
dering ponsel memenuhi sebuah ruangan yang luas. seseorang yang berada di balik selimut menjulurkan tangannya, mencari ponsel yang di simpan di salah satu laci di meja kecil samping kasur yang super besarnya.
"halo" jawabnya dengan suara malas dan serak
"siapa? ahh pak damar. ada apa?"
hening sesaat, sosok di selimut itu sontak membuka matanya lebar-lebar. tidak peduli dengan kotoran mata yang masih menempel di sela-sela matanya.
"apa?! katakan sekali lagi!!"
Rizal tetap tidak menghilangkan wajah kaget nya meski mendengar ucapan Damar untuk ke dua kali bahkan ketiga kali.
"aku tidak terima! sebaiknya bapak katakan itu langsung di kantor!"
Rizal langsung mematikan ponselnya dengan kasar. dia mengerutkan alisnya lalu mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
Rizal segera bangkit dari kasurnya. dia membuka gorden yang menutupi jendela sebesar ruangan itu dan setinggi ruangan itu. dia menatap taman yang di tengahnya terdapat kolam renang yang sangat besar, di satu pojokan terdapat beberapa alat fitnes, lapang basket berukuran kecil terdapat di pojokan satunya.
Rizal berbalik menuju westafel untuk mencuci mukanya. Rizal hanya mengenakan boxer, tubuh atletisnya begitu menggoda bagi wanita yang melihatnya. otot di setiap tubuhnya membentuk dengan sempurna. dengan proporsi tubuh yang pas, tubuh Rizal bak oppa Korea yang ada di film. begitu menggoda.
Rizal berjalan membuka jendela besar itu, dia menghirup udara pagi yang segar.
hari ini adalah wekeend, Rizal ingin menghabiskan waktunya di rumah dan tidak ingin memikirkan apapun termasuk kerjaan tapi kenyataan tidak seindah yang di harapkan Rizal.
pak Damar mengajukan surat pengunduran dirinya, dan itu membuat Rizal sangat gusar. dia tidak bisa melepaskan damar yang sudah sangat lama bekerja dengan Shabil grup. semenjak ayahnya masih menjadi pemimpin, Damar sudah bekerja di sana menjadi asisten ayahnya sebentar dan di pindah tugaskan menjadi asistennya.
apa sebabnya Damar ingin mengundurkan diri dari perusahaan. apa karena penyakitnya? atau karena kelakuan Rizal akhir-akhir ini? Rizal tahu perbuatan nya tidak baik bahkan di sebut brengsek tapi itulah yang sering terjadi di dunia bisnis. Dark bussines.
Rizal menekan tombol di telpon yang tertempel di salah satu tembok kamarnya
"ya tuan?"
"bawakan jus apel BI"
"baik tuan"
Rizal menggeser pintu maha besar itu dan keluar lalu duduk di salah satu kursi disana. dia hanya berdiam diri.
selain masalah Damar, Rizal penasaran dengan apa yang terjadi kemarin kepada Daru.
dia sudah mendengar ada seorang wanita lebih tepatnya guru privat yang sengaja Daru undang ke rumah. untuk mengajarinya matematika dan bahasa Inggris. padahal setahu rizal, adiknya tidak membutuhkan itu.
__ADS_1
Daru anak cerdas, bahkan dia juga sudah fasih berbahasa Mandarin dan Spanyol. aneh jika dia mengikuti les Inggris.
"pasti alasannya karena wanita" gumamnya
tok-tok..
BI Inah masuk dan menyimpan jus itu di atas meja samping Rijal.
meski sudah sering melihat majikannya hanya memakai boxer, BI Inah masih saja mendapat serangan jantung setiap kali melihat tuannya telanjang dada. andai dia masih muda, itulah yang selalu di pikirkan BI Inah.
"terima kasih bi, bagaimana dengan Daru?" tanya Rizal seraya meminum jusnya
"tuan Daru masih tidur tuan"
lama Rizal diam membuat BI Inah canggung.
"kalau begitu bibi mau balik lagi ke dapur"
"ah tunggu! bibi duduk dulu!"
BI Inah duduk di sebrang kursi Rizal.
"siapa wanita itu bi?" tanya Rizal tiba-tiba
"wanita yang mana?"
"guru privat Daru"
"ohh, namanya Nafa"
"lalu?"
"hanya itu yang bibi tahu tuan"
Rizal menghela nafas, kurang informasi.
