Love Of Passion

Love Of Passion
minta maaf


__ADS_3

Nurul turun dari sebuah mobil Fortuner berwarna hitam. dia merapihkan pakaiannya dan melihat ke arah gedung besar di hadapannya. diapun memasuki gedung tersebut seraya di ikuti seorang bodyguard yang membawa parsel buah berukuran besar.


Nurul berjalan menghampiri resepsionis


"kamar Damar jaya Nugraha di sebelah mana?"


"Anda siapanya yah?"


Nurul menunjukan kartu nama perusahaan yang berlapiskan emas, sebuah nametage yang hanya di miliki para eksekutif shabil group.


"baik, tunggu sebentar. kamarnya berada di lantai 5 blok teratai no. 12"


"terima kasih"


Nurul kembali berjalan menuju lift dan langsung menekan tombol yang di maksud.


Ting!


pintu lift terbuka, Nurul segera keluar dan berjalan ke arah kamar yang dia tuju. sebuah papan nama pasien tertera di samping pintu. dua orang bodyguard menjaga kamar tersebut. mereka memberi salam ke arah Nurul dan membuka pintunya.


Damar terlihat diatas ranjang rumah sakit, tengah membaca sebuah buku ilmiah. beliau tersenyum saat Nurul masuk.


Damar dilarikan ke rumah sakit seminggu yang lalu, dan menjalani perawatan di kamar VVIP yang telah di sediakan shabil group. umurnya yang menginjak usia 60 tahun terlihat seperti usia 80 tahun. tubuhnya sangat kurus dan pipinya terlihat sangat tirus. namun matanya masih sama meski terlihat cekung, senyumnya pun masih terlihat ramah seperti dulu.


Putri Damar berada di ruangan tersebut, diapun memberi salam lalu pergi keluar untuk memberi ruang bagi Damar dan Nurul.


"masuklah nak"


"pak"


Nurul memasuki ruangan, bodyguard yang bersamanya menyimpan parsel buah di sebuah meja panjang yang ada di pojok ruangan. terdapat banyak parsel buah disana dan sebuah guci sedang yang di penuhi bunga warna warni. Nurul duduk di samping Damar.


"bagaimana keadaanmu nak?"


"harusnya saya yang bertanya begitu pak"


"kita hanya berdua, panggil saja aku dengan sebutan biasa" ucap damar seraya terkekeh


"paman, bagaimana keadaanmu?"


"yah beginilah, aku baik-baik saja"


Nurul tahu bahwa Damar tidak baik-baik saja. penyakitnya sudah menjalar kemana-mana bahkan sekarang Damar di diagnosa terkena kanker paru-paru yang masih stadium awal.


"saya dengar paman harus di operasi"


"iya, paman tidak mau tapi kamu tahu sendiri kan bagaimana Rizal dia bersikeras menyuruh paman untuk operasi, bahkan dia sendiri yang menyiapkan kamar mewah ini serta dua bodyguard di depan pintu"


"itu karena beliau khawatir, begitupula saya"


damar menanggapi dengan tertawa kecil


"wahh.. paman sangat beruntung ada yang khawatir kepada paman saat usia paman tidak akan lama"


"paman! Husst jangan bicara begitu"


"hehehe paman hanya bercanda"


Rizal meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan kamar Damar dan menempatkan dua bodyguard untuk menjaga Damar. selain demi keamanan, Rizal lakukan itu agar musuh shabil group tidak mendekati Damar demi menjatuhkan shabil group.


"aku dengar kamu baru pulang dari Amerika?"


"iya paman" jawab Nurul sambil mengupas sebuah apel


"bagaimana?"


"lancar, kami berhasil menaikan harga saham meski hanya 1%"


"kamu tahu kan bukan itu maksud paman"


Nurul diam sejenak, dia menghentikan aktivitas mengupas apel dan menghela nafas sejenak.


"ini pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada paman. kenapa paman memilih saya?"


"karena paman yakin dengan kemampuanmu"

__ADS_1


"awalnya saya pikir saya bisa menjadi sekretaris seperti yang paman katakan, tapi setelah saya menjalaninya saya tidak yakin paman"


"kenapa? apa terjadi sesuatu?"


Nurul diam kembali, dia ragu untuk menceritakan hal yang terjadi di Amerika. tentang Rizal, perjanjian aneh yang di lakukannya, dan tentang gadis itu.


