
Nafa cepat-cepat beralih melihat kamar mandi. disana terlihat cukup berbeda dengan kamar mandi di bawah. tempatnya tidak terlalu besar dan atmosfer nya cukup gelap dengan lampu yang tidak terlalu terang dan cat tembok berwarna hitam legam.
"kenapa ruangan atas hampir semuanya warna gelap? beda sekali dengan yang di bawah. kesannya jadi menyeramkan. padahal lebih baik jika pakai warna soft atau terang sekalian" gumam Nafa
Nafa menutup pintu kamar mandi dan beralih ke pintu yang di ketahui bahwa itu adalah studio musik, Nafa hanya memasukan kepalanya melihat sekitar dan kembali menutupnya.
"gelap juga" ucap Nafa
Nafa menyentuk gagang pintu yang ada di sebelahnya namun terkunci.
"apa ini ruangan rahasia?"
Nafa hanya menghela nafas lalu berbalik badan. dia berjalan lebih dalam dan terdapat sebuah tembok yang di pakai gorden. Nafa menyingkapkan gorden itu dan ternyata itu sebuah pintu kaca besar mengarah ke sebuah koridor besar yang seluruh lantai dan temboknya terbuat dari kaca tebal. pintu itu di rantai.
"itu masuk kemana yah? aku ingin kesana tapi pintu ini di kunci"
Nafa membalikan badan, kembali menutup gorden itu. diapun berjalan ke arah ruang rekreasi, dia duduk di atas sofa dan menonton tv dengan volume yang sangat kecil.
hanya berdiam diri selama setengah jam Nafa sudah bosan, kembali dia melihat-lihat. Nafa berjalan ke arah jendela yang tidak jauh dari tepat itu.
dia terpana melihat ada sebuah lapangan golf besar di belakang rumah Daru. serta sebuah danau yang cukup besar dan gazebo besar di sisi danau. di seberang lapangan golf terdapat hutan.
"gila! ini rumah atau apaan? gede banget. serasa masuk ke dunia fantasi"ucap Nafa dengan mata berbinar
"aku ingin kesana" gumamnya mendamba
melihat pemandangan yang sangat luar biasa indahnya membuat Nafa tenang, dia sangat suka pemandangan seperti ini. meski langit mendung namun keindahan danau, hutan dan rumput luas tidak berkurang sama sekali. Nafa duduk di atas lemari kecil. kakinya berayun pelan, berusaha agar tidak membuat keributan.
tv masih menyala menayangkan film thriller sadis yang tengah buming di kalangan milenial. namun Nafa hanyut dengan pemikirannya sendiri.
terdengar suara jam berdenting, membuat Nafa sadar dari lamunan. dia melihat jam dan terkejut jam menunjukan pukul 12.00, dia sudah melamun disana selama satu jam.
__ADS_1
Nafa berjalan ke arah kotak obat, dia mengambil obat sesuai interupsi BI Inah.
Nafa menuju kamar Daru. Daru masih tertidur lelap, posisinya tidak berubah. tidur telentang dengan wajah menghadap kanan.
Nafa menyentuh kening Daru, suhu tubuhnya masih panas. nafas Daru menderu, alis nya berkerut menahan sakit.
Nafa buru-buru membuka obat. dia menggoyangkan tubuh Daru agar Daru bangun namun Daru tidak membuka matanya dan malah nafasnya semakin menderu.
Nafa panik, dia kembali ke kotak p3k dan mengambil pipet. Nafa mengambil obat itu dengan pipet. dia mendekatkan diri kearah Daru. perlahan dengan tangan kiri Nafa membuka mulut Daru dan tangan kanan memegang pipet.
mulut Daru terbuka sedikit, Nafa menekan pipet dan obat pun mengalir ke tenggorokan Daru. cepat-cepat Nafa mengambil air putih dengan pipet dan memasukan air ke dalam tenggorokan Daru.
kerutan di kening Daru perlahan menghilang, nafasnya perlahan teratur. Nafa merasa lega melihat Daru yang semakin membaik. Nafa melepas plester di kening Daru dan mengganti dengan yang baru.
"ibu.. dingin.." terdengar erangan kecil dari mulut Daru.
"apa?" tanya Nafa mencoba mendengarkan
"dingin.." ucap Daru pelan
dia berdiam sejenak memandangi dada itu, tanpa sadar Nafa menyentuh dada itu. Nafa menekan nya perlahan, terasa jaringan otot yang begitu kuat dan keras.
terdengar suara erangan Daru yang membuat Nafa sadar seketika. dia menampar pipinya sendiri dengan keras.
