
"apa Kaka tau apa yang akan aku tanyakan? ah bukan, yang akan aku lakukan?"
deg! Nafa hanya terdiam, matanya melotot, jantungnya berdebar. sejak pertama kali bertemu dengan Daru di acara demo Nafa cukup tertarik kepada Daru.
selain alasan kasian, Nafa terpana dengan ketampanan Daru karena itu dia membawa Daru kabur.
meski dia tertarik tapi tidak begini juga, tidak mungkin Nafa harus melakukan adegan romantis seperti di Drakor bersama anak SMA.
Nafa ingat jika di Drakor saat begini pasti pemeran lelaki akan menngecup bibir pemeran perempuan.
membayangkannya saja sudah membuat jantung Nafa dag-dig-dug- duarr!! Nafa tidak kuasa menahan detakan jantungnya dan rasa menggelitik di perutnya, wajahnya bersemu merah. dengan sekuat tenaga Nafa mampu mengeluarkan kata
"ya?" terlontar kata itu dengan pelan
Daru semakin menatap Nafa dan mulai mendekat. Nafa menutup mata bersamaan dengan Daru yang mendekat.
"di pipi Kaka ada remah kukis, aku merasa risih melihatnya"
seketika Nafa membuka mata, dia melihat Daru yang tengah kembali mengerjakan soalnya. buru-buru Nafa mengambil cermin kecil di tasnya, dia segera membersihkan pipinya yang memang banyak remah kukis.
'bikin malu aja!!!' batinnya menyesal karena dia sudah membuat pikirannya berfantasi ria
"ah ngomong-ngomong berapa umur Kaka?"
"ya?"
"umur Kaka?" Daru kembali bertanya dengan mata masih mengarah kepada kertas soal
"umur aku 21 tahun" jawab Nafa dengan sedikit canggung, merasa aneh ada yang menanyakan umurnya
"beda 4 tahun yah" gumam Daru
"apa?"
"ah tidak. ini tugasku sudah selesai, aku akan ke bawah sebentar. sambil Kaka mengecek hasil kerjaanku, makanlah buah-buahan yang sudah bi Inah siapkan"
Daru segera berdiri dan turun ke bawah. Nafa hanya menghela nafas, dia berdiri mengambil mangkuk besar yang penuh aneka macam buah-buahan yang sudah di potong lalu duduk kembali. dia memakan satu potong buah mangga
"eumm manis!" ucapnya dengan riang dan mulai mengecek hasil tugas Daru
****
Daru turun dengan senyum antara senang dan tidak senang. dia melihat BI Inah tengan menyiapkan makan siang untuk Daru dan Nafa.
"Bagas kemana BI?"
"tadi bibi liat dia menuju rumah utama, tuan Rizal yang meminta nya untuk kesana" jawab bibi yang tangannya tengah memasak steak dengan lihai
"selama beberapa hari tidak pulang akhirnya dia pulang juga, padahal lebih bagus dia tidak pulang lagi" ucap Daru seraya mengambil sebuah apel merah dan menggigitnya.
__ADS_1
"apa perlu bibi siapkan buah-buahan untuk tuan?"
"tidak perlu, aku hanya ingin apel"
Daru berjalan menuju jendela besar yang ada di salah atau sudut ruangan. dia curiga kenapa kakanya memanggil pengawal pribadinya ke rumah utama? apa kakanya merencanakan sesuatu? atau ini soal Irene? dia tidak mendengar apapun tentang Irene atau keluarganya. tapi itu bagus, Daru bahkan ingin wanita sial itu tidak muncul di hadapannya lagi.
" antarkan makanan itu jam satu siang yah bi"
"baik tuan"
"ah, panggil setidaknya satu pelayan untuk membantu bibi. bibi jangan terlalu sering naik turun tangga"
BI Inah tersenyum melihat tuan mudanya begitu perhatian, meski sikap Daru sangat dingin tapi hatinya sangat hangat. itulah sebabnya BI Inah sangat menyayangi Daru
"baik tuan"
Darupun kembali menuju ke lantai dua
selain itu..
di rumah utama Bagas bersama Rizal dan Eddie (ayah Daru dan Rizal) tengah membahas soal masalah Irene.
Bagas berdiri tegak di samping Rizal yang tengah duduk di kursi dan Eddie yang duduk di sebrang Rizal, di kursi panjang. di belakangnya terdapat dua mengawal di kiri dan kanan Eddie
"jadi kamu sudah menanganinya?" tanya Eddie kepada Rizal, mata hijaunya begitu menusuk
Eddie menghela nafas lega, dia memijit kepalanya sebentar
"syukur lah. pake cara apa kamu menanganinya? ayah tahu Irene sangat keras kepala"
Rizal diam sesaat, mencari jawaban yang tepat. tidak mungkin dia menjawab bahwa telah menjebak Irene dengan cara kotor. tapi jika ingin menghadapi wanita kotor maka harus dengan cara kotor pula.