"ada yang datang membawa seorang gadis? aku yakin pasti dia pengusaha dari Thailand kan? jika di ingat-ingat masa kontraknya berakhir satu bulan kemarin"


"bagaimana-"


"paman tahu karena paman sudah melayani tuan Rizal selama 20 tahun"


Nurul menceritakan semua yang dia ketahui. rasa terkejut, kecewa dan merasa jijik bercampur satu. dia merasa tidak sanggup jika kejadian itu terus terjadi, dia tidak bisa membayangkannya. perutnya merasa mual setiap dia membayangkan apa yang di lakukan Rizal dengan gadis itu.


"siapa yang keluar kamar pertama kali?"


"gadis itu"


"apakah saat siang hari?"


"tidak, dia keluar dari kamar tuan Rizal setelah satu jam berlalu"


Damar terkejut namun merasa lega, senyum merekah di wajahnya


"itu artinya mereka tidak melakukannya"


"tapi paman bisa saja kan mereka melakukan itu dengan cepat"


"tidak nak, paman tahu betul jika memang mereka melakukan itu maka yang akan keluar duluan dari kamar adalah tuan Rizal dan wanita itu akan keluar hotel saat menjelang siang"


jadi apakah itu berarti Rizal tidak melakukan hal yang di pikirkan Nurul? jika benar seperti itu berarti pikiran buruknya salah? huft.. Nurul merasa lega bahwa itu tidak terjadi.


tubuh Nurul tersentak kaget, kenapa dia selega itu mendengar bahwa Rizal tidak melakukannya.


"paman tahu bahwa sebagai bawahan kita harus mengkhawatirkan atasan"


ahh.. iya sebagai bawahan dan atasan. pikiran tersebut membuat Nurul menjadi tenang.


"paman bisa lihat dengan adanya dirimu, Rizal dapat berubah sedikit demi sedikit. paman mohon nak tolong tetap di samping Rizal"


"tapi setidaknya ada seseorang yang mensupport dia"


"orang yang di sekeliling pak Rizal tidak hanya saya"


"tapi kamu yang berani menegur dia kan"


itu benar, selama beberapa bulan ini dia tidak pernah melihat orang memberikan pendapat kepada Rizal bahkan para bawahan dan kolega Rizal selalu menelan bulat-bulat apapun keputusan Rizal.


Nurul menatap damar cukup lama, terlihat tatapan tulus seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya.


"baik paman, saya akan mencoba. nah sekarang paman makan dulu yah apelnya"


...***...


setelah beberapa hari akhirnya kalung pesanan Daru telah selesai. seorang kurir khusus mengantarkan pesanan itu ke kantor Shabil.


Daru segera meninggalkan kantor saat waktu istirahat tiba. dia mengendarai motor sport milik Devan agar segera sampai di tempat tujuan.


Daru ingin meminta maaf kepada Nafa atas kejadian sebelumnya, dia bingung bagaimana cara meminta maaf dengan baik dan benar kepada seorang gadis. Daru sengaja memberi hadiah yang mungkin akan di terima Nafa dan nafapun akan memaafkan nya.


Daru memarkirkan motor nya di depan kampus dimana Nafa kuliah. dia melihat arloji nya, 3 menit lagi Nafa akan keluar dari kampus. karena kampus Nafa tidak terlalu besar, Daru dapat melihat gedung kampus dari luar pagar kampus, dan dia bisa melihat parkiran dimana semua kendaraan murid terparkir.


Daru tahu betul bagaimana jadwal Nafa, dan dia tahu setelah belajar Nafa akan langsung pulang ke rumah.


beberapa mahasiswa dan mahasiswi keluar dari kampus. ada yang langsung pulang dengan menaiki ojol ataupun angkutan umum, ada yang diam di kantin depan kampus dan ada yang tengah mengobrol di sekitaran tempat parkir.


Daru menunggu satu menit, dia melihat Nafa berjalan keluar gedung kampus dengan seorang pria, Arya. Daru mengerutkan alisnya, dia tidak suka dengan pemandangan yang ada di hadapannya.


"Nafa!" teriak Daru tanpa sadar


Nafa menengok, dia terkejut melihat Daru berada di depan kampusnya dengan pakaian yang cukup formal. Nafa tahu Daru baru saja dari kantor.


Nafa berpamitan kepada Arya dan segera menghampiri Daru.


Daru terus melihat dengan tatapan tajam ke arah Arya sampai Arya berbalik pergi.

__ADS_1


"hei, sedang apa kamu disini?" tanya Nafa dengan tersenyum.


