
Daru terbangun saat mendengar suara kaca menderit karena gesekan antar kaca. dia duduk untuk memastikan bahwa di salah dengar. dan bunyi itu muncul bahkan beberapa kali. sontak Daru bangkit, dia tahu jelas dari mana arah suara itu.
daru mengarah ke pintu besar yang sudah 3 tahun ini Daru kunci bahkan dia pakaikan gorden. pintu yang jika di bukan akan terdapat sebuah lorong panjang yang langsung terhubung menuju rumah utama.
sebenarnya lantai dua terlalu luas untuk di jadikan kamar pribadi. Daru mendesain ruangan kosong menjadi kamarnya dan beberapa pintu ruangan yang harusnya di jadikan kamar dia ubah fungsi. dia merenovasi dua buah kamar berukuran besar menjadi satu dan di jadikannya studio musik. dua ruangan besar dia hancurkan, di bangunnya lapisan kaca tebal dan dia jadikan gym. lalu satu ruangan besar dia jadikan tempat rahasia, yang dia kunci selama hampir 15 tahun.
Daru sengaja mengunci pintu besar itu, karena satu ketika saat dia terbangun tengah malam untuk ke kamar kecil dia terkejut melihat sosok hitam besar berdiri di depan pintu yang dia kunci. Daru kira itu adalah setan, hingga dia segera menyalakan lampu dan ternyata itu adalah ayahnya. setengah mati Daru terkejut dan ingin berteriak tapi rasa terkejut itu menjadi amarah. ayahnya hanya tersenyum kecil lalu kembali keluar dari pintu kaca itu tanpa sepatah katapun. semenjak itu Daru mengunci pintu itu.
dan kini ada seseorang yang ingin masuk kamarnya secara ilegal. Daru yakin itu bukan ayahnya karena ayahnya tidak pernah bertindak sembrono dan kasar seperti itu saat dia ingin masuk secara diam-diam. wajahnya kesal menebak siapa yang ada di balik pintu itu. Dan semakin kesal saat tebakannya benar.
"mau apa kau?" Daru bertanya dengan menatap tajam.
Rizal mematung menatap Daru seperti orang bodoh. dia tersadar dan membenarkan posisinya menjadi lebih cool dan gentle layaknya seorang Presdir.
"aku hanya ingin melihatmu" jawab Rizal
"kamu bisa memintaku untuk turun"
"aku ingin melihatmu tidur"
hening sesaat, Daru memasang wajah jijik+ngeri atas jawaban Rizal. membuat Rizal menutup mata dan mengutuk atas apa yang sudah dia katakan barusan.
"kamu tidak homo kan?"
"mana mungkin!!"
kembali hening. Daru mengamati penampilan kakanya yang bisa membuat orang salah paham.
"apa tidak salah seorang Presdir memakai pakaian tidak senonoh seperti itu memasuki rumah utama?" sindirnya
"aku tidak punya pilihan, lagipula pakaianku nyaman ko. kamu harus lihat bagaimana pekerja wanita di rumah ayah memandangku"
mata Daru berkedut sebelah. dia sudah gila rupa nya itu yang ada di benak Daru. tidak etis untuk pemimpin perusahaan berpakaian mesum seperti itu.
Daru tidak memungkiri, dia tahu betul hanya memakai boxer saat tidur adalah pakaian yang sangat nyaman. dia juga sebenarnya ingin seperti itu, berkeliaran hanya memakai boxer seperti Rizal tapi Daru masih memakai akal sehatnya.
"aku tahu kamu senang berhubungan badan dengan wanita, aku tahu betul bagaimana brengseknya dirimu. tapi kamu tidak akan melakukan itu kepada pegawai ayah kan?"
__ADS_1
"kamu pikir aku serendah itu? anak ingusan sepertimu tidak perlu ikut campur urusanku!"
"yah! itu juga yang harus kamu lakukan, tidak perlu ikut campur urusan ku! aku tahu kamu penasaran dengan Nafa tapi jangan coba-coba untuk mencari tahu tentang dia!"
mereka saling menatap tajam, percakapan mereka tidak pernah berakhir dengan benar. pasti dan selalu bertengkar pada akhirnya.
"semakin di larang aku semakin penasaran. kita lihat apa yang bisa aku lakukan untuk mencari tahu siapa dia"
"kau!! jangan coba-coba!" Daru mengeram, mencoba menahan emosinya.
mereka masih saling menatap tajam. pancaran mata bak berlian saling beradu. Rizal menyinggungkan senyum sinis nya membuat Daru terkejut. amarah yang dia tekan akhirnya keluar. dia memukul pintu kaca di depannya, mencoba membuka pintu itu paksa dengan cara menarik pintu itu tanpa dia sadari kunci berada di kotak kunci yang ada di samping nya.
