
sementara itu Daru sangat bersemangat melancarkan pukulannya. dia begitu bersemangat karena pelatih baru ini sangat sulit di taklukan. Daru telah berpesan juga untuk tidak segan-segan meninjunya. dan ini sangat menyenangkan. meski kedua belah pihak babak belur tapi belum ada seorangpun yang menyerah.
semua orang yang disana, para pelatih lain dan beberapa member hanya diam melihat permainan mereka berdua.
Daru maju melayangkan pukulan ke arah iga lawan namun lawan mengelak dengan gesit, lawan menyamping secepat kilat. Daru kembali menyerang, kali ini menargetkan wajah lawan. lawanpun mengelak dengan mudah.
kini lawan balas menyerang, pukulan demi pukulan di lontarkan namun Daru dapat menghindar dengan mudah. hal tidak terduga terjadi, lawan menerjang dan mendorong Daru kesisi ring. Daru terjepit, dia sulit membebaskan diri dan lawan dengan leluasa memukul perut bagian samping Daru membuat Daru sedikit mengerutkan alisnya menahan hantaman itu.
Daru sekuat tenaga mendorong lawan, dia ingin menyikutnya namun dia takut melukai lawan dan itu bukan termasuk pukulan tinju. Daru memukul samping perut lawan sebelah kiri berharap lawan merasa sakit dan melemahkan pertahanannya. beberapa menit berlangsung dan mereka masih seperti itu, hingga pelukan di pinggang Daru sedikit mengendur. dia merasakan sebuah celah. sekuat tenaga Daru mendorong lawan dan memukul keras lawan tepat di bawah rahang membuat lawan terjungkal ke belakang.
Daru kembali memasang kuda-kuda. namun suasana hening, lawan tidak bergerak beberapa saat. Daru bimbang dia khawatir lawannya mati. Daru mendekat tapi tidak mengendurkan pertahannya.
saat jarak mereka sekitar kurang satu meter, lawan bergerak dan secepat kilat Daru lompat mundur. namun lawan mengangkat tangannya tanda menyerah. dia duduk sambil tertawa.
"singa muda memang hebat" ucapnya seraya menyeka darah yang keluar dari sela bibirnya.
Daru menurunkan tangannya, dia berjalan ke arah lawan dan mengulurkan tangannya.
"Anda juga" sahut Daru
sang lawan tersenyum, menerima uluran tangan Daru untuk berdiri.
"saya minta maad, jika saya lancang tuan" ucap lawan saat melihat darah di pelipis Daru dan lebam biru di tulang pipi Daru
Daru menyentuh lukanya dengan hati-hati.
"tidak masalah. siapa namamu?"
lawan diam sejenak, melongo lalu beberapa saat tersadar dan membungkuk kan badannya seraya memperkenalkan diri.
"saya Jason. pelatih baru di tempat ini tuan"
Daru memperhatikan lalu berpaling.
"iya, cukup kamu membungkuk" balas Daru.
__ADS_1
Jason kembali berdiri tegak, dia bangga singa muda Sudi mendengar namanya.
"berapa lama kamu disini?" lanjut Daru
"saya baru 2 bulan tuan"
Daru menganggukkan kepalanya lalu turun dari ring di ikuti oleh Jason.
semua orang masih melihat ke arah mereka berdua. menyadari hal itu Daru merasa risih. melihat tatapan tajam Daru, Jason cepat-cepat memberi kode dengan matanya dan merekapun buru-buru melanjutkan latihan.
Daru kembali berjalan, menuju lokernya. dia membuka loker itu lalu langsung meminum isotonik yang sudah di siapkan di sana. Daru membuka semua peralatan tinju yang melekat di tubuhnya bersama dengan kaos oblong yang dia pakai.
tubuh atletisnya sangat seksi, terdapat luka lebam di sisi perut bagian kirinya. luka tinju bertubi-tubi yang barusan dia dapat.
Jason terbelalak melihat luka itu, dia tidak menyangka bahwa pukulannya terlalu keras. sementara Daru cuek tidak memperhatikan lukanya.
secepat kilat Jason membungkuk rendah sekali seraya meminta maaf.
"ma-maafkan saya tuan! saya sudah lancang memberi luka di tubuh anda!" ucapnya dengan nada bergetar. Jason takut dia akan di pecat.
Daru menatap bingung, dia tidak tahu kenapa Jason meminta maaf seperti itu. dia lalu melihat luka yang Jason maksud.
