Love Of Passion

Love Of Passion
pemakaman


__ADS_3

seperti kata pepatah sepintar-pintarnya tupai melompat akhirnya jatuh juga. begitulah yang di rasakan oleh Nafa. dia serasa mendapat buah simalakama. dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada kakanya.


apalagi setelah di tinggal oleh Daru, Nafa benar-benar bingung dan panik. dia ingin kabur dan bersembunyi di kamarnya. tapi kakanya tidak akan membiarkan itu, kakanya akan terus bersama nya sampai dia kembali ke rumah.


karena hujan belum juga berhenti, Bagas yang akan mengantar Nafa pakai motor mau tidak mau dia harus memakai mobil dinas untuk mengantar adiknya.


suasana hening di dalam mobil, yang terdengar hanya suara mesin dan AC. Bagas fokus melihat jalan sedangkan Nafa melihat nama-nama toko yang ada di spanduk.


"jual seragam, toko mas zaman, istana sepatu, jual alat pembesar vital.." ucapnya dalam hati


Nafa menghentikan tindakan unfaedah nya lalu melihat kakanya.


"nyalain musik yah ka" ucapnya dengan mengulurkan tangan ke arah radio


"diam"


"oke" cepat-cepat Nafa menarik tangan nya.


suasana kembali hening. Bagas menghela nafas, menahan amarahnya yang mungkin akan membentak Nafa dengan keras.


"jelaskan, bagaimana kamu bisa ada disana? dari awal dan detail"


Nafa menggigit bibir bawahnya, kebiasaan jeleknya. diapun berbicara dan menjelaskan semuanya. Bagas mendengarkan seraya menyetir, tatapan wajahnya datar.


"ibu mengijinkan?" tanya Bagas setelah Nafa selesai menjelaskan


"iya, justru ibu mendukung"


Bagas kembali diam. Nafa melirik kakanya dan memilih untuk diam juga. suasana terus hening hingga mereka sampai di rumah.


Bagas memasukkan mobilnya. karena tidak ada garasi khusus, mobil di masukan ke halaman rumah. merekapun turun


"assalamualaikum!" teriak Nafa


salam ceria itu di sambut lembut oleh sang ibu


"waalaikum salam. eh Bagas pulang juga"


"iya Bu"


saat Nafa akan duduk di sofa, Bagas menahannya.


"kamu masuk kamar gih"


"kenapa?"


"ada yang harus Kaka bicarakan sama ibu"


tanpa protes Nafa naik ke atas menuju kamarnya.

__ADS_1


Bagas duduk di samping ibunya. ibunya tahu Bagas ingin menanyakan sesuatu, ada yang mengusik pikirannya. terlihat jelas semua itu di raut wajah Bagas yang tegang.


melihat ekspresi itu, sang ibu hanya tersenyum kecil. dia teringat dengan almarhum suaminya. Bagas begitu mirip dengan suaminya, baik itu perawakan tubuh, wajah dan juga ekspresi. mengingat hal itu membuat sang ibu ingat akan masa lalu yang tidak dapat terulang kembali.


"ada apa nak?"


"kenapa ibu membiarkan Nafa dan Nurul bekerja di shabil group?"


"apa ada sesuatu yang harus ibu larang?" tanya balik sang ibu heran


"bukan begitu-"


"mereka hanya ingin meringankan beban mu nak, mereka sadar selama ini telah menyusahkan mu"


"tapi kenapa harus shabil group? disana berbahaya"


"berbahaya seperti apa? itu perusahaan besar dan pemerintah juga sudah mengakui nya. shabil group bukan sarang penjahat kan?"


"justru disana tempat para penjahat" gumam Bagas


"adik-adik mu sudah besar, mereka bisa menjaga diri mereka sendiri. ibu tidak bisa menghalangi mereka untuk melakukan hal benar. tidak ada salahnya kan? meski kamu melarangnya, tapi jika ini adalah takdir kamu tidak bisa berbuat apa-apa. cobalah percaya kepada adik-adikmu"


Bagas diam sejenak, memang tidak ada salahnya percayai mereka seperti yang di katakan ibunya namun Bagas tetap khawatir


"lagipula ada kamu disana, kalau ada apa-apa seret adik-adikmu untuk pulang" lanjut sang ibu dengan sedikit tertawa.


suasana yang awalnya tegang menjadi mencair karena tawa sang ibu. Bagas tersenyum melihat ibunya tertawa.