"ayah tidak perlu tahu bagaimana aku menanganinya, yang jelas dia tidak akan mengusik atau mengancam keluarga kita lagi"
ayahnya kembali menghela nafas, dia menyesap teh herbal yang ada di meja besar itu. tatapannya mengarah kepada Bagas.
"kamu Bagas kan?"
"benar tuan besar"
"aku tahu bahwa kamu pengawal Daru yang di rekomendasikan oleh Rizal, meski Daru tahunya kamu anak dari rekomendasi Vian. bisa gawat bila dia tahu bahwa kamu masih bawahan Rizal. sebaiknya kamu rahasiakan kalau kamu kenal Rizal"
"baik tuan"
Eddie kembali menyesap teh herbalnya
"kerjamu sangat bagus, saat situasi seperti itu kamu cepat tanggap untuk meminta pihak hotel menyembunyikan keberadaan Daru, aku berterima kasih dengan tindakanmu" lanjut tuan besarnya itu. mata yang sayu dan tua itu menunjukan prasaan yang begitu tulus
"itu sudah tugas saya tuan!"
__ADS_1
Eddie hanya tersenyum mendengat jawaban tegas Bagas
"tolong jaga anak itu"
"baik tuan!"
suasana berubah hening, Bagas hanya diam memperhatikan Rizal ataupun Eddie. Eddie kembali menghela napas untuk kesekian kalinya.
"anak itu sebenarnya anak penurut, dulu dia sangat manis, ceria. semenjak kejadian tragis itu dia berubah. menjadi dingin dan beringas. bahkan aku berfikir ada sesuatu yang merasuki anak bungsuku"
"entah aku yang sangat keras kepadanya, sampai suatu hari terjadi sesuatu yang mengerikan" lanjut tuan rumah itu, mengingat kenangan masa lalu.
suasana kembali hening, Rizal pun terdiam.
"apa saya boleh bertanya tuan, terjadi hal apa sampai mengerikan seperti itu?"
dengan berani Bagas bertanya
"aku pernah menghalangi nya untuk tinggal sendiri, entah kenapa dia selalu bersikeras dia benci keluarga ini dan ingin tinggal sendiri. aku menghalangi dan memarahinya, dia mengamuk. dia menghancurkan setengah karya seni hasil almarhum ibunya, padahal itu kenangan yang selalu ku jaga sampai sekarang. lalu aku.." Eddie diam sejenak, dia menoleh ke belakang untuk melihat foto mendiang istrinya sebentar
"lalu aku memukulnya, menampar wajahnya dengan keras. aku bisa liat wajahnya yang sangat terkejut dan matanya memancarkan amarah yang sangat besar. dia pergi mengurung diri di kamarnya beberapa hari, tidak ada yang boleh naik ke kamarnya. aku mengirim kan beberapa pelayan dan pengawal untuk melihat keadaannya tapi mereka di usir bahkan ada yang di hajar habis-habisan" lanjut Eddie
raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih
"selama seminggu aku membiarkan dia, bukan mengabaikan tapi memberi dia waktu. tidak ada aktifitas darinya hingga ak sendiri yang coba mengecek dan.. tidak aku sangka dia memotong urat nadinya. jika telat sedetik saja dia pasti sudah tidak bernyawa"
suasana lebih hening dari sebelumnya, Rizal pun hanya menutup mata mengenang kejadian itu. sungguh sangat kejadian yang mengerikan, Rizal tidak akan memaafkan dirinya jika adik satu-satunya itu meregang nyawa.
sejak kejadian itu Rizal tidak lagi melarang apapun kepada Daru, apapun yang Daru lalukan Rizal akan membiarkan nya dengan catatan ada yang mengawasi dia. karena itu Rizal selalu mengirim mata-mata.
acara rapat darurat pun selesai karena Eddie harus segera pergi menuju Amerika untuk mengurus cabang yang akan di buka disana.
Rizal keluar bersama Bagas di belakangnya. sebenarnya Rizal meminta Bagas untuk ikut dengannya selain karena Bagas pengawal pribadi Daru, Damar tidak bisa ikut karena ada acara keluarga. Rizal tidak biasa jika tidak di ikuti oleh seseorang.
"aku dengar Daru menyewa guru privat?" tanya Rizal kepada Bagas
"iya pak"
"kenapa? diakan jenius untuk apa merekrut guru privat?" gumam Rizal kebingungan
"Bagas kamu ikut aku sebentar ke kantor, ada beberapa berkas yang harus aku ambil dan yang harus kamu berikan kepada Daru" lanjut Rizal
"baik pak"
merekapun memasuki mobil dan meluncur menuju perusahaan.
sementara itu, Daru mendapat pujian karena semua soal yang di berikan Nafa mendapat nilai sempurna.
sesekali Daru melihat sebuah benar luka besar di pergelangan tangan kirinya, dia mengusap luka itu dan menyembunyikan nya dari pandangan Nafa.
__ADS_1