
"apa jadwal ku setelah ini?" tanya Rizal saat mereka berjalan menuju parkiran
"setelah kunjungan ini tidak ada pak, selama dua hari bapak bisa beristirahat"
"benarkah? wah menyenangkan sekali"
"kita kembali ke Indonesia pak?"
"no, kita sudah jauh-jauh dari Indonesia. tidak asik langsung pulang begitu saja" jawab Rizal
mereka masuk ke dalam mobil, Nurul duduk di samping Rizal.
"kita ke Jeju" ucap Rizal kepada supir pribadinya
"baik pak"
mereka melesat dengan cepat menuju bandara. untuk mempersingkat waktu, Rizal dan Nurul memilih memakai jet pribadi agar cepat sampai di Jeju.
entah kenapa firasat Nurul mengatakan bahwa ini bukan ide bagus, kelopak mata sebelah kanan bergetar sejak tadi. menurut kepercayaan saat kelopak mata kiri bergetar tandanya hal baik akan terjadi, begitu pula sebaliknya saat kelopak mata kanan bergetar akan ada hal buruk terjadi.
Nurul ingin sekali putar balik, turun dari pesawat ini dan menaiki pesawat menuju Indonesia, sejak Rizal mengajaknya ke Jeju perasaannya tidak enak.
tidak terasa mereka sudah sampai di bandara, Rizal dan Nurul segera turun. waktu masih menunjukan pukul 4 sore, matahari mulai tenggelam. langit terlihat setengah biru dan setengah jingga, pemandangan yang sangat cantik. angin kencang menerjang tubuh kecil Nurul, menyibakkan blouse seharga ratusan juta tersebut. Nurul melihat ke arah taburan berlian di dadanya dengan panik, dia takut ada berlian yang jatuh.
Rizal memakaikan jas miliknya ke Nurul, dia meletakkan jas itu di pundak Nurul sehingga angin tidak terlalu kencang meniup tubuh mungil itu.
"ayo" ucap Rizal dengan senyum maut nya
mereka berjalan beriringan, Nurul sesekali melihat ke arah Rizal yang tengah berjalan santai, padahal angin begitu kencang sedangkan tubuh Rizal hanya memakai kemeja tipis. Nurul menghentikan langkahnya, Rizal pun berhenti dengan bingung. dia melepaskan jas itu.
"saya rasa ini tidak perlu pak" ucap Nurul seraya menyerahkan jas tersebut.
"tidak, kamu harus pakai, aku takut tubuhmu terbawa angin" ucapnya dengan senyum jahil menghiasi wajah Rizal
Nurul cemberut, padahal tubuhnya termasuk montok. apakah Rizal tengah khawatir atau tengah menghina nya
mereka sudah sampai di villa yang mereka pesan, villa tersebut dari luar tidak terlalu besar, namun cocok untuk pengantin baru. ketika melangkahkan kaki memasuki villa, Nurul salah besar, villa itu sangat mewah. ruang tamu yang terlalu besar, di lengkapi berbagai sofa panjang yang mewah, lemari yang di penuhi barang-barang antik, sebuah lukisan besar terpajang di salah satu dindingnya, serta ada dua pasang kursi pijat.
di dalamnya lagi membuat mata Nurul terbelalak kagum. sebuah tv super besar terpajang di salah satu tembok, kursi yang begitu empuk dan nyaman tepat di hadapan tv, perapian berada tepat di sebelah kiri kursi, meja panjang terletak antara tv dan kursi di atasnya terdapat beberapa cemilan dari berbagai negara. karpet tebal, empuk dan hangat memenuhi setiap sudut lantai.
dapur berada di sebelah kanan menyatu dengan ruang keluarga, terdapat kursi bar dan meja bartender yang memisahkan dua ruangan tersebut. kulkas dua pintu yang begitu besar, serta alat-alat elektronik canggih memenuhi area dapur.
di sebelah selatan, terdapat sebuah tangga yang mengarah kan Nurul turun ke tempat peristirahatan. sebuah lorong yang di lantainya di tutupi karpet tebal, ujung dari karpet tersebut terdapat sebuah lukisan dari abad pertengahan. di kiri dan kanan terdapat pintu yang di duga menuju ke kamar tidur.
"kamu mau pilih yang mana? kiri atau kanan?" tanya Rizal, awalnya dia tidak mengerti namun perlahan dia paham bahwa yang di maksud Nurul mau pilih kamar yang mana.
"kanan" jawab Nurul
"sebaiknya kiri" saran Rizal
Nurul mengerutkan dahinya, jika Rizal menyuruh dirinya untuk memakai kamar di sebelah kiri untuk apa dia bertanya.
