Love Of Passion

Love Of Passion
pesta 2


__ADS_3

Daru tengah duduk di sebuah kursi dengan meja bundar besar di hadapannya, dia memakan salmon dengan campuran salad.


sudah 2 jam dia di tempat itu dan belum ada tanda-tanda acara akan berakhir. Daru mengambil gelas yang berisi jus jambu, itu adalah gelas yang ke 20 nya.


dia sudah banyak berbincang dengan orang-orang. dia sudah berkenalan dengan pengusaha batubara, pengusaha tambang emas, pengusaha kelapa sawit dan masih banyak lagi. kebanyakan adalah orang yang sudah matang. hanya dia yang masih di bawah umur di acara tersebut.


sesekali ada beberapa wanita baik itu sekretaris pribadi, pasangan orang ataupun selingkuhan orang yang diam-diam meliriknya namun Daru tidak menggubris sedikitpun.


Bagas tetap setia mendampingi Daru, dia berdiri di belakang.


"membosankan" gumam Daru


dia ingin pulang tapi tidak tahu bagaimana caranya pulang lebih dulu. dia merasa bahwa pulang lebih awal dengan alasan tidak jelas adalah bentuk ketidaksopanan.


hanya lansia dan orang yang mempunyai riwayat penyakit berat yang pulang lebih dulu. dia tidak mau di samakan dengan mereka.


tepat pukul 11 malam, beberapa orang yang masih muda keluar dari ruangan dan hanya tersisa para pengusaha yang sudah berumur. Daru bingung, kemana mereka semua pergi.


"kemana mereka semua?" tanya Daru kepada seorang pelayan yang sedang melewat saat dia melihat 10 orang pergi bersama-sama keluar ruangan


"bapak bisa ikut acara selanjutnya di ruang sebelah, biasanya pengusaha yang masih muda mengikuti acara selanjutnya"


karena rasa penasaran Daru lebih besar, diapun mengikuti segerombolan para pemuda itu.


Daru memasuki sebuah ruangan besar dengan pintu yang besar juga. disana dia terkejut melihat sebuah bar dengan skala besar. bar yang di lengkapi diskotik. banyak sekali muda-mudi tengah menari di tengah-tengah ruangan di iringi musik disko yang memekakkan telinga.


"pak sebaiknya kita kembali!" ucap Bagas dengan berteriak


"kenapa? disini cukup ramai di banding tempat tadi!" balas Daru dengan teriak


selama 17 tahun Daru tidak pernah mengunjungi club' malam. dia hanya melihat saat melewati beberapa club malam.


Daru menghampiri bartender, dia melihat buku menu yang di penuhi oleh berbagai minuman. Daru melihat dengan seksama dia memilih minuman yang menurut dia tidak beralkohol.


"shooter.." gumam Daru, itu nama yang tidak dia ketahui mungkin minuman itu tidak beralkohol


"satu shooter!" teriak Daru kepada bartender


bartender pun segera meracik minuman yang di pesan.


satu gelas kecil minuman berwarna kuning dengan es batu di dalam nya


Daru memperhatikan minuman yang ada di depannya dengan bingung, kenapa minuman yang dia punya sedikit sekali.


meski dia kebingungan namun Daru berusaha tidak peduli, dia pun duduk di salah satu kursi panjang dengan meja besar di depannya. Bagas berdiri di belakang Daru. hanya ada dia yang duduk disana. semua kursi di penuhi oleh muda mudi yang duduk bersama teman-teman mereka.


dia menatap minuman itu, entah kenapa perasaannya tidak enak tapi dia penasaran dengan cairan yang ada di hadapannya.


Daru melihat ke arah Bagas.


"jika aku melewati batas tolong hentikan aku" ucapnya

__ADS_1


Bagas mengangguk.


situasi semakin berisik, DJ memainkan musik pargoy. seketika semua orang berlari menuju ruang menari dan bersama-sama menari pargoy. Daru mengerutkan alisnya namun tidak dapat di pungkiri dia tertawa melihat orang-orang yang menari.


Daru meminum minumannya sedikit, dia berkerut. rasanya sangat tidak enak, terasa pahit dan panas di tenggorokan namun terasa sedikit rasa manis. Daru terbatuk-batuk karena minuman tersebut.


"pak saya ijin keluar" ucap Bagas seraya memegang ponsel yang berdering. Daru melambaikan tangannya tanda menyuruh Bagas pergi


meski rasanya tidak enak, Daru terus meminum cairan itu sampai habis tidak tersisa. Daru diam sejenak, kepalanya terasa berputar.


di kejauhan terdapat segerombolan wanita yang tertawa kencang, mereka seperti melakukan taruhan dan wanita yang kalah langsung meminum minuman yang sudah di sediakan.


15 menit berlalu, wanita tersebut melihat ke arah Daru yang setengah tidak sadarkan diri.


