gumam Daru
"hah?!" ikbal mencoba membuat Daru mengulang kata-kata nya
"kalau gitu, tanya dia langsung. pensi kan bentar lagi, dia pasti datang kesini. tanya pas hari itu"
Ikbal manggut-manggut tanda setuju. wajahnya mulai kembali cerah, dia mencoba positif thinking tentang pacarnya. meski curiga ikbal tidak ingin menuduh sembarangan tanpa ada bukti. saran dari Daru begitu berarti baginya, tidak salah dia cerita.
"thanks bro! maneh emang yang terbaik" ucap Ikbal dan langsung menancap gas pergi dari sekolah.
Daru yang mendengar hal itu hanya berdiam diri
^^^(catatan:^^^
^^^aing/urang\= aku^^^
^^^maneh\= kamu^^^
__ADS_1
^^^ini bahasa sunda yah guys. jangan rasis kaya pejabat yang lagi viral yah guys 🤣ðŸ¤)^^^