
Nafa sangat senang dengan hari ini. dia bisa berbelanja sesuka hati dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. dia membeli semua yang dia inginkan seperti : baju, sepatu, tas dan skincare. tidak lupa dia membelikan beberapa stel baju untuk ibu, teteh dan kakanya.
selain itu Arya orang yang sangat menyenangkan. Nafa tidak menduga bahwa Arya orang yang berbeda. saat di kampus Arya begitu tegas tapi di luar kampus Arya termasuk orang penyabar dan hangat. meski terlihat jelas di wajahnya sudah lelah namun Arya tetap mengangguk dan tersenyum saat Nafa meminta untuk memasuki sebuah toko lagi.
saat ini mereka sedang duduk santai seraya menikmati makanan di area food court. Nafa menyantap sebuah steak sapi dengan bumbu BBQ yang pedas, sedangkan Arya memesan nasi goreng dengan tambahan telor mata sapi. mereka makan dengan lahap sesekali membahas topik ringan.
"terima kasih ka sudah mau mengantar saya kesana kesini" ucap Nafa di sela-sela makannya.
"iya sama-sama. barang yang kamu butuhkan sudah semua?" tanya Arya dengan lembut. tidak di ragukan lagi, Arya naksir Nafa.
"iya sudah, saya senang" jawab Nafa dengan gembira.
"syukurlah" sahut Arya dengan nada semakin lembut.
Nafa sangat suka sifat Arya seperti ini, di bandingkan sosok Arya yang tegas dan ketus saat berbicara dengan orang lain.
"setelah ini kita kemana?"
"nonton?" tanya Arya balik
Nafa berfikir sejenak, tidak buruk juga nonton tapi bagaimana barang bawaan mereka
"tidak perlu khawatir. bagaimana kalau kita simpan barang-barang ini lalu pergi lagi?" Arya seolah bisa membaca pikiran Nafa
"apa gak repot?" Nafa merasa tidak enak, karena jarak mall itu dan rumahnya cukup jauh.
"tidak, kita anggap saja sedang jalan-jalan" jawab Arya di sertai tawa renyah
Nafa menatap Arya sebentar lalu tersenyum.
"Kaka sangat berbeda"
tawa Arya pudar dan berganti serius
"maksudmu?"
"Kaka sangat lembut dan ramah jika di luar kampus tapi Kaka sangat eumm.. tegas saat di kampus"
Nafa hampir mengatakan menyeramkan tapi kata-kata itu tidak cocok
terlihat raut terkejut bercampur bingung di wajah Arya.
"seperti itukah aku?"
"iya, Kaka sangat tegas sehingga kesannya agak galak"
Arya tiba-tiba tertawa membuat Nafa kaget.
__ADS_1
"sebagai ketua, aku harus berusaha menjaga wibawa saat berhadapan dengan anggota"
"ah iya benar"
"maaf jika itu membuatmu tidak nyaman" nada Arya di penuhi rasa menyesal
"ah tidak! itu bagus ko ka"
Arya menatap Nafa sebentar lalu tersenyum
"syukurlah kalau itu hal yang positif"
suasana kembali hening. Nafa memakan steak terakhirnya lalu menghabiskan mojito nya .
"kalau sudah makannya, mari kita simpan belanjaan kita" lanjut Arya
...***...
Bagas memasuki ruangan yang terdapat beberapa orang. dia mendatangi loker untuk menyimpan jas dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah di siapkan di dalam loker khusus penggulat.
saat tengah membuka kemejanya, dia di hampiri oleh seseorang
"oh, lihat ini siapa! halo Bagas!" teriak orang itu. Bagas menoleh.
"halo Indra" balasnya malas
"kamu lulus ternyata. bisa ak tebak, sepertinya kamu menjadi pengawal di rumah Shabil?"
Bagas hanya mengangguk. Indra terkekeh.
"bagaimana mungkin seorang Bagas hanya menjadi penjaga rumah para singa? AKU! Indra! kau tahu kan bagaimana kemampuan ku? raja singa menunjukku sebagai pelatih gulat. dia menyadari potensi ku! dan setahuku bayaran seorang pelatih lebih besar di banding seorang penjaga" ucap nya. nada merendah terlihat jelas dari ucapan Indra. 2 orang pelatih - teman Indra terkekeh.
"ternyata dia masih seperti dulu, penuh omong kosong" batin Bagas
"sedang apa kau disini? hanya member yang dapat mengikuti pelatihan disini" lanjut Indra
"aku seorang member" jawab Bagas
"bah! kau tahu kan berapa harga untuk sekali pelatihan disini?" ucap Indra penuh penghinaan.
