Love Of Passion

Love Of Passion
Herman


__ADS_3

Bagas mengikuti, Rizal berjalan mendekati sawah. dia hanya menatap tumbuhan hijau itu. Bagas hanya diam di belakang, tidak jauh dari Rizal.


"aku membawamu ke lapas dan kesini untuk membuktikan bahwa aku sudah membereskan masalah ini" ucap Rizal. dia bicara seolah kepada sawah


"awalnya aku ingin membereskan keluarga Irene sampai ke akarnya karena memang itu yang biasanya aku lakukan" lanjutnya


hening sesaat, yang terdengar hanya hembusan angin


"tapi aku mendengar dari Vian bahwa Daru memaafkan penipu yang bernama Dikta itu dan memberi pekerjaan untuk anak Dikta padahal ayah anak itu telah membuat perusahaannya rugi besar"


"aku salut padanya. jadi.. aku berfikir untuk mengikuti teladannya, karena seharusnya aku yang memberi contoh baik padanya"


Rizal terdiam sesaat, dia seperti mengenang sesuatu lalu dia tersenyum tapi seperti tertawa perlahan.


"rasanya aneh saat aku berbuat baik, aku biasa menghancurkan sebuah keluarga tanpa pandang bulu"


Rizal berbalik melihat ke arah Bagas, dia tersenyum kecut.


"ternyata berbuat baik tidak ada salahnya" Rizal berkata seraya mengangkat satu alisnya.


Bagas hanya diam tidak menanggapi perkataan tuannya. dia hanya khawatir terhadap tuannya ini sekaligus merasa lega bahwa tuannya memiliki rasa simpati.


raut wajah Bagas di salah artikan oleh Rizal


"tenang, kamu tidak perlu khawatir. Daru baik-baik saja di rumah. BI Inah terus memberi informasi. katanya Daru sedang kedatangan tamu seorang guru les privat"


jadi motor yang di parkiran itu adalah milik guru Daru, itulah yang di pikirkan Bagas


"jarang sekali Daru menerima seorang guru les, dia memang terbiasa home schooling dan otaknya sangat cerdas di banding anak seusianya. aneh rasanya dia mengundang guru les tapi setelah aku tahu alasannya, ternyata adikku sudah besar" lanjut Rizal dengan terkekeh


Bagas tidak mengerti, apa maksud perkataan tuannya ini.


wajah bingung Bagas terlihat oleh Rizal, Rizal langsung tertawa


"guru itu seorang wanita, anak kuliahan"


bagas kini mengerti bahwa selera humor anak konglomerat itu aneh.


Vian menghampiri dan mengangguk menandakan serah terima telah selesai.


"mari kita pulang" ucap Rizal akhirnya


mereka bertiga berjalan kembali mobil, ada sesuatu yang kurang bagi Bagas. tidak terlihat sekertaris Rizal yang senantiasa mengikuti Rizal kemanapun dia pergi


"maaf tuan" ucap Bagas pelan. Rizal pun berhenti dan menoleh


"kalau saya boleh bertanya, dimana pak Damar?"


"pak damar sedang cuti dia bilang ada urusan keluarga"


Bagas mengangguk tanda mengerti, mereka pun memasuki mobil masing-masing. mobil pun melaju kembali menuju Bandung.


***


sementara itu, Damar turun dari mobilnya. dia berjalan ke sebuah rumah.


rumah itu biasa, terbilang kecil di banding rumah-rumah di sekitar nya. rumah yang berada dalam komplek yang padat dan bersebelahan dengan sebuah kampung padat penduduk.


damar mengetuk pintu 3X, pintu pun terbuka. seorang wanita muda membuka pintu


"pak damar?"

__ADS_1


"halo Nurul"


Nurul mencium tangan damar. mereka saling bertukar sapa


"ibu ada?"


"ada, sebentar Nurul panggilkan. bapak silahkan masuk"


Damar membuka sepatunya dan masuk ke rumah itu. diapun duduk di kursi tamu.


sambil menunggu sang pemilik rumah datang, damar melihat-lihat potret keluarga yang ada di dinding.


Damar adalah sahabat dari ayah Bagas, Nafa dan Nurul. mereka bersahabat sejak duduk di bangku sekolah.


mereka pertama bertemu saat duduk di bangku 1 SMP dan duduk sebangku. sejak saat itu mereka selalu bersama, setelah dewasa mereka menempuh jalan masing-masing. damar menjadi seorang pegawai kantoran dan Herman bekerja di kepolisian tapi persahabatan mereka tidak pernah luntur sampai sekarang setelah Herman wafat.


ibu bagas bernama Santi datang menghampiri dengan senyuman lebar


"damar!! sudah lama tidak bertemu"


"halo Santi, bagaimana kabarmu?"


