Love Of Passion

Love Of Passion
berduka


__ADS_3

"tidak ada apa-apa ko ka" ucap Nafa tiba-tiba


Bagas kembali menghela nafas dalam. dia memandang ke arah Nafa lalu melirik Daru yang masih terdiam.


"sepertinya BI Inah yang meminta Nafa untuk menjaga ku, jangan memarahinya" ucap Daru


Bagas sudah tahu bahwa itu akan terjadi, andai dia tidak pergi meninggalkan Daru pasti BI Inah tidak akan meminta Nafa untuk menemaninya.


Bagas akhir-akhir ini curiga dengan gerak-gerik Nafa yang selalu sibuk mempersiapkan soal di kamar dan Daru yang selalu menyuruhnya untuk mengikuti Rizal saat akhir pekan. ternyata ini alasan semua itu.


"saya tidak akan memarahinya. justru saya minta maaf karena saya sudah meninggalkan bapak disini sendirian" jawab Bagas


"tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkan itu"


suasana hening, Nafa menggigit bibir bawahnya dengan gugup. dia tahu bahwa Kaka nya tengah menekan amarah. andaikan tidak ada Daru pasti dia sudah di seret pulang.


Nafa baru kali ini melihat kakaknya begitu profesional dalam pekerjaan. dia juga sangat menghormati Daru selaku atasannya. ternyata kekuasaan yang di pegang anak labil begitu mengerikan membuat anak dewasa tidak dapat berkutik.


"tadi kamu akan menyampaikan berita darurat apa?"


sebelum menjawab Bagas melirik ke arah Nafa. melihat arah pandangan Bagas, Daru meminta Nafa untuk pergi ke kamarnya.


Nafa cukup sulit untuk di suruh Daru pergi dari tempat itu. Nafa baru menurut untuk pergi setelah kakanya meminta Nafa untuk pergi ke arah kamar yang cukup jauh dari tempat mereka duduk.


"anak sulung Dikta di temukan tewas" ucap Bagas setelah beberapa saat terdiam


suasana hening, Daru tentu saja syok. matanya terbelalak tidak percaya. bagaimana? kenapa? apa yang terjadi sebenarnya?


"dia di temukan di salah satu sungai. dugaan sementara dia mengalami kecelakaan saat hujan besar tadi tapi saya curiga dia di bunuh"


Daru sulit mengeluarkan suara, suaranya tercekat di tenggorokan. dia masih ingat bagaimana wajah anak sulung Dikta. seorang gadis seumuran dirinya mungkin lebih muda. bahkan badannya pun sangat kecil, wajahnya yang begitu tirus seolah dia tidak pernah diberi makan oleh orang tuanya.


"adiknya? bagaimana adiknya?"


"adiknya berada di rumahsakit. karena kondisinya kritis, dia di tempatnya di ruang ICU. sepertinya anak itu mengalami syok berat"


Daru menekan keningnya lalu menghela nafas berat


"siapa nama anak itu?"


"Ingrid pak"


"mayatnya ada dimana?"


"di rumah sakit. saat ini sedang di lakukan otopsi pada mayat itu"


suasana kembali hening. pikiran Daru kosong. dia tidak menyangka nasib tragis menimpa anak itu. Daru memikirkan adik kecil anak itu, haruskah anak itu di kirim ke panti Asuhan? Daru tidak yakin dengan keputusan itu.


"makamkan mayatnya dengan layak"


"baik pak"


Daru melangkah menuju tempat Nafa berada. disana Nafa tengah duduk seraya melihat ke arah jendela yang ada di atas ranjang Daru.


sejujurnya Daru ingin bersandar. dia ingin memeluk wanita itu untuk meredakan rasa frustasinya. tapi Daru menahan diri dia tidak punya hak untuk hal itu. dan dia bingung sejak kapan dia memiliki keinginan yang kurang ajar seperti itu.


"ka" panggil Daru sontak Nafa berbalik melihat ke arah Daru


"sudah selesai?" tanya Nafa


"ya, terimakasih sudah merawatku"


"sama-sama, kamu adalah muridku jadi aku tidak keberatan merawatmu"


Daru tersenyum tipis


"terimakasih. sebaiknya Kaka pulang"


"ah iya, eumm.. sebenarnya BI inah-"


"aku tahu. akan aku transfer nanti" ucapan Nafa langsung di Potong Daru.