Daru menatap Nafa sesaat, apa wanita di hadapannya ini tidak sedang marah?


"ada yang ingin aku bicarakan dengan Kaka"


"ohh, tentu. mau bicara apa?"


"bisakah kita pindah tempat?"


"ohh iya boleh" Nafa melihat sekeliling, terdapat banyak pasang mata menatap ke arah mereka. terutama mata para wanita yang menatap serta sesekali berbisik seraya melihat ke arah Daru.


Nafa menaiki motor yang di pakai Daru, mereka pun melaju menuju sebuah tempat.


Daru membawa Nafa ke sebuah Restoran yang terletak di daerah Dago. dia memilih tempat yang tidak terlalu banyak orang sehingga Daru dapat berbicara dengan leluasa.


"saya minta maaf ka" ucap Daru setelah pelayan yang mencatat makanan mereka pergi


"ya? untuk apa?"


"soal kejadian kemarin"


"ohh iya, tidak apa-apa lagipula aku juga salah sudah masuk ke ruangan itu tanpa ijin darimu"


"Kaka tidak marah?"


"marah? haha tentu saja tidak. aku hanya terkejut karena kamu tiba-tiba marah yah tapi itu wajar, aku menyadari kesalahan ku tapi aku tidak marah. justru ak harus minta maaf kepadamu"


"lalu kenapa Kaka tidak datang mengajar?"


"itu.. karena kamu tidak menghubungi ku jadi aku kira aku sudah di pecat"


suasana hening, Daru tidak menyangka bahwa Nafa akan berfikir begitu. padahal selama ini Daru tidak bisa tidur dengan nyenyak karena takut Nafa marah kepadanya. ternyata ke khawatirannya itu hanya sia-sia.


Daru mengeluarkan kotak berukuran sedang dari dalam saku jasnya.


"ini sebagai permintaan maaf dari saya"


Nafa meraih kotak itu dan membukanya, dia melihat kalung yang begitu indah yang pernah dia lihat. kalung yang begitu berkilau dengan batu berwarna biru shappire berbentuk bulat yang di kelilingi permata kecil mengitari batu tersebut. begitu cantik dan mempesona.


"ini.. aku rasa tidak perlu"


"tidak. Kaka harus menerimanya, saya sengaja menyiapkan hadiah ini untuk Kaka"


Nafa memandang kalung itu dengan tatapan ragu, padahal Daru tidak perlu menyiapkan barang seperti ini.


"tapi.."


"saya akan sedikit jika Kaka tidak mau menerima nya"


Nafa menghela nafas sesaat. seperti kata pepatah tidak baik menolak pemberian orang lain. baiklah Nafa akan menerima dengan senang hati.


"terima kasih Daru" ucap Nafa dengan senyum menghiasi wajahnya.


Daru berdiri dari duduknya dan menghampiri Nafa.


"boleh saya pasangkan kalung itu?" tanya Daru yang seperti bukan pertanyaan karena dia langsung mengambil kalung yang ada di kotak itu dan berdiri di belakang Nafa untuk memasangkannya.


Nafa dengan gugup mengangkat sedikit rambutnya. jantungnya kembali berdetak kencang seperti saat dia dia ajak ke restoran mewah pertama kali oleh Daru.


Nafa menurunkan rambutnya setelah merasa Daru selesai memasangkan nya. dia memegang bandul bulat kalung tersebut dan melihat bandul itu dari dekat.


"kalung itu cocok untuk Kaka" ucap Daru seraya tersenyum hangat.


deg!


Nafa buru-buru mengipas wajahnya dengan kedua tangan nya. senyuman Daru sangat tidak manusiawi bagaimana mungkin sebuah senyuman kecil membuat seseorang menjadi sangat tampan. ini kedua kalinya jantung Nafa berdetak kencang gara-gara anak kecil di hadapannya.


Daru bingung dengan apa yang di lakukan Nafa, padahal ruangan tersebut tidak panas. dia sengaja memilih tempat outdoor agar Nafa tidak merasa kepanasan.


tidak lama pesanan merekapun datang, mereka segera memakan pesanan mereka masing-masing.


"saya harap Kaka datang lagi untuk mengajar Minggu ini"


"tentu, aku akan memberimu banyak sekali tugas. siap-siap yah"

__ADS_1


mereka berbincang dengan santai dan untuk pertama kalinya Daru merasa rileks mengobrol dengan seseorang selain Ikbal.


__ADS_2