
"oke, bagus. sekarang coba selesaikan soal ini" ucap Nafa seraya menyerahkan kertas baru kepada Daru.
hari ini adalah hari weekend dimana Daru akan bertemu dengan Nafa untuk les privat. meski soal yang di hadapan nya adalah soal yang mudah, dia tetap mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Nafa kembali mengecek jawaban yang di berikan Daru. meski jawabannya benar namun rumus yang di pakai Daru sangat berbeda. Nafa baru melihat cara menyelesaikan sebuah soal yang sulit hanya memakai rumus yang sangat simple.
dia melihat ke arah Daru, dia tersenyum dan merasa sangat bangga. Nafa membuka pikirannya bahwa dia juga bisa belajar dari anak SMA.
ponsel Daru bergetar, dia menerima sebuah panggilan dari Devan.
"ya" jawab Daru
orang di sebrang telepon berbicara sesuatu, Daru melirik sebentar ke arah Nafa.
"tunggu sebentar" ucap Daru kepada Devan
Daru melihat ke arah Nafa
"ka, aku kebawah sebentar. Kaka gak apa-apa kan disini sendirian?"
"iya gapapa, aku berani ko sendiri" jawab Nafa dengan senyum di wajahnya.
Daru segera turun ke bawah untuk berbicara dengan lawan bicaranya di telpon.
Nafa melihat Daru sampai Daru menghilang di balik tangga. dia tidak masalah untuk diam di tempat itu sendirian hanya saja dia kadang merasa bosan.
Nafa meminum jus mangga yang sudah di sajikan oleh BI Inah. BI Inah sudah kembali dari Lampung sekitar seminggu yang lalu, dia kembali seraya membawa banyak oleh-oleh. nafapun kebagian oleh-oleh khas kota Lampung.
Nafa mengambil cheese cake dengan buah dan selai strawberry di atasnya, rasanya sangat enak sampai Nafa memakainya sedikit demi sedikit agar tidak cepat habis.
sambil memakan cake Nafa menyalakan tv. dia menonton Drakor yang sedang tayang di salah satu channel tv. Drakor yang bertemakan kerajaan dengan judul the moon embrasing the sun.
10 menit berlalu Nafa bangkit dari tempat duduknya dan segera menuju kamar mandi. Nafa segera keluar setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi.
dia merapihkan celananya dan berjalan menuju ruang tv namun sebelum melangkah dia melihat ruangan yang selalu terkunci kini terbuka, terlihat cahaya lampu dari celah pintu yang terbuka sedikit.
Nafa mendekati pintu itu, dia melihat kesana kemari mencari Daru yang mungkin sudah kembali
"Daru?" ucapnya setengah teriak namun tidak ada jawaban.
Nafa menyentuh gagang pintu yang dingin itu. dia mematung sejenak. dia ingat Daru pernah memperingatkannya tentang ruangan yang terkunci,
"jangan dekati ruangan yang terkunci" itu yang Daru ucapkan tapi rasa penasaran Nafa begitu besar.
"baiklah kita lihat sebentar, setelah itu langsung keluar seolah tidak terjadi apa-apa" gumamnya
Nafa pun memasuki ruangan.
__ADS_1
sebuah tangga menyambut Nafa, tangga yang berwarna putih bersih dengan di tutupi karpet berwarna abu. dinding di lorong itu berwarna putih keabuan, tanpa corak sedikitpun. beberapa lampu tertanam di salah satu sisi tembok. Nafa menuruni tangga dengan hati-hati. dia merasa jantungnya berdebar kencang, entah itu karena penasaran atau takut.
Nafa takut lorong tangga ini mengarahkan ke sebuah ruangan pembunuh berantai, seperti yang ada di film-film.
plak! Nafa segera memukul kepalanya sendiri, tidak mungkin Daru seorang psikopat. selama Nafa mengenal Daru, Nafa percaya Daru bukan anak seperti itu. mungkin..
terdapat sebuah pintu diujung tangga. pintu berwarna hitam pekat sangat kontras dengan nuansa lorong berwarna putih terang. Nafa membuka pintu itu. dia terkejut pintu hitam itu tidak di kunci, Nafa masuk dengan perasaan tidak karuan.
"semoga aku tidak melihat mayat" gumamnya
krieettt... pintu terbuka lebar, Nafa terkejut dengan apa yang dia lihat. dia melihat banyak sekali lukisan dan patung pahatan yang sangat indah. ruangan itu begitu cerah, terdapat sebuah kaca sebesar ruangan menerangi tampat itu. kaca itu langsung memberikan pemandangan danau yang berada di belakang rumah ini. Nafa dapat melihat dengan jelas gazebo putih yang waktu itu dia lihat. terdapat beberapa kursi santai dan meja bundar bulat di gazebo tersebut.
Nafa melihat kesana kemari lukisan, patung, guci besar dan beberapa barang antik lainnya. dia merasa pernah melihat lukisan tersebut saat berkunjung ke salah satu pameran lukisan. Nafa melihat kearah dinding, disana dia melihat 2 buah potret besar tergantung disana.
di sebelah kanan terdapat potret wanita muda berpakaian mewah tengah tersenyum hangat, wajah wanita itu sangat cantik. dan di sebelah kiri terdapat sebuah potret keluarga, di potret itu terdapat wanita tersebut, seorang lelaki muda dan dua anak kecil yang salah satunya berusia 3 tahun dan satunya lagi terlihat sudah remaja mungkin berusia 13 tahun. kedua mata anak itu berwarna hijau lumut sama percis seperti pria dewasa disana.
"apa itu potret keluarga Daru?"
