Love Of Passion

Love Of Passion
ancaman


__ADS_3

Daru menatap langit kamar dengan tatapan bingung. dia tidak tahu sekarang ada dimana dan jam berapa. dia hanya menatap atap kamar yang asing itu dengan tatapan kosong. dia melirik ke arah kanan dan kiri, terdapat banyak barang yang tidak dia ketahui milik siapa.


Daru bangkit dari tidurnya, kepalanya langsung sakit setengah mati. dunia serasa jungkir balik, Daru ingin muntah tapi dia tidak bisa memuntahkan isi perutnya. dengan mata yang setengah terbuka, dia mencoba melihat situasi. terdapat sebuah seragam TNI tergantung rapi di dekat pintu.


meski bertanya-tanya itu milik siapa namun Daru tidak dapat berpikir ataupun fokus, kepalanya seperti akan pecah. dia tidak kuat untuk berdiri.


tepat saat dia mencoba merangkak menuju pintu, pintu terbuka. Bagas terkejut melihat Daru tengah berada di lantai


"pak!" teriak Bagas.


Bagas membantu Daru untuk berdiri dan mengarahkannya untuk kembali ke atas kasur. Bagas memberikan air putih kepada Daru.


"ini di kamar saya pak, anda harus beristirahat setengah hari agar mabuk anda dapat reda. setelah itu saya akan mengantar bapak menuju rumah"


Daru memberikan gelas kosong kepada Bagas


"padahal aku hanya minum sedikit tapi efeknya luar biasa yah" ucap Daru


Bagas mengamati Daru dengan seksama


"apa bapak ingat sesuatu?"


"ingat tentang apa?"


"saat di pesta tadi malam, bapak ingat apa saja yang sudah terjadi?"


"apa ada sesuatu yang harus aku ingat?"


"tidak pak"


Bagas bernafas lega setidaknya Daru tidak ingat perbuatan wanita itu, jika dia ingat kejadian dan wajah wanita itu pasti wanita itu tidak akan selamat.


sementara Daru kebingungan, dia mengerutkan alisnya untuk mengingat sesuatu namun semuanya blank. terakhir yang dia ingat, dia minum sampai habis minuman yang dia pesan.


"kalau begitu pak, saya harus menuju bandara untuk menjemput pak Rizal. bapak tidak apa-apa kan saya tinggal disini?"


"iya, tidak apa-apa"


"ibu saya sedang membuat sup ayam untuk menghilangkan mabuk bapak, saya harap bapak untuk memakan pasakan ibu saya walau sedikit"


Bagas memberikan penekanan di kata-katanya seolah memberikan perintah agar Daru memakan masakan ibunya.


Bagas yang sangat menyayangi ibunya, dia tidak ingin membuat ibunya kecewa bahkan oleh atasannya sendiri.


"baiklah, aku mengerti" jawab Daru


"di rumah saya ada ibu dan adik saya, jika ada apa-apa bapak bisa meminta tolong kepada mereka"


"yaa, aku mengerti. bisakah kamu berhenti bicara? kepalaku sakit bukan main"


"mari ikut saya pak"


bukannya meminta Daru untuk mengikutinya, Bagas terkesan seperti memaksa Daru untuk mengikutinya.

__ADS_1


hingga akhirnya mereka sampai di meja makan, ibu Bagas tengah menuangkan sop ayam ke dalam mangkuk.


Bagas mendudukkan Daru di atas kursi makan, tepat di depan mangkuk sop. dia langsung memakai jaket kulitnya, Bagas akan memakai motor adiknya untuk menuju rumah shabil dan mengambil mobil Limosin milik Rizal dan langsung menuju bandara. waktunya sangat mepet jika ingat bagaimana kemacetan kota Bandung di jam-jam segini. dia segera menancapkan gas pergi dari rumah.


...***...


Nafa turun dari lantai atas, berlari kecil menuju ibunya dan langsung mengecup pipi ibunya.


"pagi ibu"


ibunya hanya tertawa kecil melihat tingkah anaknya.


Nafa langsung duduk di kursi makan dan dia membeku saat melihat Daru tengah makan di harapannya.


kapan dia ada di situ? atau daritadi disitu dan aku tidak melihatnya? Nafa mencuri pandang ke arah Daru. dia penasaran apakah Daru mengingat kejadian semalam. cukup waktu lama bagi Nafa untuk tidur tadi malam karena dia memikirkan kejadian yang telah di alami.


Nafa memalingkan wajahnya saat Daru melihat ke arahnya. rasanya sangat canggung.


"ehem! bagaimana keadaanmu?" tanya Nafa mencoba mencairkan suasana


"baik"


"mabuk mu?"


"mendingan"


krik.. krik..


pembicaraan pun terputus. Nafa sangat greget dengan respon Daru yang hanya menjawab apa yang di tanyakan itukan dengan padat dan jelas tanpa embel-embel basa-basi.