"tentu saja baik. bagaimana denganmu? anak istrimu bagaimana di Yogyakarta?"


"Alhamdulillah saya baik, mereka juga baik"


ketika mereka sedang mengobrol, Nurul datang seraya membawa minuman


"terimakasih cantik. ah iya, Nurul sekarang kamu kerja dimana?"


Nurul yang awalnya akan kembali ke dalam, berbalik arah dan duduk di sofa samping ibunya


"disana menjanjikan?"


"lumayan pak, Nurul di kasih imbalan setiap ada yang memakai jasa MUA kami"


"kamu tidak mencari pekerjaan lain?"


Nurul tersenyum malu, dia melirik ibunya.


"kamu kan tahu damar, Nurul hanya lulusan D3 dia sudah mencari pekerjaan di perusahaan besar tapi sulit karena mereka hanya menerima lulusan S1. berkat Bagas Nafa bisa melanjutkan S1" kini Santi yang membantu anaknya menjawab


damar hanya tersenyum, dia meminum kopi hitamnya seteguk.


"mau tidak ikut kerja dengan bapak?"


Nurul menatap ibunya dengan bingung


"kerja dimana pak?"


"Shabil grup"


dengan antusias dan kaget, Santi langsung berbicara


"maksudmu perusahaan tempat Bagas bekerja?"


"bukan, Bagas bekerja di kediaman Shabil sedangkan Nurul kerja di perusahaan Shabil. kamu tahu kan perusahaan Shabil?"


tentu saja Nurul tahu, siapa yang tidak tahu perusahaan besar itu.


"mak-maksud bapak Nurul mau di masukin kerja disana?"

__ADS_1


damar mengangguk dan sesekali menyesap kopinya.


Nurul melihat ibunya dengan mata berbinar karena memang itu keinginannya. kerja di Shabil grup, menjadi wanita karir yang sukses


"tentu saja Nurul mau!" lanjut Nurul dengan semangat


damar tersenyum senang mendengar jawaban Nurul meski Nurul tidak tahu di tempatkan dimana tapi damar tidak boleh melewatkan kesempatan ini


"berikan saja bapak lamaran yang biasa kamu buat, nanti akan bapak kasih kabar"


secepat kilat Nurul berlari memasuki kamarnya untuk menyiapkan berkas.


meski senang tapi Santi sedikit khawatir, dia takut anaknya tidak mampu bersaing di perusahaan maha besar itu.


"apa tidak apa-apa? kamu tahu kan Nurul tidak punya pengalaman"


"tidak apa-apa, dia akan menjadi asistenku sementara untuk belajar setelah itu dia bisa menduduki posisinya"


Santi hanya mendesah pasrah, dia menyerahkan tanggung jawab itu kepada Damar.


"aku harap dia tidak membuat masalah"


"semoga saja" sahut damar dengan meringis


hening sesaat, damar meminum kopinya lagi.


"bagaimana penyakit mu?" Santi memecah keheningan


"begitulah, aku sering cek-up ke dokter secara rutin. kamu tidak perlu khawatir"


"tapi tetap saja-"


"sudahlah, kamu lama-lama seperti istriku" damar dengan cepat memotong ucapan Santi, dia tidak ingin membahas soal penyakitnya


"terkadang aku merindukan Herman" ucap damar sambil melihat foto keluarga itu lagi


"aku mengerti perasaanmu, dia sudah tenang disana. dia pasti bangga memiliki sahabat sepertimu"


damar melihat kepada Santi dan tersenyum mendengar ucapan dari istri sahabatnya.


Herman wafat saat sedang bertugas. posisinya sebagai seorang polisi harus mengamankan lokasi saat sebuah pesan ancaman bom dari seseorang datang.


selama 3 hari mengamankan lokasi tidak ada yang terjadi hingga mereka kembali ke pos masing-masing dan disanalah Mala petaka itu terjadi, sebuah bom telah di simpan disana. saat bom itu meledak Herman dan ke 3 rekannya terlembar sejauh 3 meter.


tubuhnya utuh namun penuh luka, semua polisi meninggal saat di larikan ke rumah sakit.


damar merasa menyesal karena saat wafat sahabatnya dia sedang ada bisnis ke Amerika.


**


Nurul kembali seraya membawa map besar berwarna coklat. dia segera memberikan map itu kepada Damar.


dengan senang hati damar menerima map itu. diapun berpamitan untuk kembali ke kantor.


"nanti bapak kabari kamu"


"baik pak, hati-hati di jalan!!"


"hati-hati dan jaga kesehatan" sahut Santi


damar hanya mengangguk seraya tersenyum, dia masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan rumah mendiang sahabatnya

__ADS_1


__ADS_2