Love Of Passion

Love Of Passion
menginap


__ADS_3

karena jam hampir menunjukan tengah malam, mau tidak mau Bagas membawa Daru ke rumahnya. dia takut ibunya terlalu lama menunggu.


tok-tok..


pintu terbuka, Nafa dengan wajah setengah mengantuk membukakan pintu.


"loh Kaka, kirain ibu. loh itu kan-" katanya terhenti saat sang Kaka langsung masuk ke rumah.


Bagas meletakkan Daru di batas sofa dan langsung menoleh ke arah Nafa yang sedari tadi berdiri di belakangnya.


"kenapa dia ka?"


"dia.. pingsan. jaga dia sebentar, Kaka mau jemput ibu dulu"


"okee"


Bagas menunduk untuk melihat Nafa. karena tubuh naha hanya sesikut Bagas, terkadang Bagas seperti tengah menghadapi anak SD.


"jangan melakukan hal aneh! jangan duduk dekat-dekat sama anak itu!" pintanya


"aneh-aneh gimana?" tanya Nafa heran


namun Bagas tidak menjawab, dia langsung pergi meninggalkan rumah. memakai mobil untuk menjemput ibunya.


"aneh-aneh gimana? lihat tubuh kekar itu, harusnya aku yang takut di apa-apain bukan sebaliknya" gumam Nafa kesal.


karena rasa penasarannya tinggi, Nafa sengaja duduk di dekat Daru, tepat di sampingnya. wajah Daru begitu damai, bak malaikat. salah satu ekspresi Daru yang Nafa suka.


Nafa menyalakan tv agar tidak bosan, dia melihat ponselnya yang begitu sepi. tidak ada notifikasi apapun. terakhir dia melakukan kontak dengan Arya, itupun membahas karyawisata yang akan di adakan 2 bulan lagi.


waktu terus berlalu. saat Nafa asik membaca noveltoon, dia terkejut Daru bangun tiba-tiba. Nafa terkesiap dia hendak akan lari namun Daru hanya diam seperti sedang bengong.


Nafa mendekatinya


"Daru?"


tidak ada respon sama sekali hanya sesekali kepala Daru sempoyongan ke kanan dan ke kiri.


Nafa lebih mendekat, dia hendak menyentuh pundak Daru namun tiba-tiba Daru berbalik dan memegang tangan Nafa.

__ADS_1


Nafa terkejut bukan main, dia siap memukul wajah Daru jika Daru melakukan hal aneh. namun Daru hanya mengucapkan namanya


"Nafa" gumam Daru. tercium bau manis dari mulut Daru


"he-hei kamu mabuk?!" tanya Nafa terkejut


sebenarnya apa yang anak 17 tahun ini lakukan? mabuk di usia begini itu tindak ilegal. itulah yang di pikirkan Nafa.


Nafa mencoba melepaskan cengkraman tangan Daru, meski sedang mabuk namun cengkeramannya begitu kuat.


"aduh, Dar tolong lepaskan-" ucapannya terhenti saat dia melihat tatapan Daru yang aneh.


Nafa tertegun dengan tatapan Daru yang begitu dalam. dia tidak tahu harus bagaimana, Nafa memalingkan wajah melihat ke arah kanan namun Daru menahan wajahnya dan mengecup bibirnya ringan.


Nafa membelalakkan matanya terkejut, dia menahan napasnya.


Daru tersenyum bahagia dan dia kembali tertidur.


Nafa masih diam, melongo. dia menyentuh bibirnya perlahan, meski bibirnya tidak berubah namun dia merasakan sensasi tersebut.


Nafa beberapa kali pacaran, dia juga pernah di cium oleh mantan nya namun mereka hanya mencium kening Nafa. dan ciuman pertama Nafa telah di rebut oleh orang yang di anggap bocah oleh Nafa.


Nafa menutup wajah dengan kedua tangannya, prasaan yang dia alami campur aduk. terkejut, tidak percaya, marah namun senang.


Nafa mematung sejenak, kenapa dia harus senang? senang di cium atau karena yang menciumnya adalah Daru? tidak! prasaan nya tidak karuan seperti ini pasti karena dia syok.


Nafa kembali berdiri, dia menghampiri Daru dan memberikannya selimut.


...***...


sementara itu Bagas dengan gusar menyetir mobil. jarinya tidak berhenti mengetuk-ngetuk stir mobil.


jalanan cukup lenggang karena jam sudah melewati tengah malam, ibunya tengah tertidur di kursi penumpang tepat di sampingnya.


"ada apa nak?" tanya sang ibu mendengar suara ketukan Bagas


"ah engga Bu. maaf Bagas ngebangunin ibu"


"ibu tahu ada yang kamu pikirikan"

__ADS_1


"yah.. hanya soal kerjaan Bu. atasan Bagas ada di rumah"


"lalu?"


Bagas diam sejenak, dia ragu untuk menjelaskan


"untuk selebihnya ibu lihat saja sendiri"


ibunya mengangguk. tidak hanya soal Daru, Bagas juga khawatir Daru akan tiba-tiba terbangun dan menyerang Nafa yang ada di sampingnya.


meski Bagas sudah memperingatkan Nafa untuk tidak mendekati Daru, Nafa cenderung orang yang sangat penasaran dengan sesuatu yang di larang. dia tahu betul bagaimana tabiat Nafa dan Daru.


Bagas menekan jidat nya, dia serasa memiliki dua orang balita. sangat frustasi saat harus menghadapi kedua anak itu. belum lagi di tambah dengan kelakuan majikannya satu lagi.


ahh! Bagas baru ingat dengan adik satunya lagi yang berada di cengkraman singa. malah adiknya yang paling Sholehah itu berada bersama singa yang paling gila di banding para singa yang lain. apalagi mereka tengah berada di kota New York, kota metropolitan yang paling besar di Amerika dan entah kapan akan kembali ke Indonesia.


Bagas kembali menekan jidat nya, dia takut adiknya akan terbawa arus pergaulan yang tidak-tidak. apalagi disana pergaulan yang sangat bebas. **** bukan hal tabu disana, malah **** adalah kebutuhan bagi warga disana terlebih lagi majikannya itu sangat kecanduan ****. dia berjanji pagi ini akan menelpon adiknya


kepala Bagas berdenyut nyeri, dia sudah banyak berfikir hari ini. Bagas mempercepat laju mobilnya, dia ingin segera kembali ke rumah dan beristirahat.


...***...


"apa dia mabuk?" tanya ibu sat melihay Daru yang tengah tidur dari dekat


"begitulah Bu" jawab Bagas


Nafa diam di samping ibunya, dia sudah tidur barusan dan kebangun saat ibunya meminta pintu di buka.


dengan mata setengah sadar, Nafa kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.


"pindahkan dia ke kamarmu, dan tidurlah di kamar Nurul" perintah ibu kepada Bagas


"baik Bu"


Bagas segera membawa Daru menuju kamarnya, dengan hati-hati Daru di baringkan di kamar Bagas.


setelah menyelimuti Daru, Bagas keluar kamar dan menutup pintu itu rapat-rapat. diapun segera masuk ke kamar Nurul.


sebelum Bagas membaringkan tubuhnya, Bagas membuka pakaiannya terlebih dahulu dan hanya memakai boxer.

__ADS_1


kebiasaan lelaki, tidur hanya memakai boxer dan membiarkan dada berotot nya terkena angin malam. Bagas merebahkan tubuhnya, dia menatap langit kamar yang gelap. mengingat kembali hari yang sudah dia lalui akhir-akhir ini. perlahan namun pasti, matanya mulai terasa berat dan Bagas tidur dengan lelap.


__ADS_2