"aku ada jadwal siang Bu. sekitar jam 11"


rasa penasaran Nafa makin besar saat melihat ekspresi Daru yang datar seolah tidak terjadi apa-apa tadi malam.


"eumm.. apa kamu ingat apa yang terjadi semalam?" tanyanya


Daru diam sejenak, pertanyaan nya sama seperti yang Bagas tanyakan. apakah dia melakukan sebuah kesalahan fatal?


"apa harus ada yang aku ingat?" tanya balik Daru


"ahh! tidak-tidak" jawab Nafa panik dengan nada sedikit kecewa


"baguslah kalau tidak ingat" gumam Nafa pelan, ada rasa kosong di hatinya.


apakah dia terlalu berharap? perasaannya langsung mencelos seolah jatuh ke dasar jurang. harusnya dia tidak banyak berharap, lelaki itu hanyalah anak kecil yang masih labil. dia anak yang berusia 4 tahun di bawahnya tidak mungkin sebuah kesalahan saat mabuk akan berarti baginya.


"memang apa yang aku harapkan?" gumamnya lagi.


Nafa beranjak dari kursinya setelah menghabiskan Soup ayam sampai habis. dia langsung ke atas untuk mandi dan bersiap-siap kuliah.


Daru melihat Nafa sampai Nafa menghilang dari pandangan nya. dia merasa ada sesuatu yang telah terlewatkan oleh Daru tapi dia tidak dapat mengingatnya.


dia harus mengorek ingatannya agar dia tahu apa yang telah terjadi.

__ADS_1


...***...


"Bu!! motor aku mana??" teriak Nafa panik


"di bawa abangmu" jawab ibu santai seraya kembali menyiram aneka bunga di taman.


"hah?! lagi?? ka Bagas gak mikir apa gimana aku pergi kuliah?!" teriak lagi Nafa


"aduh kamu ini berisik, jangan teriak-teriak! malu sama tetangga" ucap sang ibu


Daru yang tengah bersiap-siap untuk meninggalkan rumah itu hanya mengerutkan dahinya, suara pekikan wanita sangat tidak di sukai oleh Daru. dia yang terbiasa dengan kesunyian merasa risih dengan suara teriakan tadi.


Daru turun ke bawah. dia memakai pakaian yang dia pakai saat tadi malam. Daru keluar untuk memakai sepatu. dia melihat Nafa yang tengah menggerutu seraya memaki Bagas dan ibu Nafa yang menyiram tanaman seraya bersenandung.


"yaelah! panjol gak ada yang nyahut lagi! udah siang nih!!" maki Nafa


Daru dengan cepat memakai sepatunya, dia berdiri dan menghampiri sang Tante.


"Tante, terimakasih telah merawat dan membiarkan saya tinggal disini untuk sebentar"


"nak Daru, ahh atau ibu harus panggil pak CEO?" tanyanya merasa canggung


"Daru saja Tante"


"ahh iya, tidak apa-apa. Tante justru senang bisa menjamu nak Daru meski dengan masakan sederhana"


"itu saja sudah cukup Tante. saya pamit untuk pulang"


"ahh iya, hati-hati nak di jalan"


Daru mengecup punggung ibu Nafa untuk sekedar rasa sopan. dia berjalan melewati Nafa yang masih mencari panjol.


Daru berhenti melangkah, dia melihat ke arah belakang. melihat Nafa kembali


"mau saya antar ka?" tanya Daru menawarkan tumpangan


"boleh tuh!" jawab Nafa langsung tanpa berpikir dulu.


Nafa langsung menekan tombol out dari aplikasi panjol, dia langsung salam kepada ibunya untuk berpamitan.


Daru dan Nafa menaiki Mercedes Benz e-class berwarna hitam yang terparkir rapih di sebrang jalan. mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


...***...


"makasih tumpangannya" ucap Nafa sebelum turun dari mobil. Daru menjawab dengan anggukan.


setelah Nafa turun, beberapa teman wanitanya menghampirinya dan menanyakan beberapa pertanyaan siapa yang mengantarnya, satu orang teman wanitanya terus melihat kearah mobil mencoba melihat siapa yang ada di setir kemudi. untung saja kaca mobil berwarna buram sehingga wajah Daru tidak terlihat jelasm.


Daru melihat Nafa yang beberapa kali melirik ke arah mobilnya mengerti bahwa Nafa malu di beri pertanyaan tersebut.


wajah Nafa berubah menjadi lebih merah saat seorang lelaki menghampiri mereka. lelaki itu langsung menghampiri Nafa dan mengobrol dengannya.


melihat hal tersebut, tatapan Daru berubah dingin. dadanya berdetak kencang seolah sebuah ancaman datang.

__ADS_1


siapa lelaki itu? apa hubungan dengan Nafa? kenapa Nafa terlihat tersipu begitu? apa nafa memiliki prasaan terhadap lelaki itu? Daru harus mencari tahu.


__ADS_2