"astaghfirullah!" ucapnya setengah memekik
Nafa dengan cepat menyelimuti seluruh tubuh Daru dengan selimut.
sebelum pergi, dia menyentuh kening Daru lagi memastikan suhu tubuhnya turun. setelah yakin bahwa suhu Daru sudah mulai normal, Nafa beranjak dari kasur.
namun sebelum dia berdiri, sebuah tangan menariknya. membuat Nafa terjatuh di atas tubuh Daru.
__ADS_1
Nafa memekik tanpa bersuara, dada nya menyentuh dada Daru dengan keras. namun tidak sakit, itu yang di pikirkan Nafa pertama kali.
wajah mereka hanya 5 cm, Nafa menahan nafas. dia memperhatikan seluruh wajah Daru dan menyadari terdapat beberapa lebam di wajahnya. lebam yang terlihat sangat jelas jika di lihat dari dekat. di salah satu sudut bibir Daru, pelipis dan di tulang pipi. Nafa ingin menyentuhnya namun tangannya tergencet tubuh mereka.
"apa dia abis berkelahi?" gumam Nafa
"wah bulu matanya panjang sekali" lanjutnya
perlahan kelopak mata Daru terbuka membuat Nafa kaget dan tanpa sadar kembali menahan nafas dan membelalakkan matanya.
kelopak mata itu terbuka sedikit. mereka saling bertatapan cukup lama. Nafa yang terkejut berubah jadi kagum. sebuah mata berwarna hijau lumut menatap matanya dengan lekat, begitu indah membuat Nafa lupa bahwa dia tengah berada di situasi menegangkan.
"ibu.." ucap Daru
dia mengganti posisi ke arah kanan seraya membawa Nafa di dalam pelukannya.
"waa! tunggu!" teriak Nafa namun Daru tetap memeluknya
Daru kembali memejamkan matanya, dia kembali tertidur namun tidak mengendorkan pelukannya.
beberapa detik Nafa berdiam diri, dia mulai mencoba melepaskan tubuhnya namun sia-sia. Daru mengunci Nafa di dalam pelukannya. Nafa pun pasrah, dia hanya diam seraya mendengarkan nafas Daru yang mulai mendengkur pelan.
wajah Nafa tepat berada di depan dada Daru, untung saja selimut membatasi mereka jika tidak Nafa pasti sudah pingsan di peluk tubuh kekar yang setengah telanjang itu. Nafa melihat kesana kemari mencoba sekali lagi mencari cara untuk membebaskan diri tapi hasilnya nihil.
dia menghela nafas, dia melihat ke atas ke arah dagu Daru yang berbentuk sempurna. wajah yang begitu tegas namun tampan. bibir yang tidak tipis dan tidak tebal terdapat belahan di bibir bawah nya, sangat sempurna, terdapat beberapa bulu halus di dagunya itu namun itu membuat Daru semakin tampan. bulu mata yang panjang dan lentik serta bola mata hijau yang tadi dia lihat.
Nafa terkejut dengan bola mata yang baru dia lihat, dia baru tahu bahwa pupil Daru berwarna hijau seperti itu. karena setahu Nafa mata Daru berwarna hitam sedikit kecoklatan. apa Daru menyembunyikannya dengan cara memakai softlens?
tapi jika dia memiliki warna mata seperti itu, dia juga akan berprilaku sama seperti Daru. warna mata hijau terlalu langka dan mencolok untuk warga Indonesia. bahkan warna hijau jarang di temui di luar negeri, kebanyakan warna mata bangsa Eropa jika tidak biru pasti warna abu-abu.
cuaca dingin mulai memasuki ruangan, hujan deras mulai membasahi kota Bandung. suhu ruangan mulai menurun, Nafa mempererat tubuhnya ke dalam pelukan Daru membuatnya semakin hangat.
__ADS_1
suhu tubuh Daru yang sangat hangat membuat Nafa begitu nyaman. dia mulai memikirkan sesuatu yang indah seperti berlibur ke pantai atau jalan-jalan ke pegunungan, yang penting ke tempat indah.
memikirkan hal yang di sukai nya membuat mata nya semakin berat. perlahan namun pasti Nafa mulai memejamkan matanya. suara hujan deras yang menghujani genting, suara tv yang perlahan terdengar serta pelukan hangat Daru membuat Nafa tertidur pulas dan mulai bermimpi indah.