"dia milikku! jangan coba-coba mencari tahu tentang nya tanpa seijin ku!!"
Rizal tersenyum senang melihat reaksi adiknya yang menggemaskan.
"bagaimana dia bisa menjadi milikmu? kalian baru bertemu, kalian tidak punya hubungan apapun. lagi pula ini menyangkut keluarga Shabil, siapapun orang yang mendekatimu aku harus tahu bagaimana latar belakang orang itu. aku tidak ingin bahwa wanita itu sebenarnya musuh"
"dia bukan musuh!" desis Daru
"siapa dia?"
Daru bungkam, dia menyesal sudah mengatakan kalimat itu. Daru selalu menghindari percakapan dengan Rizal karena Rizal pandai memprovokasi seseorang termasuk dirinya. dengan cara seperti yang dia lakukan sekarang.
"baiklah-baiklah, aku tidak akan menganggu gadis itu. terserah mau kamu apakan, yang jelas jangan permalukan nama keluarga"
Rizal berbalik meninggalkan Daru yang masih menatapnya tajam. dia terus berjalan hingga lorong di belakangnya menjauh. Rizal berhenti, melihat ayahnya berdiri tidak jauh di depannya.
"pagi ayah, ayah sudah baikan?"
"iya, lumayan. badan ayah sedikit segar setelah berkeliling"
"syukurlah, kenapa ayah sudah kembali?"
"ayah hanya ingin mengambil sesuatu di lantai dua, tapi akan segera kembali ke lapang golf"
Rizal menganggukkan kepalanya
__ADS_1
"baiklah, kalau begitu aku pulang dulu"
Rizal melewati ayahnya setelah membungkuk memberi salam
"Rizal, berhentilah mengganggu adikmu. dia sudah melewati banyak hal bulan ini biarkan adikmu menikmati apa yang sedang dia lakukan"
"ayolah ayah, aku tidak mengganggunya. aku suka melihat ekspresinya yang syok seperti.. barusan" ucap Rizal seraya menahan senyum
"itu sama aja, adikmu sedang menyukai suatu hal. jarang dia tertarik dengan sesuatu, biarkan dia bersenang-senang"
Rizal menghela nafas, sulit jika harus berdebat dengan ayahnya.
"baiklah, aku hanya mengawasinya agar dia tidak lepas kendali"
"itu lebih bagus, jagalah adikmu dengan diam-diam"
Rizal pamit pergi, dia menuruni anak tangga. selama ini Rizal selalu mengawasi adiknya secara diam-diam tanpa harus mendapat perintah dari ayahnya, meski pengawasan itu selalu aja berakhir berantakan. dia jadi makin penasaran siapa wanita itu, dan siapa Kaka dari wanita itu.
sedetik kemudian sebuah senyum mengerikan terpampang di wajahnya, membuat seorang ART ayahnya yang tidak sengaja melihatnya bergidik ngeri. dia memiliki ide, kenapa tidak terpikirkan cara itu. Rizal buru-buru menuruni tangga dan memperlebar langkahnya kembali ke dalam kamarnya.
***
di satu sisi Daru mondar-mandir tidak karuan, dia sangat benci jika suatu hal yang membuatnya tertarik di usik oleh seseorang terutama oleh kakanya. dia tahu jelas kakanya akan melalukan apa yang di ucapkan nya barusan dan itu membuatnya tidak tenang.
pikirannya kacau, dia mengacak-acak rambut hitamnya membuat nya terlihat sedikit ikal. dia tidak memiliki pencerahan sama sekali apa yang harus dia lakukan.
Daru berhenti melangkah, dia ingat ini adalah hari Minggu dan itu berarti jadwalnya untuk les privat. dia harus menghentikan Nafa untuk datang ke rumahnya. 2 kali dalam seminggu bukanlah hal baik.
Daru menyambar ponselnya mencari nomer Nafa yang sempat dia simpan kemarin. tapi dia mengentikan jempolnya yang tinggal menekan tombol berwarna hijau di layarnya. dia merasa keroncongan, pantas saja dia tidak bisa berpikir. karena berfikir selagi perut lapar bukanlah hal bagus terutama ini masih pagi. Daru tidak yakin Nafa sudah bangun karena itu dia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.
dia menyimpan ponsel di atas meja kecil di samping kasurnya dan berjalan menuju telepon. menekan salah satu tombol dan langsung terhubung ke BI Inah.
"BI aku sudah bangun, siapkan sarapan"
"baik nden"
daru menghela nafas, dia menghampiri lemari pendingin dan minum air segar dari sana. dia mengerutkan alisnya, dia teringat bahwa dia belum ke kamar kecil. lupa bahwa adik kecilnya perlu menenangkan diri.
__ADS_1