"coba lihat" lanjut Rizal seraya membuka pintu itu.
mereka masuk dan Nurul langsung suka dengan kamar yang di rekomendasikan Rizal. sebuah kasur yang besar, dengan kelambu berwarna soft pink, di kiri kanan kasur terdapat meja kecil yang di atas nya ada lampu tidur. di sebelah kirinya terdapat satu buah kursi berwarna putih yang sangat panjang dan tentu besar serta nyaman, lemari berwarna putih ada di sebelah kanan kasur beserta sebuah ruangan yang di duga tempat ganti pakaian. di sebelah kiri dekat pintu balkon terdapat kamar mandi yang cukup mewah. yang membuat Nurul begitu jatuh cinta dengan kamar ini adalah, tepat di hadapan kasur terdapat sebuah jendela besar dengan lebar setengah kamar tersebut dan tinggi sekamar tersebut yang memperlihatkan pemandangan laut yang begitu indah. cahaya matahari sore membuat pemandangan bak di surga.
"saya ingin disini"
"sudah saya duga! cepat mandi, ganti pakaian, satu jam lagi kita ketemu di ruang keluarga. kita bicara hal yang belum pernah kita bicarakan" ucap Rizal seraya pergi dari kamar tersebut.
...***...
Nurul keluar kamar memakai piyama panjang yang sudah di sediakan, dia memakai kaos kaki dan sendal rumah karena cuaca begitu dingin, dia memakai pasmina tanpa memakai peniti. dia menaiki tangga dan sudah mendapati Rizal tengah menonton tv beserta meminum sekaleng bir. perapian sudah menyala sehingga suhu ruangan terasa naik meski hanya beberapa derajat.
"padahal bapak belum makan apa-apa tapi sudah meminum ini?" tanya Nurul seraya merebut bir dari tangan Rizal.
"aku baru minum sedikit"
"baru sedikit bagaimana? ini sudah abis lebih dari setengah"
__ADS_1
Rizal hanya nyengir menanggapi ucapan Nurul.
"jangan minum ini! bapak terlalu sering meminum alkohol. bapak pasti tahu alkohol merusak tubuh! akan saya buatkan jus" ucap Nurul seraya berjalan menuju dapur.
Rizal tersenyum geli, sekretaris pribadinya sangat mirip dengan binatang kecil yang tengah protes. belum pernah ada yang menasehati bahkan damar sekalipun.
Tidak, damar pernah menasehati nya namun dia berhenti setelah berbicara hal sama selama 10 tahun. tapi aneh, dirinya menurut begitu saja apapun yang di katakan oleh wanita itu. apakah kerena dia seorang perempuan? apa hanya itu alasannya.
Rizal memperhatikan Nurul yang tengah memotong buah apel serta memblendernya. wanita itu berjalan menghampiri, memakai setelan piyama berwarna navy serasi dengan warna piyama miliknya.
"terimakasih" ucap Rizal seraya menerima gelas panjang itu
"bapak harus sering meminum jus" sahut Nurul dan duduk di samping Rizal.
mereka meminum jus itu hingga habis setengah.
"ngomong-ngomong apa maksud bapak dengan membicarakan hal yang belum pernah di bicarakan?"
"ah itu.. maksudku, you know bicara tentang diri kita sendiri. karena kita sedang berlibur, jadi mati kita bicarakan tentang diri masing-masing"
"apa tidak apa-apa? itu kan terlalu.."
"privasi? I know but there's nothing wrong with talking about ourselves even if it's just a little. lagipula hanya kita berdua yang tahu, dan kamu boleh menanyakan apapun tentangku"
Nurul menimbang-nimbang, bolehkah dia menanyakan apapun? dia memang penasaran akan sesuatu.
"kenapa bapak belum menikah?"
Rizal tertawa terbahak-bahak yang membuat Nurul terkejut. apa pertanyaan nya begitu lucu
"maaf haha.. saya tidak menyangka kamu bakal menanyakan itu, saya kira kamu akan bertanya kenapa saya suka tidur dengan wanita"
yah. . itu juga yang ingin di tanyakan Nurul
"bagaimana yah.. menikah bukan prioritas dalam hidup saya sebenarnya. itu hanya sebuah pelengkap dan bisnis"
Nurul sering lihat di drama-drama bahwa orang kaya tidak bisa menikah dengan orang yang mereka cintai, ternyata itu benar apa adanya .
"benar.. dia putri dari salah satu brand fashion terkenal di Paris" ucap Rizal seraya memberikan sebuah potret wanita di ponselnya.
wanita cantik berambut pirang, matanya berwarna biru terang, berhidung mancung, bibirnya tipis. sebuah senyum menghiasi wajah nya yang cantik meski terdapat bintik freckle di wajahnya.
"cantik"
"iya, sangat cantik namun kami tidak saling mencintai"
"kenapa begitu?"
"seperti yang saya bilang, kami para konglomerat tidak butuh cinta untuk menikah. yang utama adalah kemajuan perusahaan. lagipula wanita ini memiliki kekasih, diapun membebaskan saya untuk berkencan dengan siapapun"
"tapi jika begitu besar kemungkinan saat bapak sudah menikah kalian akan saling selingkuh?"
"eum.. bisa jadi. sudah saya katakan pernikahan bagi kami hanya sebuah pormalitas"
Nurul menyesap jusnya kembali, sangat ironis sebuah pernikahan tanpa cinta. pantas saja banyak orang kaya yang bercerai.
