Love Of Passion

Love Of Passion
tidak percaya


__ADS_3

jam menunjukan pukul 9 pagi. Nurul sedang berjalan menuju tempat gym yang ada hotel tersebut. selama perjalanan Nurul terus memikirkan bagaimana caranya dia bisa pindah ke kamarnya sendiri. apakah dia tidur sambil berjalan? atau.. tidak! dia harus singkirkan pikiran bahwa Rizal telah menggendongnya karena itu tidak mungkin.


tapi saat bangun Rizal memang tidak ada di kamarnya itu, mungkin Rizal langsung pergi setelah dirinya meninggalkan Rizal di kamar tersebut?


Nurul menghela nafas, sebaiknya tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting.


saat dia sampai di tempat gym, dia melihat Rizal yang tengah melatih ototnya dengan alat Lat pulldown machine, dia menggunakan kaos polos tanpa lengan dan tentu saja di kelilingi oleh 3 sampai 4 orang wanita.


Nurul mulai berlari di treadmill, berlari hingga tubuhnya berkeringat setelah lelah dia mengambil botol minumannya, sebelum minum dia melirik ke arah Rizal yang tengah melakukan pek deck, kali ini di kelilingi oleh wanita dan pria.


jika di perhatikan memang ototnya bukan main, tidak kecil dan tidak terlalu besar namun sangat kokoh, cukup mampu membuat wanita tergoda ingin menyentuh otot-otot tersebut. pundaknya yang bidang, di sesaki otot yang begitu luar biasa, bahkan dadanya dapat terlihat di kaosnya yang begitu tipis. seperti lelaki yang keluar dari komik, penuh kharisma yang kuat.


kharismanya di luar lanar. di mulai dari ketampanan, bentuk tubuh, tingginya pun di luar lanar benar-benar seperti tokoh pria utama. jika Nurul tidak mempertahankan kewarasannya sepertinya diapun akan tergila-gila kepada Rizal seperti wanita-wanita itu.


nurul menyelesaikan olah raganya setelah menganyuh sepeda selama 15 menit. diapun keluar dari tempat gym tersebut dan berjalan menuju kamarnya kembali, dia harus siap-siap untuk jadwalnya 3 jam lagi.


"hey"


Nurul tahu jelas siapa pemilik suara itu, diapun tahu sudah di ikuti sejak tadi


"ada apa pak?"


"udah olah raganya? aku kira kamu tidak pernah ke tempat gym"


"saya pernah beberapa kali olah raga seperti itu"


"ohh begitu"


mereka terus berjalan, Rizal tetap mengekor di belakang Nurul


"bapak mengikuti saya?" tanyanya dengan nada kesal


"tidak, kamar kita kan searah"


Nurul membalikan badannya dan kembali berjalan menyusuri lorong hotel. mereka menaiki lift khusus, di dalam lift sudah ada seorang wanita yang bertugas menekan tombol lift untuk tamu VVIP.


lift berdenting menandakan mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju, Nurul dan Rizal keluar lift. sebelum keluar Rizal memberikan tips untuk pegawai tersebut.


"jadwal kita di mulai tepat pukul 2 siang pak, jadi saya harap bapak sudah berpakaian lengkap jam setengah 2 siang" ucapnya seraya membukakan pintu kamar Rizal


"oke"


Nurul menunggu atasannya itu untuk masuk kamar namun Rizal malah diam di ambang pintu dan menatap ke arah Nurul.


"ada apa pak?" tanya Nurul was-was

__ADS_1


Rizal mendekatkan wajahnya ke arah Nurul membuat Nurul harus menjauhkan kepalanya


"pakai baju yang waktu itu kita beli di Amerika" ucap Rizal


Nurul mengingat-ingat baju yang di belikan atasannya itu di Amerika, ada banyak sekali baju yang mereka beli saat itu tapi ada satu baju yang sengaja di pilih Rizal. hanya setelan kantor tapi blouse yang di belikan Rizal bertaburan berlian dan warna blouse tersebut sewarna dengan salah satu jas yang selalu di pakai Rizal saat acara penting.


"baik pak" jawab Nurul


Rizal tersenyum dan masuk ke dalam kamar, pintu pun tertutup.


...***...


di lain tempat, Daru tengah menunggu Nafa didalam mobil. dia sudah meminta Nafa agar mau di antar ke kampus olehnya. dan sekalian Daru ingin memberitahu seperti apa Arya sebenarnya.


pintu rumah di depannya terbuka, dia bisa melihat Nafa tersenyum dengan ceria berpamitan kepada ibunya dan segera menutup pintu. bagaimana bisa Daru melihat ada orang yang selalu tersenyum ceria, bahkan saat dia marah kepada Nafa, Nafa masih mampu tersenyum hangat.


aneh, sangat aneh. Nafa bagaikan bahan penelitian yang menarik bagi Daru. wanita aneh yang tidak pernah terlihat murung di hadapannya, selalu tersenyum, tertawa bahkan mampu membuat hari-hari Daru yang bagaikan lembaran Abu menjadi sedikit berwarna.


