
di lain tempat..
Bagas memarkirkan motornya dan masuk ke dalam rumah, dia di sambut hangat oleh sang ibu. sang ibu memeluknya erat begitu merindukan Bagas.
Bagas jarang sekali pulang ke rumah, dalam sebulan dapat di hitung kapan dia pulang. bagaspun tidak pernah menghabiskan waktu di rumah, dia ke rumah hanya untuk mengambil baju atau melihat ibu nya.
ayahnya telah lama meninggal karena terkena penyakit jantung, sehingga yang tersisa hanya ibu dan kedua adik perempuannya. saat dia berusia 19 tahun Bagas lulus ujian militer, dia di terima sebagai abdi negara di angkatan udara namun saat ayahnya meninggal diapun memilih untuk tidak melanjutkan cita-citanya itu. dia tidak ingin pergi terlalu jauh dari ibunya. kini pemimpin keluarga adalah dirinya, dia tidak bisa melepas tanggung jawab itu, diapun tidak tenang jika memikirkan kedua adiknya yang selalu membuat masalah.
sebenarnya bagaspun merasa menyesal karena pekerjaan yang selama ini dia lakukan masih tetap harus meninggalkan ibunya, tapi ini lebih baik karena dia bisa pulang sesuai keinginannya tanpa harus menunggu surat cuti.
"ibu baik-baik saja?"
"tentu sayang. jika tahu kamu akan pulang, ibu pasti memasak makanan kesukaan mu" jawab sang ibu seraya mengajak Bagas ke meja makan
"makanlah, maaf jika ibu memasak seadanya"
lanjut sang ibu membuka tudung nasi dan terlihat di sana opor ayam dan sayur cabe
"masakan ini spesial ko ibu" ucap Bagas memperlihatkan senyum manisnya dan mulai melahap makanannya.
Bagas memakan dengan semangat masakan ibunya. opor ayam dan sayur cabe adalah makanan kesukaan mendiang ayahnya. perlahan Bagas tersenyum mengingat ayahnya yang selalu melontarkan kata-kata komedi namun tidak lucu.
senyum nya memudar saat dia ingat alasan dia pulang
"Bu dimana Nafa?"
"adikmu ada di kamarnya. oh iya adikmu Nurul sudah dapat kerja di perusahaan ShabiL"
"maksud ibu ShabiL grup?"
"iya, syukurlah dia mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan. ibu sudah menyerah melihat dia menganggur selama 3 tahun, untung teman ayahmu pak Damar mengajak nya bekerja disana"
Bagas memicingkan matanya, dia merasa nama itu tidak asing itu. matanya terbelalak mengetahui bahwa damar adalah seorang lelaki paruh baya yang selalu ada di samping majikannya Rizal.
"pak Damar?"
"iya, dia bilang bahwa dia akan pensiun dari pekerjaannya karena itu pak Damar meminta adikmu untuk membantunya. setelah dia mengerti apa saja yang harus di kerjaannya baru pak Damar akan meminta untuk pensiun"
"kenapa?"
"ibu tidak tahu alasan kenapa pak Damar pensiun padahal usianya masih cukup muda, lalu dia memilih Nurul, ibu senang sekali kamu tahu kan bahwa adikmu itu cerdas, dia menjadi wakit ketua di karang taruna RW Kita, lalu dia juga bisa melakukan pekerjaan kantoran, sudah beberapa kali dia ikut panita di kecamatan. ibu rasa dia harus berhenti menjadi pegawai honorer di kecamatan jadi ini kesempatan baik. dapat pekerjaan yang tetap dengan gaji yang juga besar"
"bukan, kenapa harus Nurul? ibu tahu kan Nurul ataupun Nafa mereka tidak bisa di andalkan"
"Hsst! kamu ini kenapa sih, adikmu ingin membantu mu mencari uang! percaya saja pada adikmu itu! ibu senang akhirnya Nurul mendapat pekerjaan yang lebih baik"
Bagas tidak mengkhawatirkan adiknya, dia cukup percaya kepada Nurul. yang dia khawatir kan adalah majikan yang nanti akan di layani oleh Nurul, meski Bagas tidak bekerja langsung di bawah arahan Rizal namun dia tahu bagaimana tuannya itu.
seorang mata keranjang yang mementingkan perusahaan dibandingkan apapun. selain itu semua adiknya sangat cantik dan menarik, banyak lelaki yang mendekatinya namun mereka mundur setalah tahu siapa kakanya. dia takut adiknya akan di goda oleh atasannya itu. mungkin ini adalah pikiran yang tidak berguna tapi tidak ada salahnya Bagas berhati-hati
"tapi Bu, ShabiL grup adalah perusahaan yang berbahaya. aku hanya takut Nurul melakukan kesalahan"
sang ibu tersenyum dan menyentuh pundak anak laki-laki nya itu
"ibu mengerti, tapi percayalah kepada adikmu. tidak akan apa-apa, ibu percaya pak Damar dapat melatih Nurul dengan baik. kamu juga kan bekerja di ShabiL grup"
"ibu, aku bekerja di rumah pribadi keluarga ShabiL bukan di perusahaan ShabiL"
__ADS_1
"begitu, ternyata beda yah. tidak apa-apa lagipula kamu juga tahu kan bahwa kedua adikmu bisa berkelahi karena ajaran mu, jadi tenang saja"
Bagas menghela nafas dan mengangguk, diapun menyentuh tangan ibunya. ibu yang sangat dia sayangi.
"lalu kemana Nurul?"
"dia pergi ke fotokopy, dia sedang menyiapkan semua persyaratan untuk melamar"
Bagas hanya mengangguk dan kembali menghabiskan makanannya.
"bagaimana pekerjaan mu?"