Nafa mendekati potret tersebut, dia melihat dengan seksama anak balita yang ada disana
"benar, ini Daru waktu masih kecil. ahhh.. dia lucu sekali. tapi kenapa wajahnya sekarang terlihat sangat dingin dan datar?"
Nafa melihat potret di sebelahnya dan melihat lagi potret di depannya.
"inikah ibu Daru? dia sangat cantik. aku rasa pernah melihatnya tapi dimana yah? dan itu ayah Daru. sangat berwibawa wajahnya juga tampan. memang buah bagus tergantung pada bibit bagus" ucap Nafa kembali mengingat bagaimana wajah Daru yang begitu tampan.
"apa yang kamu lakukan disini?"
...***...
Daru terpaksa harus turun ke bawah, dia duduk di ruang makan untuk berbicara dengan Devan. BI Inah memberikan secangkir susu coklat kepadanya.
"bagaimana?" tanya Daru kepada Devan
"perusahan sky sudah setuju dengan persyaratan yang kita berikan dan mereka telah memberi saham kepada kita"
"bukan itu!"
"ahh iya benar, maafkan saya pak. saya telah melakukan penyelidikan sesuai yang bapak minta. Arya, Arya Wijaya Syahputra. dia seorang ketua BEM di fakultas tempat Nafa kuliah, usianya 24 tahun dan dia akan segera menyelesaikan S1 nya tahun ini. dia anak dari seorang pejabat daerah. disini tidak terdapat masalah tentang keluarganya, hanya saja dia memiliki sebuah kebiasaan"
"kebiasaan?"
"iya pak, dia senang membuat wanita jatuh cinta"
"apa?"
"untuk selengkapnya saya sudah mengirimkan datanya berupa email ke ponsel bapak"
__ADS_1
"baiklah. kerja bagus" ucap Daru
tidak lama telepon pun di matikan. Daru segera melihat isi email yang di kirim Devan. Daru membaca dengan seksama dan ekspresi nya berubah terkejut saat dia melihat lebih detail kebiasaan yang di ucap Devan.
Daru diam sejenak, dia meletakkan ponselnya. Daru berfikir bagaimana caranya memberitahu Nafa tanpa menyakiti hati wanita itu, setidaknya dia harus memperingatkan Nafa soal lelaki ini.
Daru tahu Nafa menyukai lelaki tersebut, entah kenapa mengetahui kenyataan tersebut membuat dada Daru terasa sesak. Daru menghela napas panjang.
"jangan dulu aku pikirkan. nanti saja masalah itu di pikirkan" gumamnya
Daru menghabiskan susu coklat di depannya dan segera naik ke atas. dia sudah terlalu lama meninggalkan Nafa sendirian disana.
"maaf ka, sepertinya Kaka sudah lama menung..gu"
Daru terkejut Nafa tidak ada di tempat. cheese cake sudah di makan sepotong dan tv besar itu menyala tapi tidak ada keberadaan orang yang menyalakan tv tersebut.
Daru celingak-celinguk mencari Nafa, tidak mungkin kan Nafa menghilang begitu saja? dia tahu rumahnya kelewat besar tapi tidak mungkin Nafa tiba-tiba hilang, meski Nafa tersesat pasti akan ada pelayan yang mengantarnya untuk kembali kesini.
"ka! ka Naf-" ucapannya terhenti saat dia melihat pintu yang terkunci itu terbuka lebar.
jantung Daru berdetak sangat kencang, Daru segera menuju ke arah ruangan itu. dia melihat Nafa tengah melihat potret yang selama ini dia hindari. tatapan mata yang awalnya terkejut berubah menjadi marah.
"apa yang kamu lakukan disini?" geramnya
tangan Nafa mematung, Nafa segera menoleh dan melihat Daru berdiri di belakangnya dengan tatapan yang mengerikan.
"ahh.. maaf Daru, Kaka hanya-"
"aku bertanya! apa yang kamu lakukan disini?!" teriak Daru membuat tubuh Nafa tersentak kaget.
jantung Nafa berdebar kencang, dia takut. dia ingin menjelaskan namun suaranya tidak keluar.
"a-aku bisa jelaskan-"
"keluar!!" bentak Daru seraya menunjuk kearah pintu keluar
"da-dar, Kaka bisa jelaskan. Kaka gak bermaksud buat melanggar perintahmu. tapi tadi pintunya udah kebuka jadi Kaka masuk tanpa ijin. Kaka tahu ini kurang ajar-"
"keluar! atau kamu tidak akan selamat di tanganku!" ucap Daru dengan penekanan di setiap ucapannya
"keluar!!!!" teriaknya kali ini sangat keras membuat Nafa kembali terkejut dan segera berlari secepat kilat keluar dari ruangan tersebut.
Nafa cepat-cepat membereskan barang bawaannya ke dalam tas dan langsung berlari ke bawah. Nafa tidak sempat menjawab ucapan BI Inah yang menanyakan apakan pelajarannya sudah selesai atau belum. dia terus berlari keluar. bahkan Nafa tidak menunggu jemputan golf car yang biasa mengantarnya ke area parkir. dia terus berlari, hingga akhirnya dia berhenti di tengah jalan, area parkir masih cukup jauh namun Nafa tidak kuat untuk berlari.
nafasnya tersengal-sengal, air mata mengalir di pipinya. dia sangat syok atas kejadian barusan, lututnya lemas sehingga Nafa memilih untuk untuk. dia ingat kembali bagaimana wajah Daru yang tengah marah besar.
Nafa tahu dia salah, dia menyesal telah masuk ke ruangan tersebut. tapi dia takut untuk memberikan penjelasan dan dia baru melihat wajah Daru saat marah, sangat menyeramkan. Nafa menekukkan lututnya, dia menyandarkan wajah ke lutut tersebut dan kembali menangis.
__ADS_1