
aku mencintaimu, Arya
aku mencintaimu
Arya
Arya
kata-kata itu terngiang di kepala Nafa, jantungnya berdegup kencang. Nafa tidak dapat melihat apa yang mereka lakukan tapi dia bisa mendengar dengan jelas suara langkah kaki, pergerakan hingga suara nafas.
Meli dan Arya kembali mengaitkan bibir mereka yang awalnya lembut menjadi kasar disertai nafas yang menderu.
"gapapa kita lakuin ini disini?" tanya meli sedikit ragu
"kenapa tidak? kita bahkan pernah melakukannya di rumah sakit"
"sebentar, aku rapihkan dulu kasurnya"
"kita pakai kasur yang di sebelah" usul Arya
"itu tempat tidur Nafa, masa di kasur orang lain"
"nanti kita beresin kalau udah" ucap Arya tidak sabar
kriitt...
terdengar suara ranjang yang di naiki, Nafa menutup mulutnya rapat-rapat. dia ingin cepat-cepat keluar dari lemari dan lari entah kemana selama itu pergi meninggalkan kamar itu.
napas mereka semakin menderu. Nafa terkejut ketika celana Levis wanita di lempar dan mengenai pintu tempat dimana Nafa bersembunyi.
ranjang tempat mereka bermain berderit dengan suara erangan dan racauan yang tidak karuan. semakin lama deritan ranjang semakin kencang, ******* mereka berdua semakin keras dan cepat.
Nafa menahan air matanya, dia tidak mengira lelaki yang selama ini dia anggap baik ternyata sangat tidak bermoral, berani sekali mereka melakukan hal menjijikan di saat karya wisata apalagi mereka melakukan itu di ranjang miliknya, amarah di dalam hati Nafa menuncak tapi dia tidak sanggup untuk keluar dari lemari.
__ADS_1
15 menit berlalu, ranjang berhenti berderit. erangan dan ******* mereka berhenti setelah Arya dan meli berteriak nikmat berbarengan. mereka berbaring bersebelahan, kelelahan. meli melihat ke arah Arya dan tersenyum lemah, Arya mendekat dan mengecup bibir meli.
Arya bangkit dari ranjang, mengajak meli ke dalam kamar mandi untuk melakukan ronde ke dua.
terdengar suara pintu tertutup, Nafa langsung keluar dari lemari dengan merangkak. terdengar suara erangan dari dalam kamar mandi di barengi suara shower. tubuh Nafa bergetar, jantungnya berdegup semakin kencang, kepalanya pening, tubuh nya mengeluarkan keringan dingin. dengan susah payah, dia menggapai pintu kamar dan langsung keluar dengan berlari sekencang mungkin.
pintu di belakangnya terbanting keras tidak sengaja. Nafa tidak peduli mau mereka mendengar atau tidak yang jelas dia harus keluar dari tempat itu secepat kilat.
...****************...
brak!!!!
Arya menghentikan aktivitas nya ketika mendengar bantingan pintu. sejak awal Arya merasa ada yang janggal. dia merasa ada orang lain di kamar ini, seharusnya dia memeriksa terlebih dahulu kamar tersebut namun nafsu mengalahkan rasionalnya.
siapa sangka, Arya yang memiliki reputasi hebat, berprestasi, tampan, di segani hampir semua mahasiswa memiliki sebuah penyakit yang dia simpan sangat rapat, penyakit yang sangat memalukan yang tidak bisa di handle oleh dirinya, yaitu dia seorang hyperseks akut. setiap dia melihat wanita yang menarik di matanya, dia tidak bisa menahan nafsunya. orang tua, teman bahkan sahabatnya tidak tau soal itu.
sudah banyak wanita yang dia tiduri dan kali ini Nafa adalah wanita yang sangat menarik di matanya, tapi untuk mendapatkan Nafa membutuhkan kekuatan dan kesabaran ekstra. Arya sudah melalukan segala cara, dengan cara halus Arya mencoba membujuk Nafa tapi Nafa tidak bergeming. dia tidak ingin membujuk nafa dengan cara kasar, tidak untuk sekarang.
saat di rumah sakit, saat dia melihat wajah Nafa yang begitu manis, Arya ingin langsung menyerang Nafa tapi dia mampu menahan nafsunya, saat Arya ingin menciumnya dan Nafa mengelak disitu sebenarnya Arya ingin memakai cara kasar, memperkosanya tapi dia urungkan niat itu. setelah Nafa pergi, Arya mau tidak mau bermain sendiri dengan prasaan gusar namun ketika meli datang perasaannya langsung membaik, setidaknya dia bisa melampiaskan hasratnya kepada meli, wanita yang sudah tergila-gila kepadanya. wanita yang sudah di pakai Arya berkali-kali.
setelah merasa puas arya melepaskan meli, hingga meli jatuh tidak berdaya di lantai kamar mandi. Arya segera membersihkan badannya dan langsung keluar dari kamar mandi meninggalkan meli begitu saja. Arya langsung memakai baju dan keluar dari kamar itu.