Daru tahu Nafa tidak akan mau secara cuma-cuma untuk merawat nya. dia sudah melihat semua informasi Nafa yang di kirim oleh Devan. salah satu informasi mengatakan bahwa Nafa adalah wanita realistis yang lebih menjurus matre6.


tapi raut wajah Nafa berubah muram, padahal bukan itu yang dia maksud. memang benar awalnya Nafa tertarik karena uang tapi setelah melihat langsung keadaan Daru tadi pagi dia merasa kasian dan ingin merawat anak itu dengan tulus dan penuh kasih sayang.


"Kaka boleh pulang, aku bisa menyuruh Bagas untuk mengantar"


"tapi kamu belum makan dari tadi. seharian ini kamu tidur terus"

__ADS_1


"tidak apa-apa. aku tidak la-kruyuuuukkk"


suasana hening, mereka semua diam. Nafa dan Bagas serempak melihat ke arah Daru. seketika wajah Daru memerah.


"jangan salah paham, itu bukan suara perut-kruuuyuuukk"


Daru menelan kembali kata-katanya. dia malu setengah mati.


"aku akan masak dulu sebelum pergi" ucap Nafa segera turun ke bawah.


"saya akan menemani a- guru les bapak" ucap Bagas dan segera turun menyusul Nafa.


Daru menyesal atas kejadian yang baru saja dia alami. dasar perut sialan! kenapa harus berbunyi keras sekali.


ponselnya berbunyi, panggilan masuk dari Devan


"pak ada berita"


"tentang anak Dikta?"


"bagaimana- ah iya"


"bagaimana kasusnya?"


"ini 100% pembunuhan. setelah di otopsi terdapat banyak luka lebam dan bekas cekikan"


"dan kematian nya.. sangat mengenaskan. anak ini di pukul berkali-kali oleh benda tumpul, tubuhnya penuh dengan sayatan pisau. beberapa kukunya hilang. selain itu dia.. di perkosa terlebih dahulu sebelum dia di cekik sampai mati" lanjut Devan dengan berat


Daru hanya diam mendengat setiap penjelasan detail dari Devan. dia merasa hatinya sakit dan panas. dia tidak akan memaafkan siapapun yang melakukan ini terhadap anak itu.


"cari pelakunya sampai ketemu bagaimanapun caranya!"


"baik pak"


telepon pun di tutup, Daru duduk dengan lesu dan menghela nafas berat. dia harus segera menuju rumah sakit tempat mayat itu di otopsi.


shabil group telah mengambil alih jasad anak Dikta, polisipun telah di bungkam. shabil group memilih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan siapapun meskipun itu polisi.


shabil group memiliki unit penjaga, Intel, penyidik, dan sebagainya untuk menyelesaikan kasus yang ada. baik itu kematian atau perbuatan onar akan di selesaikan oleh pihak group sendiri.


Daru berjalan menuju kamar mandi dan bergegas menuju rumah sakit. Daru hanya memakai kaos oblong, celana jins warna dongker dan memakai jaket denim. tidak lupa dia memakai softlens.


"akhirnya kamu turun. mari, makan dulu" ucap Nafa dengan sumringah


Bagas hanya menganggukan kepalanya tanda hormat.


Daru sekali lagi melihat nasi goreng itu, lalu melihat ke arah Nafa. terlihat binar-binar di matanya .


sebenarnya Daru tidak suka makanan yang berminyak, tapi melihat Nafa yang bersungguh-sungguh mau tidak mau Daru pun duduk di kursi makan dan memakan nasi goreng itu.


Bagas dan Nafa hanya memperhatikan. Nafa senang Daru mau memakan masakannya. meski wajah Daru terlihat tidak nyaman tapi Daru tetap memakan nasi goreng itu sampai habis.


beberapa saat makanan pun habis yang tersisa hanya remah-remahnya saja.


Daru menyeka mulutnya dengan tisu dan langsung berdiri.


"aku akan pergi ke suatu tempat" ucap Bagas seraya melihat Bagas


"baik pak, akan saya an-"


"aku pergi sendiri"


Bagas menunjukan ekspresi tidak setuju tapi keputusan Daru tidak dapat di rubah.


"antar adik mu sampai rumah dengan selamat" lanjut Daru dan langsung pergi meninggalkan Bagas dan Nafa.


