
Daru tengah menunggu teman-teman nya berbelanja dengan bosan. hari ini mereka tengah berbelanja keperluan pensi yang akan di adakan Minggu depan. mereka sedang berada di salah satu toko bahan bangunan yang ada disalah satu mall terbesar di Bandung.
sejak pagi buta Daru sudah di telpon berpuluh kali oleh Diaz agar bisa ikut berbelanja semua kebutuhan. Daru hanya memakai sweater berwarna coklat dan celana jins selutut berwarna cream. wajahnya tampak malas namun masih terlihat tampan, wajah malasnya masih mampu menarik perhatian para wanita di mall tersebut.
semua anggota telah memberikan list yang harus di beli. mereka keliling kesana kemari mencari barang yang di butuhkan. Diaz, Rieta dan Fitri begitu bersemangat berbelanja sedangkan para lelaki sangat bosan terutama saat mereka memasuki toko aksesoris semenit rasanya seperti sejam.
selagi menunggu para wanita memilih barang, pikiran Daru melayang mengingat kejadian kemarin, hatinya mencelos.
Daru melihat sesuatu yang begitu mencolok di matanya, sebuah toko berlian berada di samping toko itu. Daru tertarik ingin kesana.
"mau kemana dar?" tanya Diaz saat melihat Daru akan melangkah pergi
"eumm.. gak"
Diaz memandang sejenak Daru, perhatiannya kembali ke arah barang yang akan dia beli.
tatapan Daru kembali terpaku ke arah toko berlian, saat teman-temannya berjalan meninggalkan toko aksesoris Daru berjalan ke arah berlawanan, menuju toko berlian.
seorang pelayan menyambut kedatangannya, Daru melihat kesana kemari mencari barang yang mungkin cocok. dia melihat sebuat cincin dengan berlian yang besar. pelayan tersebut memperhatikan Daru dengan seksama dan langsung berbalik menuju sebuah ruangan.
"beli apa?"
suara yang tiba-tiba ada di samping Daru membuat Daru terkejut setengah mati. Daru refleks melihat ke arah kirinya. disana ada Diaz yang tengah melihat ke arah yang Daru lihat. Diaz melihat ke arah Daru dan tersenyum.
"kamu mau beli ini?" tanya Diaz kembali
jantung Daru yang berdetak kencang karena kaget perlahan mulai normal.
"engga, cuma lihat-lihat" jawab Daru
"kemana yang lain?" lanjutnya
"mereka ke bioskop"
"kenapa kamu gak ikut?"
"gak, lagi gak mood"
Diaz berkata bohong, hari ini dia lihat ada film yang sudah lama ingin dia tonton. namun saat dia lihat Daru berbelok ke arah toko perhiasan tanpa sadar dia lebih memilih untuk mengikuti Daru.
merasa situasi tidak aman, Daru mengajak Diaz untuk keluar dari toko berlian. saat langkah kaki mereka akan berbalik, manager toko tersebut menghampiri.
"selamat siang pak! ini sebuah kehormatan bagi kami, CEO shabil group datang kemari. maafkan saya yang telat menyambut Anda" ucap manager tersebut, seorang wanita cantik berusia sekitar 35.
suasana hening, Daru menahan napas. pantas dia merasa disini berbahaya ternyata ini adalah perusahaan berlian yang Daru investasikan.
"pak?" tanya wanita itu seraya menyerahkan tangan kanannya
untuk beberapa detik akhirnya Daru tersadar, dia menyambut jabatan tangan tersebut.
Diaz melihat ke arah Daru dan wanita itu bergantian, dia tidak dapat mencerna apa yang telah terjadi.
"maksudnya gimana yah Bu? dia CEO?" tanya Diaz akhirnya, rasa penasaran nya begitu besar.
"iya, beliau adalah pak Rizkyandaru Al Shabil seorang CEO dari shabil group. Anda tidak tahu?"
__ADS_1
"sa-saya.."
"Diaz tunggu sebentar disini, akan aku jelaskan nanti. bisakah ke ruangan anda?" ucap Daru seraya melihat ke arah Diaz dan wanita itu bergantian
"mari pak" wanita tersebut menuntun Daru untuk masuk ke dalam ruangannya. namun sebelum Daru masuk dia berbalik terlebih dahulu.
"kamu boleh memilih satu atau dua set perhiasan berlian disini"
"tolong layani dia dengan baik" lanjut Daru ke arah pelayan wanita
"baik pak"
Daru pun memasuki ruangan.
