Love Of Passion

Love Of Passion
di tolak


__ADS_3

disisi lain, Nurul sangat sibuk dengan pekerjaannya. selain berkas-berkas yang menumpuk, dia juga harus ikut berpartisipasi menyiapkan acara ulang tahun dari salah satu keluarga Shabil grup yang akan di laksanakan di Inggris.


hari yang sangat sibuk untuk jiwa dan pikiran yang tidak karuan.


Nurul segera merapihkan berkas yang sudah selesai dia cek dan akan membawa berkas itu untuk di tanda tangani Rizal.


dengan langkah lambat, Nurul menuju ruangan Rizal. meski Nurul berjalan selambat mungkin akhirnya dia sampai di depan pintu ruangan Rizal hanya dalam waktu 5 menit.


Nurul mengetuk dan membuka pintu itu secara perlahan.


"permisi pak"


Rizal yang tengah melihat langit malam di sebelah kanannya langsung memutar kursi menghadap Nurul, dia tersenyum. senyum yang sangat menyebalkan menurut Nurul, seperti tukang onar yang akan melakukan sesuatu sebentar lagi .


Nurul berjalan menuju meja Rizal, dan menyerahkan tumbukan berkas. Rizal langsung menandatangi berkas-berkas itu. tidak lama semua berkas sudah di tanda tangani.


"terimakasih pak, kalau begitu saya permisi"


"eum Nurul?"


"iya pak?"


"begini, soal ciuman saat itu.."


Nurul memejamkan matanya, padahal dia sudah sekuat tenaga melupakan kejadian itu, tapi lelaki menyebalkan ini membahasnya kembali.


"saya tahu saat itu bapak terpengaruh alkohol, saya kan sudah bilang bapak jangan banyak minum minuman yang seperti itu. untung bapak hanya mencium saya, bagaimana jika bapak mencium orang lain"


"bukan! bukan begitu!" Rizal cepat-cepat berdiri dan menghampiri Nurul


"itu bukan pengaruh alkohol, saat itu aku tidak mabuk"


seketika Nurul merasakan hal aneh, perutnya tiba-tiba mulas seperti ada sesuatu yang bergerak di perut nya.


"ma-maksud bapak?"


Rizal makin mendekat, dia memegang kedua lengan Nurul.


"saya.. saya menyukaimu"


hening sesaat, Nurul tidak dapat membuka mulutnya. dia menatap Rizal tidak percaya, merasakan situasi yang canggung, Rizal segera melepas genggaman nya.

__ADS_1


"bapak menyukai saya.. tentu anda akan menyukai saya karena saya bawahan bapak dan saya harus di sukai bapak agar saya berguna untuk bapak dan perusahaan" jawab Nurul akhirnya


"bukan! bukan begitu, aku menyukaimu sebagai lawan jenis. rasa suka lelaki kepada wanita. aku ingin menikah dengan mu, jika kamu setuju kita akan menikah dalam waktu 3 bulan-"


"tapi bapak sudah punya tunangan" ucap Nurul pelan seperti berbisik


"aku akan membatalkan pertunangannya"


"a-apa? bagaimana-?"


"seperti yang kamu katakan, aku berhak untuk mencintai siapapun. lagipula Shabil memang tidak berdiri atas dasar pernikahan politik, Shabil bisa berkembang pesat tanpa bantuan pihak lain. kakek selalu menyuruh anak dan cucunya untuk menikah dengan orang pilihan kakek. tapi setelah mendengar kata-kata mu, aku sadar apa yang terbaik untuk aku dan Shabil"


Nurul tercengang, dia tidak tahu harus menanggapinya seperti apa. pernikahan bukanlah hal yang mudah di putuskan. mereka bahkan akan menikah 6 bulan lagi, tapi hari ini hanya karena ucapan yang keluar dari mulutnya mampu membuat Rizal langsung berubah pikiran, padahal dia mengatakan hal itu saat itu hanya untuk menghibur atasannya.


kupu-kupu yang ada di perutnya perlahan menghilang. dia tidak boleh terlena karena ini, Nurul memang senang atasannya menyukainya tapi bukan rasa suka seperti ini. dia sadar diri bahwa dirinya dan atasannya tidak bisa untuk bersama, mereka tidak sepadan. atasannya harus menikah dengan gadis konglomerat yang sama seperti dirinya bukan seorang gadis pegawai kantor yang bekerja di bawah naungan atasannya.


"tidak pak, bapak tidak boleh membatalkan pertunangan itu. apalagi kalian akan segera menikah"


"aku bisa, tunanganku juga pasti akan setuju. dia sudah lama ingin membatalkan pertunangan ini"


"pak, saya tidak sepadan dengan bapak! meski saya setuju, saya tidak bisa!"


"tidak sepadan? siapa yang mengatakan itu? kamu sepadan denganku, keluargamu sepadan dengan keluarga ku. dan hubungan ini tidak akan ada yang melarang"


"kenapa bapak menyukai saya?" tanya Nurul


"itu karena .."