...****************...
Nafa terus berlari sambil menangis, terlintas semua kenangan tentang Arya, betapa baiknya Arya, betapa hangat dan dapat di andalkan nya Arya namun ingatan yang tadi kembali terlintas. tiba-tiba perutnya terasa mual, Nafa berhenti di westafel tepat di samping taman. dia langsung memuntahkan semua makanan yang tadi dia makan.
"hah.. hah.. hiks.. hiks.. huekk" tangis Nafa di sela-sela muntahnya
setelah air matanya keluar semua dan makanan di perutnya keluar, Nafa merasa sedikit lega. dia mengatur napasnya perlahan, dia berniat kembali keteman-temannya. Nafa mencuci mukanya berharap mata sembabnya tidak terlalu terlihat.
"ayo lupakan dia Nafa, setelah ini kamu harus minta putus dari Arya. itu satu-satunya cara dan jauhi dia sebisa mungkin. sekarang kamu harus kuat, kamu harus kuat!!" ucap Nafa kepada dirinya sendiri.
dia kembali menghapus air matanya
__ADS_1
"Nafa" seseorang memanggil namanya dari belakang, seketika Nafa membeku, Nafa tahu siapa pemilik suara itu
"aku mencari mu dari tadi naf"
dengan kaku Nafa membalikan badan, air matanya kembali menyeruak saat melihat Arya tengah tersenyum di hadapannya.
"kamu kenapa? siapa yang nyakitin kamu?" tanya Arya panik dan langsung menghampiri Nafa berniat menghapus air matanya namun tangan itu langsung di tepis Nafa sebelum menyentuh pipinya.
"pergi! jangan deket-deket!!!" teriak Nafa histeris, tubuhnya bergetar, amarahnya kembali muncul, kali ini lebih besar.
"selama ini aku salah menilai mu! aku kira kamu orang baik, tapi ternyata kamu sangat bejad!! kamu melakukan hal menjijikan itu dengan temanku? bahkan anggota BEM! kamu yang bilang sendiri bahwa sesama anggota harus saling menghargai! tapi ini apa? kamu bahkan menodai dia! kamu bahkan lakukan itu.. di.. kamarku.. di ranjang ku!!!!" lanjut Nafa dengan teriak beserta Isak tangis
Arya memandang tangan yang tadi di tepis Nafa. dia menatap Nafa, sontak Nafa terkejut itu bukan sorot mata Arya yang biasanya. sorot mata itu seperti binatang buas yang akan memakan mangsanya. Arya maju selangkah diiringi Nafa yang juga mundur selangkah.
"apa kamu tahu Nafa? saat pertama melihatmu, aku langsung jatuh hati. ahh.. ak baru kali ini melihat wanita yang memiliki aura menyenangkan seperti dirimu. setiap aku memikirkanmu, aku selalu tidak bisa menahannya, menahan untuk tidur denganmu" ucap Arya
"kamu gak waras" balas Nafa dengan mata melotot
"ya itu benar! aku gak waras karena kamu. jadi kamu harus tidur denganku agar aku kembali waras. aku bisa membawamu ke kamarku, atau kau mau lakukan disini juga gapapa. aku bisa memuaskan mu" Arya kembali mendekat membuat Nafa semakin mundur ketakutan
"kamu gila!! aku akan laporkan ini ke dosen"
Nafa berbalik untuk pergi namun Arya menarik tangannya dengan kasar.
"kamu gak bisa lakukan itu! tidak akan ada yang percaya. apa kamu pikir meli akan menjadi saksi? tidak sayang, dia sudah menjadi budak **** ku! dia tidak akan membiarkan aku kena masalah, malah dia akan menuduhmu sudah menfitnahku. apa kamu mau jadi bahan bully satu kampus?" tanya Arya dengan licik, air mata Nafa kembali mengalir kali ini Nafa membiarkan Arya menghapus air matanya
"cup cup, jangan menangis sayang. aku janji, kita akan melewati malam yang hebat" lanjut Arya dengan mendekatkan wajahnya ke arah Nafa, Nafa berpaling dengan napas menderu ketakutan.
"aku sebenarnya ingin memakai cara lembut tapi kamu selalu memaksaku untuk berbuat kasar kepadamu!"
Arya menarik wajah Nafa dan mencium paksa Nafa. Nafa meronta, memukul dada Arya, menendang kaki Arya hingga menggigit bibir Arya hingga berdarah membuat Arya mau tidak mau mendorong Nafa hingga Nafa terjatuh.
bibirnya berdarah, begitupula Nafa bibirnya bengkak karna benturan dengan gigi Arya. Nafa segera bangkit dan berlari menuju halaman tempat pesta berada.
__ADS_1
"sial" geram Arya dan langsung mengejar Nafa