Diaz mematung sejenak, dia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. karena dia adalah gadis pintar dan cerdik dia paham berbagai situasi bahkan dia bisa mengimprovisasi ketika dalam situasi darurat. contoh nya dia tetap tenang saat video presentasi bahasa Inggris nya hilang dan di gantikan dengan video dia yang tengah berlatih berjualan memakai bahasa Inggris.
kini Diaz tahu sesuatu yang selama ini dia pertanyakan. dulu saat dia naik kelas dua ada seorang penyumbang sekolah, orang itu menyumbang dengan jumlah yang fantastis sehingga sekolah dapat melakukan pembangunan dalam waktu singkat dan tidak tanggung sekolah sampai di buat begitu megah hampir setara dengan sekolah elite.
informasi yang dia dapat penyumbang tersebut berasal dari grup shabil. dia bingung kenapa perusahaan besar tersebut menyumbang dalam jumlah besar untuk sekolahnya yang tidak terkenal. tidak berselang lama setelah pembangunan sekolah, seorang murid pindahan masuk saat semester ke dua akan berakhir. orang itu adalah Daru dan penyumbang tersebut pasti Daru.
hal ini pun menjelaskan kenapa Daru bisa masuk sekolah hanya 2 hari dalam seminggu tanpa berurusan dengan guru BK.
"Bu?" suara pelayan itu menyadarkan Diaz dari lamuman.
"ah iya maaf"
"mari saya akan mengantar anda ke daerah khusus perhiasan"
"ba-baik"
Diaz mengikuti pelayan itu dengan patuh
"maaf pak jika saya lancang, apakah wanita tadi kekasih anda?"
"bukan"
"ahh begitu"
Daru duduk di sebuah kursi yang sudah di sediakan, sebuah susu coklat berada di depannya. manager tersebut sebelumnya menelpon Devan, dia terkejut bukan main saat tahu Daru mengunjungi tokonya. dan dia tahu jelas bagaimana karakter tamunya ini jika ada sesuatu yang tidak dia suka.
"aku ingin memesan sebuah kalung"
"Anda ingin model bagaimana? kami punya banyak sekali model yang modern. bahkan jika bapak ingin model era 50an, kami bisa membuatnya"
wanita tersebut menyerahkan sebuah buku katalog kepada Daru.
Daru melihat dari awal katalog hingga katalog tersebut habis. namun dia tidak menemukan yang cocok.
"saya ingin seperti ini tapi bandulnya jangan terlalu besar, agar bisa di pakai sehari-hari tanpa mencolok, tapi berliannya berwarna biru shappire"
"baik pak"
wanita tersebut memberi tanda dan catatan ke gambar yang di pesan Daru.
"saya akan menghubungi bapak setelah pesanan selesai"
__ADS_1
Daru mengangguk tanda mengerti, sebelum ruangan, Daru menghabiskan susu coklat di hadapannya.
dia melihat Diaz tengah bingung memilih antara kalung atau cincin.
"aku rasa kalung cocok untukmu" ucap Daru
"benarkah?"
Diaz mencoba menempelkan bandul kalung berbentuk persegi panjang tersebut di lehernya. diapun bercermin namun Daru mengambil kalung tersebut dan membantu memakaikan nya.
"pakai kalungnya bukan di tempel seperti itu" ucap Daru tepat di telinga Diaz.
"i-iya" jawab Diaz dengan gugup
Diaz kembali bercermin, dia merasa seperti seorang bangsawan setelah memakai kalung tersebut. kalung sederhana dengan berlian persegi panjang yang kecil namun terlihat begitu indah di lehernya.
"coba yang ini" Daru memasukkan sebuah cincin berlian berbentuk oval dengan ukuran sedang berwarna biru shappire ke jari manis Diaz.
"bagus" lanjut Daru dan melepaskan cincin itu lalu menyerahnya kepada pelayan.
"kamu suka?" tanya Daru
"iya suka" jawab Diaz dengan cepat seraya memandang Daru.
"ah maksudku kalungnya" sergah Diaz tiba-tiba
"tentu, memang apalagi?" tanya Daru heran
Daru menghampiri meja kasir, dia membayar untuk kalung yang di pakai Diaz, cincin dan kalung pesanannya. transaksi pun berjalan lancar.
mereka meninggalkan toko, manager dan seluruh karyawan disana melepas kepergian mereka.
Daru menyerahkan kantong kecil yang di dalamnya terdapat tempat untuk menyimpan kalung serta sertifikat, membuktikan bahwa berlian tersebut asli.
"terimakasih"
"heumm" jawab Daru singkat
selama beberapa saat mereka berjalan tanpa berbicara hingga Daru memulai percakapan.
"aku lapar, ayo makan" ajaknya.
mereka memasuki sebuah restoran Sunda yang ada di sebelah mall. mereka memesan dua paket komplit masakan Sunda.
"eumm. tadi katanya kamu akan menjelaskan?"
"ah benar. aku yakin kamu bisa mengira siapa aku, dan itulah aku. tapi aku harap jangan kasih tahu kepada yang lain"
"apa Ikbal.."
"dia tahu, dari awal dia sudah tahu"
"tenang saja, aku akan menjaga rahasiamu"
Daru tersenyum kecil mendengar ucapan Diaz. pipi Diaz merona perlanan namun rona itu hilang saat hidangan datang.
__ADS_1
contoh kalung yang di pesan Daru