"baiklah, bibi boleh pergi"
BI Inah membungkuk lalu pergi dari kamar itu.
Rizal masih berfikir, dia lalu melihat pintu di sudut dekat lapangan basket mini. pintu dengan dua pintu yang terbuat dari kaca.
__ADS_1
Daru berfikir untuk mengunjungi kamar Daru lewat pintu itu, tapi dia harus masuk ke rumah utama, naik ke lantai dua lalu berjalan menyusuri lorong panjang dan barulah dia sampai di salah satu pintu yang menuju kamar Daru.
"haruskah aku liat dia?" gumamnya kembali
"tapi untuk apa?" tanyanya kepada diri sendiri.
dari info yang dia dapat, katanya Daru untuk pertama kalinya tersenyum saat ada wanita itu. setelah sekian lama Daru dapat kembali tersenyum karena seorang wanita. informasi itu yang membuat Rizal syok bukan main, dia penasaran apa yang telah terjadi pada adiknya terutama siapa wanita pemberani itu.
tanpa pikir lagi Rizal masuk kedalam mengambil piyamanya yang seperti handuk baju lalu berjalan menuju pintu itu.
Rizal berjalan memasuki rumah utama, disana cukup ramai oleh beberapa pekerja. beberapa pegawai wanita berpapasan dengan nya dengan ekspresi syok melihat dada dan perut Rizal yang terlihat begitu jelas dari celah bajunya.
Rizal berjalan dengan santai tidak peduli dengan tatapan kagum dari beberapa pegawai. dia bertanya ke salah satu pegawai lelaki dimana ayahnya, yang ternyata sedang pergi golf bersama teman kantornya.
Rizal menaiki tangga, dia menyusuri lantai dua tempat berbagai lukisan ibunya terpampang di setiap tembok disana. Rizal melewati kamarnya dulu, dia berhenti disana membuka kunci kamar dan masuk ke kamar itu.
ruangan itu bersih karena sering di bersihkan. terdapat 2 tempat tidur di pojokan yang berbeda. dan terdapat meja dan lemari di masing-masing tembok sejajar dengan kasur tersebut.
kasur dengan ukuran kecil pas untuk anak kecil. ini adalah kamar bekas mereka berdua, sebelum ibunya meninggal, sebelum keluarganya berubah menjadi berantakan.
tatapan Rizal sendu, mengingat kenangan bersama ibunya. Rizal memejamkan mata dan berdoa semoga ibunya bahagia di alam sana.
Rizal keluar dari kamar itu dan kembali menguncinya. masa lalu hanyalah masa lalu. adik yang dulunya begitu manis dan imut kini berubah menjadi ganas dan berbahaya seperti binatang buas yang sulit di jinakkan.
Rizal kembali berjalan, dia memasuki lorong panjang yang terbuat dari kaca. seluruh lorong itu terbuat dari kaca bahkan lantainya pun terbuat dari kaca.
Rizal terus berjalan dengan langkah santai, dia menggaruk perut sixpack nya. sesekali berhenti untuk melihat pemandangan danau di belakang rumah utama yang dapat terlihat dari lorong itu meski hanya sedikit yang dapat di lihat. di sudut pandangnya dia dapat melihat sebuah golf car sedang berjalan. Rizal yakin ayah serta beberapa teman kantornya sedang menaiki itu menuju lapangan golf yang ada di seberang danau buatan.
Rizal kembali berjalan dan kini dia sudah ada di depan pintu yang terbuat juga dari kaca. hanya gagang pintunya yang terbuat dari bahan alumunium yang di lapisi emas. tirai berwarna pastel menutupi pintu itu.
"dia belum bangun kan?" gumam Rizal kembali
Rizal menghela nafas dan memegang gagang pintu yang berada di tengah-tengah pintu tersebut. Rizal menjulurkan kedua tangannya memegang kedua gagang pintunya itu.
Rizal menghitung, dalam hitungan ke tiga dia menarik pintu dengan kedua tangannya, dan..
crak!
pintu terkunci, Rizal tidak dapat membukanya. berkali-kali dia menarik dan tidak dapat terbuka.
srakk!
__ADS_1
tirai terbuka dan sebuah postur yang tidak beda jauh tinggi dan kekar darinya berdiri disana, sama hanya memakai boxer postur tubuh itu memandang Rizal dengan wajah kesal.
"mau apa kau?"