
Bagas memasuki kamarnya. dia membuka jaket kulit nya dan langsung menggantungnya.
Bagas diam sesaat lalu memutuskan untuk merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasurnya.
isi kamar Bagas tidak banyak. hanya ada kasur tanpa ranjang, lemari pakaian, meja belajar dan seragam militer yang tergantung rapih di balik pintunya.
Bagas mengecek ponselnya, tidak ada pesan dari siapapun. dia melihat galeri foto dan melihat sebuah potret wanita memakai jilbab berwarna hitam dengan senyum manis dan lesung pipi yang ada di sebelah kanan membuat senyumannya tambah manis.
Bagas menatap foto itu tanpa berkedip untuk beberapa detik. Bagas menutup mata sejenak dan menghela nafas panjang.
"Hani, apa kamu tenang disana?" gumam Bagas mengingat kekasihnya yang telah meninggal 7 tahun silam karena sebuah tragedi.
bagas selalu merasa bersalah atas apa yang menimpa kepada kekasihnya.
kejadian itu terjadi saat Bagas dan Hani bertengkar.
****
saat itu Bagas melihat Hani pergi dengan seorang pria, dia tidak tahu bahwa pria itu adalah sepupu Hani. Bagas langsung memberhentikan kendaraan mereka dan langsung meninju lelaki itu. begitu marahnya hingga membentak Hani padahal Bagas tidak pernah sedikitpun membentak atau berkata kasar kepada sang kekasih.
Bagas langsung pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari Hani. berkali-kali Hani menelpon tapi tidak di angkat olehnya.
hingga esoknya karena Bagas merasa aneh WhatsApp Hani tidak aktif setelah malam itu, dia tahu Hani tipe wanita yang tidak bisa jauh dari ponsel dan WhatsApp. diapun memutuskan untuk kerumah Hani, berencana meminta maaf dan mau mendengar kan penjelasan Hani.
sesampai disana bukan hanya kekasihnya, tapi sebuah bendera kuning berkibar di depan rumah itu. Bagas turun dari motornya, dia hanya melihat-lihat mencoba mencari Hani.
Kaka Hani melihat dan menghampiri nya. dengan kebingungan Bagas bertanya
"Hani dimana teh?"
Kaka Hani tidak menjawab, air mata dan isakan yang keluar. Bagas semakin bingung. tanpa banyak bicara Kaka Hani membawa Bagas masuk
__ADS_1
"kamu yang sabar yah" ucap wanita itu
jantung Bagas berdetak kencang. dia merasa ada yang aneh, dia mulai berfikir negatif. detakannya semakin cepat saat Bagas melihat 2 mayat ada di situ. Kaka Hani mendekati satu jasad dan membuka samping yang menutupi wajah jasad itu.
bak petir di siang bolong, Bagas tercengang. kakinya lemas dan seketika terjatuh duduk setelah melihat kekasihnya terbujur kaku tak bernyawa. Bagas mendekati jasad itu, tangannya bergetar hendak menyentuh wajah Hani.
tatapan Bagas mulai kabur karena air mata, suaranya mulai bergetar menahan Isak tangis. di sentuhnya wajah itu, seingat Bagas pipi itu selalu hangat tapi kini dingin bagaikan es.
"i-ini gak bener kan teh?" tanya Bagas dengan nada yang seperti berbisik.
semua orang termasuk orang tua Hani yang duduk di pojok ruangan hanya diam menahan tangis.
"yang.. bangun Yaang. kamu jangan bercanda! ini gak lucu!"
air mata Bagas mulai turun perlahan, suaranya semakin bergetar
"Yaang!! bangun!!! bangun!! maafkan aku! aku mohon bangun! aku bakal denger semua penjelasan kamu!! please bangun Yaang!!" Bagas mulai berteriak, tangisnya pecah. di peluk nya tubuh Hani yang sudah kaku itu dengan penuh penyesalan.
dengan hati hancur Bagas menerima semua informasi itu. setelah Bagas pergi ada segerombolan begal yang terdiri dari 4 orang menghadang mereka. tidak hanya mencuri sepeda motor, para begal itu menusuk sepupu Hani beberapa kali di bagian perut hingga meregang nyawa lalu Hani di seret dan di perkosa oleh ke 4 orang itu sebelum akhirnya di bunuh.
