Love Of Passion

Love Of Passion
adrenalin baru


__ADS_3

Daru menatap Nafa dengan seksama membuat Nafa sedikit risih. Nafa segera mengeluarkan plester di sakunya dan menempelkan plester itu di dahi Daru. meski tatapan Daru begitu mengganggu tapi Nafa dengan teliti mengobati Daru.


Dia seharusnya sudah pergi jauh dari kericuhan para pendemo, saat dia tengah berlari dia tidak sengaja melihat Daru yang di peroyok oleh bnyak orang. hatinya iba, mau tidak mau dia harus menolong Daru. apalagi dia sangat salut melihat Daru yang langsung menerjang di tengah kerumunan saat seorang polisi di keroyok.


"kamu berani sekali menghadapi ke 6 preman itu hanya untuk melindungi satu polisi" ucap Nafa mencoba mencairkan suasana yang canggung.


Daru tidak menjawab, dia masih menatap Nafa tepat di matanya. Nafa menghela nafas, tatapan mata Nafa yang semula terpaku kepada luka Daru secara cepat langsung menatap balik mata daru.


"apa di wajahku ada yang aneh? dari tadi kamu terus menatapku dik"


menyadari bahwa daritadi Daru menatap Nafa tanpa berkedip secepat kilat dia mengalihkan pandangannya. terlalu cepat Daru memutarkan kepalanya ke arah kanan sehingga kepalanya menyenggol tempat sampah besar yang terbuat dari semen itu.


"aww!!" Daru mengerang seraya menyentuh dahinya.


Nafa tersenyum kecil, lucu juga melihat kelakuan anak di bawah umur saat gugup. seperti memergoki mereka sedang mencuri permen.


"kamu tidak apa-apa kan dek?" Nafa kembali bertanya. Daru membalas dengan mengangguk.


"syukurlah, lain kali saat kamu melihat ada keributan seperti tadi lebih baik mundur. disana sangat berbahaya untuk anak kecil seumuranmu" lanjut Nafa


Daru mengernyitkan alisnya, dia merasa terganggu ucapan Nafa yang menyebutkan anak kecil.


"aku bukan anak kecil" ucapnya pelan


"ohh ternyata kamu bisa bicara yah hahaha.. maafkan Kaka, Kaka kira kamu bisu karena daritadi tidak bicara" sahut Nafa sedikit tidak enak.


ponsel Nafa berdering, teman kampus menelponnya


"ya hallo? oh aku baik-baik saja"


Daru melirik Nafa, entah kenapa dia merasa tertarik dengan wanita yang baru di temuinya ini. mungkin karena wanita ini telah menolongnya, atau karena pipinya yang cuby membuatnya terlihat lucu. entahlah tapi Daru sangat suka melihat wajah Nafa.


"oke aku kesana" Nafa menutup telponnya dan langsung melihat ke arah Daru, secepat itu juga Daru memalingkan tatapannya.


"sepertinya Kaka harus pergi, temen kampus Kaka sudah menunggu di titik pertemuan. kamu gapapa kan sendirian?"


"ya, aku sudah besar"


"ah tentu saja" Nafa bangkit dari duduknya, dia membersihkan debu aspal yang menempel di celananya. Daru pun ikut bangkit.


Nafa melihat keadaan Daru sebelum pergi. wajahnya penuh memar, bajunya sobek disana-sini. Nafa melepaskan almamater nya lalu memakaikannya kepada Daru


"jam segini seharusnya kamu sekolah bukan ikut demo"

__ADS_1


Nafa harus berjinjit untuk meraih pundak Daru karena tinggi Nafa hanya seleher Daru. Nafa cukup terkejut dengan tinggi anak yang ada di hadapannya. berbicara pun Nafa harus mendongakan kepalanya. dia tidak mengira bahwa anak yang di selamatkan nya ini begitu tinggi, pundaknya pun begitu lebar. postur tubuhnya tidak cocok dengan wajahnya yang masih sangat muda. Nafa berfikir tubuh Daru seperti oppa-oppa Korea yang ada di Drakor.


"aku hanya sedang lewat" jawab Daru datar, wajahnya menunduk melihat wajah nafa


"jadi maksudnya kamu bolos sekolah?"


Daru memalingkan wajahnya memilih tidak menjawab pertanyaan Nafa.


"pulanglah orang tuamu pasti mencarimu"


"justru aku pergi karena orang tuaku"


sesaat Nafa menatap wajah Daru yang datar itu tapi dia tahu bahwa Daru sedang ada masalah.


"apapun masalah antara kamu dan orang tuamu, mereka tetap orang tuamu. sepertinya orang tua mu salah paham dengan apa yang kamu lakukan, tidak ada salahnya kamu menjelaskan semuanya kepada orang tuamu. bukan memendam dan kabur seperti ini. itu tidak baik"


"begitu kah?"


"iya, ceritakan semua yang kamu rasakan kepada orang tuamu. semua akan baik-baik saja" sahut Nafa seraya mengusap kepala Daru.


Nafa berbalik, sebelum dia pergi Nafa meminta Daru untuk mengembalikan almamater nya.