"aku ditugaskan untuk menjadi pengawal tuan muda ke dua"
"apa tuan muda kedua itu mudah untuk di pantau?"
"tidak ibu, dia anak yang berbeda dengan tuan muda pertama. tuan besar yang meminta secara pribadi kepadaku untuk menjaga kedua anaknya itu. awalnya aku hanya menjaga tuan muda pertama tapi sekarang aku hanya menjaga tuan muda kedua"
"tuan besar yang langsung menunjukku? wah itu hebat sekali nak! itu artinya kemampuan mu di akui! ibu bangga padamu"
"terima kasih ibu"
"ngomong-ngomong siapa nama tuan muda itu?"
"tuan Daru, dia masih anak SMA Bu"
"kamu harus hati-hati anak muda semangatnya sangat besar, mereka juga susah di atur"
Bagas mengangguk setuju dengan ucapan ibunya itu. Daru memang susah di atur dan dia memang sulit untuk di tebak.
Bagas bangun dari duduknya dan berjalan menuju tangga
"iya Bu. aku masuk ke kamar yah"
"sebelum itu mandi dulu"
"oke!"
Bagas menaiki tangga menuju kamarnya, sebelum memasuki kamarnya dia berjalan menuju kamar Nafa yang ada di seberang kamarnya. tanpa mengetuk pintu, Bagas masuk seperti Byson yang menyeruduk
"astaga!!" Nafa terkejut melihat kakanya masuk dengan tiba-tiba seperti itu
Nafa yang tengah membereskan meja belajarnya kalut karena di atas meja itu terdapat karton bekas tadi pagi.
"apa itu?" tanya Bagas
Nafa dapat merasakan udara dingin dari arah kakanya. saat Nafa akan turun ke bawah dia mendengar suara kakanya akan menaiki tangga. diapun cepat-cepat kembali masuk ke kamarnya dan merapihkan kamar yang seperti kapal pecah itu dengan tergesa-gesa.
entah apa yang membuat kakanya pulang namun yang pasti saat kakanya pulang itu artinya sang Kaka akan mengecek apa saja yang sudah Nafa lakukan, Bagas selalu tahu apa yang di lakukan Nafa bahkan sampai hal kecilpun seperti Nafa abis ngupil dan menempelkan upilnya itu ke tembok.
"i-itu apa ka?" Nafa balik bertanya dengan gugup
"yang kamu sembunyikan"
perlahan Nafa menoleh ke sebuah karton yang bertulisakan jangan bunuh KPK! bunuh saja mantanku!!
"i-itu bukan apa-apa ko ka"
__ADS_1
Bagas mengulurkan tangannya meminta karton itu di serahkan. Nafa memasang wajah panik berkata jangan namun tatapan Bagas begitu tegas dan seram sehingga mau tidak mau dia memberikan karton itu.
Bagas membaca tulisan itu dengan seksama, lalu melihat ke arah Nafa
"apa yang selalu Kaka katakan padamu?"
"jangan membuat masalah dimana pun kamu berada" jawab Nafa dengan wajah yang menunduk seperti anak anjing yang melakukan kesalahan
"lalu apa yang kamu lakukan?"
"a-aku tidak membuat masalah ko ka! itu cuma acara kampus aja!"
"sejak kapan demo adalah acara kampus?"
wajah Nafa begiru tegang, dia kelagapan mencari jawaban
"se-sejak hari ini"
tatapan mata Bagas menjadi semakin tajam. Nafa kembali menundukkan kepalanya dan meminta maaf, diapun menceritakan bahwa dia tidak apa-apa dan menolong seorang anak SMA yang di kroyok oleh banyak orang. Bagas hanya menghela nafas menanggapi penjelasan Nafa
"jangan membuat ibu khawatir, syukurlah kalau kamu tidak apa-apa"
"baik ka, maafkan Nafa"
"ingat jangan di ulangi" ucapannya santai namun terlihat begitu tegas
"baik ka!!"
Nafa Dangan bernafas lega setelah Bagas menutup pintu dan meninggalkannya
"huft gila, aku kira bakal di marahin abis-abisan. tapi darimana Kaka tahu aku abis demo? apa jangan-jangan dia ada di tempat kejadian? ahh tidak mungkin, Kaka kan kerja terus katanya sangat sibuk sampai tidak bisa pulang setiap hari. atau jangan-jangan Kaka menyewa mata-mata? ahh tidak mungkin, Kaka kan tidak sekaya itu" Nafa berbicara sendiri bingung Kaka nya tahu apa yang dia lakukan hari ini
"huu dasar Kaka tidak tahu malu, Dateng-dateng cuma mau marahin aku doang? dasar Kaka kurang a-"
brakk!!! pintu tiba-tiba terbuka saat Nafa akan melontarkan makian, seketika Nafa berteriak dengan bersujud
"Kya!! maafkan aku ka!!"
"kamu kenapa de?" suara lembut itu membuat Nafa langsung mendongakan kepalanya
"ihh teteh bikin kaget aja! aku kira ka Bagas!" rengek Nafa bercampur lega saat tahu yang masuk adalah Nurul, Kaka kedua nya
"hah? ka Bagas udah pulang?"
"udah" jawab Nafa dengan cemberut
Nurul memperhatikan ekspresi Nafa dan mengetahui satu hal
"abis di marahin yah? makanya jangan suka ikut-ikutan demo"
langkah Nafa berhenti dan langsung melihat tetehnya itu
"da-darimana Kaka tau?" tanya nya dengan hati-hati
"tau dong! makanya jangan remehin insting seorang Kaka"
happy reading semuanya!! terimakasih masih setia membaca karya saya. love you so much 🥰😘
__ADS_1
jangan lupa like, coment and rate-nya 😘🤗