"baik pak!" jawab Bagas yang langsung mematung


"dia tahu? tentu saja dia pasti tahu" ucap Bagas dalam hati.


setelah Daru pergi, Bagas melihat ke arah Nafa.


"nah adikku yang manis, banyak yang harus kita bicarakan"


"i-iya Kaka"


...***...


Daru memparkirkan mobil Porsche nya di basement rumah sakit. dia langsung menaiki lift khusus yang tersedia di area tempat itu.

__ADS_1


sesampainya di lantai yang dituju, Daru langsung menuju ruangan ICU tempat adik ingrid berada. Devan sudah menanti disana.


disana Daru melihat seorang anak kecil berusia 6 tahun terbaring lemah. terdapat beberapa selang ada di tubuh nya, wajah dan tubuhnya penuh luka lecet.


"pak" sapanya


"bagaimana kondisi nya?"


"masih kritis, dia mengalami beberapa luka saat mengejar kakanya yang sedang di bawa paksa menuju mobil"


"dia mengejarnya?"


"ya pak, tapi salah satu penculik menariknya dan melempar anak itu ke dalam got yang tidak dalam"


Daru diam mendengarkan


"kapan dia akan baikan?"


"menurut dokter, kita harus menunggu nya siuman terlebih dahulu"


Daru pun mengangguk tanda mengerti. dia melihat anak kecil itu sekali lagi lalu menghela nafas.


"dimana jasadnya?"


"mari ikuti saya" jawab Devan setelah diam beberapa saat.


Daru dan Devan menuju lift. mereka naik menuju lantai 4 di gedung itu. sesampainya di sana Devan membawa Daru menuju ruangan paling dalam dan paling pojok.


sebuah pintu besi tertutup menanti disana, terdapat 2 penjaga. mereka memberi salam, lalu membukakan pintu.


Daru dan Devan masuk, mereka di sambut oleh kepala rumah sakit yang bertanggung jawab atas hasil otopsi.


"dimana jasadnya?"


"saya rasa bapak tidak perlu melihat jasad itu" jawab kepala RS tersebut


"tidak apa-apa, aku ingin melihat nya"


meski Ragu, dokter membawa mereka berdua menuju ruangan paling dalam. disana, di pojokan sana, terdapat sebuah jasad yang berada di atas ranjang, jasad itu ditutup sehelai kain kafan.


"ini jasadnya pak"


"buka"


"Anda serius? saya rasa-"


"ya cepat buka!" perintah Daru tegas


kain itu perlahan di buka. lambat namun pasti ekspresi di wajah Daru dan Devan berubah seketika. mereka terbelalak kaget.


"astaga" ucap Devan lirih


jasad itu, jasad dari gadis bernama Ingrid itu begitu sangat mengenaskan. terdapat banyak sekali sayatan, sampai ke kedua pipi dan keningnya terdapat sayatan, salah satu sayatan di pipinya terlihat begitu dalam.


tubuhnya membiru, kulit nya keriput karena terlalu lama terendam di dalam air. dan seperti laporan kukunya hilang di beberapa jari dari kedua tangan nya.


cekikan nya begitu jelas di leher anak itu, bekas geratan cekikan seperti di cekik oleh tali tambang.


deg! jantung Daru begitu sakit, dia sangat berduka atas apa yang menimpa anak itu. dia merasa telah lalay menjaga anak itu, padahal dia bertekad anak menanggung Ingrid.


meski ayahnya seorang kriminal tapi anaknya tidak begitu, menurut laporan anak itu adalah anak baik dan rajin bekerja.


Daru mengepalkan tangannya dan menggertakan giginya.


"bagaimana laporannya?"


"dia di culik oleh organisasi Yakuza. karena mereka tidak bisa menemukan Dikta yang telah di bawa oleh tuan besar, mereka menargetkan korban"


"lalu kemana mereka sekarang?"


"mereka ada di pulau Kalimantan pak, saat ini sedang kita kejar"


"kejar sampai dapat dan bawa ke hadapanku. aku harus berbicara dengan ayah" ucap Daru dengan nada penuh amarah


untuk sekali lagi dan terakhir kalinya Daru melihat jasad itu, dan berbalik.


"makamkan dengan layak" ucap Daru kepada dokter


"baik pak"

__ADS_1


Daru pun pergi meninggalkan ruang otopsi di ikuti oleh Devan.


__ADS_2