"hei manis" ucapnya


Daru memicingkan matanya mencoba melihat siapa suara itu, namun tatapannya rabun


"Bagas?" tanya Daru


wanita itu mendekat, dia duduk di pangkuan Daru. gerakannya seperti cacing kepanasan.


tanpa aba-aba wanita itu mengecup bibir Daru dengan ganas. ciuman itu terlepas saat sang wanita kehabisan napas.


"fuaahh!" Daru mengap-mengap mencari udara


"apa yang-"


wanita itu menarik daru untuk mengikutinya. dengan tubuh terhuyung Daru mengikuti wanita itu. wanita itu terus menarik tangan Daru supaya Daru tidak kabur.


mereka memasuki sebuah ruangan bertirai, di balik tirai itu terdapat sebuah kursi besar dan panjang. biasanya tempat ini di pakai untuk istirahat namun banyak di pakai untuk melakukan 'aktifitas malam'.


Daru di dorong dengan keras sehingga dia duduk terjengkang. ekspresi nya terkejut dan linglung.


"ini dimana?"


"damn! ternyata wisky tadi di campur obat perangsang! orang-orang sialan!" umpat sang wanita


tatapannya langsung mengarah kepada Daru


"sorry honey, aku harus meredakan efek obat ini. jika tidak aku bisa gila! aku tidak akan meminta pertanggungjawaban" lanjut sang wanita seraya mengeluarkan alat kontrasepsi.


"salahmu sendiri kamu tampan dan.. muda tentunya. i love young man!" ucapnya


wanita itu melepas jas dan kemeja yang di pakai Daru. Daru hanya diam dengan linglung, dia berkali-kali menyipitkan matanya hanya untuk memperjelas penglihatan namun penglihatan Daru semakin rabun.


"hei kamu siapa?!" Daru terkejut saat menyadari bahwa wanita itu duduk di pangkuan nya dan menciumnya kembali.


tangan Daru di arah kan untuk memegang dua buah dada yang begitu besar. meski Daru melepaskan pegangannya, wanita itu terus memegang tangan Daru agar tetap berada di dadanya.


mereka saling mengaitkan bibir, nafas sang wanita semakin memburu. dengan ciuman Yang semakin panas, tangan wanita itu dengan lihai melepaskan sarang yang menutup area keperjakaan Daru.

__ADS_1


kesadaran Daru semakin menipis, dia tidak tahu siapa orang yang ada di hadapannya. yang jelas dia adalah wanita, rambut pendek sebahu itu mengingatkan Daru akan Nafa.


"apakah dia Nafa?" ucap Daru dalam hati


jika memang iya Daru akan menyerahkan semua tubuhnya untuk Nafa.


Daru mulai menikmati permainan yang di lakukan wanita itu, dia mencoba mengambil alih permainan membuat sang wanita mendesah. Daru begitu lihai menempatkan mulutnya di atas dada wanita itu, perlahan namun pasti sang wanita melepaskan mini dress yang dia kenakan, terdapat sebuah tato berukuran sedang di punggungnya.


saat wanita itu akan memulai pertarungan mereka, dia tersungkur jatuh terdorong oleh sesuatu


"kyaa!!" teriak sang wanita tersungkur di pojok kursi


...***...


Bagas keluar ruangan karena mendapat telpon dari ibunya


"hallo ibu?"


"hallo nak, sibuk tidak?"


"ada apa ibu?"


"bisa jemput ibu?"


"ibu dimana?"


"rumah nenekmu"


"kemana Nafa?"


"Nafa sedang demam ibu gak tega meminta dia menjemput ibu, sedangkan Nurul masih ada di Amerika"


Bagas berfikir sejenak, pekerjaannya selesai jika tuan mudanya sampe sampai rumah dengan selamat


"baik lah ibu, tapi Bagas bisa jemput ibu tengah malam. tidak apa-apa?"


"iya nak, tidak apa-apa. terimakasih nak, maaf ibu menganggu pekerjaanmu"


"tidak apa-apa ibu, ini termasuk tanggung jawab Bagas" telpon pun di tutup setelah Bagas memberi salam kepada ibunya


Bagas segera masuk ke dalam ruangan, dia segera menghampiri tuannya. langkahnya terhenti saat dia melihat tidak ada siapa-siapa di kursi tersebut.


bagas sudah mencari Daru kemana-mana selama setengah jam namun batang hidung Daru tidak terlihat.


Bagas melewati sebuah tirai, langkahnya terhenti. dia kembali ke arah tirai tersebut, instingnya mengatakan bahwa Daru ada di balik tirai ini.


Bagas perlahan membuka tirai, matanya melebar saat dia melihat tuannya melakukan aksi yang akan di sesali Daru seumur hidup.


Bagas berjalan dengan langkah lebar tanpa sadar dia mendorong wanita itu dengan keras membuat wanita yang sudah telanjang bulat itu tersungkur.


"pak! astaga!" ucap bagas segera menyadarkan Daru.

__ADS_1


Bagas segera menutup sleting yang sudah terbuka dan memakaikan jas dengan asal. dia membantu Daru berdiri namun Daru sudah pingsan. Bagas meletakkan Daru di punggung nya seraya pergi meninggalkan ruangan tersebut.


__ADS_2