"oh ini? tidak apa-apa. ini tidak sakit" ucap Daru seraya memukul luka itu keras, ekspresi Daru tetap datar.
"tapi-" Jason ingin membantah namun Daru menatap ke arahnya dengan tajam
"jika aku bilang tidak apa-apa ya tidak apa-apa! jangan bahas lagi! mengerti?" bentak Daru
"ba-baik tuan"
"lagipula aku puas dengan pertandingan tadi. sudah lama aku tidak melawan petinju terlatih. biasanya para pelatih tinju disini akan tumbang hanya sekali pukul" ucap Daru seraya menatap tajam ke arah pelatih tinju yang lain. semua pelatih tinju memalingkan wajah dengan gelisah.
Jason hanya diam, dia memang telah mendengar bahwa singa muda sangat kuat tapi dia tidak menyangka daya tahan tubuhnya begitu luar biasa. Jason sebelumnya belum pernah bertemu langsung dengan Daru, ini adalah kali pertama dia bertemu sekaligus adu tanding dengan Daru. seperti yang di rumor kan Daru bak monster.
Daru menghabiskan minumannya, dia lantas berdiri menuju pintu keluar. melangkah santai meski hanya memakai boxer. Daru berbalik melihat ke arah Jason.
__ADS_1
"aku apresiasi kemampuan mu. kamu memang layak menjadi pelatih tinju Jason" ucap Daru lalu kembali berjalan dan keluar dari ruangan, rasa kesalnya sudah terlampiaskan dengan sempurna.
Jason yang mendengar hal itu hanya bengong, teman-teman sesama pelatih menghampiri dan merangkulnya.
"kerja bagus Jason! singa muda mengakui mu! itu adalah pencapaian yang luar biasa! tidak sia-sia kami menunjuk mu untuk menjadi lawan singa muda kali ini!" seru temannya
Jason masih diam, dia ingin menangis haru tapi tidak bisa. dia sangat bahagia bahwa kemampuan yang selama ini dia asah mendapat pujian dari singa muda itu. tapi seketika dia tersadar.
"tunggu sebentar! kalian sengaja membuat aku melawan singa muda?" tanyanya seraya melotot.
"eumm.. yah begitulah. kami semua tidak sanggup melawan tenaga singa muda. kamu dengar kan tadi apa yang di katakan singa muda? bahwa kami tumbang sekali pukul, itu benar apa adanya" Jawab temannya
"lagipula kami tahu setiap singa muda datang, itu berarti dia sedang kesal" sahut temannya satu lagi
"pantas, aku merasakan tatapan membara di matanya. aku merasa pikirannya sedang berada di tempat lain tapi dia hebat dapat mengontrol emosinya, pukulannya sangat keras dan dia sangat gesit" sergah Jason
"oww.. itu belum seberapa coba kamu lihat saat dia sangat serius. sangat menyeramkan" sahut teman yang ke tiga
Jason menghela nafas lega
"yah.. setidaknya aku harus bersyukur tidak tumbang sekali pukul"
...**...
Daru keluar dari ruangan itu, dia berjalan menyusuri lorong menuju ruang tunggu. tidak ada siapa-siapa. Ikbal dan Bagas belum selesai berlatih.
Daru kembali berjalan, dia menuju toilet. dia berkaca disana. wajahnya sedikit memar tapi tidak menghalangi ketampanan nya.
Daru merasa rileks setelah melepaskan rasa kesalnya. dia memang marah melihat Nafa bersama lelaki lain tapi dia tidak bisa melakukan apapun. dia belum bisa bertindak lebih jauh, tidak sebelum Nafa menjadi miliknya.
banyak planning yang harus Daru lakukan sebelum mendapatkan Nafa, banyak yang harus dia urus lebih dulu. meski Nafa termasuk dalam planningnya.
Daru menghela nafas, dia harus bertemu dengan Nafa paling cepat besok. mungkin dia harus bolos sekolah dan menyerahkan urusan perusahaan kepada Vian untuk beberapa jam ke depan, sepertinya itu bukan ide buruk.
memikirkan hal itu, Daru tersenyum lebar memperlihatkan senyum angker nan tampannya. dia tidak sabar mendapatkan Nafa, bagi Daru Nafa sangat menarik seperti sebuah permainan yang belum Daru coba.
__ADS_1
Daru kembali menatap wajahnya, dia memiliki ide yang menurutnya bagus tapi gila bagi orang lain.