...***...


hujan semakin deras mengguyur kota Bandung namun tidak menghalangi proses pemakaman yang tengah berlangsung.


tidak banyak yang hadir untuk memakamkan anak seorang penipu. namun kedua pemimpin shabil group turut hadir dan memberi doa untuk anak malang itu.


Daru memastikan bahwa Inggit di makamkan di pemakaman khusus keluarga shabil.


peti perlahan turun ke liang lahat. Daru terus menatap peti itu hingga terkubur tanah. Rizal yang berada di samping Daru pun turut berduka cita dengan insiden yang menimpa anak itu.


pemakaman berlangsung singkat. semua orang yang hadir segera meninggalkan tempat pemakaman.


Daru memberi sebuket bunga di atas makam Inggit, dia diam beberapa saat lalu berbalik meninggalkan makam itu.


Daru menghampiri mobil Rizal, dia mengetuk kaca belakang. Rizal menurunkan kaca mobil nya.


"dimana dia?" tanya Daru tanpa basa basi


"masuk lah dulu"


"dimana dia?!"

__ADS_1


"jika kamu ingin tahu jawabannya, masuklah ke dalam"


Devan membukakan pintu mobil, Daru pun duduk dengan kasar.


"dimana dia?!" tanyanya sekali lagi


"secara pribadi aku tidak tahu, ayah yang mengurus kasus Dikta"


"apa?!"


"aku mencoba menelpon ayah tapi handphone nya tidak aktif sepertinya ayah masih di dalam pesawat"


Daru mengacak rambutnya frustasi. dia harus tahu dimana Dikta secepatnya sehingga dia bisa dengan cepat menghajar penipu itu.


"tenanglah, kamu tidak akan bisa berfikir jernih jika seperti ini"


"aku tidak bisa tenang! anak itu mati gara-gara bajingan seperti Dikta! padahal dia masih kecil"


Rizal terkejut dengan ucapan Daru, sejak kapan adiknya punya rasa simpati? padahal selama ini Daru sangat tidak peduli dengan setiap kematian tragis yang terjadi kepada orang yang telah berkhianat ke perusahaan.


kenapa Daru perlahan berubah? apa karena alasannya korban ini adalah anak yang lebih muda darinya?


"aku akan mencari tahu dimana keberadaan Dikta, kamu tenang lah. pikirkan sekolah mu. aku tahu kamu baru sembuh. jangan pikirkan hal lain selain sekolah dan kesehatan mu"


"sekarang pulang lah, aku akan memerintahkan Devan untuk mengantarmu. jangan dulu menyetir sendiri"


"aku bisa pulang sendiri"


"tidak, dengan pikiran kalut begitu kamu tidak bisa menyetir"


Rizal menurunkan kaca yang ada di sebelah Daru. Devan yang berdiri disana langsung membungkuk


"antar kan adik ku pulang dengan selamat"


"baik pak"


Daru diam sejenak dan kembali berkata


"cari dia dalam waktu 2 hari, jika kamu tidak bisa menemukannya dalam waktu itu aku yang akan turun tangan" ucapnya dan segera keluar dari mobil. Devan mengekor di belakang seraya memayungi Daru.


Rizal hanya menghela nafas. sebenarnya diapun sudah greget dengan keadaan ini, dia segera mencari Dikta setelah mendengar kabar tentang kematian anak itu. namun setelah berjam-jam menunggu belum ada kabar yang menggembirakan.


ada dua kemungkinan, ayahnya begitu pintar menyembunyikan Dikta atau Dikta sudah mati di tangan ayahnya.


dua-duanya bukan pilihan bagus. karena Rizal tahu Daru akan marah jika ayahnya menghabisi Dikta. kerena Daru sendiri yang akan menghabisi Dikta.


Rizal kembali menghela nafas, dia merindukan Damar. karena disaat genting seperti ini damar bisa memberi solusi.


Rizal terdiam berfikir, diapun teringat dia mempunyai bawahan yang bisa menemukan seseorang dengan mudah meski memberikan sedikit petunjuk.

__ADS_1


Rizal mengambil ponselnya dan menelpon Bagas


__ADS_2