
ponsel Nafa bergetar saat dia baru saja keluar kelas. dia melihat layar, no tidak di kenal. Nafa menghiraukan panggilan itu, dia pikir itu pasti penipu. namun ponsel nya terus bergetar tanpa henti. dengan kesal Nafa mengangkat telpon itu
"maaf saya tidak mengikuti aplikasi atau acara apapun yang pihak anda adakan!" ucapnya lantang
suara di sebrang telpon terkejut lalu tertawa pelan
"haha,, maaf non Nafa sudah membuat non salah paham. ini BI Inah"
Nafa menahan nafas, dia malu setengah mati. dia ingin teriak, harusnya dia angkat dulu telpon baru over thinking bukan over thinking dulu baru angkat telpon.
"a-ah iya bibi, maaf saya kira penipu karena akhir-akhir ini banyak sekali no yang tidak di kenal menelpon saya"
"tidka apa-apa, ini juga salah bibi. harusnya bibi mengirim pesan dulu baru menelpon"
Nafa tertawa canggung, suasana hening sejenak.
"begini non, bibi mau minta tolong"
"minta tolong apa BI?"
"apa non bisa ke sini?"
"ada apa bi? jadwal saya untuk mengajar Daru hanya hari Sabtu"
"bibi hari ini harus pulang kampung, anak bibi akan menikah dan bibi harus disana selama seminggu. tapi nak Daru sedang sakit, bibi bingung harus bagaimana, sedangkan bibi tidak bisa mengundur kepulangan bibi"
"eumm bukannya banyak pelayan disana BI?"
"masalahnya nak Daru tidak suka ada orang baru, non tahu sendiri kan? hanya ada bibi di rumah itu dan pelayan yang lain tidak pernah berani untuk naik ke ruang atas"
"tapi kenapa saya Bi?"
"karena nak Daru percaya kepada non, buktinya dia mau di ajari oleh non. bibi mohon yah, bibi takut kenapa-kenapa dengan nak Daru"
Nafa berfikir sebentar. dia ragu, dia merasa tidak perlu sampai harus menjaga anak orang lain yang sedang sakit. apalagi dia sedang ada kuliah, yah meski hanya tinggal satu mapel lagi tapi dia ingin hangout bersama temannya atau langsung pulang dan kembali rebahan.
"upah non akan di tambah" ucap BI Inah
"oke BI, kebetulan saya tinggal satu pelajaran lagi. saya akan kesana sekitar jam 10 pagi"
"terimakasih non Nafa. saya tunggu kedatangan anda"
telepon pun di matikan. Nafa diam sejenak dia lalu menyesal telah mengiakan untuk merawat Daru hanya karena uang.
__ADS_1
"aduh Nafa,, kenapa kamu lemah sekali terhadap uang" gumamnya seraya menutup wajah
"oke tidak apa-apa. toh aku memang membutuhkan uang, segalanya pakai uang. lumayan juga kan merawat anak itu aku dapat 500 atas 1 juta" ucap Nafa seraya berkhayal. senyum sumringah menghiasi bibirnya.
diapun berjalan menuju kelas selanjutnya.
...***...
Ting tong..
Nafa menekan bel rumah Daru. penjaga yang mengantarnya sudah pergi beberapa detik yang lalu, seperti biasa dia di antarkan dengan golf car.
Nafa melihat jam tangannya 09.30, sebenarnya kelasnya masih berlangsung tapi dia memilih ijin pulang lebih dulu.
tidak ada alasan khusus karena langit kota Bandung terlihat sangat mendung sejak tadi pagi, dia takut kehujanan di jalan. tapi alasan utama tentu saja karena uang.
kriet..
pintu terbuka, BI Inah keluar dan menyambut Nafa. dia sudah memakai pakaian rapih dan memakai jaket tebal. sebuah koper besar sudah ada di samping pojokan salah satu rumah itu.
di rumah itu kosong, tentu saja karena pemilik rumah ini tepatnya Daru tidak terlalu suka dengan banyak orang. tapi saat Rizal ada di rumah ini terdapat 4 pelayan termasuk BI Inah yang mengurusi rumah ini.
"eumm BI, ngomong-ngomong sepi banget yah"
"tuan Rizal sedang keluar, para pelayan dengan cepat membereskan rumah ini dan langsung pergi. mereka cukup takut jika harus berhadapan dengan tuan Daru"
"memang seseram apa sih Daru?" batinnya
mereka naik ke atas tangga dengan perlahan, BI Inah meminta agar Nafa tidak membuat keributan karena takut Daru terbangun.