"kapan bapak akan menikah dengan wanita ini?"
"saya sedang menunggu dia lulus kuliah" jawab Rizal setelah berfikir cukup lama, mengingat-ingat berapa usia wanita itu.
"emang berapa tahun calon bapak?"
"19 tahun, dia baru saja masuk universitas"
"uhuk!!" Nurul tersedak jus yang tengah dia minum, Rizal membantu dengan menepuk-nepuk punggungnya.
"hah?! 19 tahun? bapak berencana menikahi gadis di bawah umur?!"
"itu bukan rencanaku, itu rencana kakek. saya di jodohkan oleh kakek"
__ADS_1
Nurul mengatur napasnya, dia minum pelan air putih yang di berikan Rizal.
"bagaimana denganmu?" kali ini Rizal yang bertanya
"kenapa kamu belum menikah?" lanjut Rizal
Nurul diam sejenak, dia harus mengingat-ingat kenangan pahit yang telah lama dia kubur. jarinya meremas celana piyama yang dia pakai.
"belum dapet jodohnya pak"
"saya tahu nama lelaki yang telah meninggalkan kamu, kalau tidak salah namanya-"
"saya mohon pak! jangan sebut nama orang itu!" bentak Nurul, seketika Rizal mematung
"ba-baiklah"
suasana hening sekitar beberapa menit, Rizal tidak berani bersuara dan hanya melirik ke arah Nurul. hingga akhirnya..
"kejadiannya tepat 3 tahun lalu. waktu itu saya akan menikah dengan lelaki itu. kami sudah memesan W.O, fitting baju, pesan gedung, membeli cendramata. saya kira ini adalah awal kebahagiaan saya ternyata saya salah. itu adalah awal dari kehancuran saya, tepat sebelum undangan di sebar saya melihat calon suami saya melakukan hubungan intim dengan.. sahabat saya" ucap Nurul dengan lirih. meski kejadiannya sudah lama, rasa sakitnya masih jelas terasa
"bagus dong" ucap Rizal
bagus? apa maksudnya dia senang melihat orang menderita? dalam hati Nurul mendumel.
"itu berarti dia bukan orang baik. bagus kan keburukan dia ketahuan lebih awal, coba kamu bayangkan, jika kamu tahu dia sudah menghamili wanita lain saat kamu sudah menikah itu lebih menyakitkan" lanjut Rizal
"syukur Tuhan memperlihat kan itu kepadamu, kamu harusnya merasa lega bahwa kamu sudah di selamatkan"
benar apa yang di katakan Rizal
"Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu, jangan menangis demi sampah seperti itu. kamu adalah permata, sampah tidak cocok bersanding dengan permata" ucap Rizal membuat Nurul terharu, senyum menghiasi wajahnya
"benar apa kata bapak, terimakasih pak"
"your welcome"
"anu, kalau saya boleh tahu apa orang tua bapak juga di jodohkan?"
"tidak, mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama. padahal di situ ayah sudah bertunangan dengan wanita pilihan kakek"
"lalu apa pilihan ayah bapak membuat perusahaan Shabil menjadi jatuh?"
"tidak, justru semakin maju-" Rizal menyadari sesuatu apa maksud dari pertanyaan Nurul
"itu berarti dengan bapak di jodohkan belum tentu perusahaan akan menjadi maju, buktinya orang tua bapak bisa sukses tanpa pernikahan politik"
Rizal menatap Nurul, kenapa dia tidak kepikiran itu. apakah dengan mengetahui kenyataan itu artinya dia bisa menikahi siapapun?
"jadi bapak bisa menikah dengan orang yang bapak cintai dan yang mencintai bapak, menurut saya itu lebih baik"
"hahaha.. terimakasih" sahut Rizal lega kini dia bisa mantap melangkah ke depan
"ah jus bapak sudah abis yah, mau saya buatkan kopi?"
"tentu"
Nurul bangkit dari duduknya berjalan menuju dapur. gelas yang di butuhkan Nurul ada di laci atas. dengan tubuhnya yang seperti liliput sangat sulit untuk menjangkau gelas itu.
"tidak ada salahnya kamu meminta tolong" ucap Rizal seraya mengambil gelas yang di butuhkan Nurul
dengan cepat Nurul berbalik dan berhadapan dengan sebuah dada bidang yang menggoda. Nurul melihat ke atas, Rizal tengah menatapnya.
"kamu tahu? terkadang aku tidak bisa mengontrol isi hatiku" ucap Rizal seraya menyimpan gelas di meja dapur dan merapatkan kedua tangannya ke meja dapur mengapit Nurul
"apa maksud bapak?" tanya Nurul dengan was-was, jantungnya berdebar kencang
Rizal melaraskan wajahnya dengan wajah Nurul
"tapi sebelumnya aku ingin minta maaf"
__ADS_1
"untuk apa pak?"
Rizal memegang pipi Nurul dengan tangan kanannya dan dengan lembut Rizal mengecup bibir Nurul, kecupan itu terasa lama, waktu seolah berhenti untuk mereka berdua. kecupan yang akan mengubah mereka berdua selamanya.