"maaf yah lama" ucap Nafa setelah menutup pintu mobil. Daru hanya mengangguk.


"pake seatbelt" ucap Daru. dengan cepat Nafa menuruti ucapan Daru dan tidak lama mobilpun melaju menuju kampus.


jalanan ramai lancar, suasana hening di dalam mobil. Daru bingung bagaimana memulai pembicaraan.


"PENSI sekolah kamu seru juga yah" ucap Nafa tiba-tiba


"aku baru tahu kalau kamu jago nyanyi"


suasana hening kembali. Daru fokus menyetir dan Nafa fokus melihat dan membaca setiap tulisan di atas pertokoan yang mereka lewati.


"ka" ucap Daru setelah melirik beberapa kali ke arah Nafa


"hmm?"


"Kaka pacaran dengan senior Kaka?"


"senior? Arya maksudmu?"


"iya, Kaka.. punya hubungan dengan lelaki itu?"


Nafa diam sejenak, dia bingung bagaimana harus menjelaskannya.


"Arya memang menyatakan perasaannya tapi-"


"dia bukan lelaki yang baik" ucap Daru tiba-tiba

__ADS_1


"maksud-"


"dia suka mempermainkan wanita, saya harap Kaka tidak memiliki hubungan apapun dengan lelaki itu. dia lelaki brengsek yang-"


"tunggu! kamu dapat informasi itu dari mana?"


Daru diam, dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia memiliki agen informasi khusus di dalam shabil group. bahkan dia tahu semua tentang Nafa dan keluarga nya dari informan tersebut.


"Kaka tanya, kamu dapet informasi itu darimana? jika hanya dari gosip itu salah Daru, sifatnya sangat baik, dia sangat perhatian ke semua anggota bahkan dia juga ramah ke anak fakultas lain. meski dia tegas tapi dia baik hati, selain itu dia ketua BEM tidak mungkin dia seperti itu"


"sepertinya Kaka sudah di bodohi oleh sebuah prestasi seseorang. Kaka tidak boleh menilai seseorang hanya dari luar apalagi hanya dari sebuah prestasi"


"maksudmu aku salah menilai Arya?"


"ya, Kaka tidak bodoh kan? aku sudah bilang dia bukan lelaki baik, sudah ada beberapa wanita yang hamil karena perbuatannya. jadi saya harap Kaka-"


"apa? hamil? engga, engga mungkin. dia bahkan tidak punya pacar"


"melakukan **** tidak harus selalu saling mencintai" ucap Daru datar


Nafa merasa tersinggung dengan ucapan Daru barusan, Daru sudah menghina lelaki yang selama ini Nafa kagumi.


"tidak baik kamu menilai seseorang dari sebuah gosip, kamu harusnya lebih mengenal Arya, Daru. aku tidak menyangka kamu begitu berfikir dangkal"


"ka! aku serius! dia bukan-"


"hentikan mobilnya"


perhatian Daru langsung tertuju kepada Nafa, dia menatap Nafa dengan rasa tidak percaya bahwa Nafa lebih mempercayai Arya di banding dirinya.


"ka.."


"berhenti! aku pengen turun!"


Daru menepikan mobilnya, Nafa langsung turun begitu mobil baru sedetik berhenti. Darupun ikut turun.


"Kaka mau kemana? ini masih jauh dari fakultas Kaka"


"aku pergi sendiri dan Daru jangan percaya apa yang gosip katakan. aku tidak peduli darimana kamu dapat informasi tersebut tapi Arya bukan orang seperti itu" ucap Nafa seraya melihat kesana kemari mencari taksi


Daru menghampiri, dia harus membuat Nafa percaya kepadanya


"saya serius ka, saya tidak mengada-ada. saya bisa memberikan Kaka bukti agar kaka-"


"hentikan! baiklah, cari bukti itu agar aku percaya" ucap Nafa dengan ekspresi jengkel, dia berhasil menghentikan sebuah taksi

__ADS_1


"dan melihat anda seperti itu saya akan menjawab pertanyaan anda tadi. apakah saya memiliki hubungan dengan Arya? ya! saya akan menerima pernyataan cintanya. agar anda tahu bahwa penilaian anda salah" lanjut Nafa lalu menaiki taksi dan pergi meninggalkan Daru.


"ka! Kaka! Nafa!!! arghhh sial!!!" teriak Daru seraya menendang dashboard mobil hingga penyok


__ADS_2