Bagas diam sejenak, dia malas meladeni manusia seperti Indra.
"tentu" jawab Bagas sekenanya
Indra diam, menanti jawaban yang dia inginkan.
Bagas terus menatap, dia hanya mendesah.
__ADS_1
"singa muda tengah berlatih tinju disini" ucap Bagas
"apa? maksudmu tuan Daru?"
"tentu, kamu pikir siapa?" jawab Bagas sedikit jengkel
"ba-bagaimana bisa kamu tahu singa muda sedang berlatih?" nada bicara Indra mulai gugup.
Bagas tersenyum miring, dia melihat peluang untuk memukul balik Indra
"oh iya! aku lupa bilang. sebenarnya aku bukan penjaga rumah para singa, tapi aku menjaga sang singa muda" ucap Bagas
mata Indra terbelalak, dia tidak percaya.
"tidak mungkin" gumamnya
"kenapa tidak mungkin? aku diberi perintah langsung"
"oleh siapa?"
"wakil singa. dia datang padaku lebih dulu" jawab Bagas dengan senyum tipisnya.
sedikit informasi, untuk bisa menjadi seorang pengawal keluarga Shabil terdapat seleksi yang ketat. semua calon harus mengikuti pelatihan yang sangat berat dan mereka di beri peringatan untuk tidak menyebut sembarangan nama anggota keluarga Shabil. sehingga mereka selalu menyebut para keluarga Shabil dengan : raja singa untuk Presdir, wakil singa untuk Rizal dan singa muda untuk Daru.
setiap calon akan di ukur seperti apa ketangkasan, kekuatan, daya tahan dan insting mereka dalam menghadapi setiap keadaan yang mendesak. pelatihan mereka tidak beda dengan pelatihan militer tingkat tinggi. sehingga hanya orang-orang terbaik dan hebat yang bisa lolos. beberapa calon bisa menjadi pelatih jika mereka unggul di salah satu bela diri dan hanya orang yang unggul di semua bidang beladiri yang bisa menjadi penjaga para singa.
Indra mundur perlahan, dia sedikit terguncang.
"ah! dan setahuku bayaran ku lebih tinggi di banding bayaran pelatih" lanjut Bagas dengan senyum penuh bangga nan angker
Indra terlihat sangat gugup, kedua temannya mengganti tumpuan mereka dengan gelisah.
Bagas telah mengganti semua pakaiannya dengan pakaian gulat yang cukup ketat. memperlihatkan semua otot seksi yang melekat pada tubuh nya.
"kenapa? ayo kita berlatih. aku sudah menjadi anggota gold dalam member, kau harus melatihku dengan benar dan serius"
Bagas dan Indra berdiri saling berhadapan. tinggi mereka sama hanya tubuh Indra lebih kekar dan besar di banding Bagas. sangat jelas terlihat Indra cocok untuk menjadi pelatih gulat.
Indra menatap tajam kearah Bagas, tatapan iri dan dengki. dia tidak percaya bahwa Bagas seorang anak ingusan baginya menjadi penjaga singa muda. padahal Indra sudah masuk menjadi calon anggota jauh lebih dulu di banding Bagas tapi kenapa malah Bagas yang terpilih dan bukan dia.
Bagas hanya menatap malas, dia sudah kebal dengan perilaku Indra yang seperti wanita cengeng. dia kesal dengan lelaki yang bersikap seperti banci itu. tapi bagaimana lagi, salah Bagas sendiri memasuki kelas gulat.
sebenarnya Bagas tidak menyangka bahwa Indra yang menjadi pelatih gulat saat ini, dia hanya iseng masuk ke kelas yang menurut dia mudah di kuasai. cukup teknik kuncian yang kuat untuk mengalahkan lawan tapi ternyata dia mendapat kejutan yang tidak terduga.
Bagas tahu bahwa Indra tidak menyukainya dan dia tidak mempermasalahkan hal itu namun terkadang dia cukup kesal oleh Indra. Indra hanya berani melawannya dengan kata-kata. setiap kali Bagas mengajaknya berduel, Indra selalu berdalih bahwa dia tengah sibuk.
tapi kali ini berbeda. Bagas adalah member dan Indra seorang pelatih. seorang pelatih harus menghadapi langsung member tanpa terkecuali siapa member tersebut. untuk kesekian kalinya Bagas bangga menjadi seorang penjaga singa.
__ADS_1
kali ini dia akan menumpahkan rasa kesal yang selama ini dia simpan, rasa kesal atas semua penghinaan dan ucapan remeh yang selalu di lontarkan oleh Indra setiap mereka bertemu. dan kali ini Bagas akan membuktikan bahwa ucapan Indra hanyalah sebuah sampah.