"temui saja aku di kampus"


di kejauhan, seseorang tengah memperhatikan mereka. Bagas melihat Daru tengah berbicara dengan seorang wanita. setelah mendapat perintah untuk mencari Daru, Bagas melintas melewati lapangan Gasibu dan dia melihat ada sebuah keributan tidak jauh dari sana. Bagas pun menemukan mobil Daru. dia segera mencari Daru dari banyaknya anak SMA disana tapi tidak kunjung ketemu. Bagas mencari lebih jauh dia memasuki area perumahan, Bagas memiliki firasat bahwa Daru ke arah sana dan diapun menemukan Daru bersama seorang wanita. Bagas memperhatikan wanita itu, dia tidak asing dengan wanita itu. dia sangat kenal siapa wanita itu tapi Bagas tidak menghampiri mereka, Bagas memilih untuk mengikuti Daru dari kejauhan.


Daru tertegun, dia baru sadar apa yang baru saja dia lakukan. untuk pertama kalinya dia terbuka kepada seseorang. dia tidak pernah mengutarakan isi hatinya kepada siapapun termasuk kepada keluarganya. Daru sangatlah tertutup, Devan pun perlu ilmu tingkat tinggi untuk mengerti apa yang di rasakan Daru. tapi ini dia secara sukarela bercerita kepada seorang gadis yang baru aja dia temui. Daru melepaskan almamater Nafa, dia melihat logo kampus dimana Nafa belajar.


"UNPAD" gumam Daru


Daru mendengar langkah lari dari belakangnya, langkah satu orang. Daru sudah siap bahwa itu adalah siswa yang tadi mengejarnya, dia sudah memasang kuda-kudanya. langkah itu semakin mendekat dan dengan sigap Daru berbalik seraya melayangkan tendangan mautnya.


"uwaaa!!! ini urang!!!" teriak lelaki itu terkejut dan segera merapatkan tubuhnya ke tembok tong sampah.


Daru segera menghentikan tendangannya yang 5 cm lagi akan mengenai wajah Ikbal. Daru menghela nafas


"ngomong kek kalau itu maneh"


"daritadi urang udah manggil-manggil nama maneh tapi manehnya gak nyahut"


Daru tidak menjawab dan membantu Ikbal berdiri.


sama seperti Daru, wajah Ikbal penuh memar dan bajunya sangat kotor celananya pun sobek.

__ADS_1


"siapa yang bikin baju maneh sobek gini?"


"orang sinting"


Ikbal tertawa menanggapi ucapan Daru. mereka berjalan mencari sebuah toko pakaian karena jika mereka kembali ke tempat tadi untuk mengambil mobil Daru dalam keadaan bonyok seperti itu, polisi yang masih berjaga akan menangkap mereka.


selama perjalanan Ikbal bercerita tentang bagaimana hebatnya dia menendang dan memukul orang-orang barbar yang ada di demo tadi. diapun memberi informasi bahwa kericuhan sudah terkendali tapi polisi masih berjaga di sekitar gedung sate. Daru mendengarkan dengan tidak peduli.


Ikbal menyadari bahwa daritadi Daru membawa sebuah almamater. dia penasaran milik siapa Almamater itu.


"punya siapa tuh?"


"seseorang"


"liat dong!" ujar Ikbal seraya mengulurkan tangannya berniat mengambil almamater itu.


secepat kilat Daru menarik almamater itu seperti anak yang tidak ingin di pinta mainannya.


"apa sih maneh, lebay banget! urang mau liat punya siapa Almamater nya!!"


"kalau gak mau ya gak mau!"


"maneh pelit amat sih jadi orang!"


mereka saling berteriak di jalanan membuat beberapa pengendara melihat ke arah mereka. Ikbal pun cukup kesal dengan perlakuan Daru, tidak biasanya Daru seperti itu. toh barang itu bukan miliknya.


"punya cewe yah?" Ikbal menebak


Daru tidak menjawab dan segera memakai almamater itu. lagipula Nafa memberikan almamater nya untuk menutupi tubuh Daru yang terekpos karena bajunya yang sobek.


"cewe kuliahan nih? jadi tipe maneh yang tua-tua? siapa namanya?" berulang kali Ikbal menggoda Daru dengan pertanyaan.


Daru masih bergeming tidak ingin menjawab. dengan kasar Ikbal menarik tubuh Daru melihat ke arahnya dan diapun melihat nama dari almamater itu.


"apa sih maneh? kepo banget!!" Daru merasa tidak nyaman dan segera menutup nametag di almamater itu.


tapi Ikbal sudah melihat dengan jelas siapa pemilik almamater. dia merasa tidak asing dengan nama itu.


"kayanya urang tahu deh siapa cewe yang ngasih pinjem maneh almamater ini"


perhatian Daru langsung tertuju kepada Ikbal, jantungnya berpacu kencang. dia merasa sesuatu yang aneh di dadanya, seperti adrenalin yang begitu asing. hatinya senang, sesenang dia saat melakukan olah raga ekstrim atau memukuli seseorang.


⭐terimakasih atas dukungan kalian semua. happy reading. thanks for like, coment and vote nya. love you all 😘 ⭐

__ADS_1


__ADS_2