Rizal diam sejenak, dia bingung kenapa dia menyukai Nurul. jika di lihat fisik Nurul bukanlah tipenya, dia pendek, berisi, pipinya chubby, cerewet, moody-an, suka ngedumel saat dirinya tidak menurut perkataan Nurul, ceroboh, tidak pintar.


tapi entah kenapa Rizal menyukai itu semua, dia suka saat Nurul mengomeli dirinya, dia suka saat Nurul yang suka cemberut saat Rizal mulai minum alkohol, dia suka saat Nurul tidak segan bertanya tentang hal yang tidak dia mengerti, dia suka saat Nurul tersenyum membuat pipi chubby nya itu naik ke atas membuat mata bulatnya menjadi sipit, dia juga suka saat tubuh pendek itu berdiri di hadapannya ketika merapihkan dasinya.


cukup lama Rizal berpikir, mencari alasan kenapa dia bisa menyukai Nurul karena dia tidak punya alasan khusus untuk menyukai gadis itu.


namun Nurul berpikir lain. bagi Nurul, Rizal tengah bermain-main dengan dirinya. Rizal hanya terlena akan sesuatu yang bahkan tidak dia mengerti. Nurul menghela nafas


"bapak bahkan tidak punya alasan, saya tidak bisa menerima cinta yang tidak memiliki alasan kenapa dia menyukai saya. saya tidak tahu apa maksud bapak, kenapa bapak mencium saya dan sekarang mengajak saya menikah"


"a-aku punya alasan tapi aku tidak tahu harus mulai darimana. aku hanya menyukaimu"


"tapi pak -"

__ADS_1


"tolong pikirkan dulu, kamu tidak perlu memberi jawaban sekarang. kamu bisa menjawabnya nanti, pikirkanlah pelan-pelan. aku akan menanti jawaban mu, dan aku harap kamu bersedia menikah denganku. aku bisa membahagiakanmu, aku akan memberikan apapun yang kamu mau, aku-"


Nurul mengangkat salah satu tangannya meminta Rizal untuk berhenti berbicara. dia kesal, dia bilang akan memberikan apapun untuknya? itu sudah pasti karena Rizal memiliki semuanya. uang, jabatan, wajah tampan, tubuh idaman, apalagi yang kurang. tapi Nurul tidak bisa menerima prasaan yang terburu-buru seperti itu


"sekarang bapak dengarkan saya!" ucap Nurul dengan tegas, Rizal mengangguk dengan mata yang penuh harap


"saya tidak bisa menerima tawaran bapak-"


"kenapa? apa aku kurang-"


"saya sudah bilang bapak harus dengarkan saya!"


"ba-baiklah"


Nurul berdehem


"saya tidak bisa menerima tawaran bapak. karena, pertama, bapak adalah direktur Shabil grup yang luar biasa, saya tidak bisa menerima jika bapak menikah dengan wanita yang biasa seperti saya.


kedua, keluarga bapak adalah keluarga terpandang bahkan nama Shabil terkenal sampai ke Eropa, dan saya tidak bisa membayangkan jika besan dari keluarga bapak berasal dari kalangan menengah ke bawah.


ketiga, pernikahan bukanlah hal yang mudah, bapak tidak bisa tiba-tiba mengajak seseorang menikah. sebuah pernikahan harus di dasari cinta, dan cinta tidak terbentuk dalam waktu hanya sekitar 3 bulan pak"


"jadi maksudmu kita pacaran terlebih dahulu? baiklah ayo kita lakukan itu. dan soal alasan pertama dan kedua, kamu tidak perlu khawatir, aku akan mengurusnya" sahut Rizal dengan senyum mengembang di wajahnya


Nurul menutup mata, bukan ini yang dia maksud. kenapa atasannya ini bebal sekali? apa dia tidak mengerti saat wanita miskin yang tidak memiliki uang atau gelar menikah dengan lelaki seperti dirinya, saat itu juga wanita itu akan menjadi pusat perhatian, tekanan dari semua orang.


sebuah gelar "istri dari direktur Shabil grup " akan melekat kepada dirinya, dan Nurul mau tidak mau harus menjadi sosok yang sempurna karena mata orang ataupun mata kamera akan tertuju kepadanya.


Nurul belum siap, dia tidak siap jika dia mendapat kritikan hanya karena baju yang bia pakai, cara dia berjalan atau cara dia tersenyum.


"kalau begitu bagaimana kalau kita kencan? jam pulang tinggal 10 menit lagi. ayo kita siap-siap" Rizal memegang tangan Nurul mengajaknya untuk keluar ruangan bersama-sama namun Nurul menepis tangan itu.


"apa bapak tidak mengerti? saya tidak bisa pak!"


"kenapa? jika masalahnya karena alasan satu dan dua, aku kan sudah bilang akan mengurusnya. jadi-"


"saya! saya tidak bisa menikah dengan orang yang sudah tidak perjaka! bapak bahkan dengan mudahnya tidur dengan banyak wanita, bagaimana bisa saya menerima lelaki seperti itu?!" ucap Nurul dengan sekali tarikan nafas dan secepat itu pula dia menutup mulutnya.


Nurul melihat ke arah Rizal yang diam mematung dengan wajah yang tidak bisa di tebak Nurul. tidak seharusnya Nurul mengatakan hal yang ada di dalam kepalanya dengan spontan tapi kata-kata itu keluar begitu saja dari kepalanya.


Nurul mundur beberapa langkah menuju pintu keluar.

__ADS_1


"ma-maafkan saya pak!!" teriak Nurul membungkuk dan langsung kabur meninggalkan Rizal yang diam mematung setelah mendengar ucapan Nurul.


__ADS_2