Bagas begitu menyesal kenapa saat itu dia tidak mengangkat telpon kekasihnya, mungkin jika Bagas mengangkat telpon itu kejadian naas ini tidak akan terjadi.
Bagaspun pergi dari rumah Hani dengan terburu-buru. dia segera menuju lokasi kejadian naas itu. dia bertanya kesana kemari tentang kejadian itu dan akhirnya setelah beberapa hari dia menemukan para pelaku.
Bagas yang sudah termakan dendam menghajar mereka dan membunuh satu orang yang di duga dalang memeperkosa Hani dengan cara mematahkan lehernya. Bagas tidak berhasil membunuh 3 orang yang tersisa karena polisi dan warga menghentikan aksinya tapi bisa di pastikan ke tiga pelaku akan cacat seumur hidup.
karena tindakannya Bagas masuk penjara dan di jatuhi hukuman penjara 5 tahun. namun banyak warga yang mendukung Bagas karena berkat Bagas daerah itu kini kembali aman dan tentram. setelah melewati masa percobaan beberapa bulan akhirnya Bagas mendapat hukuman satu tahun penjara atas pertimbangan menegakan hukum meski memang dengan cara yang salah.
meski Bagas sudah membalaskan dendamnya namun hati Bagas masih tidak tenang, dia masih di hantui rasa bersalah yang tak kunjung hilang.
****
__ADS_1
itulah alasan luka yang ada di kening Bagas, sejak saat itu Bagas sangat di segani. semua preman sangat takut kepadanya, mereka tidak ingin berakhir seperti nasib para pembegal itu. itulah asal mula Bagas di kenal sebagai ketua preman meski dia bukan preman.
Bagas menghela nafas panjang kembali, dia membuka mata. setiap hari Bagas mengingat kejadian itu, Bagas tidak bisa melupakan rasa bersalah nya. meski keluarga Hani tidak menyangkut pautkan kejadian itu dengan Bagas, Bagas tetap merasa itu salahnya.
"maafkan aku Hani" ucap Bagas lirih
tok-tok. pintu Bagas di ketuk pelan, Bagas bangkit dari tidurnya dan membuka pintu itu. terlihat Nurul berdiri disana
"kata mamah air udah panas, Kaka mau mandi kan? mamah nyuruh Kaka mandi pake air anget"
"oke, terima kasih"
Bagas keluar kamar dan menutupnya lalu turun ke bawah.
Nurul tahu betul bahwa kakanya sangat kaku, setelah kematian Hani kakanya berubah 180° menjadi sangat kaku dan menakutkan. meski begitu Nurul tahu bahwa kakanya masih sangat menyanyangi mereka.
Nurul kembali masuk ke kamar Nafa, dia menemani Nafa yang tengah membereskan kamarnya
"de, kamu jangan bikin masalah lagi sama ka Bagas"
"aku gak bikin masalah ko teh"
"yang kamu lakukan hari ini menimbulkan masalah"
"iya aku tahu, aku kira ka Bagas gakan tahu. aku sudah hati-hati teh tapi ternyata ka Bagas masih tetap tahu"
"kamu tahu kan karena apa dia jadi keras seperti itu"
"iya aku tahu, semoga teh Hani tenang di alam sana dan semoga Kaka menemukan kebahagiaan dan ketenangan"
"aamiin"
__ADS_1
Nafa dan Nurul tahu betul kejadian itu. mereka juga mendukung hubungan mereka berdua. meski saat itu Bagas masih berusia belia tapi Bagas sudah berfikir dewasa, dia sangat serius dengan Hani dan berencana untuk menikahi Hani setelah dia lulus ujian TNI. yah.. dia lulus tapi kekasihnya telah tiada, hingga kini Bagas belum bisa membuka hati. dia tidak punya wanita yang dia sayangi kecuali ibu dan ke dua adiknya.