"bibi kapan akan berangkat?" tanya Nafa dengan berbisik
"harusnya sekarang tapi mobil travelnya belum sampai jadi bibi bisa menyambut non Nafa" jawab BI Inah dengan berbisik juga
"kalau bibi tidak ada siapa yang akan membukakan pintu?"
"penjaga yang tadi mengantar non yang akan mempersilahkan non masuk"
merekapun sampai di lantai dua. Nafa melihat suasana yang mencekam, seluruh ruangan gelap remang-remang karena lampu sengaja di matikan. hanya cahaya langit mendung yang menerangi semua ruangan itu. Nafa melihat Daru yang tertidur lelap di atas kasur besar, dengan lampu yang tidak di nyalakan. sebuah plester penurun panas menempel di dahinya.
BI Inah berjalan menuju ruang rekreasi, diapun menyalakan lampu. ruangan yang cukup jauh dengan kamar Daru. BI Inah mempersilahkan Nafa duduk dan memberikan air jus yang tersedia di kulkas.
"kenapa lampunya di matikan semua BI?"
__ADS_1
"nak Daru tidak suka ada cahaya saat dia tidur"
"jadi apa yang harus saya lakukan?" tanya Nafa setelah minum seteguk jus
"nona hanya perlu menjaga tuan Daru sampai dia bangun. Daru terkena flu karena semalam dia berenang saat hujan lebat, bibi sudah memberikan obat tadi pagi"
"kenapa tidak di bawa ke dokter BI?"
"tuan Daru yang tidak mau, jadi bibi hanya memberikan obat yang biasa dia minum jika sedang sakit"
"saya hanya perlu menjaganya?"
"iya, kotak obat ada di sebelah sana" BI Inah menunjuk kotak yang ada di samping pintu yang selalu di kunci
"jika jam 12 nak Daru masih panas berikan obat sirup yang berwarna hijau. berikan satu sendok, jika sulit ada pipet disana. non Nafa jika ingin makan atau sekedar ngemil di kulkas nak Daru banyak makanan, ambil saja apapun yang non mau" lanjut BI Inah
Nafa mengangguk
"dan tolong ganti plester penurun panas saat dia akan di berikan obat"
"baik BI"
hp BI Inah berbunyi. BI Inah mengangkatnya mengucapkan kata baiklah lalu menutup telpon.
"mobil travel sudah datang, bibi harus pergi. bibi sudah mengatakan akan pulang kampung selama satu Minggu kepada nak Daru dan nak Rizal. bibi harap tidak ada masalah apapun"
Nafa bingung, memang akan ada masalah apa antara Kaka beradik?
merekapun menuruni tangga, Nafa mengantar Bi inah sampai pintu keluar. golf car sudah menanti BI Inah.
"bibi pamit dulu yah non, tolong jaga nak Daru baik-baik"
" baik BI. hati-hati di jalan"
BI inah menaiki golf car dan pergi meninggalkan Nafa. setelah BI Inah hilang dari pandangannya, Nafa masuk ke dalam rumah.
tidak banyak yang harus dilakukan Nafa. dia hanya mondar-mandir melihat seluruh rumah itu.
Nafa memeriksa setiap ruangan di lantai bawah. dia melihat kamar Yang sangat besar dengan kasur besar yang dapat di simpulkan itu adalah kamar Rizal. Nafa menutup kembali pintu kamar itu, meski dia penasaran tapi memasuki kamar orang lain adalah perbuatan yang tidak sopan.
dia melihat dapur yang super besar juga dengan peralatan yang canggih dan lengkap, Nafa melihat ke dalam kamar mandi yang besar juga dengan 2 ruangan berbeda. antara tempat mandi dan westafel berbeda ruangan. terdapat lemari yang terdapat berbagai handuk dengan warna yang sudah di kelompokan, ada juga bathtub dan shower di tempat terpisah.
merasa sudah cukup melihat lihat, Nafa Naik ke atas. disanapun dia melihat-lihat semua ruangan. Nafa melihat tempat gym yang hanya di tutupi oleh kaca besar sebagai dinding, tidak ada pintu disana. peralatan gym sangat lengkap, pantas saja tubuh Daru sangat atletis seperti oppa-oppa Korea (batinnya), sedikit membayang kan saat Daru tengah berolah raga dengan tubuh setengah telanjang. otot-otot di setiap tubuhnya akan membuat Nafa terpana.
__ADS_1
dengan cepat Nafa memukul kedua pipinya agar dia tersadar
"ya ampun aku mikirin apa sih?!" gumam Nafa dengan wajah memerah